Kami Lintang

Kami Lintang
Kami Lintang - Bagian 11 Lintang


__ADS_3

Bagian 11 Lintang


Lintang Kemuning, Pengendali.


AKU terbangun bukan di pondokku, bukan di tengah kebun, melainkan di tempat yang belum pernah kulihat. Sebelum cari tahu ini ada di mana, otomatis, aku mencari tahu ini pukul berapa dulu. Sesuatu yang biasa aku lakukan setiap bangun tidur. Dari jen- dela yang nggak bertirai, aku melihat langit berwar- na biru gelap. Itu memberitahuku bahwa malam udah berlalu. Biru gelap adalah warna langit subuh sebelum pecahnya fajar.


Aku nggak memercayai itu. Karena terakhir kali aku tersadar, masih sekitar pukul delapan malam. Masa iya, sih, aku tidur—atau pingsan—selama itu? Aku mengangkat punggung dan menumpunya dengan siku untuk mencari ponsel. Aku biasa mengecek waktu di sana. Alih-alih ponsel, aku malah melihat Papa masih tertidur di dalam hammock yang digan- tung melintang memotong lebar ruangan.Kepalaku memutar sebentar untuk memastikan karena tiba-tiba menyadari suatu hal. Aku tahu ini di mana, akhirnya. Ini pasti pondok depan. Di sini nggak ada tempat tidur di atas seperti di pondok belakang. Jadi Papa tidur di hammock. Aku sendiri berbaring di sofa. Tubuhku dibalut selimut rajutan benang wol abu-abu.


Papa bergerak. Matanya terbuka. Dia menarik napas. Suara tarikan dan embusan napasnya keras. Sambil mengucek mata, dia memanggil namaku.


“Lin. Udah bangun?”


“Hu-um,” jawabku sambil menegakkan badan.


Perlahan, kusibak selimut dan kuturunkan kaki hingga menginjak ambal abu-abu gelap berbulu pan- jang tebal. Aku nggak merasa pakai kaus kaki tadi malam, tapi sekarang aku mengenakan sepasang kaus kaki laki-laki. Bisa jadi punya Papa dan dia pula yang memasangkan.


Papa juga turun dari hammock-nya. Dengan ge- rakan masih lemas karena baru bangun tidur, dia berdiri dan melepas satu kaitan hammock kemudian mengikatnya berkumpul di bagian seberang, sehing- ga nggak lagi yang menghalangi jalan ke dapur pondok. Papa melangkah gontai ke kamar mandi yang hanya berjarak sekitar tiga meter.Sambil melipat selimut, aku mengitari sekeliling. Di sini nggak banyak perabot seperti pondok bela- kang. Hanya ada satu sofa, satu meja kerja kecil, dan meja gambar. Di atas meja kecil, aku melihat tape recorder, alat pemutar kaset yang sekarang udah pu- nah kayak dinosaurus.


Di ujung sana, ada dapur—isinya nggak sekom- plet dapur pondok belakang—bersebelahan dengan kamar mandi. Di bagian atas dinding pondok, dike- pung lemari-lemari gantung sewarna pelitur dinding. Papa keluar dari kamar mandi   dengan   wajah lebih segar. Dia langsung membentangkan sajadah dan salat. Aku masuk ke kamar mandi karena sesak buang air. Ada mukena di atas sajadah ketika keluar dari kamar mandi, membuatku kembali masuk untuk


wudu.


Ketika aku selesai salat, fajar udah pecah dan aku melihat langit berwarna kemerahan dari jendela. Pemandangan keren. Papa sedang sibuk di dapur. Pria bertampang ramah itu sedang menyiapkan telur dan menuang minyak ke penggorengan.


“Sini, Lintang aja, Pa,” tawarku. “Nggak usah. Kau masih lemas.” “Nggak. Lintang nggak apa-apa.”


“Yakin?” Papa menatapku sebentar. “Ya, udah,” lanjutnya setelah melihatku mengangguk. “Buatkan minuman kita aja. Papa teh hijau. Kalau kau mau susu, cari di lemari itu. Ada susu cokelat bubuk. Susu segar lagi abis. Papa belum belanja.”Papa meneruskan kegiatannya memecahkan te- lur-telur. Kulihat rice cooker kecil di sebelah kompor listrik sedang bekerja menanak nasi.


“Kau sering kek gitu, Lin?” tanya Papa. “Sering kenapa, Pa?”


“Pingsan.”


“Udah enggak, sih, Pa.”


Aku hampir mengatakan kalau itu kambuh lagi baru-baru ini, tapi kutahan. Papa pasti bertanya ada apa dan bakalan lanjut menanyakan lebih detail lagi. Belum saatnya menceritakan hal ini padanya. Nanti Papa jadi khawatir dan aku akan dipulangkan ke Medan.


“Jadi kira-kira itu kenapa? Apa hari ini Papa an- tar balik ke Medan aja, ya, ketemu Mbak Icha?”


Aku mengernyit. Bener, kan? “E-eh, jangan, Pa! Enggak..., nggak usah. Ini, kan, hari pertama Lintang kerja.”


“Kalau soal itu, Papa nanti yang bilang ke Nisa, mamanya Charity kalau kau lagi nggak sehat.”


“Jangan, dong, Pa. Masa hari pertama udah bo- los?”


“Papa khawatir, Lin. Nanti Papa bakal disalahkan mamamu. Males Papa berhadapan sama singa hutan Amazon lagi.”


Aku berhenti menyiduk bubuk susu cokelat dan tersenyum menatap Papa. “Pa, sejak Papa bawa Lin- tang ke sini, tanpa Lintang pamit, juga udah memba- hayakan Papa di mata singa Hutan Amazon.”“Nah, itu!” pekiknya ngeri.

__ADS_1


“Tapi, itu gampang. Bisa Lintang atasin.”


“Akan semakin parah singa hutan itu ngamuk- nya, kalau kau di sini terus kondisi kesehatanmu nggak semakin baik, Lintaaang....” Papa gantian me- natapku memelas.


“Gini aja, Pa. Ketemu Mbak Icha nggak mesti ke Medan. Ntar bisa lewat Skype atau video call WA,” kataku memberikan ide. “Yang penting Papa punya jaringan internet kuat, nggak?”


“Jangan menyepelekan tempat Papa, meski ini di gunung. Udah kau tengok antena paling tinggi di de- kat kebun jagung?”


Aku mengangguk.


“Udah tahu jawabannya, kan?”


Aku tersenyum lebar. Bukan untuk jaringan in- ternet yang kuat, tapi karena udah berhasil membuat Papa menangguhkan niat memulangkanku ke Medan. Air di ketel yang tadi dijerang Papa udah mendidih. Aku menyeduh susu cokelat untukku dan teh hijau untuk Papa.


***


Dengan Chevrolet, aku diantar Papa ke kediaman Charity. Jaraknya nggak jauh. Hari pertama, biarlah diantar Papa sekaligus memperkenalkan aku pada keluarga itu. Mungkin, besok-besok aku akan pergi sendiri pakai sepeda yang kulihat kemarin. Mudah- mudahan sepeda itu masih bagus.Aku teringat isi semua medsos hari ini. Tadi sembari sarapan bareng Papa di teras pondok, aku iseng membuka medsosku. Semua tempat sedang dipenuhi berita panas yang sama. Mugkin ekspresiku mengerikan saat menatap layar hape, soalnya Papa jadi bertanya.


“Kenapa, Lin?”


Nggak pakai ngomong, aku menyerahkan hape- ku pada Papa untuk dilihatnya sendiri. Suara Mama dari video di Instagram menggema di pondok. Papa geleng-geleng menyayangkan kejadian yang menim- pa Mama. Mama mengaku bahwa dia telah menyebar hoaks. Dia nggak dipukulin siapa pun. Dia memang mengoperasi wajahnya. Itu membuat heboh satu ne- gara. Sesuatu yang dia persembahkan layaknya ma- kanan mewah untuk tim sukses petahana. Sebab, Mama merupakan pendukung capres seberang.


Aku sendiri masih nggak percaya Mama operasi plastik untuk mengubah wajahnya. Tetapi, aku sege- ra sadar akan dua hal. Pertama, nggak ada yang nggak mungkin bagi wanita seperti Mama. Dan, ke- dua, aku memang nggak pernah mengerti dirinya.


Dia dan dunia politik, layaknya Danau Kabut di Hu- tan Larangan dan Segitiga Bermuda. Sama-sama mis- terius dan nggak terselami hingga ke dasar.Papa cepat-cepat mematikan video pengakuan Mama dan menyerahkan ponsel padaku. Dia hanya memberikan gelengan lagi. Lelaki itu tampaknya ke- hilangan kata-kata. Tak lama kemudian, dia berujar dengan nada meyakinkan,


Aku mengangguk, tersenyum, dan menyeruput susu cokelatku. Di sini susu cokelat panas cepat seka- li menjadi dingin. Sama dengan cuaca di hatiku yang cepat berubah dari hangat menjadi dingin. Biar begi- tu coba kuyakinkan pada hatiku, Mama akan baik- baik saja. Dia punya banyak teman satu kepentingan di dunia politiknya. Lagi pula ada Tante Lea.


“Mamamu pasti bisa ngatasinnya.” Papa menyen- tuh pundakku seolah tahu kekhawatiran di hatiku.


Pagar tanaman menjalar rumah keluarga Charity udah kelihatan. Papa berbelok dan mobil berhenti tepat di depan pagar. Papa menjulurkan tangan ke- luar jendela mobil untuk memencet bel yang menem- pel di sebuah dinding marmer. Suara belnya sayup terdengar.


“Siapa?” sapa suara dari speaker di dekat bel. “Eky,” sahut Papa.


 Terdengar bunyi ‘klik’ sekali, lalu pagar mengge- ser otomatis ke samping. Papa menginjak gas dan mobil mulai memasuki pekarangan yang kemarin hanya bisa kuintip. Tamannya benar-benar tertata indah. Campuran gaya taman-taman di Jepang dan Bali.Sewaktu Papa memarkirkan mobil, pintu utama berupa kayu berukiran rumit terbuka. Dari dalam mobil aku melihat seorang wanita cantik, berambut pendek. Dia berpakaian kasual. Wanita itu tersenyum sangat lebar.


Aku menarik koper gitar dan mengaitkannya ke bahu. Saat turun dari mobil, muncul seorang gadis cilik yang nggak kalah manisnya. Dia melambai riang ke Papa dan tersenyum ramah padaku. Senyum-se- nyum mereka kubalas tak kalah ramah.


“Ini Lintang, kan?” sapa wanita itu sambil menju- lurkan tangan padaku begitu kami sampai di depan pintu.


Aku menangkap tangannya. “Iya, Bu.”


“Saya Nisa. Panggil aja Mbak. Ini Charity. Salam, Nak.”


Charity menyalami dan mencium tanganku. Anak itu kemudian menghambur dan memeluk Papa. Agak kaget juga aku melihat keakraban mereka.


“Om udah lama nggak ke sini lagi.”

__ADS_1


“Iya, Om banyak kerjaan di Medan,” jawab Papa.


Aku segera menepis keanehan itu. Banyak anak- anak yang sifatnya mudah akrab dengan orang lain. Papa juga laki-laki yang ramah dan baik. Jadi, sangat memungkinkan selama mengerjakan proyek di ru- mah ini, Papa langsung akrab sama Charity.Aku terus memandangi Mbak Nisa saat perjalan- an menuju taman belakang. Dia masih muda. Umur- nya mungkin masih tiga puluhan. Kalau dia mengaku belum menikah dan belum punya anak, orang-orang pasti akan percaya begitu saja. Bahkan, kalau dia pa- kai baju seragam SMA, masih sangat pantas. Soalnya, bentuk tubuhnya kurus, langsing, dan masih terlihat seperti remaja. Nggak ada tanda-tanda udah ber- umur dan udah pernah melahirkan.


Setelah melewati ruangan demi ruangan artistik di dalam rumah, kami sampai di taman belakang. Ada kolam renangnya! Sebelum mencapai kolam dan ta- man belakang, ada sebuah ruangan terbuka yang cukup luas. Ruang terbuka ini dibagi menjadi bebe- rapa bagian. Ada counter seperti di bar yang nyam- bung ke dapur di bagian dalam, ada kursi-kursi kayu besar, dan ada bagian untuk alat-alat olahraga me- wah. Kami dipersilakan duduk di kursi kayu itu.


“Ini papamu yang buat, Lin.” Mbak Nisa memberi info sambil tersenyum semringah. Dia memandang Papa sekilas. Pandangan yang ganjil, menurutku.


“Oh, ya? Bagus, Pa,” pujiku pada Papa.


“Papamu yang terhebat, Lin. Kalau dia nggak he- bat, nggak mungkin jadi langganan. Hampir semua perabot di rumah ini buatan papamu,” kabarnya lagi.Aku mengangguk-angguk sambil mengitari seke- liling. Pantas Charity terlihat akrab dengan Papa.


“Ambil gitarnya, Nak,” perintah Mbak Nisa pada Charity.


Gadis kecil berkulit putih dan berbibir merah itu langsung berlari masuk. Rambut panjang bergelom- bangnya terayun-ayun. Dia terlihat begitu semangat. Aku juga jadi tertular semangatnya.


Charity kembali ke sini dengan gitar dalam pe- lukan. Aku agak grogi memulai pelajaran pertama. Biasanya Mer akan keluar membantuku jika bertemu orang baru. Tapi, dia, Bunda Ret, dan Civa sedang be- rangkat ke Pondok Mawar. Mereka memang nggak kuizinkan keluar.


“Kita masuk dulu, yuk, Bang.” Tiba-tiba Mbak Ni- sa nyeletuk mengajak Papa masuk. “Nanti kita ganggu belajarnya Chaca.”


Papa bergerak kikuk.


“Sekalian bicarakan proyek selanjutnya, Bang,” imbuh Mbak Nisa mungkin untuk menghilangkan ke- canggungan.


Kulihat Papa tersenyum terpaksa. Ada apa de- ngan mereka? Kayaknya lebih dari sekadar tentang proyek. Jangan bilang mereka saling tertarik. Jangan! Mbak Nisa masih punya suami, kan? Dan Papa, walau masih ganteng dan gagah, udah terlalu tua untuknya.No!


“Oke, boleh-boleh,” sahut Papa sedikit lebih san- tai daripada sebelumnya.


Beberapa saat aku terdiam untuk menetralisir ‘keakraban ganjil’ yang baru kulihat. Akhirnya aku tersenyum pada Charity. Kupandangi dia. Payudara- nya memang belum tumbuh. Bentuk tubuh pun be- lum terukir layaknya seorang wanita saat menuju proses ‘dewasa’. Kupastikan dia belum menstruasi. Namun, gadis berusia sembilan tahun itu, sudah me- mancarkan kecantikan seorang perempuan. Dia terli- hat lugu. Beruntung gadis cilik ini nggak tinggal di kota besar. Tempat tinggalnya sangat keren. Dia pasti punya masa kecil yang sangat bahagia.


“Kenalkan, saya Lintang Kemuning,” kataku membuka sesi dengan kaku.


“Ya, Chaca udah tahu, Kak. Om Eky banyak cerita sama Mama tentang Kakak,” responsnya ceria.


Caranya menjawab secara santai membuatku se- perti ditohok. Dia anak sembilan tahun yang sama sekali nggak punya kekakuan berbicara dengan orang baru. Aku mencoba membuang rasa grogi. Aki- batnya, di udara yang sejuk begini, keringatku malah muncul memenuhi dahi. Seandainya Civa lagi nggak ketakutan, dia bisa muncul dan akan senang bertemu dengan Charity. Itu akan sangat menolong.


Tolong, tolong jangan panik dulu. Anxiety, pergi- lah jauh. Biarkan aku dulu. Ini hari pertamaku.“Kakak sakit?” tanya Charity menatapku cemas. “Eh, enggak. Enggak, kok. Coba....” Aku berhenti untuk menelan ludah demi menekan kecemasanku. “Coba kamu ceritakan tentang dirimu sebanyak- banyaknya. Kakak mau kenal kamu dulu.”


Akhirnya aku menemukan cara. Sementara aku belum bisa menenangkan diri, aku minta dia dulu yang bicara. Tetapi, ketika anak itu mulai bicara, aku melihat Mayoru di sudut kolam renang. Dia melam- bai.


“Bedebah,” gumamku. “Apa, Kak?” kata Charity. “Enggak. Lanjut, lanjut.”


Charity melanjutkan cerita tentang dirinya. Kata- kata dari mulutnya kurang bisa kudengar. Suara Ma- yoru kayak memenuhi telingaku.


“Bantu aku, Lintang. Watashi no Minako.”


Aku menunduk, memejamkan mata, lalu menje- pit tengah dahiku dengan telunjuk dan jempol. Siapa pun yang mendengarku di Rumah Pohon..., aku butuh bantuan kalian.

__ADS_1


__ADS_2