
Bagian 44 Lintang
Lintang, Pengendali.
TIBA-TIBA pondok Papa jadi ramai. Mbak Nisa ingin tahu keadaanku. Ternyata semalam, dia, Sastra, dan Chaca udah berkumpul. Mereka di sini sejak sore— saat menemukanku di pondok ketika diserang Mayo- ru—dan bertahan hingga menjelang pagi. Mereka yang mendobrak pintu pondok belakang. Kemarin sore, mereka kemari karena rencananya mau ikut na- ik gunung.
Yeah, beginilah keadaanku, lebih buruk daripada tadi malam karena sekarang sekujur lenganku perih. Pinggul kiriku juga nyeri sekali. Tadi udah dibalur oleh Papa dengan minyak tradisional Karo. Nyerinya udah agak berkurang sekarang.
Mbak Nisa datang membawakan sarapan. Seka- rang, semua berkumpul di teras pondok. Aku nggak tahu harus merasakan apa karena Sastra juga ikut bersamanya. Aku belum bisa terkoneksi dengan Me- redith sekarang. Jadi, aku harus bertahan. Banyak orang di sini. Lumayan, itu bisa membuatku meng- hindar agar nggak terlalu banyak bersinggungan de- ngannya.Ah, bagaimana, ya, kabar rumah pohon? Kepala- ku sesak sekali dengan berbagai pemikiran-pemikir- an sehingga sejenak tadi aku melupakan rumah po- hon. Kemudian merasa bersalah karena setelah meli- hat Sastra dan butuh Meredith, aku baru memikir- kannya lagi.
Setelah dipaksa menghabiskan sarapan, aku ma- suk. Aku nggak suka melihat perhatian Mbak Nisa pa- da Papa. Chaca malah nempel terus dan bermanja- manja dengan Papa. Satu hal lagi yang kuhindari ada- lah curi-curi pandang Sastra padaku. Untuk apa dia melakukannya? Aku bukan Meredith yang tertarik dengannya.
Mama ternyata di dalam. Aku tahu, dia juga pasti melarikan diri dari kerumunan di luar. Dia duduk di depan meja kecil menghadap tape recorder. Dia tam- pak kaget saat aku masuk dan segera menjauhkan telunjuknya dari pemutar kaset jadul itu. Seolah-olah benda itu panci panas.
“Kenapa, Ma?”
“Nggak apa-apa. Malas aja, di luar ribut,” jawab- nya mengalihkan.Dia pikir aku nggak tahu kalau dia mengelus-elus dan menatap pemutar kaset ini dengan tatapan na- nar seperti memandang kekasih tercinta.
“Kenapa dengan tape itu?” desakku. Tanganku mempermainkan mug berisi susu cokelat yang ku- genggam.
“Kau tidak beres-beres barangmu? Kita harus pulang satu jam lagi. Mama ada janji ketemu soal kerjaan.”
__ADS_1
Pintar sekali mengalihkan! Aku terkekeh dalam hati. Kuberi Mama seringai dan pandangan penuh makna. Dia nggak tahu kalau Papa kemarin udah ce- rita, ini tape recorder hadiah dari Mama di zaman ketika mereka masih pacaran.
“Apa arti pandanganmu itu?” tanyanya curiga. “Buka tape deck-nya, mungkin Mama akan mene-
mukan sesuatu yang lebih-lebih familier daripada tape itu sendiri,” kataku sambil berjalan menuju pin- tu belakang.
“Mau ke mana kau?” teriaknya.
“Tadi Mama suruh Lintang beres-beres. Barang- barang Lintang ada di pondok belakang.” Kuletakkan mug di tempat cuci piring dekat kompor.
“Oke, pergilah! Cepat, ya!” “Oke.”
“Ma!”
Dia menjatuhkan kaset di atas meja dan meno- leh. Wajahnya lucu. Dia pasti kaget sekali. “Ampun....
Apa, sih, Lin?” Mama memegang dadanya.
“Jangan sampai hilang atau rusak! Itu punya Lintang.”
Aku mengembangkan senyum dan pergi mening- galkannya, tanpa ingin melihat reaksinya lagi. Yang penting aku udah meninggalkan pesan pentingku. Untuk menghindarkan kemungkinan, dia merusak kaset tersebut.
__ADS_1
***
Sebenarnya aku takut sendirian di pondok bela- kang. Karena Mayoru biasanya kerap muncul di sini, terutama jika aku sendirian. Namun, Felixia ada di sekitarku. Aku sedikit lega akan hal itu. Untuk berjaga-jaga, aku membiarkan pintu terbuka. Lagian pin- tunya memang udah jebol, sih. Nggak bisa diapa-apa- in lagi.Kutulis sebuah pesan di kertas untuk Felixia.
Aku sedang beres-beres. Kita kembali ke Medan sekarang.
Jika kau harus di ‘depan’, tolong lanjutkan beres- beresnya, ya, please.
Thank you!
Kuletakkan pesan itu di atas meja agar mudah dilihat. Aku menimpa ujungnya dengan sebuah buku dari lemari buku Papa supaya kalau ada angin nakal, kertas itu nggak melayang terbang.
Keadaan pondok belakang lumayan kacau. Obat- obatku berserakan di dekat laci. Beberapa benda se- perti pisau dan sendok-sendok bertebaran di lantai. Pemandangan itu mengingatkanku pada kejadian se- malam. Aku udah melakukan kesalahan superbesar. Aku terlalu menuruti egoku. Yeah, mungkin aku agak penuntut dan egois. Itu yang membuatku hancur. Ku- sadari itu sekarang.
Bersama Mama memang lebih pas untukku mes- kipun dia nggak sempurna. Nggak bijak juga jika aku menuntut banyak hal pada Papa. Dia harus melanjut- kan hidupnya tanpa kubebani.
“Ada yang bisa kubantu?”
Aku menoleh. Sastra muncul di pintu.
Meredith!
__ADS_1