Kami Lintang

Kami Lintang
Kami Lintang - Bagian 1 Lintang


__ADS_3

Bagian 1 Lintang


Lintang Kemuning, Pengendali.


SETELAH seminggu nggak di rumah, Mama pulang dengan kondisi muka lebam. Kau pernah melihat wajah maling sehabis dipukuli satu kampung? Begi- tulah wajah Mama sekarang. Mama pulang bersama Tante Lea, adiknya.


Aku mengawasi dari jarak aman. Aku nggak mau terlalu dekat, tapi juga nggak ingin terlalu jauh. Biar bagaimanapun perempuan itu ibuku. Jadi aku ingin tahu keadaannya, meskipun hanya dengan cara mengamati tanpa berharap mendapatkan penjelasan. Baik dari Mama maupun Tante Lea.


“Lin.”


Akhirnya Tante Lea berbicara padaku. “Sudah makan?”

__ADS_1


Aku menggeleng dengan rasa aneh menggele- nyar. Pertanyaan mengalihkan seperti itu kadang- kadang masih bisa mengecewakan. Padahal, aku udah sering mendapatkan yang seperti itu. Seharus- nya aku udah kebal. Namun, kali ini aku pengin juga kecewa agar lebih manusiawi dan ada variasi.Kehidupanku bedebah. Kesialan demi kesialan membuatku rasanya semakin jauh dari bumi. Maka terkadang, tanpa sengaja aku sering melakukan se- macam improvisasi. Biar semua kayak baik-baik saja. Kesialan pertama adalah di usia yang udah dua puluh lima tahun ini, aku masih dianggap anak kecil. Aku belum berhak mengetahui apa yang terjadi, be- lum punya suara untuk memberikan saran apalagi solusi. Jadi, menurut mereka aku pun nggak perlu tahu mengapa wajah Mama bonyok. Aku sendiri se- benarnya malas bertanya karena percuma. Mereka akan mengarang bebas. Daripada memberikan dosa kepada mereka karena harus berbohong, aku memilih diam.


Pada kenyataannya, aku udah dengar, sih, penye- bab Mama bonyok begitu. Aku udah tahu lebih dulu dari berita yang beredar di televisi dan internet. Kata berita, mamaku dikeroyok dan dipukuli lawan poli- tiknya. Sedangkan kata orang-orang di kubu lawan politiknya, mamaku mengada-ada agar mengacaukan suasana. Dia hanya melakukan operasi plastik, nggak lebih, cibir mereka. Netizen saja ingin tahu kebenar- annya dari Mama. Apalagi aku!“Mama nggak apa-apa,” kata Mama sambil mem- preteli jam tangan, kalung, dan aksesori lain dari tu- buhnya.


Seringaiku muncul karena didesak rasa lucu se- kaligus kesedihan. Aku tahu mamaku. Dia memang ambisius, pembangkang—terutama pada Papa yang sejak aku kecil memilih berpisah dengannya—keras kepala, ‘gila’, dan rajin menabung dendam. Namun, dia—meski belum berhijab—adalah muslim yang cu- kup takut untuk mengubah bentuk wajah. Dia masih pilih-pilih juga, kok, dalam berbuat dosa. Aku yakin mengubah bentuk wajah bukan—belum—menjadi pilihan dosanya. Karena dia takut jarum dan nggak suka ketemu dokter. Jadi, ‘merusak’ wajah begitu de- ngan tujuan politik, mungkin bukanlah cara yang akan ditempuhnya.


Lagi pula dia sayang pada hidung imut berujung runcing itu. Sebuah hidung proporsional, nggak man- cung, nggak juga pesek, nangkring di wajah ovalnya. Kini alat pernapasannya itu berukuran dua kali lebih besar. Biru dan jelek. Dia juga pasti sangat sedih. Ta- pi, toh, sebagai wanita keras kepala, dia akan tetap berjuang pada apa yang diyakininya merupakan ke- benaran.


“Ma ”


“Ya,” katanya sambil membiarkan Tante Lea mengoleskan minyak herbal ke wajah lebamnya.

__ADS_1


“Papa besok ke sini.” “Ya, ya. , boleh.”


Dia bahkan nggak bertanya untuk apa laki-laki itu datang ke sini. Andai saja dia bertanya, mungkin aku sekalian pamit. Tapi, karena nggak, ya. Kali ini,


aku mantap melangkah, semantap hatiku yang akan memulai kehidupan baru besok.


“Lilin!” Panggilan Tante Lea membuat langkahku berhenti lagi.


“Ada nasi goreng kambing di meja makan, kalau mau.”


“Hmmm,” responsku datar.

__ADS_1


Aku meneruskan langkah ke kamar. Sebelumnya, aku harus melewati ruang makan temaram. Lampu di ruangan ini sudah dimatikan, hanya mendapatkan cahaya dari kamar Mama yang belum ditutup. Alih- alih menemukan kotak nasi goreng kambing di meja makan, pandanganku lebih dipaksa melihat perem- puan Jepang berkebaya itu lagi. Dia duduk di salah satu kursi meja makan dan memberiku seringai.Mayoru.


__ADS_2