
Bagian 42 Lintang
Lintang, Pengendali.
FELIXIA memanggil. Syukurlah. Di dalam lagi kacau dan aku benci bertemu Sylia. Gadis berambut kuning itu berjanji akan selalu dekat-dekat untuk berjaga- jaga atas kemungkinan serangan Mayoru.
Mama. Tante.
Aku nggak terlalu kaget sebenarnya saat melihat mereka, karena aku tahu cepat atau lambat mereka pasti akan ke sini. Tetapi memang prediksiku bukan hari ini juga, sih.
“Papa yang kasih tahu?” Aku menoleh pada Papa yang duduk persis di sampingku.
“Semalam, kau parah sekali, Lintang. Papa harus telepon mamamu untuk mengabarkan keadaanmu. Dia berhak tahu, kan?”
Aku mengangguk.“Apa yang terjadi, Lilin?” tanya Tante Lea. Aku menggeleng.
“Tante buatkan yang hangat-hangat, ya? Aku juga pengin minum teh hangat,” katanya dan beranjak ke dapur. “Bang, punya teh dan gula, kan?” tanyanya lagi.
“Cari aja di lemari atas kompor,” jawab Papa. “Agak masuk angin aku. Pulang rapat baru jam
tiga pagi dan langsung ke sini. Sebenarnya aku lelah sekali.” Tante Lea terus berceloteh sambil menyiap- kan teh.
Aku memandang Mama. Hidungnya udah agak lebih mancung dan sedikit bervolume. Biasanya, tan- pa Tante Lea di sekitarnya seperti ini, dia akan cang- gung. Dan, ya, dia memang canggung. Dia diam dan meremas-remas jemarinya.
“Sekarang... hidung kita beda, ya, Ma? Padahal banyak orang bilang kita mirip karena hidung ini.”
“Lintang...,” potongnya. “Mama menyayangimu.
Kau tahu itu.”
Aku diam. Baru kali ini Mama mengatakan itu dan rasanya agak aneh.
“Mama memang nggak pernah mengatakannya. Tapi, semua yang Mama lakukan itu hanya untuk- mu!”
“Termasuk bikin heboh satu negara?” cibirku.
“Lintang...,” tegur Papa lembut sambil mengelus punggungku.“Maafkan Mama, Lintang. Mama nggak tahu cara- nya bagaimana lagi. Mama banting tulang ke sana kemari buat mencari uang. Membayar psikolog itu mahal.”
“Hei....” Tante Lea menegur dari dapur. “Gea, don’t say that. Jangan dengar yang bagian itu, Lilin. Yang mamamu maksud adalah membayar psikolog untuk mendengar curhatannya sendiri yang mahal.”
Mama melirik pada adiknya lalu mendengkus. Hubungan kakak beradik ini memang unik—aneh, ding! Aku lebih sering merasa, mamaku adalah adik- nya Tante Lea. Karena memang Mama sering diperla- kukan seperti adik kecil yang belum dewasa.
“Terserah kaulah, Yak. Cepat buat teh itu. Antar ke sini. Perutku pun udah sakit, pengin yang hangat- hangat.” Mama memekik. Yayak adalah panggilan Tante Lea: FYI.
“Tapi, Lin, mamamu udah ada kemajuan, ya. Udah bisa mulutnya itu mengucapkan sayang pada- mu,” ledek Tante Lea lagi.
Aku memutar bola mata dan menghela napas kasar. Pasti sebentar lagi Mama akan membalas. Bisa dengan kata-kata aneh atau lemparan benda terde- katnya. Tetapi, sekarang dia hanya melirik dan lagi- lagi mendengkus. Dia tampak menahan hasrat untuk membalas ledekan adiknya. Nggak biasanya, sih, dia pasrah begini. Aku udah lumrah melihat peperangan layaknya dua anak kecil di antara mereka. Apa Mama ‘jaim’ di depan Papa?“Kalian semua kenapa, sih?” Akhirnya Papa me- nyela setelah dari tadi diam saja. “Kenapa malah pada bercanda, bukannya bahas permasalahan Lin- tang.”
Aku tersenyum kecut. Papa belum tahu, sih. “Mengalihkan,” sahutku ringan.
Mama menatapku.
__ADS_1
“Beginilah, Pa. Beginilah sehari-hari. Mama dan Tante memang paling hebat dalam hal mengalihkan isu. Masalah intinya sendiri nggak pernah dibahas. Lintang muak.”
“Sabarlah, Lintang.” Papa pasti merasa nggak enak pada Mama.
Aku tahu. Papa hanya belum terbiasa.
“Aku udah sering dikritik anak sendiri,” kata Ma- ma. “Mungkin, itulah balasanku karena sering meng- kritik orang. Tidak apa-apa. Bagiku kritik itu bentuk cinta paling ekstrem.” Dia berbicara pada Papa, tapi nggak mau menatap wajah Papa. “Yang Mama nggak ngerti sebenarnya, mengapa kau mau meninggalkan rumah dan memilih bersama. ”
Mama nggak meneruskan, dia hanya mengedik- kan dagu ke arah Papa. Kayaknya dia alergi menye- but nama Papa bahkan hanya dengan kata ganti. Se- karang, Papa yang mendengkus.
“Lah, Mama merasa udah lebih bagus dari Papa?” “Lintang.... Nak....” Papa mengelus punggungkulagi untuk menenangkan.
“Udah, makanya jangan serius-serius.” Tante Lea datang membawa empat gelas teh. “Mari ngeteh du- lu.”
Mama mengambil gelas teh dan menggenggam- nya supaya tangannya hangat.
“Apa, sih, yang sebenarnya terjadi pada kalian?” Papa bertanya heran.
“Ada dua hal, Bang,” sahut Tante Lea. Dia meniup tehnya dan menyeruput sedikit. “Pertama, mereka berdua adalah pasienku. Kedua, mereka berdua ini saling menyayangi. Tapi, mereka nggak tahu caranya menunjukkan rasa sayang itu.”
Papa menarik napas dan mengembuskannya.
Tampaknya dia belum terlalu mengerti.
“Makanya, aku senang Abang mulai dekat ke ke- luarga ini lagi.” Tante Lea menyeruput tehnya lagi.
Aku memelotot. Mama juga. Sama-sama meng- arah pada Tante Lea.
“Enggak, Yak. Kita nggak perlu bantuan... hem... laki-laki ini. Aku bisa merawat Lintang. Dia hanya masih muda. Jadi masih labil dan belum terlalu menghargai perjuangan mamanya. Coba nanti, agak besar sedikit, Lintang pasti akan lebih menghargai- ku.”Mama? Itukah penilaiannya padaku? Itu... mem- buatku sedikit merasa bersalah, hanya sedikit. Tapi ya, aku merasa menjadi anak nggak berguna seka- rang. Di sini juga aku nggak mendapatkan keinginan- ku. Papa memang penyayang dan mudah menunjuk- kan rasa sayangnya. Walaupun, dia mudah menebar- kan rasa sayang itu pada siapa saja. Nggak khusus, nggak eksklusif.
“Jadi, Lintang, siap-siaplah. Kita balik ke Medan hari ini.”
“Mama..., Lintang udah dewasa. Lintang nggak mau diatur-atur. Kalaupun harus balik ke Medan, itu harus karena keinginan Lintang sendiri.”
“Oke. Jadi apa keinginanmu sekarang?”
“Bang, temenin aku jalan-jalan di luar, yuk! Se- pertinya udara di luar enak banget,” ajak Tante Lea pada Papa.
Papa mengernyit karena merasa aneh pada ajak- an itu.
“Biarkan anak dan ibu ini saling bicara dari hati ke hati. Ini momen langka.”
“Tapi. ”
“Udah....” Tante Lea menarik tangan Papa. “Ada yang harus kuceritakan.”
Tante menarik Papa sampai keluar pondok. Bo- lak-balik Papa menoleh untuk memeriksaku. Aku nggak menunjukkan ekspresi apa-apa saat dia mena- tapku.Sekarang, kami hanya berdua. Tanpa Tante Lea, rasanya aneh. Mama menatapku tajam. Dia menung- guku mengatakan sesuatu.
“Aku, maksudnya Lintang.” Aku sedang nggak marah-marah jadi rasanya aneh menyebut ‘aku’ di depan Mama. Jadi aku segera mengubahnya dengan ‘Lintang’. “Lintang senang Mama menanyakan ke- inginanku.”
“Mama juga senang bisa mengatakannya. Mama kaget mengapa kau bisa pergi dari Mama,” katanya lirih.
__ADS_1
“Lintang hanya ingin mandiri, Ma.” “Jadi itu keinginanmu?”
“Kemarin iya. Sekarang, enggak.” “Kenapa?”
“Lintang ingin kembali ke Medan, Ma.”
Mama menarik napas. Mungkin dia lega. “Rasa- nya asing nggak ada kau di rumah, Lin. Kau memang selalu menyusahkanku. Aneh jika tiba-tiba orang yang menyusahkan hidupku itu pergi. Aneh. Apala- gi. ”
Mama berhenti. Dia membuang pandangan ke langit-langit pondok. Matahari pagi mulai naik tinggi. Biasnya menerpa pupil Mama, hingga membuat ma- tanya berkilau seperti manik-manik cokelat dari Ka- limantan. Aku melihat volume airnya agak bertambah. Apakah Mama menangis? Dia nggak pernah me- nangis.“Apalagi apa, Ma?”
“Apalagi, aku memang ada di dunia ini khusus untuk disusahkan olehmu,” katanya cepat.
Aku tersenyum. Mama memajukan badan dan sedikit membuka tangannya. Tetapi dia menarik tubuhnya lagi. Kemudian meremas jemarinya.
“Mungkin... mungkin kau butuh. ”
Aku berdiri cepat dan menubruk tubuh Mama. Dia cepat mengokohkan duduknya, sebab kalau nggak, kami berdua akan terjengkang dari kursi. Aku memeluknya. Aku menangis. Kutumpahkan semua perasaanku di bahu Mama.
Rasanya hangat di sini. Aku nggak pernah berpe- lukan dengan Mama. Ini pertama kali. Mungkin kau heran. Ini memang pertama kali. Mamaku menghin- dari kontak fisik denganku sejak bertahun-tahun la- lu. Dia membiarkanku memeluknya, tanpa keinginan membalas pelukanku.
Kuangkat tangan Mama dan meletakkannya ke punggungku. Mama menepuk punggungku dengan sekali tepukan yang aneh. Rasanya seperti Mama se- dang mengusir nyamuk.
“Sudah, Lintang. Jangan lama-lama.”
Aku melepaskan pelukan. Wajahku udah basah semua karena air mata. Memeluk Mama memuncul- kan berbagai perasaan ajaib.
“Maafkan Mama karena nggak bisa menangis,” katanya. “Bukannya Mama nggak ikut tersentuh, tapi Mama memang nggak bisa lagi menangis.”“Lintang tahu, Ma. Nggak perlu dijelaskan.” “Bagus!”
“Boleh Lintang peluk Mama lagi?” Mama diam sesaat. “Hm, bolehlah.”
Aku maju dan memeluknya lagi. Sebelum aku merapat pada tubuhnya, Mama berkata lagi.
“Jangan lama-lama, loh, ya.”
“Iya, Ma.” Aku segera memeluknya sebelum dia berubah pikiran.
“Mulai sekarang, kalau kau punya keinginan atau apa pun itu. Bilang sama Mama. Jangan disimpan sendiri.”
Aku mengangguk di atas bahunya.
“Aku ada untuk kauganggu, kan?” lanjutnya. “He-em.” Aku tersenyum mantap.
“Ciyeee!” Tante Lea memekik dari pintu. Mereka kembali. Aku segera melepas pelukan.
“Yayak!” pekik Mama.
“Oke, aku nggak menganggu kalian.”
Suara mobil mendekat membuat kami semua mengalihkan perhatian keluar pondok untuk menca- ri tahu siapa yang datang.
Mobil Mbak Nisa.
__ADS_1