
Bagian 28 Lintang
Lintang (Pengendali), Rumah Pohon—inner world Lintang.
ORANG pertama yang kutemui adalah Mer. Dia se- dang menulis di rumah pohonnya. Perempuan itu terkejut melihat kedatanganku dan langsung me- ninggalkan aktivitasnya.
“Ada apa?” tanyanya.
“Aku kemari ingin mengadakan pertemuan de- ngan kalian semua. Tapi, aku belum siap. Aku kesal dan butuh waktu sebentar di sini untuk mendingin- kan hatiku.”
Mer paling enak diajak ngobrol. Jadi, tadi aku langsung memilih masuk ke rumah pohonnya. “Me- mangnya kesal kenapa?” Dia lalu duduk di sebelahku.
“Papa dan ”
Aku nggak sanggup melanjutkan. Aku khawatir, menjelaskan hal ini pada orang lain akan terdengar aneh. Cemburu pada Papa? Untuk apa aku cemburu pada Papa? Itu namanya egois. Karena Chaca dan Mbak Nisa mungkin telah berjasa mengisi kekosong- an hari-harinya tanpa kami—aku dan Mama. Tetapi, kenapa rasa itu timbul? Aku nggak bisa menahannya, mau bagaimana lagi?Mer merangkulku. “Cerita saja.”
“Aku cemburu pada Chaca dan Mbak Nisa,” kata- ku setelah beberapa detik terdiam. “Aku pikir, hanya ada aku di hati Papa. Aku tahu pemikiran ini menji- jikkan. Aku tahu.”
__ADS_1
“Tidak. Bagiku ini tidak menjijikkan. Rasa cem- buru itu wajar. Itu karena kau mencintai papamu, Lin. Itu wajar.”
Aku menatap Meredith. Mengapa dia punya otak brilian seperti itu? Kapan aku bisa sedewasa dia da- lam berpikir? “Maafkan aku yang belum bisa dewasa, Mer. Aku selalu meributkan hal-hal kecil.”
Mer menipiskan bibir. “Bagiku, ini bukan hal ke- cil. Ini bisa jadi besar kalau kau membiarkannya. Apa salahnya kautunjukkan rasa cemburu ini pada papa- mu. Aku yakin papamu justru akan senang.”
“Nggak! Aku nggak akan melakukannya. Aku, aku merasa sangat egois saat ini, Mer. Aku hanya memi- kirkan diriku. Aku mau pulang ke Medan. Di sanalah tempatku. Di sini, aku hanya merepotkan Papa.”
“Lin... itu namanya kau tidak komitmen. Bagai- mana kau bisa maju? Kau plin-plan. Kemarin, kau sangat antusias mau ke sini. Sekarang? Hanya karena kau tidak bisa mengatasi rasa cemburumu, kau mun- dur.”Aku terdiam. Mer nggak mengerti. Ini pahit. Dan ini bukan hanya tentang rasa cemburu.
“Lin, awas, jangan sampai praduga-praduga me- nenggelamkan kebaikan. Kau hanya menduga papa- mu ‘menduakanmu’ atau di hati papamu tidak hanya ada dirimu. Itu dugaanmu. Kalau salah bagaimana? Sementara kau sudah mati karena pemikiranmu yang keliru. Tak ada salahnya mengomunikasikan ini pada papamu, Lin,” jelas Mer panjang lebar. “Pokok- nya, berjanjilah padaku untuk tidak mundur. Ini im- pianmu, kejarlah! Jadilah pemberani.” Mer menga- cungkan kepalan tangannya.
“Makasih, Mer, udah mau mendengar ceracauku. Ayo, panggil yang lain. Ada yang ingin aku sampai- kan.” Aku harus memotong pembicaraan ini, karena sepertinya aku juga jadi kesal atas pendapat Mer.
Semua udah berkumpul di Rumah Pohon Utama, kecuali Adrik dan Felixia. Mereka harus hadir, karena untuk mereka pertemuan ini aku adakan.
“Mana Adrik dan Felixia?” tanyaku.Belum seorang pun sempat menjawab, semua menoleh ke arah pintu karena mendengar ada lang- kah-langkah. Dari ambang pintu, muncul Adrik dan Felixia. Aku menatap mereka kaget, tapi dalam pera- saan positif.
__ADS_1
Mereka sama sekali berbeda, minimal dari pe- nampilan luar. Felixia, nggak lagi menggunakan pa- kaian serba pink. Meski masih menganut gaya lama tapi semua warnanya udah berubah kuning. Rambut dan sepatu boot-nya juga kuning cerah sewarna bu- nga matahari. Dia tersenyum lebar. Bibirnya dipoles lipstik kuning. Bahkan bulu matanya berwarna ku- ning.
Adrik sendiri udah bersalin pula. Dia nggak me- ngenakan seragam SMA lusuh itu lagi. Dia mengena- kan setelan jas berwarna serba kuning. Adrik tetap mempertahankan rambut hitamnya. Selebihnya, se- mua yang menempel di tubuh pemuda itu berwarna kuning. Dia juga semringah. Mereka berdua bagai pe- ngantin bunga matahari yang menikah ketika mata- hari terbit.
Aku tersenyum. Setiap kali aku mengubah per- sepsi tentang alter, biasanya aku akan mendapati pe- nampilan mereka berubah. Aku sadar, penampilan ini sumbangan dariku. Aku adalah Adrik dan Felixia. Mereka adalah aku.
“Wow! Sungguh kuning!” pekik Mer. Orang per- tama yang berkomentar.“Jangan deket-deket di tepi kali, ntar kalau kalian nyebur, terus ngambang dikira apaan,” kelakar Bang Jaka. Tawa ngakak-nya menular pada semua orang.
Felixia dan Adrik menanggapi komentar itu de- ngan tenang. Mereka tahu, itu cara yang lain membe- rikan perhatian. Ketika suasana sudah lebih tertib, aku mulai bicara.
“Aku mengumpulkan kalian semua di sini karena ingin mengabarkan berita baik. Berkat Felixia, Mayo- ru sementara ini nggak muncul lagi. Tapi, aku nggak mau terlalu yakin. Jadi, aku tetap merasa perlu agar kita berjaga.”
Aku menatap Felixia. Dia mengangguk. Pandang- annya terlihat lebih percaya diri dari sebelumnya. Semua penghuni Rumah Pohon mengangguk-angguk. Nggak tampak lagi ekspresi penolakan seperti saat aku kumpulkan mereka pertama kali dengan Felixia. Bahkan Civa duduk tenang satu meter jauhnya dari Bunda Ret. Dengan santai, dia menjilati lolipop blue- berry.
“Kak Felix, makasih, ya!” pekiknya pada Felixia sembari mengangkat lolipopnya.
“Sama-sama.” Felixia tersenyum lebar dan meng- angguk ceria.
__ADS_1
Melihat ini, aku menggeleng dan melipat tangan. Sepertinya pertemuan dalam rangka rekonsiliasi ini nggak perlu kuselenggarakan, deh. Sebab semua udah terlihat baik-baik saja. Faktanya, mereka selalu lebih hebat daripada aku dalam persoalan memaaf- kan.Sekarang aku harus keluar, menyelesaikan ma- salah yang lainnya. Kau tahu, saat ini, aku nggak lagi begitu yakin dengan keputusanku pergi jauh dari ru- mah.