Kami Lintang

Kami Lintang
Kami Lintang - Bagian 39 Lintang


__ADS_3

Bagian 39 Lintang


Alter Sylia.


TANTE Lea memeriksa badanku. Dia menemukan luka tergerus aspal atau tanah—aku tidak tahu pas- ti—di sikuku. Lukanya lumayan lebar dan perih. Ka- rena Tante Lea sudah mengambil alih, maka laki-laki tadi melepasku. Ini kesempatan bagus.

__ADS_1


Jadi, ketika wanita ini menunduk untuk meme- riksa kemungkinan luka di bagian lain, aku lari se- kencang-kencangnya. Tetapi, belum seberapa jauh aku meninggalkan tempatku, laki-laki itu menang- kapku lagi. Siapanya Lintang, sih, orang ini? Ikut cam- pur saja!


“Lepaskan! Lepaskaaan!” Aku menjerit sekuat te- naga.


 Beberapa saat kemudian, aku merasakan sesuatu yang dingin menusuk lenganku. Wanita yang dipang- gil Lintang dengan sebutan ‘Mama’ itu, sudah berdiri di sampingku. Ekspresi wajahnya datar. Ada yang berbeda dengan wajahnya, pikirku, sebelum jarum suntik menusuk kulitku lebih dalam.“Kenapa wajahmu berbeda, Anak Monster kege- lapan?” tanyaku heran. Aku merasa tubuhku lemas dan suaraku pun ikut melemah. Tubuhku ditahan pria kepo itu.

__ADS_1


Rasa kantuk ini sudah tidak dapat lagi kutahan. “Apa?” Tante Lea muncul di depan wajahku, tapi


wajahnya tampak buram.


“Anak itu. Pemurung.” Suara Tante Gea semakin samar dan terasa jauh.

__ADS_1


“Sylia?”


Aku mendengar namaku disebut ketika mataku terpejam penuh. Sempat kularikkan senyum karena ternyata mereka masih mengingatku dengan baik. Bagus.


__ADS_2