Kami Lintang

Kami Lintang
Kami Lintang - Bagian 45 Lintang


__ADS_3

Alter Felixia.


AKU merasakan Kak Lin cemas. Jadi, aku memutus- kan ke ‘depan’ aja meski dia nggak memanggilku. Dia mengizinkannya begitu saja. Sekarang, gantian aku yang cemas. Alih-alih aura jelek busuk Mayoru, justru seorang pria tampan sedang memandangiku sambil tersenyum-senyum. Dia seperti menunggu se-suatu di ambang pintu.


Aku sendiri sedang duduk bersila di depan lema- ri kecil tempat menyimpan baju-baju. Sebagian isinya sudah berpindah ke dalam tas.


“Ada apa? Ngapain lihat-lihat?” tanyaku dengan suara tinggi.


“Kok, nyolot?” tanyanya balik sambil melangkah masuk. Dia menemukan sesuatu di atas meja lalu meraihnya. Sebuah kertas. “To Felixia. Aku sedang beres-beres ”Aku bangkit, menarik kertas itu, dan melanjut- kan membaca isinya. Pesan untukku ternyata. Dia nggak sopan, membaca pesan yang bukan untuknya. Baiklah, kita kembali ke Medan. Aku lantas duduk dan lanjut memasukkan baju-baju Kak Lin.


“Siapa Felixia?” Cowok itu ikut duduk bersila di ambal tak jauh dariku.


“Kau nggak perlu tahu.” Bedebah anjir parah.


Umpatan itu kulanjutkan dalam hati saja.


“Tadi malam, papamu menceritakan semuanya.”


Aku mengernyit, lalu memandangnya dengan kepala dimiringkan. “Aku nggak peduli!” Aku menya- lak.


“Hei! Kejam sekali,” balasnya. “Apa ini bukan Lin- tang?” lanjutnya bertanya takut-takut.


Aku menarik napas dan mengembuskannya ke- ras. Oh, jadi papanya Kak Lin sudah menceritakan benar-benar semuanya, ya, pada orang asing ini? Baiklah. “Bukan urusanmu keles! Aku harus membe- reskan barang-barang ini.” Aku menatap sekeliling, berusaha menganggap cowok ini nggak ada.


“Apa lagi, ya? Semua pakaian sudah. Ah, periksa laci-laci saja,” kataku pada diri sendiri.


“Bisa kubantu?” tanyanya sok ramah. “Nggak perlu!”


Ah, ya! Aku menoleh dan memandangnya. Dia menatapku teduh. Pria ini sepertinya suka dengan Kak Lin. Itu, terpancar betul dari matanya. Sekarang aku tahu, karena inilah Kak Lin cemas. Dia memang selalu canggung kalau ketemu laki-laki. Ini bukan urusanku, sih. Urusanku Mayoru. Kalau ini, sih, kayaknya dia harus mengatasinya sendiri.


Lintang, Pengendali.


“Maaf, kalau aku mengganggu. Aku cuma berusa- ha membantu.”

__ADS_1


Aku disambut oleh kalimat menyedihkan itu. Punggung Sastra hampir melampaui pintu. Apa yang dilakukan Felixia? Pasti sesuatu yang melukainya ka- rena dia tampak tersinggung.


Baiklah, aku akan menghadapinya dengan gagah berani. Sebab, aku nggak ingin hari terakhirku di sini meninggalkan jejak nggak enak dengannya.


“Tunggu!” pekikku.


Sastra sontak berhenti dan menoleh. Dia mena- tapku. Tatapannya membuat jantungku ngilu. Aku menarik napas dan mengembuskannya perlahan.


“Maafkan aku. Tadi itu. ”


“Bukan kau?” lanjutnya. Aku memelotot heran. “Aku sudah tahu.”


“Papa?”


Dia mengangguk. Aku benar-benar malu seka- rang. Dia udah tahu kondisiku yang ‘nggak sehat’ kalau enggan disebut ‘gila’. Orang-orang awam selalu memanggilku dengan sebutan ‘gila’. Jarang bagiku, mau membeberkan tentang gangguan yang kualami ini pada orang. Terutama yang baru dikenal seperti Sastra. Aku nggak suka disebut gila.“Ini memalukan,” kataku sambil berbalik.


Aku lanjut mengemasi barang-barang. Namun, sepertinya semua pakaian udah dimasukkan Felixia ke dalam tas. Aku bingung hendak melakukan apa lagi. Ah, ya, biarlah kubereskan sendok-sendok ini. Aku meraupnya tergesa-gesa, hingga mata pisau yang tajam melukai telunjukku. Aku menjengit. Da- rah mengucur cepat.


“Hei, hati-hati,” pekik Sastra. Dia lalu berjongkok di dekatku.


“Aku nggak apa-apa! Ini luka biasa,” kataku agak histeris sambil berusaha menarik telunjukku kemba- li.


 Sastra nggak mendengarkan dan menahan telun- juk itu. Dia berdiri dan meludah di wastafel, membu- ang darah. “Ada plester luka?” tanyanya.“Ada, sebentar. ” Aku sibuk membuka tas untuk mencari plester.


“Sini. Kasih tahu di bagian mana biar aku yang cari.” Sastra merebut tasku.


“Di kantong depan. Di dalam pouch hitam.”


Dia bergerak cepat dan dengan segera menemu- kannya. Cekatan, tangannya merobek pembungkus plester. Dia cocok jadi petugas medis di IGD. “Sini,” perintahnya.


Aku menjulurkan telunjuk. “Yakin mulutmu itu nggak memberikan kuman pada lukaku?” tanyaku.


Dia sedang menempelkan plester saat kutanya- kan itu. Laki-laki itu terbahak. “Kurang ajar! Seharus- nya kau berterima kasih.”

__ADS_1


“Ya, aku heran aja, kenapa luka tergores pisau harus disedot begitu. Aku lagi nggak digigit ular! Nggak ada juga, kan, racun yang harus dikeluarkan?”


“Justru kalau kau digigit ular, aku nggak akan mau melakukannya.” Dia udah selesai menempelkan plester dan sedang mengutipi sampah pembungkus- nya.


“Aku nggak akan mengisap telunjukku sendiri jika tergores benda tajam. Paling, aku membasuhnya di wastafel untuk membersihkan darah. Darah, kan, rasanya nggak enak,” debatku.


Sastra baru kembali dari membuang kertas pembungkus plester ketika kalimatku berakhir. Dia menunduk, menatapku yang masih berjongkok. “Ba- gaimana kalau kukatakan, aku memang ingin... mera- sakan darahmu?”Tatapannya membuat kepalaku mundur. “Kau… terdengar seperti Edward Cullen.”


Dia beranjak menuju kursi dekat meja kecil. Aku berdiri. “Jadi, kau kembali ke Medan?” tanyanya.


Aku mengangguk. Dia duduk di kursi itu. Aku pun mengenyakkan bokong di sofa.


“Di sana, kita bisa ketemu lagi, kan?” Aku melipat tangan. “Untuk apa?”


“Untuk apa?” tanyanya balik karena nggak ngerti pertanyaanku—mungkin.


“Iya. Untuk apa?” ulangku.


“Mungkin untuk sekadar bercerita, minum teh di—”


“Oh, aku nggak minum teh. Itu Meredith. Kalau kau bertemu aku dengan make up norak, itu berarti dia.”


“Meredith?” tanyanya membelalak. “He-em.”


“Aku ingin mendengar banyak tentangmu.”


“Nggak penting, Sas. Tentangku itu nggak penting kau ketahui.”


“Bagiku penting.” Dia bersikeras.


“Aku benci orang yang suka maksa. Aku udah kasih peringatan. Aku bukan kayak gadis-gadis lain. Aku akan banyak merepotkanmu. Pokoknya, aku udah kasih peringatan, ya.”“Ya, aku tahu.”


“Dasar, keras kepala,” rutukku.

__ADS_1


Dia tersenyum dan mengangkat bahunya. “Jadi, kita udah resmi berteman, ya?” tanyanya.


“Masa training tiga bulan.”


__ADS_2