
Bagian 20 Lintang
Lintang, Pengendali.
AKU merasa lebih baik sekarang. Nggak ada yang perlu ditakutkan lagi. Felixia akan langsung ke ‘de- pan’ jika Mayoru hadir. Besok pagi, Mer akan keluar saat Kapten Kirk muncul.
Karena kelegaan yang luar biasa itu, sore ini menjadi berkali lipat lebih indah. Aku keluar pondok dan berjalan-jalan di sekitar vegetasi pinus ini. Baru kusadari, pinus nggak memberikan kesempatan ta- naman lain untuk tumbuh di bawahnya. Sehingga tanah di bawah pohon-pohon pinus ini kosong. Hanya dihuni daun-daun jarum mati dan buah-buah keringnya saja. Kebun sayur kecil milik Papa ada di depan pondok, di mana nggak ada pinus menjulang. Mungkin pengetahuan ini udah dipelajari saat aku SMP dulu. Tetapi, tahu sendirilah, bisa tamat saja akuudah bersyukur.
Jalan-jalanku ini berakhir di pondok Papa. Kuli- hat masih banyak orang bekerja di workshop. Papa duduk di meja makan teras dan memperhatikan pon- selnya. Dia menggunakan kacamata baca yang dile- takkan menurun hampir di ujung hidung.
“Lin,” sapanya ketika melihatku mendekat.
“Papa mau kopi? Lin mau bikin kopi, nih, biar sekalian.”
“Kek mana kalau kita turun ke kota, Papa traktir kau di kafe yang kopinya luar biasa enak.”
“Boleh, Pa! Boleh.”
Setelah kembali ke pondok untuk mengenakan hoodie agar lebih hangat, aku udah bersama Papa di dalam Chevrolet tak lama kemudian. Ketika kami menggelinding di jalur menurun, Papa bercerita hampir setiap jam Tante Lea atau Mama mengirim- kan pesan WA untuk menanyakan kabarku, aku se- dang apa, dan makan apa. Aku menelan ludah, rasa- nya seperti menelan paku. Sakit, terluka, dan dingin. Kenapa saat aku pergi, mereka baru memperlihatkan perhatian padaku? Terus terang, itu membuatku se- dih dan sedikit merasa bersalah. Tapi..., ini pilihanku dan nggak boleh kusesali.
“Lusa nggak ada kelas, kan, Lin?”
“Enggak, Pa. Kan, hanya diminta tiga hari. Senin, Selasa, dan Rabu.”
“Jadi, besok masih ada kelas, ya?” “Hu-um.”“Pulangnya kita naik, yuk!” Aku mengernyit.
__ADS_1
“Sibayak! Kita kemping di puncak.”
Aku menoleh pada laki-laki yang mengucapkan ajakan kemping sama ringannya dengan mengajak ngopi di kafe. “Pa?”
“Kenapa?”
“Lintang nggak pernah, loh, naik gunung.”
Papa memutar stirnya perlahan untuk berbelok di tikungan sambil mengembangkan senyum. “Justru karena belum pernah, biar pernah.”
“Pa, kalau tahu Mama pasti ”
“Masih peduli akan itu, sementara pelarianmu udah jauh ke sini, Lin? Aneh.”
“Tapi. ”
Aku terdiam menatap jalanan aspal di balik kaca depan.
“Impian Papa sejak dulu, mau ngajak kau naik gunung. Semoga bisa terwujud sebelum Papa nggak ada. Mumpung Papa masih sehat dan punya kesem- patan. Papa rasa ini waktu yang sangat tepat.”
“Tapi Lintang ”
“Kita lewat jalur wisata aja yang gampang. Ja- ngan jalur sulit. Kita nginap satu malam di puncak, besok paginya pulang.”
Aku merasakan zat semangat terselip di setiap kata-kata Papa yang akhirnya membuatku meng- angguk, mengiakan.“Coba buka laci dasbor itu,” kata Papa sesaat ke- mudian.
__ADS_1
Aku memandangnya dengan tatapan bertanya ‘untuk apa’.
“Buka aja.”
Aku menurut. Laci itu berisi benda-benda ran- dom. Ada tumpukan CD, beberapa obeng berbagai ukuran, dan kunci inggris. Namun, mataku tertum- buk pada satu benda kotak yang udah lama nggak terlihat lagi di mana-mana. Kaset. Benda ini hampir punah.
Aku meraih dan mengamatinya. Ini bukan kaset rekaman artis ternama mana pun. Karena, jika milik profesional, biasanya ada kertas mengilap untuk sampul album, berisikan nama artis, nama album, daftar judul lagu, bahkan lirik lagu. Ini sepertinya kaset rekaman pribadi, terlihat dari kertas putih bergaris hijau yang menjadi sampul kotak kaset. Di kertas label rekaman itu tertulis dengan spidol hitam, EkyGea.
“Papa minta kausimpan kaset itu baik-baik,” kata Papa hingga menghasilkan pandangan heran dariku.
“Ini kaset apa, Pa?”
“Hanya ini yang tersisa. Kenangan masa lalu dari orang tuamu. Jadi, kalau aku mati nanti dan kau ditanya orang tentang kisah cinta orang tuamu, kau bisa jawab. Mereka bukan dua orang yang saling mem- benci, mereka bukan dua orang bedebah, mereka bukanlah manusia egois yang menelantarkan buah hatinya. Mereka hanyalah orang-orang yang kalah berjuang dari kejamnya dunia. Dan. ”Papa berhenti karena suaranya mulai bergetar. Matanya merah. Dia segera menyeka matanya de- ngan ibu jari dan telunjuk.
“Dan... yang paling ingin Papa yakinkan dari semua orang di bumi ini adalah kau, Lintang. Rekam- an di kaset ini bukti bahwa kau lahir bukan karena kebencian, tapi karena cinta. Supaya kau bisa mena- ikkan dagumu dan memandang dunia yang sombong ini dengan percaya diri. Paham kau, Lintang?”
Aku hanya mengangguk dengan perasaan yang lebih banyak disesaki ketidakpahaman. Papa terlihat sangat emosional, membuatku semakin penasaran kaset ini sebenarnya berisi rekaman apa.
“Papa nggak mau kau jadi pecundang seperti ka- mi. Kejar semua impianmu sekuat tenaga. Biar kau kalah di masa lalu, tapi jalanmu masih panjang. Kau harus yakin menentukan langkahmu lalu perjuang- kan itu sampai titik darah penghabisan.”
“Ya, Pa.” Aku mengangguk.
Papa mengusap matanya lagi dengan ibu jari dan telunjuk.
“Pokoknya, simpanlah kaset itu baik-baik,” kata- nya lagi. Papa terlihat kikuk, mungkin karena malu udah menangis di hadapanku.Aku sama sekali nggak tahu harus berkata apa. Sebab, tumpahan curahan hati seemosional ini di lu- ar perkiraanku. Pandanganku terhadap kaset ini te- lah berubah. Tadinya hanya benda yang hampir punah, kini justru menjadi wasiat yang harus kujaga. Walaupun aku belum tahu apa isinya.
__ADS_1
Kami pun lebih banyak berdiam diri sampai akhirnya Papa memarkirkan Chevroletnya di depan sebuah kafe.