Kami Lintang

Kami Lintang
Kami Lintang - Bagian 48 Lintang


__ADS_3

Bagian 48 Lintang


Alter Jaka di Inner World Lintang.


KINI, perjalanan terasa begitu melelahkan. Tadinya, gue sempet bilang karena saling bercanda dan pikir- an udah tenang, perjalanan ini jadi ga kerasa. Tetapi, kalau sejauh ini pasti terasa juga, sih. Karena, kan, untuk ngobrol dan tertawa-tawa butuh tenaga. Se- mentara, tenaga itu kian menipis.


Kami baru aja meneruskan perjalanan lagi sete- lah beristirahat. Tanah basah bekas banjir menyulit- kan perjalanan. Kayu-kayu hanyut entah dari mana juga membuat rintangan perjalanan semakin banyak. Beberapa kali, Adrik menuntaskan janjinya. Jika Felixia kelelahan, dia tak segan menggendongnya. Gue pengin ngakak, sih. Sayang, gue nggak punya tenaga lagi.


Jarak dari sini ke Rumah Pohon hanya sekitar beberapa meter lagi. Biasanya pucuk atap Rumah Pohon dan cerobong asapnya udah kelihatan dari sini. Tapi sekarang, gue ga ngeliat apa-apa.“Kayak ada yang aneh,” ujar Felixia sambil memandang jauh ke arah Rumah Pohon berada.


“Benar,” sahut Paman Weirdo cepat. “Rumah Pohon Utama!” pekik gue panik.


Tanpa aba-aba, kami semua kompak berlari. Tampaknya ga ada yang sabar untuk segera tahu apa yang terjadi di rumah pohon. Ada sosok wanita terbaring di dekat jalan masuk rumah pohon ketika kami udah hampir mendekati rumah pohon.

__ADS_1


“Apa itu...,” gumam gue ga yakin.


“Bunda Ret!” Felixia berteriak. Gadis itu segera berlari.


Kami semua berkerumun mengitari Bunda Ret. Paman Weirdo meletakkan dua jari ke leher Bunda Ret. Dia lantas mengangguk. “Pingsan,” katanya.


Ada luka berdarah di kepala Bunda Ret. “Ayo, kita angkat!”


Berempat, dengan tenaga yang ga lagi maksimal, terseok-seok kami mengangkat Bunda Ret. Tubuhnya yang gemuk juga membuat kami agak kesulitan. Kami sontak berhenti ketika udah mencapai rumah pohon. Rumah Pohon Utama udah ga ada lagi di tempatnya. Hanya menyisakan dua anak tangga terbawah dan beberapa rangka kayu yang menempel di pohon be-sar.“Bawa Bunda ke rumahku saja,” kata Paman Weirdo.


Lalu pertanyaan gue, jika Bunda Ret sampai ter- seret banjir agak jauh ke sana, bagaimana dengan kondisi Mer dan Civa?


“Jaka!”

__ADS_1


Mer! Itu Mer! Dia muncul dari rumah gue. “Mer!” balas gue penuh kelegaan. “Civa mana?” tanya gue ga sabar.


“Dia di dalam, tertidur.” Dia menunjuk bela- kang—rumah gue. “Dia sangat kelelahan. Eh, itu Bunda? Oh, my God!”


Dia berlari menyusuri jembatan untuk mencapai rumah Paman. Kami berempat mulai naik membawa tubuh Bunda Ret ke atas. Ketika kami sampai di atas, Mer pun sampai.


“Bunda tidak apa-apa?” tanyanya cemas.


“Tidak apa-apa, Mer. Dia hanya pingsan,” jelas Paman.


Mer terlihat sangat lega. Mungkin sedari tadi dia begitu tegang. Karena ketika mendengar kabar Bun- da Ret baik-baik saja, badannya langsung lunglai bersandar di tembok rumah Paman Weirdo. Dia meme- gang kepalanya, menarik rambut depannya ke bela- kang. Ekspresinya lega.“Waktu tadi Rumah Utama roboh, aku tidak bisa menolongnya.” Mer malah menjadi emosional dan menangis.


“Ga apa, Mer. Bunda baik-baik aja,” sahut gue. “Iya. Kalau terjadi apa-apa padanya, aku akan merasa sangat bersalah.”

__ADS_1


“Tidak. Tidak ada yang salah di sini,” sahut Pa- man Weirdo. “Kita bawa saja dia ke rumahnya. Tem- pat tidurku sudah tidak ada, kalian ingat?”


Ah, benar, pikir gue saat hampir berbelok masuk ke rumah Paman Weirdo yang persis di dekat tangga ini.


__ADS_2