Kami Lintang

Kami Lintang
Kami Lintang - Bagian 7 Lintang


__ADS_3

Bagian 7 Lintang


Lintang, Pengendali.


AKU baru selesai memeriksa setiap sudut rumah atau pondok. Ini nggak terlalu memakan banyak waktu. Karena, kau tahu sendiri, rumah ini kecil. Namun, kejutannya sangat banyak. Jika dijelaskan satu per satu akan menghabiskan banyak waktu. Akan tetapi, aku bisa simpulkan menjadi beberapa kalimat sederhana saja. Rumah ini kecil, tapi isinya selengkap rumah besar. Rumah ini imut, tapi karena pemilihan dan penyusunan perabotan dilakukan de- ngan cara cerdas, akhirnya menghasilkan kenyaman- an setara bahkan melampaui rumah luas.


Aku juga udah membersihkan tubuh dengan air hangat di kamar mandi. Sekarang, sambil duduk di atas ambal tebal di samping sofa biru, kuperiksa buku-buku dalam rak kecil ini. Koleksi bacaan Papa ke- banyakan tentang kayu dan majalah pertukangan. Tersusun di paling atas rak, bersebelahan dengan or- namen kayu unik, ada beberapa buku tebal berbaha- sa Inggris—sepertinya tentang ilmu manajemen, ada juga buku tentang motivasi kehidupan, dan sebuah Alquran Terjemahan.Kupilih satu buku menarik. Judulnya The Life- Changing Magic of Tidying Up, penulisnya Marie Kon- do. Aku tahu tentang buku bestseller ini, tapi belum pernah membacanya. Bacaan Papa cukup bermutu juga. Mengingat rumahnya kecil begini, bacaan ini pasti sangat berguna. Aku tetap duduk di ambal dan bersandar di kaki sofa. Aku mulai membaca dan... black out!


Alter Civa (Perempuan, 7 tahun).


Hmmm, Civa lagi di mana? Civa memutar kepala un- tuk mencari tahu ini di mana. Di tangan Civa ada buku apa ini? Waktu Civa lihat, segera Civa letakkan di atas ambal karena Civa nggak tertarik sama buku ini.


Rumah ini mungkin rumah baru Kak Lin. Kata Bunda Ret, Kak Lin menceritakan ini di jurnal. Civa sering malas membaca buku jurnal. Hihihi, Civa se- ring dimarahin Kak Lin, sih, gara-gara itu. Civa nggak suka membaca. Kesempatan Civa ada di ‘depan’ sebentar. Ngapain Civa habisin buat membaca? Lebih baik Civa main lari-larian di taman kompleks atau main boneka.Civa nggak masalah Kak Lin mau pindah, yang penting Civa selalu dikasih permen lolipop blueberry. Civa melongok ke jendela kaca di samping rak buku. Civa naik ke sofa biru dan memandang keluar mela- lui jendela. Sepertinya di sini enak untuk bermain. Tempatnya sangat mirip dengan rumah pohon di dalam sistem. Kak Lin beruntung ada di sini. Dia pasti suka. Kalau dia suka, Civa juga suka. Karena Civa adalah adiknya yang baik dan manis.


Langit mendung. Sesekali petir meledak. Civa su- ka hujan, tapi nggak suka petir. Itu bikin takut. Kare- na sendirian di tempat asing begini, Civa jadi benar- benar takut sekarang. Civa melorot di sofa dan mena- rik selimut dari sandarannya. Lebih baik Civa menu- tup kepala, supaya Civa nggak melihat yang aneh- aneh di luar sana.


Tapi....


“Aaaaaa!” Civa teriak waktu melihat dapur.


Di dapur ada perempuan berkebaya. Wajahnya serem. Perempuan itu..., Civa tahu! Civa menutup kepala lagi dan meringkuk takut di atas sofa.

__ADS_1


“Pergi! Pergi! Civa bilang pergi!”


Civa mendengar suara-suara. Civa menjerit-jerit lagi biar dia pergi.


“Liiin!”


Itu suara laki-laki dan tiba-tiba Civa dipeluk. Civa membuka perlahan selimut dari kepala Civa. Seorang pria dewasa memeluk Civa. Civa semakin takut. Civa berontak.


“Lepaskan! Lepaskan! Om siapa?”


Bapak-bapak itu langsung melepaskan pelukan.


Civa diam. Civa ingat kata-kata Bang Jaka. Om Eky itu papanya Kak Lin. “Papa Kak Lin?”


Bapak-bapak itu mengangguk. “Ini siapa?” tanyanya.


“Civa, Om.”


Civa melihat Om Eky mendengkus. “Kenapa Civa teriak-teriak?”


“Civa takut, Om.”

__ADS_1


“Nggak apa-apa. Ada Om di sini.”


“Civa takut sama perempuan se....” Civa ingin menceritakan tentang Mayoru. Tetapi nggak jadi, deh. Om Eky nggak mengerti. Sebaiknya Civa sembu- nyi saja di ‘dalam’. Civa takut. Civa takuuut!


Lintang, Pengendali.


Papa tiba-tiba udah muncul kembali di sini. Ada sepi- ring pisang goreng, secangkir teh, dan secangkir kopi panas di atas rak buku, karena memang nggak ada meja di depan sofa. Aku agak kaget ketika Papa du- duk dekat sekali denganku. Pasti ada apa-apa.“Tadi ada siapa, Pa?” Aku bertanya karena tadi antara ada suara Civa dan Meredith di kepala. Jadi aku nggak tahu sebenarnya mana yang benar-benar muncul di 'depan'.


“Civa,” jawab Papa. “Ini udah Lintang?”


“He-em,” kataku sambil setengah berdiri dan menggamit mug berisi teh. Aku segera menyeruput isinya. Badanku terasa lelah sekali. Jantung berdebar cukup keras dan perutku terasa dingin. Ketika teh manis hangat mengaliri kerongkongan, aku merasa lebih baik.


“Civa ketakutan tadi. Dia teriak-teriak. Apa dia memang sering begitu?”


Aku mengernyit, agak kaget. Civa anak yang pe- riang. Dia jarang menjerit-jerit kalau nggak sedang merasa terancam. Apa mungkin karena mendapati dirinya di dalam pondok ini sendirian? Itu nggak mungkin. Civa suka tempat sepi apalagi di antara pe- pohonan begini. Tempat seperti ini nggak asing bagi- nya, karena mirip betul dengan Rumah Pohon dalam ‘Kepala’.


Petir menggelegar. Seketika, hujan turun dalam intensitas cukup deras. Suaranya keras mengentak- entak atap pondok.


“Civa takut petir.”


“Tadi dia bilang takut sama perempuan... apa gitu. Nggak jelas juga dia ngomong apa.”Dudukku menegak. Mayoru! Pasti dia lihat Mayo- ru! Semua orang di dalam sistem nggak suka Mayoru. Aku nggak mau kekacauan dalam sistemku terjadi lagi seperti lima tahun yang lalu. Enggak, enggaaak! Hidupku udah cukup baik sekarang.

__ADS_1


__ADS_2