
Bagian 25 Lintang
Lintang Kemuning, Pengendali.
TERGESA, kukayuh sepeda menuju rumah Chaca. Meski udah berkali-kali kulewati jalan ini, tetap masih menimbulkan rasa takjub akan keindahan yang terus baru. Seorang wanita bersarung berpa- pasan denganku. Dia tersenyum dan mengangguk. Aku balas mengangguk sambil tersenyum. Penduduk di sini cukup ramah pada pendatang. Mungkin, kare- na mereka udah terbiasa dengan wisatawan. Justru aku yang nggak terbiasa dengan ini.
Hari ini Mbak Nisa sempat menyambutku. Kami bertemu di halaman rumah ketika dia mau berangkat kerja.
“Katanya nanti sore mau ke Sibayak, ya?” tanya-nya.
“Iya, Mbak. Papa ngajakin.”“Sayang, aku lagi ada banyak kerjaan. Enak juga kalau bisa ikut.”
“Iya, Mbak.”
Seharusnya aku meneruskan basa-basi saran agar dia meninggalkan pekerjaannya lalu ikut de- ngan kami. Akan tetapi, nggak tahu kenapa, aku me- ngerem hanya sampai di dua kata itu saja. Jujur, kemarin aku sempat menginginkan Mbak Nisa lebih dekat dengan Papa. Namun, setelah mendengar lagu Papa dan Mama tadi malam, kemudian mendengar sekelumit kisah tambahan tentang masa lalu mereka, aku kok ingin Papa dan Mama rujuk. Berlebihan mungkin kalau meminta mereka kembali bersama. Tetapi, aku jadi nggak ingin lagi Papa dekat dengan perempuan lain. Mama juga berhak bahagia di sisa- sisa hidupnya. Menurutku, hanya Papa yang bisa membuatnya kembali bahagia. Aku punya rencana.
“Mudah-mudahan lain kali bisa, ya?” lanjut Mbak Nisa. Aku hanya mengangguk.
“Mbak berangkat dulu, ya.” “Iya, Mbak, hati-hati.”
Mbak Nisa masuk ke mobilnya. Aku sempat memperhatikannya pergi sampai gerbang menutup kembali.
“Ehem!”
Seseorang berdeham dari arah pintu rumah. Aku berpaling. Itu Sastra.
Meredith!
Alter Meredith, (Perempuan, 30 tahun).
Aku hampir terjengkang saat mengetahui ada dia di depanku. Lintang benar. Lelaki itu memang dia. Untung aku adalah Sang Meredith yang lihai mengen- dalikan diri.
“Hai,” sapaku sambil berjalan ke teras. Tanganku membetulkan letak koper gitar di punggung.
Dia yang awalnya bersandar di ambang pintu sambil melipat tangan, jadi berdiri tegak. Dia me- mandangku. “Kau agak. ”
“Beda?” potongku.
“Hm, begitulah. Agak lebih percaya diri.”
“Masa, sih?” kataku sambil melewatinya masuk rumah begitu saja.
__ADS_1
Dia berbalik dan mengikuti langkahku. Untung kemarin di Rumah Pohon saat memberitahukan ke- beradaan pria ini, Lintang tidak lupa menggambar- kan denah rumah muridnya dan harus ke mana jika tiba-tiba aku berada di sini. Meskipun sepertinya gambaran Lintang agak lain dengan kenyataannya sekarang.
Aku terus saja masuk, sembari tetap mengawasi langkahku selanjutnya. Tidak boleh tampak ragu. Aku harus yakin—paling tidak, tampak yakin—pada arah dan tujuanku. Kalau-kalau aku salah jalan, lelaki ini pasti memberitahu. Jika sudah begitu, tinggal cari alasan saja mengapa berjalan ke arah yang salah.“Iya. Kemarin-kemarin kau sama sekali nggak berani menatapku kalau bicara.”
Kemarin-kemarin? Sudah berapa kali Lintang dan dia bertemu? Dasar, Lintang! Aku harus mem- perbaiki itu. Pasti kejadian mereka bertemu kacau sekali. Dia sudah umur dua puluh lima. Kapan dia berani dekat dengan laki-laki? Memangnya dia mau sendirian seumur hidup? Gadis bodoh!
Aku menoleh dengan lambat tapi tidak terlalu lambat, pokoknya agar rambut ini mengayun drama- tis. By the way, rambut Lintang sudah pendek, ya?
Aku memberi Captain Kirk senyuman manis penuh arti. Kutatap dalam mata cokelatnya. Dia ter- diam dan tampak terkesima. Tanpa kata kuputar lagi kepalaku ke depan.
Begitulah caranya menebar pesona, Lintang!
“Aku... boleh melihatmu mengajar Chaca?”
“Boleh aja,” jawabku santai. Bagus. Dia sudah mulai tertarik. Aku terkekeh dalam hati. Sejauh ini aku belum melakukan kesalahan, semisal berbelok ke arah yang salah.
“Nggak mengganggu, kan?” “Enggak.”
Sampai di sini agak membingungkan. Ada bebe- rapa lorong, jadi aku yakin saja belok ke kanan.
“Lin?” panggil lelaki itu.
“Ya?” tanyaku sambil berpaling.Dia berdiri di tempatnya, tidak mengikuti ber- belok. Pasti ini! Sekarang, aku yakin sedang salah jalan. Aku memutar pandangan lagi sambil mencari alasan kenapa belok ke arah ini. Kulihat ada cermin di depan sebuah console table.
“Aku... mau becermin. Sebentar!” kataku sambil melompat kemudian berdiri di depan cermin.
Aku bahagia melihat rambut Lintang. Ini potong- an yang sangat bagus. Aku merapikannya dengan je- mari. Aku mengernyit. Apa ini? Mengapa mesti pakai jepit rambut jelek ini?
Aku menoleh karena merasa dipandangi. Cowok itu memang sedang memperhatikanku sambil se- nyum-senyum.
“Eh, sorry. Naik sepeda, eh, kena angin. Bikin rambut berantakan. Mengajar harus rapi, bukan?”
Aku ingat, kemarin Lintang cerita di Rumah Po- hon kalau aku bakal menyukai perjalanan ke rumah Chaca, karena indah dan bisa naik sepeda. Mudah- mudahan saja tadi dia memang naik sepeda.
“It’s okay,” katanya.
Aku lega. Tidak ada protes lagi. Artinya, Lintang memang naik sepeda. Dia tersenyum dan berbelok ke arah yang—mungkin—benar. Aku membuntutinya. Yak, melampaui lima langkah di lorong berdinding bolong karena berupa ukiran kayu, aku tiba di ruang- an terbuka yang dimaksud sebagai kelas muridnya Lintang. Aku melihat seorang gadis kecil mondar- mandir di tepi kolam sambil membaca sesuatu. Itu pasti dia. Siapa tadi namanya? Chaca? Ah, ya, Charity. Nama itu kubaca di jurnal. Chaca must be her nick name. Menyadari kedatangan kami, dia menoleh.“Kak Lin!” pekiknya antusias. “Hai, Chacaaa! Apa kabar?”
“Baik, Kak Lin.” Gadis kecil itu menjauh dari kolam dan melangkah ke ruangan terbuka yang me- nakjubkan ini. Aku berpikir ini bukan rumah, tapi hotel di Bali.
“Kak Lin apa kabar?” tanyanya setelah dekat de- nganku.
__ADS_1
“Baik.” Aku menjulurkan badan dan memeluk-nya.
Sempat kulihat wajah tak mengerti Chaca. Ah, ya,
Lintang tidak pernah seramah ini pada orang lain. Terkadang, aku memang sering melewati batas ke- wajaran dalam memerankan Lintang. Maafkan aku.
“Sebentar, Kak Lin,” kata Chaca.
Aku kira dia hendak mengatakan sesuatu ten- tang perubahan Lintang. Tentu saja aku sudah mem- persiapkan jawaban diplomatis. Hal gampang dan sangat mudah.
“Mama tadi pagi membuat cake pisang. Mama pesan agar menyuguhkannya pada Kakak. Sebentar, ya.” Chaca berlari meninggalkan aku dan lelaki ini. Siapa, ya, namanya? Kemarin Lintang tidak memberi- tahu tentang nama.“Rumah yang indah, ya?” komentarku sambil mengedarkan pandangan.
Dia mengikuti gerakanku ketika kemudian aku duduk di kursi kayu yang kuperkirakan tempat Cha- ca biasa belajar. Pasti ini buatan Papa Lintang. Di jurnal, Lintang menuliskan bahwa papanya membu- atkan kursi taman belakang untuk keluarga Charity.
“Ya,” katanya seraya ikut duduk di kursi terdekat denganku. “Mbak Nisa memang punya taste tinggi untuk desain interior. Dan, dia memang desainer interior.”
Aku mengangguk-angguk mendengar penjelasan itu sambil masih mengedarkan pandangan, menga- gumi tempat ini.
“By the way, sebelum mulai mengajar Chaca, aku minta dimainkan sebuah lagu, boleh?”
Aku hampir mengeluarkan ekspresi terkejut. Aku tidak bisa main gitar. Bagaimana ini? Namun, seperti biasa, aku mampu menahannya dan berusaha terlihat tenang. Sementara, dalam kepalaku berupaya memanggil Lintang keluar.
“Apa spesialisasimu? Klasik? Country? Folk?” Dia menyebutkan satu per satu hal yang tidak kumenger- ti.
“Tentu saja, harus semua bisa, sih. Seharusnya, ya,” jawabku seraya mengembangkan senyum.Lintang..., dia memintamu main gitar! pekikku di dalam hati. “Lagi pula kau memang harus segera ke- luar. Sebentar lagi kau harus mengajar Chaca, kan?”
Aku tersenyum pada Kapten Kirk. “Mau lagu apa?”
“Kalau klasik gimana?” “Boleh. ”
LINTAAANG! jeritku lagi di dalam hati. Aku bisa merasakan Lintang enggan keluar. Dia curang.
Dengan perlahan, kukeluarkan gitar Lintang dari kotaknya. Saat itu, Chaca muncul dari dapur. Di tangannya ada sepiring besar cake yang telah dipo- tong-potong. Seorang perempuan muda mengikuti Chaca dan membawa setumpuk piring kecil kosong dan garpu kecil. Mungkin wanita ini asisten rumah tangga di sini.
Aku mengulur waktu sepanjang mungkin sambil terus meminta Lintang segera keluar. Sudah waktu- nya dia mengajar. Akan tetapi, dia terasa jauh sekali.
“Silakan dimakan, Kak,” tawar Chaca ramah.
Wanita yang membuntuti Chaca tadi meletakkan piring-piring kecil di atas meja dan tersenyum pada- ku. “Seperti biasa, air putih hangat, ya, Dek? Sebentar saya ambilkan.”
“Sebelum mulai belajar, Om minta Kak Lintang memainkan sebuah lagu. Boleh, ya, Cha?” kata cowok itu pada Chaca.“Boleh! Boleh banget! Chaca juga belum pernah lihat Kak Lintang memainkan lagu.”
__ADS_1
Aku melirik Chaca sambil menarik napas. Sung- guh hebat sekali. Anak ini terlihat sangat antusias. Dia bahkan telah menopang tangan di lutut dan me- nyangga dagu, demi memandangku seperti aku ini televisi yang sedang menayangkan film kartun kesu- kaannya. Ke mana Lintang? Kenapa yang mendekat malah Jaka? Gawat, nih.