
Bagian 30 Lintang
Alter Jaka, Rumah Pohon—inner world Lin- tang.
GUE kaget sekaget-kagetnya ketika mendengar petir di langit Rumah Pohon. Gimana ga kaget, coba? Pertama, waktu itu gue lagi mandangin Felixia dan Adrik Kuning lagi yayang-yayangan di depan rumah pohon mereka sambil ngelamunin siapa ntar yang jadi pengisi hati gue.
Kedua, yang paling ngeri dari segala kengerian adalah, belum pernah kejadian petir, awan mendung, dan sejenisnya di Rumah Pohon ini! Di sini ga berlaku pergantian musim semacam itu. Pergantian siang malam aja ga ada, apalagi musim. Terang aja, ini bikin gue panik dan langsung melompat turun dari kursi leyeh-leyeh di teras rumah pohon gue.
Gue langsung mendongak buat meriksa awan. Bener aja! Hitam! Persis seperti kondisi langit di Hu- tan Larangan. Dari pintu rumah-rumah pohon yang lain, muncul satu per satu penghuninya. Mereka se- mua tampak keheranan dan sama kayak gue, lang- sung mandang awan. Iyalah, mereka juga belum per- nah ngalamin kejadian kayak gini sebelumnya.“Jaka! Ada apa ini?” Itu Mer yang teriak-teriak.
“Gue ga tau! Kumpul di Rumah Utama! Semua!” kata gue sambil melangkah lebar menuju lokasi yang gue perintahkan ke orang-orang. Gue sampai duluan di ambang pintu Rumah Pohon Utama. Bunda Ret dan Civa tiba berikutnya. “Masuk, masuk!” perintah gue. Adrik, Felixia, dan Mer datang kemudian.
“Hey! What’s wrong?” teriak seseorang dari ba- wah rumah pohon. Itu Paman Weirdo.
“Ga tahu, Bro! Udah naik aja dulu!” teriak gue. Semua udah ngumpul di dalam Rumah Pohon
Utama. Semua ga paham dengan apa yang tengah terjadi. Karena gue ditunjuk sebagai penanggung jawab Sistem Rumah Pohon, gue harus mampu me- nenangkan semua penghuni sistem. Tapi gimana gue mampu menenangkan orang lain? Sementara gue sendiri ga tenang karena sama sekali ga tahu ada apa dengan semua ini. Gue coba memanggil Lintang. Dia pasti tahu apa yang terjadi. Kalau ga, minimal dia bisa menceritakan sesuatu, hingga kami bisa meng- urainya.
“Selama saya di sini, baru kali ini langit mendung dan bahkan ada petir juga,” kata Bunda Ret sambil memeluk Civa yang ketakutan.Semua mengangguk karena merasakan hal yang sama. Kemudian, semua terlonjak kaget karena bunyi siur angin berembus sangat kencang. Semua berdiri dan berlari ke arah jendela. Daun dan pucuk-pucuk pohon ricuh dipermainkan angin. Gemuruh dan petir terus menerus datang. Fenomena ini benar-benar asing di sini. Jadi, semua merasa sangat perlu untuk menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri.
__ADS_1
“Pertanda akan turun hujan deras,” kata Paman Weirdo menjauhi jendela dan duduk di salah satu kursi kayu. Dia menaikkan sebelah kakinya. “Hujan deras di Rumah Pohon, itu pertanda sangat buruk,” lanjutnya.
Gue langsung menoleh padanya. Rambut gue beterbangan diempas angin dari jendela. Apa yang dia ketahui? Paman Weirdo jarang berkomunikasi dengan kami, karena memang jarang berkumpul di rumah pohon. Pekerjaannya adalah berkelana. Orang yang sering berkelana seperti dia mungkin aja punya pengetahuan lebih banyak.
Gue ingin bertanya padanya, tapi ga jadi, karena sekarang hujan turun dengan lebat. Gue menoleh. Di luar air seperti ditumpahkan dari langit. Langsung aja semua pemandangan hijau dari jendela seolah- olah lekas berubah jadi abu-abu dan menyeramkan.
Semua mundur dari jendela karena dengan cepat air masuk melalui jendela.Bunda Ret segera menutup pintu. Gue juga berla- ri menutupi jendela. Mer dengan cekatan menuju jendela lainnya. Ada banyak jendela di Rumah Pohon Utama ini. Semuanya bergerak otomatis ke arah jen- dela yang belum tertutup.
Suara hujan begitu menakutkan. Di dunia 'luar', hujan seperti ini udah biasa. Jadi, sebenarnya semua udah pernah merasakan hujan. Tetapi, karena ini ter- jadi di 'dalam', semua menganggap hujan merupakan mimpi buruk.
“Aku tidak bisa menghubungi Lintang,” cetus Mer. Dia duduk di atas ambal dan mengambil selimut tebal untuk menutupi kakinya. Memang, suhu udara tiba-tiba berubah menjadi sangat dingin.
“Saya juga ndak bisa memanggil Lintang,” timpal Bunda Ret.
“Apa semua ga bisa terhubung dengan Lintang?” Gue mengedarkan pandangan ke Felixia, Adrik, Civa, dan Paman Weirdo. Mereka semua mengangguk. “Ga- wat!” gumam gue menunduk dan berpikir.
Apakah ini akhir dari Sistem Rumah Pohon? Be- ginikah ending dari semua ini? Tapi, kok gue ga ya- kin, ya, kalau caranya seperti ini. Kami masih ada di sini. Itu artinya personal Lintang masih terbagi. Jika memang dia udah sembuh, gue yakin kami semua udah menjadi satu. Kalau ditanya menjadi satu itu artinya kami hilang atau gimana, gue ga tahu jawab- annya, sih. Memikirkan itu sering bikin gue pusing. Kata Mbak Icha memang seperti itulah nanti akhir dari gangguan ini—jika berkesempatan sembuh. Ke- simpulan kalau Sistem Rumah Pohon udah dihancur- kan, pasti bukan. Kecuali..., kecuali kalau Lintang me- mang berniat menghancurkannya sebelum semua terintegrasi. Nah!“Di antara kalian, siapa yang terakhir kali bicara secara personal dengan Lintang?” tanya gue akhir- nya.
Hujan di luar semakin deras. Udara bertambah dingin. Semua orang sedang dalam posisi saling ber- dekatan agar lebih hangat. Kecuali Paman Weirdo. Dia tetap di kursi kayunya, duduk sedih memeluk busur panah kesayangannya.
__ADS_1
“A-aku,” sahut Mer.
“Kapan itu, Mer?” tanya gue.
“Persis sebelum dia mengumpulkan kita. Dia da- tang ke rumah pohonku.”
“Dia bilang sesuatu yang ga diceritakan sama kita semua, Mer?” Gue desak Mer yang tampak ragu ber-cerita.
“Dia..., dia hanya cerita tentang kedekatan Chaca dan papanya. Dia cemburu, Jaka. Tapi, dia tidak mau mengakuinya. Dia malah seperti merasa bahwa ke- putusannya pindah, mengusik kehidupan tenang papanya. Dia ingin mundur dari pekerjaan dan pulang ke Medan. Tapi... aku rasa itu biasa. Dia hanya meng- alami homesick biasa. Semua orang mengalami itu, bukan?”Gue mengangguk. Itu memang bukan masalah berat yang bisa bikin sistem hancur. Tapi, berat ga- nya sebuah permasalahan bukan berdasarkan sudut pandang orang lain dan logika. Melainkan, berdasar- kan bagaimana Lintang pribadi melihat masalah ini.
Menurut pendapat sebagian orang di masa lalu Lintang, kekerasan Oma padanya juga pernah terjadi pada orang. Kenapa Lintang harus menjadi trauma dan ‘gila’ sementara anak lain ga apa-apa? Cibiran orang-orang itu membuat Lintang dan Sylia yang waktu itu masih ada di sini mengamuk. Gadis mu- rung itu—selain gue dan Bunda Ret—mengingat semua kenangan traumatik Lintang—kata Mbak Icha. Karena, sebagian besar yang parah-parah Lintang udah lupa.
“Aku rasa memang bukan tentang itu. Lintang baik-baik saja. Tadi aku sudah membesarkan dan menguatkan hatinya untuk tidak mundur dari impi- annya itu. Dia tampak mengerti. Tidak ada masalah,” lanjut Mer.
Gue menatap lantai. Semuanya diam. Gue rasa semua orang menutup mulut karena memang ga punya kesimpulan apa pun. Kami semua bingung.
Duuuaaarrr!
Suara petir membuat semua penghuni rumah pohon kaget dan dipaksa lepas dari lamunan masing- masing.“Jadi... hujan deras dan badai ini dikarenakan apa, sih?” gumam gue lirih sekaligus merasa kesal ka- rena ga mampu berbuat apa-apa untuk menenang- kan penghuni rumah pohon.
__ADS_1