
Bagian 5 Lintang
BANGUN-BANGUN, ternyata kami udah sampai di daerah Sibolangit. Udara segar menyusup ke rongga hidung. Menarik napas dalam-dalam, aku mene- gakkan tubuh untuk melihat keluar. Dari tadi me- mang jendela dibuka terus. Pemandangan di sini in- dah.
“Laper, Lin?” Tanpa menungguku menjawab, Pa- pa berkata lagi, “Kita singgah makan di Bandar Baru aja, ya.”
Aku ikut saja walaupun belum terlalu lapar. Ada suara Bunda Ret di kepala. Aku senang dia akhirnya datang. Dia itu sosok keibuan yang melindungi kami semua. Wanita berusia sekitar lima puluh empat ta- hun dengan badan sedikit gemuk. Dia senang mema- kai kain wiron dan kebaya. Rambutnya juga selalu disanggul seperti sinden. Aku suka mendengar caranya berbicara. Lembut dan medok Jawa. Dia memang berasal dari Solo dan masih keturunan keraton.Papa berbelok, kemudian parkir di halaman se- buah rumah makan besar tepat ketika Bunda Ret semakin dekat. Kepalaku berputar-putar.
Alter Bunda Retno (Perempuan, 54 tahun).
Saya memejamkan mata sebentar agar ndak terlalu merasakan semacam guncangan perpindahan dimen- si. Setelah yakin, saya membuka mata perlahan. Saya mendengar suara seorang pria di samping saya. Awalnya suara itu pelan dan kabur. Akan tetapi se- makin lama semakin terang.
“Lin, kamu nggak apa-apa, Nak?”
Saya memberinya senyuman dan anggukan hor- mat. Dia pasti papanya Lintang. Saya selalu kikuk jika berhadapan dengan orang yang belum dikenal seper- ti ini, apalagi jika dia seorang pria.
Pria berpotongan wajah bagus itu memandang saya sambil mengernyit beberapa menit. Dia seperti mencari sesuatu. Saya tersenyum lagi. Dia membalas senyum saya.
“Ini siapa?” tanyanya sambil memasang ekspresi panik seperti orang akan dirampok.
Memang, belum ada alter selain Jaka yang per- nah bertemu laki-laki ini. “Saya Retno. Biasa dipang- gil Bunda oleh anak-anak.”
__ADS_1
Laki-laki itu memberikan dengkusan keras me- nanggapi jawaban saya. Mungkin, ini terasa sangat aneh baginya. Juga sangat ganjil bagi saya mengakui diri seperti itu. Selama ini, kami bersepakat menyem- bunyikan diri. Siapa pun yang sedang ada di ‘depan’, kami harus mengaku sebagai Lintang Kemuning. Anak manis yang malang.Dia menggeleng-geleng, mendengkus, lalu meng- geleng-geleng lagi. Dengan suara pasrah dia akhirnya berkata, “Ayo, kita makan dulu.”
Papanya Lintang turun lebih dulu. Perlahan, saya menyusul. Saya belum pernah ke tempat ini. Sudah sampaikah ke tempat baru itu? Seminggu yang lalu, Lintang meninggalkan pesan di jurnal untuk kami baca. Jurnal adalah cara kami berkomunikasi selain berkumpul di Rumah Pohon. Jurnal berguna untuk hal-hal penting yang jika ndak dicatat, bisa terlupa. Sebab Lintang juga sering mengalami temporal am- nesia. Jurnal juga diperlukan sebagai bahan untuk psikolog yang menangani Lintang mempelajari per- kembangan Lintang.
Tulisnya di jurnal, dia ingin memulai hari baru di tempat baru bernama Berastagi. Dia menganggap di- rinya sudah dewasa. Saya tergelak saat membacanya. Bagi saya dia bayi kecil selama-lamanya.
Setelah kami berdiskusi di rumah pohon di ke- pala Lintang, kami memutuskan itu ide yang sangat bagus dan perlu dicoba. Waktu itu anggota lengkap, ada Jaka, Mer, Civa, Paman Weirdo, saya, dan tentu- nya Lintang. Paman Weirdo yang ndak biasanya muncul, datang saat itu. Kami bahagia sekali me- nyongsong ‘hari baru’ ini. Dan, ternyata inilah hari yang ditunggu-tunggu itu.Namun, ada sebuah kejanggalan. Saya merasa- kan keresahan di hati Lintang. Apa itu? Akan saya cari tahu. Sekarang, saya sudah duduk di meja ber- dua dengan papa Lintang. Ini agak canggung. Saya harus memastikan sesuatu dulu sebelum pergi.
“Ini sudah Berastagi?” tanya saya. “Belum,” jawabnya singkat.
Saya memandang rambut bergelombang dan ku- misnya, mengingatkan saya pada suami saya yang sudah meninggal. Dia benar-benar mirip suami saya.
“Tentu. Dia anakku. Kenapa aku mesti nggak se- rius?” katanya seperti kurang senang.
Saya mendesah, “Bapak meninggalkannya sejak dia bayi, bukan?”
Gantian dia yang mendesah. Saya bisa merasa- kan dia ndak nyaman dengan pertanyaan saya. Saya merasa harus menanyakan itu untuk memastikan Lintang baik-baik saja. Ini tanggung jawab saya.
“Itu udah masa lalu. Dan ingat, aku nggak me- ninggalkan Lintang.” Dia menukas geram.
Seorang pelayan rumah makan mendatangi kami dan meletakkan segala jenis lauk-pauk dalam piring- piring kecil. Pembicaraan itu berhenti. Pandangan saya lalu memudar. Hilang.
__ADS_1
Lintang, Pengendali.
Aku udah duduk di rumah makan. Kutumpukan ke- dua siku di meja dan telapak tangan mencengkeram kepala. Seperti ada tangan raksasa yang memeras kepalaku. Berat sekali hari ini, bener-bener, deh.
Papa sedang bicara padaku. Kusadari beberapa saat kemudian.
“Aku sadar, dulu aku memang salah. Aku terlalu cepat menyerah dan pergi. Aku pengecut. Aku hanya mementingkan diri sendiri. Semua yang kulakukan mulai dari sekarang dan seterusnya adalah untuk menebus kesalahanku di masa lalu,” kata Papa de- ngan tatapan menusuk mataku.
Aku mencerna perlahan dan hasilnya ini kejadi- an nggak mengasyikkan. Aku sering mendapati orang berbicara padaku tentang hal yang dibicarakannya pada alter-alterku.
“Aku tahu, aku bukan laki-laki yang baik selama ini. Tapi aku akan berusaha menjadi baik.”
Segan menginterupsi, akhirnya aku membiarkan saja Papa bicara. Kutunjukkan juga gestur-gestur tu- buh berbeda agar Papa sadar sendiri kalau aku udah bukan Bunda Retno. Sayangnya, dia belum terlalu mengenali siapa-siapa pun di antara kami. Dia bicara terus dengan emosi meledak-ledak.“Pa…,” kataku akhirnya. “Udah boleh makan, be- lum?”
Sekonyong-konyong, dia berhenti bicara dan me- mandangku seperti meneliti alien. Kedua tangannya terangkat ke kepala dan dengan gerakan cepat meng- garuk kepala frustrasi.
“Udah... makan, makanlah,” jawabnya dengan ekspresi menyedihkan.
Hal itu membuatku tersenyum lebar. Lucu. Baru kali ini ada orang yang begitu emosional saat me- nanggapiku. Kalau Mama atau Tante Lea—kedua pe- rempuan berwajah datar itu—biasa aja jika menyak- sikan aku disosiasi. Jika aku mengalami kecemasan parah, dengan wajah datar-datar seperti lempengan besi jembatan itu, mereka memberikanku obat atau segera memutar kunci mobil untuk mengantar ke psikolog. Persis seperti mobil yang mogok. Mobil mo- gok, lalu bawa ke bengkel. Mobil mogok aja masih diberi ekspresi panik atau sedih. Untukku, apa pun enggak. Biasa aja.
Aku masih tersenyum. Tersenyum ternyata cu- kup menyenangkan. Papa tampaknya nggak terlalu bedebah, kok.
__ADS_1