
Bagian 52 Lintang
Lintang, Pengendali.
MEREDITH meminta izin meriasku pagi ini. Setelah memberi persyaratan agar nggak terlalu norak, aku setuju. Setelah Mer pergi dan aku melihat diri sendiri di cermin, aku sampai nggak mengenali wajah di dalam cermin itu.
Ini pertama kali aku mengenakan kebaya. Keba- ya berwarna biru laut lembut dengan paduan pink muda membuatku terlihat sangat langsing dan ang- gun. Aku menyentuh bagian samping rambutku. Mer telah menggelungnya dengan rapi serta memberikan sematan bros melati kecil bermata mutiara. Mutiara sama dengan yang menyebar di kebayaku.
Wajahku nggak seperti memakai topeng. Dia hanya merapikan bentuk alis dan mempertegas garis mataku. Lipstik nude mengilap membuatku tampak segar. Kali ini, aku suka karya Mer.Thank you, Mer!
Selamat berbahagia, bisiknya. Tentu, balasku.
Meredith langsung pergi. Karena sampai saat ini Felixia terus berjaga-jaga di dekatku—tentang Mayo- ru tentu saja. Supaya nggak terlalu ramai, biasanya siapa saja yang baru di ‘depan’ akan segera menying- kir untuk memberikan Felix tempat.
Aku keluar kamar. Keluarga dekat dan tetangga udah memenuhi rumahku. Aku menegur dan menya- lami mereka satu per satu. Aku harus sopan. Aku udah dewasa sekarang, nggak boleh cuek seperti du- lu lagi. Kalau ingin dianggap dewasa, maka bersikap- lah dewasa. Bukankah demikian?
Aku bergetar melihat meja berhias bunga lili, mawar putih, dan semua jenis bunga putih lainnya. Di situ nanti, janji suci akan diikrarkan.
Tujuanku sekarang ke kamar Mama. Di sana, tentu saja ada Tante Lea. Mama cantik sekali. Perias profesional telah menyelesaikan pekerjaannya. Keba- ya kami bertiga berwarna senada. Tante Lea yang memilihkan bahan dan menjahitkannya. Dia juga yang mengurus semuanya. Aku nggak bisa memba- yangkan apa jadinya kami tanpanya. Dia pahlawan bagi kami berdua. Seperti katanya dua bulan lalu, kami adalah pasiennya.
Aku memeluknya. “Tante ”“Kenapa ini manja-manja, ah?” tanyanya.
Aku nggak menjawab. Keinginanku hanya meme- luknya saja. Wanita ini nggak pernah memikirkan kebahagiaannya sendiri. Aku sering bersedih untuk- nya.
“Lihat, mamamu tegang banget. Kayak nggak pernah aja.”
Karena hanya ada kami bertiga di kamar itu, Mama berbalik. Ternyata dia udah menyiapkan sen- jata lemparan di tangannya. Tante Lea terkena lem- paran bedak.
“Ih.” Untung saja tangan Tante Lea cekatan me- nangkap.
“Kapan, sih, kalian ini berhenti main lempar-lem- paran?” tanyaku heran.
“Nggak tau, tuh, si Ge. Mungkin sampai adikmu lahir kali, Lin.”
“Amin,” ucapku penuh harap. “Bener, ya, Ma. Bi- kin adik lagi cepetan.”
“Apaan?” pekiknya. “Mama udah tua, tahu!”
“Permisi.” Seseorang muncul di ambang pintu kamar Mama. Seorang kru dari Wedding Organizer. “Pengantin prianya sudah datang. Mohon bersiap-si- ap, ya, Bu.”
Aku beranjak karena nggak sabar melihat keda- tangan iring-iringan pengantin pria. Agak berlari aku keluar kamar menuju depan. Rok sempit kuangkat sedikit, agar kakiku leluasa melangkah.Sama sepertiku, semua tamu antusias menyam- but kedatangan rombongan pengantin pria. Seperti dugaanku, Papa pasti dengan bangga datang meng- gunakan Chevrolet tuanya itu. Beberapa mobil lain mengiringinya dari belakang. Itu keluarga Papa dan teman-temannya.
__ADS_1
Tak lama, Papa keluar dari jok penumpang Chev- rolet. Syukur, dia nggak nyetir sendiri. Mungkin mau- nya begitu kalau nurutin Papa, sih. Tetapi pasti hal itu nggak akan mendapatkan izin dari keluarga be- sarnya. Papa terlihat sangat berbeda. Dia mencukur kumis.
Felix, papaku udah cukur kumis. Kau nggak akan bisa mengejeknya Mario Bross lagi, kekehku dalam hati.
Dengan mencukur bersih kumisnya, Papa seolah- olah berumur sepuluh tahun lebih muda. Badan be- sar dan tegapnya itu menambahkan lagi level kewi- bawaannya hingga mencapai puncak. Belum lagi efek beskap Jawa dan kain batik yang dikenakannya.
Papa tersenyum ketika mata kami bersirobok. Papaku yang ganteng, papaku yang bodoh. Dia berse- dia secara sadar dan sukarela masuk ke hidup bede- bah kami.
“Cita-citaku adalah menikahi mantan istriku lagi, kalau dia masih menyimpan cinta untukku. Walau sedikit,” katanya.Mamaku yang keras kepala itu, akhirnya menga- lah. Dia mungkin luluh karena di mana-mana dan setiap ada kesempatan, aku memutar lagunya. Lam- bat laun, aku yakin, itu menghadirkan kembali pera- saan-perasaan purba pada dirinya. Karena bagiku, lagu itu magis. Aku sendiri bisa merasakan kebaha- giaan yang aneh jika mendengar lagu itu. Bisa diba- yangkan betapa dulu mamaku adalah wanita periang, penuh cinta, dan harapan.
Dia mungkin juga terharu, Papa masih menyim- pan semua kenangan-kenangan masa lalu mereka dengan rapi. Selain tape recorder dan kaset itu, Papa bahkan masih menyimpan boks bayi yang dibawanya dari rumah sewa mereka dulu. Diselamatkan di ru- mah almarhum kakekku. Papanya Papa.
Tante Lea juga menyumbangkan suntikan paling ampuh. Setiap hari dia berbicara tentang betapa baiknya Papa sekarang. Betapa enaknya menikah. Betapa nanti aku menjadi senang jika orang tuanya berkumpul kembali.
Bagi Mama ucapan Tante Lea itu pasti benar. Meskipun di luar dia menyangkalnya, tapi apa pun yang diucapkan Tante Lea, dia akan memikirkan dan lambat laun menurutinya.
Di sinilah Mama sekarang. Di dalam kamarnya, gugup menantikan Papa mengucapkan ijab kabul di depan wali nikah dan para saksi.“Saya terima nikahnya Gea Gunawan binti Ihsan Gunawan dengan mas kawin cincin dua puluh gram tunai!” ucap Papa lantang.
“Bagaimana, sah?” tanya wali nikah. “Sah!” Bergantian para saksi menjawab. “Alhamdulillah!”
***
Akhirnya mamaku menikah dengan papaku. Seandai- nya ini sinetron judulnya udah catchy sekali. Mamaku Menikah dengan Pacarnya yang Papaku. Hihi. Syukurnya Papa nggak jadi menikah dengan Mbak Nisa. Karena nanti judulnya menjadi, Pacarku adalah om-ku.
“Sas? Baru datang?”
“Band-nya udah datang. Mereka lagi siap-siap, tuh,” katanya.
Beberapa hari yang lalu, aku latihan dengan band yang biasa main di kafe milik Sastra. Belakangan kuketahui, ternyata Tea Pot itu milik Sastra. Kurang ajar, bukan? Dia memang pengusaha dengan sejuta bisnis yang sangat down to earth. Aransemen Waktu
Bersama udah selesai kubuat. Aku membutuhkan band lengkap agar jadi sempurna.Sebentar lagi, aku akan perform untuk memberi- kan kejutan kepada kedua mempelai yang sedang berbahagia itu. Mama nggak banyak senyum, tapi aku tahu dia bahagia. Papa pasti tahu caranya mem- buat Mama tersenyum lagi.
“Mas, band udah ready.” Kru WO datang menga- barkan pada Sastra yang langsung mengangguk.
“Lin? Ready?”
Aku mengangguk dan beranjak. Tamu yang di- undang Mama Papa nggak banyak. Ini bukan perni- kahan pertama dan Mama Papa merasa udah tua. Jadi undangan hanya sebatas saudara, teman paling dekat, dan tetangga dekat. Papa dan Mama sedang si- buk melayani dan berbincang dengan tamu mereka dari partai.
Baru saja aku kembali dari mengambil gitar di kamarku. Aku langsung bergabung dengan band dan menyinkronkan kunci dasar dengan mereka. Papa dan Mama mulai ngeh kalau aku akan melakukan sesuatu.
Kami siap.
__ADS_1
“One, two, three, go!” Aku memberi aba-aba mulai.
Intro berjalan dengan cukup smooth. Semua tamu mengalihkan perhatian pada kami.
lali
“Duniaku bola yang pahit Jalanku labirin yang rumit
Waktu kita berjumpa... duniaku menjadi bola gu-
Waktu kita bersama... jalanku diapit pohon warna-warni.”
Aku bernyanyi. Suaraku memang nggak sebagus suara Mama, tapi aku tetap berusaha. Aku melihat Sastra mendatangi Mama dan memberikan micro- phone padanya. Mama menggeleng kuat-kuat untuk menolak tawaran menyanyikan bait selanjutnya.
Namun, aku mempertahankan musik dan terus memperpanjang bar sampai Mama bersedia meneri- ma mic. Papa tampak memberikan Mama semangat. Aku tersenyum saat Mama menerima mic itu dan berdiri dibimbing Sastra menuju ke depan.
“Bumiku tanah beranjau
Hidupku disesaki rasa galau.”
Mama bernyanyi. Nah, ini baru suaranya pas. Sang pemilik lagu memang nggak pernah salah menyanyikan lirik-lirik yang tercipta dari hati dan jiwanya.
“Waktu kita bertemu, bumiku menjadi cokelat yang manis
Waktu kita berdua, hidupku seperti lagu-lagu harmonis.”
Nggak tahu mengapa, aku menangis. Terlalu emosional mendengar Mama bernyanyi. Mamaku telah kembali. Dia udah menjadi lebih manusiawi. Di kejauhan, aku menyaksikan Tante Lea sibuk menye- ka air matanya. Wajah Papa nggak terdefenisikan. Dia pasti sangat bahagia.
“Dia tidak menjanjikan kemudahan Tapi Dia menyiapkan pertolongan.”
Aku mengimbuhkan suara dua pada bagian ref- rain. Kami berduet. Sesuatu yang dulunya bagiku sangat mustahil. Terima kasih, Papa.
“Bagiku... kau orang yang dikirim Tuhan Untuk menemaniku memperbaiki keadaan Maka tetaplah bersamaku...
Maka teruslah di sampingku. ”
Refrain berakhir dan lagu tetap dilanjutkan de- ngan musik. Aku mengisinya dengan petikan-petikan melodik aransemen sendiri. Tiba-tiba Mama berbica- ra menggunakan pengeras suara.
“Maaf, Lintang, Mama nggak bisa menangis se- perti kalian.” Dia memberikan seringai padaku yang sedang fokus memainkan gitar. Terpaksa aku mena- han geli dan menggeleng.“Tidak apa-apa, Mama. Mama memang nggak boleh lagi menangis,” kataku sambil tetap memetik dawai-dawai gitarku.
Mama tersenyum kemudian menyanyikan peng- ulangan bait kedua dan kembali pada refrain.
__ADS_1
“Dia tidak menjanjikan kemudahan Tapi Dia menyiapkan pertolongan.”
TAMAT