Kami Lintang

Kami Lintang
Kami Lintang - Bagian 34 Lintang


__ADS_3

Bagian 34 Lintang


Alter Jaka, Rumah Pohon—inner world Lin- tang.


HUJAN aneh masih membasahi Rumah Pohon. Dari penglihatan gue, kayaknya air semakin tinggi. Paman Weirdo menatap gue di tangga menuju rumah pohon yang masih belum tersentuh air. Separuh tangga ke bawah sudah tertutup air. Dia menengadah karena gue ada di anak tangga di atasnya.


“It’s danger walking through the water. Sekarang mungkin seketiak. Tapi, nanti? Lagi pula kontur tanah tidak datar saja, Bro! Tanah menuju Hutan Larangan bergelombang. Pasti ada yang lebih dalam di tanah yang lebih rendah. Itu pasti menyulitkan. Lama-lama kita akan kedinginan dan kehabisan tenaga sebelum sampai tujuan.”


Gue juga berpikir hal yang sama. “Kita mesti bikin rakit, Bro! Apa itu mungkin? Kita punya waktu terbatas.” Membuat rakit membutuhkan waktu, se- mentara, kemungkinan besar Lintang sedang dalam bahaya.“Lebih baik kita menggunakan waktu sedikit lebih lama untuk membuat rakit sederhana, daripada di perjalanan nanti kita menemukan masalah lebih besar yang mungkin akan membuang waktu kita le- bih banyak lagi.”


Gue mengangguk. Paman sangat benar. “Bongkar lantai rumah gue aja! Kan, lantai rumah gue dari bambu.” Gue tiba-tiba keinget.

__ADS_1


“Bro, lebih mudah membongkar tempat tidur saya yang juga dari susunan bambu.” Paman Weirdo tersenyum dan langsung jalan melewati gue, Adrik, dan Felixia. Dia benar. Orang berpengalaman akan selalu mengalahkan orang pintar. Gue segera meng- ikutinya. Adrik, Felixia juga.


“Aku ikut!” Mer memekik dan ikut berlari menu- ju rumah pohon Paman Weirdo.


Bunda Ret menoleh ke dalam Rumah Pohon Uta- ma. Gue tahu di dalam sana Civa masih meringkuk. Wanita paruh baya itu diam di tempatnya sebentar, kemudian masuk. Mungkin, dia mau ikut membantu kami, tapi ga tega meninggalkan Civa sendirian.


Begitu keluar dari naungan teras Rumah Pohon Utama, baju kami langsung kuyup. Curah hujan deras ditambah letak rumah pohon Paman Weirdo agak jauh dari Rumah Pohon Utama, bikin kami lebih lama terpapar air hujan. Jembatan kayu bergoyang-goyang karena semua orang berlari.Suara petir dan kilatnya bikin gue kaget berkali- kali. Beberapa menit kemudian, semua udah berkum- pul di dalam rumah pohon Paman Weirdo. Ga banyak basa-basi lagi, kami langsung bekerja.


Karena tinggal bongkar tempat tidur Paman Weirdo, dalam waktu singkat kami udah punya rakit yang muat untuk empat orang. Masing-masing orang me- megang dayung dari tongkat bambu panjang—ber- asal dari penyangga atap rumah pohon Paman. Kami turunkan rakit langsung dari sana.


Paman Weirdo segera menjajal naik di atas rakit.

__ADS_1


“It’s save!” serunya seraya menaikkan jempol.


Gue membantu mengikat tali rakit di pegangan tangga supaya rakit ga hanyut sebelum kami semua naik. Kemudian Felixia ikut naik, disusul Adrik. Gue naik belakangan sambil membuka ikatan rakit.


“Semua siap?” tanya gue sebelum benar-benar melepas tali.


“Siap!” pekik Felixia.


Rakit kami mulai melayang terombang-ambing gelombang air begitu ikatannya lepas.


“Hati-hati kalian!” Mer memekik dari rumah po- hon Paman.Gue mengangguk. Hanya Felixia yang melambai- lambaikan tangan untuk membalas Mer.

__ADS_1


Sebenarnya, agak gentar berdiri di atas rakit. Se- bab, bagi gue ini yang pertama. Tetapi, sebagai pe- mimpin, gue ga boleh menunjukkan kegamangan itu. Gue harus kuat. Demi Lintang. Demi Kami.


__ADS_2