Kami Lintang

Kami Lintang
Kami Lintang - Bagian 38 Lintang


__ADS_3

Bagian 38 Lintang


Alter Paman Weirdo di Inner World Lintang.


PEKERJAANKU adalah bertualang. Sudah ratusan kali aku mengelilingi tempat ini. Aku memburu he- wan-hewan buas. Hewan-hewan itu selalu muncul lagi dan lagi. Mereka seperti virus nakal yang susah dimusnahkan. Namun, itulah pekerjaanku. Jika mere- ka tidak ada, mungkin aku juga tidak ada. Haha!


Kata teman-teman, aku selalu dalam mode terta- wa jika bicara. Ya, bisa dibilang begitu. Jalan-jalan dan piknik setiap hari mungkin membuatku selalu ingin tertawa. Menyaksikan banyak hal membuat ki- ta selalu dapat menghargai sesuatu. Mulai dari meng- hargai diri sendiri, orang lain, dan seluruh kehidupan ini. Itulah kunci mengapa dalam setiap perkataanku ada tawa. Ah, itu mereka yang katakan, ya. Bukan aku. Kalau aku, sih, merasa biasa saja. Haha!Dari semua petualanganku, hari ini yang paling menakutkan sekaligus paling menantang bahaya. Aku sebenarnya belum pernah mengalami kejadian seperti ini di sini. Banjir besar! Banjir aneh yang ti- dak masuk akal. Mana mungkin hutan asri dengan penyerapan air yang masih sempurna bisa banjir dihantam hujan beberapa menit saja?


Apakah ini gila? Ah, tidak juga, ya? Haha. Karena sebenarnya semua ini memang sudah cukup tidak masuk akal. Siapa manusia yang tinggal di dalam kepala manusia lain? Manusia macam apa dia? Haha.


Masihkah aku bisa tertawa dalam situasi kacau seperti ini? Apa itu artinya aku meremehkan situasi rumit ini? Tidak juga, ya. Tertawaku ini bukan selalu bermakna aku sedang bahagia atau sedang menerta- wakan sesuatu yang lucu. Tawaku bisa berarti sebu- ah undangan agar rasa tenang bersedia datang. Kare- na—kau harus percaya padaku tentang hal ini—jika ketenangan mau datang, masalah seberat apa pun bisa menemukan jalannya. Jalan baik, tentu saja. Aku harap kali ini juga begitu. Haha!


“Here we go!” kataku saat rakit mulai menemu- kan daratan lagi.


“Ayo, turun!” Jaka berteriak memerintahkan se- mua penumpang di rakit ini turun ke daratan.


Aku menunggu sampai Jaka turun, baru ikut turun. “Bro! Kita tarik rakit ini sampai ke atas dulu. Kita butuh ini untuk pulang,” saranku sambil me- nunggu Jaka dan Adrik membantu menarik rakit.Kami menarik rakit ke tempat yang aman dan mulai berjalan menuju Hutan Larangan. Belum, kami belum sampai. Perjalanan dengan kaki harus kami tempuh beberapa kilometer lagi.


Alter Jaka di Inner World Lintang.


Setelah perjalanan dengan rakit di atas air meng- amuk selesai, di sinilah kami berempat. Kami harus berjalan lagi di tengah hutan untuk mengakses Hutan Larangan. Gue tahu semua orang pada lelah ga ketulungan. Gue juga tahu kami ga setegar itu. Na- mun, gue salut banget, mereka berusaha ga menam- pakkan kelemahan. Justru hanya semangat besar yang bisa gue pindai di mata-mata mereka. Terutama Felix.


Felixia. Ah, gue bangga pada perempuan tegar itu. Mulutnya emang sekotor comberan yang banyak bakteri e-**** dan segala macam hal menjijikkan lain- nya, tapi hatinya tulus dan komitmennya tinggi. Ke- banyakan, rasa cinta memang selalu nge-drive kita ke arah yang lebih positif. Felixia bukti nyata akan keagungan cinta. Adrik beruntung banget dapetin dia dan sebaliknya. Ah, gue selalu baper kalau lihat me- reka berdua.Saat udah sampai di tengah perjalanan, gue ka- get. Tiba-tiba hujan berhenti. Maksud gue gini, separuh tempat di belakang—yang udah kami lewati—masih hujan sederas-derasnya, separuh lagi engga. Lo bisa lihat di sisi depan itu ga ada hujan, di sisi ini hujan. Jadi dalam satu langkah lo bisa pindah ke tempat yang hujan dan yang kering.


“Wuah, aneh!” Paman Weirdo memekik sambil melompat bolak-balik.


Gue juga melakukan hal yang sama, tapi hanya sekali bolak-balik dan ga norak kayak si Uncle. Adrik berdiri menyamping dan membagi dua dirinya. Satu di bagian berhujan. Satu di bagian kering. Dia mene- ngadahkan tangan. Tangan sebelah kirinya menam- pung hujan, tangan kanan hanya angin.

__ADS_1


Felixia sendiri yang tampak kurang antusias de- ngan fenomena ini. Sungguh ini janggal banget. Kare- na ga ada apa-apa pun biasanya dia paling heboh. Sejak berangkat tadi dia memang diam aja. Gue yakin dia berusaha terus menjalin koneksi dengan Lintang. Kelihangan fokus dikit, mungkin dia akan kehilangan komunikasi dengan Lintang. Gue jadi merasa ga enak karena sempat bolak-balik menikmati sensasi hujan separuh.


“Masih terkoneksi dengan Lintang, Fel?” Mene- ruskan perjalanan, kami meninggalkan wilayah hujan dan segala keanehannya. Gue lihat Adrik dan Paman Weirdo masih membahas itu dan bolak-balik melihat ke belakang.“Ada, Bang, tapi lemah dan terdengar sayup ba- nget. Kak Lin terasa jauh banget. Nggak terjangkau, tapi aku bisa merasakan. Aneh, Bang. Aku dengar Kak Lin panggil, tapi aku nggak bisa mengambil alih. Abang gimana? Bisa konek dengan Kak Lin?”


Gue menggeleng. “Sama sekali ga bisa,” jawab gue menyesali. Gue jadi keinget satu hal. “Lintang menjalin koneksi dengan lo terus. Meskipun lemah dan kedengaran jauh, kan? Apa ini ada hubungan dengan Mayoru?”


“Iya, Bang. Fe yakin itu yang bikin kacau sistem.


Makanya Kak Lin panggil-panggil aku terus.” “Tapi, kenapa bisa sampai sekacau ini, ya?” Felixia menggeleng lemah.


Yap, jawaban itulah yang sedang kami cari di Hutan Larangan nanti.


Alter Felixia di Inner World Lintang.


Perjalanan ini, anjir... menakutkan banget. Sebenar- nya aku pernah berjanji parah, sudah nggak mau balik lagi ke Hutan Larangan. Tapi, ini beda. Ini tugas. Kewajiban utamaku menjaga sistem. Sistem sedang kacau balau. Dan, aku sendiri yang diteriakkan Kak Lin tentang Hutan Larangan. Semoga kami menemukan petunjuk di sini. Karena teriakan Kak Lin itu bisa berarti banyak hal.Kami sampai di tepi jurang. Aku ingat banget jurang bedebah ini. Waktu dulu aku dibuang ke Hu- tan Larangan, di sinilah tutup mataku dibuka. Karena apa? Untuk memudahkanku merayap dari tebing terjal jurang ini ke dasar jurang sana. Pintu ke Hutan Larangan, ada di bawah sana. Waktu sampai di dasar jurang, mataku ditutup lagi. Begitupun waktu aku dan Adrik dijemput Bang Jaka. Mata kami ditutup dan hanya sewaktu di jurang ini akan dibuka.


“Jika ini semua sudah berakhir,” kata Bang Jaka setelah mengembuskan napas dan menatap nanar ke dasar jurang. “Gue terpaksa cari tempat larangan baru. Harus jalan lebih jauh lagi.”


Aku menjengit. Aku sedang mengenang betapa aku pernah menjadi orang yang merugikan sistem. Ah, sudahlah. Itu masa lalu. Sekarang, harus aku buk- tikan bahwa aku bisa menyumbangkan hal baik un- tuk sistem.“Maksudnya apa, Bang?”


Itu pertanyaan dari Adrik. Biasanya aku akan menarik kuping si Lambat Laun itu saking lemotnya. Haruskah itu saja nggak tahu? Itu juga sudah pernah aku jelaskan. Grrrr... tahan. Aku lagi nggak punya tenaga untuk itu. Lagi pula aku harus fokus. Tahan. Biarkan saja Bang Jaka yang menjawab.


“Nggak ada yang boleh tahu jalur ke tempat ini sebenarnya. Sekarang, kalian semua udah tahu.”


“Kenapa nggak boleh ada yang tahu, Bang?” Ad- rik bertanya lagi.


Gue menggeram, menahan emosi yang sudah hampir ke ubun-ubun. Padahal kemarin sudah dije- lasin pas Bang Jaka jemput kami berdua. Ihhh!

__ADS_1


“Namanya tempat ngehukum, Drik.... Kalau se- mua orang boleh tahu, namanya tempat rekreasi, dong!” Bang Jaka terdengar agak kesal.


“Jadi, aku kemarin dihukum, ya? Kok ada di Hu- tan Larangan?” tanyanya polos.


Nah, kalau yang ini, aku juga bertanya-tanya.


Mengapa Adrik ada di sana?


“Gue juga nggak begitu paham, Drik. Mungkin karena lo memang tercipta untuk Felixia, makanya lo nongol di sana. Ah, entahlah! Kok, jadi bahas ini, sih? Yuk, turun satu per satu. Hati-hati, cari pijakan yang kokoh.”Paman Weirdo baru muncul lagi setelah tadi ja- lan sendirian ke ujung sana. Dia memang nggak per- nah bisa diam lama di satu tempat.


“Aku temukan jalur bagus di sana. Tidak terlalu terjal,” katanya.


Bang Jaka terdiam sebentar dan memandangi orang tua enerjik itu. “Baiklah. Paman tunjukkan ja- lan,” katanya.


Aku mengikuti Paman Weirdo sama seperti yang lain. Sekali lagi, aku mencoba konek ke Kak Lin. Nihil. Terakhir aku terkoneksi dengannya, waktu di atas rakit tadi. Persis ketika petir terkeras meledak di langit. Tiba-tiba aku teringat akan satu hal.


“Bang Jaka,” panggilku.


“Ya?” Dia menoleh dan melambatkan langkah un- tuk menyejajariku.


“Kak Lintang benar-benar nggak tahu akses ke Hutan Larangan, kan?”


“Iya. Kenapa tanya itu?”


“Memungkinkan nggak, kalau dia cari sendiri dan ketemu?”


Bang Jaka berhenti. Dia tampak kaget dengan pertanyaanku. Matanya tajam menatapku, tapi aku tahu dia sedang memikirkan sesuatu. “Astaga! Itu mungkin! Itu mungkin banget. Dunia ini di kepala nya. Dia bisa aja cari tahu kalo emang dia mau me- langgar semua aturan.”Aku menganga. Semua kekacauan yang nggak pernah terjadi sebelumnya ini? Banjir di rumah po- hon? Susah terkoneksi? Suara Kak Lin yang jauh? Nggak bisa terkoneksi dengan dirinya? Pekikannya padaku tentang Hutan Larangan?

__ADS_1


“Bang... aku yakin, Kak Lintang ada di Hutan La- rangan,” gumamku lebih seperti merapal mantra me- ngerikan.


“Cepat! Ayo, semua cepat bergerak!” pekik Bang Jaka. Dia sangat panik.


__ADS_2