Kami Lintang

Kami Lintang
Kami Lintang - Bagian 36 Lintang


__ADS_3

Bagian 36 Lintang


Alter Adrik di Inner World Lintang.


BANYAK hal di kehidupanku yang nggak bisa kume- ngerti dengan benar. Dulu, aku punya kehidupan menyenangkan. Aku sekolah di SMA favorit di kota Medan. Teman-temanku banyak dan setiap hari sela- lu bahagia. Kami melakukan kegiatan-kegiatan me- nyenangkan bersama-sama. Kami nggak perlu repot mendekati wanita, karena wanita-wanita cantik de- ngan sukarela mendekati kami.


Aku punya orang tua. Mereka orang hebat. Papa- ku direktur sebuah bank swasta dan ibuku PNS de- ngan jabatan penting di kantor Perpajakan. Hidupku dulu sempurna.


Kemudian, aku tiba-tiba berada di hutan berwar- na kelabu itu. Luntang-lantung ke sana kemari, tanpa tahu kapan bisa pulang. Pada satu titik di Hutan La- rangan, kadang aku merasa masa lalu di memoriku itu hanya imajinasi belaka. Semua itu nggak benar- benar terjadi. Semakin hari, aku memercayai bahwa itu memang imajinasi. Aku nggak punya masa lalu. Kalaupun ada, mungkin aku sudah melupakan yang sebenarnya terjadi.Kenapa? Karena terkadang, aku merasa mempu- nyai ibu, tapi aku nggak bisa membayangkan bagai- mana wajahnya. Aku juga nggak bisa mengingat ba- gaimana wajah papaku. Semua hanya seperti kenang- an berwajah luntur. Yang tinggal hanya berupa frag- men-fragmen kabur dan rasa yang pudar. Itu pun sedikit. Ketika aku menemukan kehidupanku di Hu- tan Larangan, aku merasa memang di sinilah tempat- ku.


Kemudian, ketika ada di Rumah Pohon dan se- gala penjelasan tentang sistem dari Felixia, aku semakin yakin bahwa inilah hidupku. Inilah masa depanku, sehingga kini masa lalu bagiku sama sekali nggak ada artinya lagi.


Waktu aku menceritakan ini pada Felixia, dia ju- ga merasakan hal yang sama. Dia juga punya masa lalu yang diingatnya. Selain dia memang nggak suka membicarakan masa lalunya yang—katanya—pahit, dia juga merasa itu nggak perlu lagi diingat. Karena baginya, Rumah Pohon ini adalah rumahnya. Masa lalu baginya adalah sampah. Dan, tentu saja dia sudah membuangnya jauh-jauh.Maka, di sinilah kami. Berada di tengah-tengah air mengamuk, di atas sebuah rakit kecil. Semua orang di atas rakit ini, punya satu tujuan, menyela- matkan kehidupan Rumah Pohon. Menyelamatkan kehidupan kami. Kehidupan Kak Lintang.

__ADS_1


Siapa Kak Lintang? Terkadang, aku bertanya-ta- nya. Mengapa sepertinya orang-orang di Rumah Po- hon begitu antusias membicarakan masalahnya dan berusaha menyelesaikan semua kekacauan dalam hidupnya. Tidakkah masing-masing orang dalam Ru- mah Pohon punya masalah sendiri-sendiri? Mengapa harus mengurusi masalah Kak Lintang?


Ketika coba kutanyakan pada Felixia, gadis itu mendengkus. Menurutnya, dia sudah menjelaskan hal itu berulang kali padaku. Akhirnya, pertanyaan itu kutanyakan pada diri sendiri. Apakah aku nggak punya masalah sendiri untuk diselesaikan? Punya. Namun, entah bagaimana caranya, aku juga seperti punya tanggung jawab untuk menyelesaikan masalah Kak Lintang. Mengapa aku harus ikut mengurusi Kak Lintang? Karena apa yang terjadi padanya, akan berimbas pada kehidupanku. Itulah caraku mema- hami semua ini. Kata Felixia, aku si Lambat Laun. Biarlah, terserah dia mau bilang apa. Aku tetap men- cintainya. Dia hanya nggak menyadari, aku belum terlalu lama bergabung dengan mereka yang sudah lebih tahu mengenai apa dan siapa mereka.Vegetasi hutan sekitar Rumah Pohon sudah kami tinggalkan. Sekarang kami tidak lagi repot menghin- darkan rakit dari batang-batang pohon. Tetapi, sebe- narnya lebih berbahaya karena arus bisa saja mem- bawa kami jauh entah ke mana. Ini pasti padang sa- vana yang harus kami lewati untuk mencapai mulut Hutan Larangan. Aku membayangkan bagaimana jika tadi kami memutuskan untuk menerjang air begitu saja tanpa rakit. Sampai di sini kami pasti sudah ha- nyut tak berbekas.


Felixia nggak ikut mendayung. Dia duduk di tengah rakit dan menunduk. Entah apa yang dilaku- kannya. Sejak tadi dia selalu fokus dan tak ingin di- ganggu. Mungkin, dia terus mencoba berkomunikasi dengan Kak Lintang. Mungkin juga dia takut. Aku ta- hu dia nggak bisa berenang. Kuelus rambut kuning- nya, tapi dia nggak merespons. Dia tetap tunduk se- raya memeluk lutut.


Kami semua benar-benar kuyup. Curah hujan nggak sedikit pun mau mereda. Terkadang, aku ha- rus nyengir meningkahi kaki-kaki hujan yang meng- hunjam kulit wajahku. Petir terus sahut menyahut.


Dia ada di ujung depan rakit, memberikan aba- aba agar gerakan dayung lebih terarah. Sementara, aku di tengah dan Bang Jaka di belakang.


Duaaaarrrr!Petir lagi. Kali ini superkuat. Paling kuat daripa- da petir-petir sebelumnya. Tak ayal itu membuat semuanya kaget dan ketakutan.


“KAK LINTANG!”

__ADS_1


Tiba-tiba Felixia berteriak histeris sambil men- dongakkan wajahnya ke arah langit. Seolah dia mem- balas ledakan petir barusan. Felixia menangis histe- ris. Aku berjongkok dan memeluknya.


“Kenapa, Fe? Kak Lintang kenapa?”


Felixia terus menangis. “Aku nggak bisa menje- laskannya. Kak Lin benar-benar dalam bahaya! Kita harus cepat sampai ke Hutan Larangan!” jelasnya di antara isak tangis.


“Felix, bertahanlah!” pekik Bang Jaka. “Adrik te- rus mendayung. Kita butuh tenaga banyak supaya rakit ini ga hanyut!”


Perintah itu membuatku terpaksa membiarkan Fe dengan perasaannya sendiri. Karena keselamatan kami semua lebih utama. Aku bangkit dan kembali dengan tugasku mendayung.


“Itu! Hutan larangan sudah terlihat!” pekik Pa- man Weirdo menunjuk ke satu arah.


Ya, di depan sana ada semacam gundukan tinggi berisi pepohonan lebat. Hutan Larangan terletak di seberang bukit yang sebagian kakinya sudah tertu- tupi air itu.

__ADS_1


__ADS_2