Kami Lintang

Kami Lintang
Kami Lintang - Bagian 47 Lintang


__ADS_3

Bagian 47 Lintang


Alter Meredith di Inner World Lintang.


SELEPAS mereka pergi, aku berjalan lunglai kembali ke Rumah Pohon Utama. Situasi di sini sama sekali tidak menyenangkan asal kau tahu.


Duuuaaarrr!


Aku mendongak. Jantungku hampir copot. Petir begitu dahsyat menyerang. Sinar beraliran listrik te- gangan tinggi itu persis menghantam atap Rumah Pohon Utama. Aku melihat ada seberkas api menyala tapi kemudian padam dihantam air hujan. Hanya meninggalkan asap tipis dan jejak menghitam.


“Bunda! Civa!”


Aku langsung panik. Rumah pohon yang begitu besar langsung robek seperti selembar kertas. Lututku lemas seketika. Bunda dan Civa ada di dalam. Aku berlari untuk segera mengetahui keadaan mereka.“Mer!” Pekikan Bunda Ret menggema ketika sa- lah satu jendela rumah pohon di dinding bagian be- lakang terbuka.


Separuh bagian depan rumah pohon, sudah lu- ruh ke dalam air bah di bawah sana. Bunda dan Civa melambai dari jendela rumah pohon bagian bela- kang. Mereka harus segera meninggalkan tempat itu. Bisa saja bagian belakang juga ikut runtuh karena pengikatnya sudah tidak lagi kokoh.


Pikiranku berputar-putar mencari cara. Ah, ba- gaimana, ya? Ah, ya, aku harus membuat jembatan darurat dari rumah pohon ke tempatku sekarang.


“Bunda, bertahan!” pekikku.


Mereka berpelukan dan pasti sedang kedinginan. Tak ubahnya aku di luar sini yang diterpa hujan sangat deras. Namun, karena rasa panik dan sema- ngat besar, aku merasakan panas berkobar dalam dadaku.


Aku mencari-cari kayu, atau papan, atau bambu, atau apa pun yang bisa dijadikan jembatan darurat. Aku bergerak agak ke depan, ke bagian yang sudah tidak berdinding. Di sana ada banyak papan yang tidak ikut hanyut ke air. Aku mencoba menariknya, tapi tersangkut jalinan kayu-kayu lain.


Ini tidak bisa! Kraaak!


 Bunyi kayu retak mengerikan disusul jeritan Civa yang melengking, membuatku semakin bertin- dak cepat. Sisa separuh rumah pohon itu bergerak turun.


“Jangan banyak bergerak! Cari tempat berpijak yang lebih kokoh, Bun!”


Mereka segera melangkah hati-hati, mencari pi- jakan yang lebih kokoh. Aku ingat, tadi melihat sepo- tong kayu bersandar di sebelah pondok Paman Weir- do. Jadi aku kembali ke sana.


Panjang kayu membuatku sulit berjalan. Aku meletakkan kayu itu di pundak, memanggulnya. Se- gera kuletakkan kayu itu hati-hati menyeberangi lu- bang menganga dari tempatkuberdiri menuju lantai rumah pohon yang tersisa.


Pluk! Blash! “Argh, sial!”


Aku salah perhitungan. Kayu itu kurang panjang. Ujungnya tidak bisa mencapai lantai rumah pohon. Kayu itu sekarang mengambang dan hanyut sia-sia dibawa arus.


Aku menarik napas, mengembuskannya perla- han seraya berusaha tetap tenang agar bisa mencari cara lain.


Kreeekkk!


Bunyi mengerikan itu lagi. Rumah Pohon Utama bergerak turun lagi beberapa senti.

__ADS_1


“Bertahan, Bunda, Civa! Pegangan di tempat ko- koh!”“Cepatlah, Kak Mer!” Erangan Civa terdengar me- nyedihkan.


Aku menoleh. Di sampingku ada rumah Bang Ja- ka. Dia punya pintu kayu panjang dan kokoh.


“Jaka, maaf. Permisi. ”


Sekuat tenaga aku menendang pintu Bang Jaka.


Belum mau lepas. Kutendang lagi. Lagi. Lagi.


Dan blash!


Engselnya copot sehingga membuat daun pintu itu rebah. Untung bangunan pintu di sini memang tidak ada yang terlalu kokoh. Rumahku malah tidak punya pintu, hanya tirai tebal berwarna hijau zamrud kesukaanku. Tidak ada pencuri di sini.


Dengan mengerahkan tenaga maksimal, aku mengangkat pintu itu. Jariku berkali-kali tertusuk serat kayu yang mencuat tajam. Namun, aku tidak peduli. Lagian tidak terlalu terasa karena tanganku telah beku kedinginan sejak tadi. Aku meletakkan daun pintu itu dengan hati-hati menuju lantai di dinding menganga yang paling pinggir. Ototku sampai tertarik maksimal dan terasa sakit karena menahan bobot pintu, sementara ujungnya masih mengambang di udara. Semoga kali ini ujungnya bisa mencapai lantai.


Dan. hap! Berhasil.


 “Satu per satu,” usulku. “Civa duluan. Ayo, Sa- yang!”Aku melihat Civa ragu. Dia memandang Bunda Ret yang memberikannya semangat. Dia seperti eng- gan meninggalkan Bunda Ret.


“Cepat, Sayang! Jalan pelan-pelan. Langkahkan kakimu hati-hati. Kalau tidak yakin dengan pijakan- mu, cari pijakan lain. Pakai feeling saja, Sayang. Aku tunggu di sini.”


Civa tampak mulai mengumpulkan kekuatan. Dia memandang jalur perjalanannya. Dia harus berjalan perlahan melewati dinding yang masih tersisa dari tempatnya berdiri. Dia harus mampu melewatinya sebelum bisa sampai ke dinding menganga tempat jembatan darurat ini kulandaskan.


Gerakan langkahnya cukup riskan, baik untuk di- rinya maupun untuk Bunda Ret di belakangnya. Sa- lah sedikit saja dia melangkah, akan membuat kons- talasi rumah pohon berubah dan bisa hanyut seperti separuh bagiannya yang lain. Tetapi, mendekam di situ saja juga bukan pilihan.


Civa memulai langkahnya. Aku bisa melihat tu- buhnya bergetar. Entah karena menggigil kedinginan atau ketakutan. Mungkin keduanya. Setiap dia me- langkah bunyi keriut kayu meneror. Berkali-kali dia menoleh, memeriksa Bunda Ret yang terus menye- mangatinya dari belakang.


Civa sudah sampai di ujung tepi retakan rumah pohon. Dia menelan ludah. Di bawah sana air banjir bergelora. Terus terang, jika aku jadi Civa, aku juga pasti gentar melewati jembatan darurat yang belum tentu kokoh ini.“Ayo, Sayang,” bujukku. “Sedikit lagi sampai. Per- lahan saja.”


Kaki kanan Civa mulai menginjak pintu rumah Bang Jaka itu. Dia mencoba merasakan kekokohan- nya dan setelah yakin, dia mengangkat kaki kanan- nya.


“Ya, begitu, Civa. Tidak apa-apa. You’re gonna be alright, Honey. Come on!”


Kreeekkkeeekkk! Krak! Braaak!


“No! Bunda!” pekikku.


Rumah Pohon bergerak turun lagi. Bunda terpe- lanting karena bidang lantai yang semakin miring. Tubuhnya sudah tidak terlihat lagi olehku di jendela. Civa yang sudah sampai di tengah jembatan, berjong- kok karena kaget. Dia menangis.


“Bunda! Bunda!”


“Ndak apa-apa! Bunda ndak apa-apa!” pekik Bun- da Ret dari dalam.

__ADS_1


“Bunda, bertahan, please!” pintaku hampir me- nangis.


Civa masih berjongkok.


“Civa… sini, Sayang. Cepat. Biar aku bisa ke sana menolong Bunda,” bujukku.


Dia menatapku dan mulai merangkak melewati jembatan darurat perlahan.“Good girl! Good girl!” pujiku karena dia segera tanggap menemukan cara yang lebih aman untuk menyeberang.


Aku menjulurkan tangan ketika Civa hampir sampai. Hingga akhirnya aku bisa memegang pundak gadis kecil itu sekarang. Dia semakin percaya diri ketika sudah dekat denganku. Dia melangkahkan ka- ki melampaui jembatan darurat itu dengan langkah sepanjang-panjangnya. Civa sampai dengan selamat. Aku memeluknya.


“Good girl,” kataku memberikan semangat. Kuusap-usap punggungnya. Tetapi kemudian,


dia mencerabut diri dari pelukanku dan kembali berbalik melihat Rumah Pohon Utama. “Bunda!” pe- kiknya.


“Bunda ndak apa-apa, Nduk,” jawab Bunda Ret menggema tanpa bisa kami ketahui bagaimana kon- disinya.


“Civa, sana, kau masuk ke rumah Bang Jaka. Ce- pat!”


Awalnya Civa enggan. Sebab dia khawatir karena Bunda Ret belum bisa menyeberang ke sini. Dia ingin terus mengetahui keadaan Bunda Ret, pasti.


“Civa, please.”


Akhirnya dia bergerak perlahan meski masih enggan.


“Bunda, bertahan! Aku akan ke sana!”Aku berjongkok lalu menggunakan cara Civa ta- di: merangkak. Aku mulai menyeberang dan berusa- ha mengabaikan gejolak air mengerikan di bawah sana. Aku benar-benar tidak mau melihat ke bawah. Kutegakkan kepala, terus memandang ke depan.


Ketika sampai di ujung, aku langsung melongok melampaui sisa dinding. Bunda Ret tertelungkup di lantai miring rumah pohon. Dia berpegangan pada satu batang pohon penyangga rumah ini. Kalau pe- gangan itu terlepas, tubuhnya akan meluncur ke air deras bawah sana.


“Bunda!”


Terus terang, sekarang aku bingung dengan cara apa harus menyelamatkannya. Kuputar pandangan untuk mencari cara.


Krak! Blash! Blash! Blash! Beberapa kayu dari atap dan dinding satu per satu jatuh ke air dan langsung bersih disapu air. Seolah menunjukkan, begitulah jadinya kalau kalian jatuh dari sini.


“Bunda!”


“Kembali, Mer! Kembali! Aku bisa. Kau kembali. Rumah ini sebentar lagi roboh. Tinggalkan saja Bun- da. Bunda bisa sendiri!”


“No! Tidak, Bunda!”


“Kembali, Mer. Please....” Bunda Ret menatapku penuh harap. Aku tidak bisa lagi menahan tangis. “Kembali...,” katanya benar-benar memohon.


“Tidak!” Aku berbalik dengan merangkak sambil menangis histeris.Kretak... kretak... kretak! Bunyi kayu lepas sema- kin mengerikan. Saat aku tiba di dekat Civa, sisa ru- mah Pohon Utama, luruh semua ke air. Termasuk Bunda Ret yang masih ada di dalamnya.

__ADS_1


“Tidak!” teriakku histeris.


“Bunda!” Civa berteriak-teriak di belakangku. “Jangan!” pekiknya pilu.


__ADS_2