Kami Lintang

Kami Lintang
Kami Lintang - Bagian 17 Lintang


__ADS_3

Bagian 17 Lintang


Lintang Kemuning, Pengendali.


SATU malam terlampaui dengan pujian berkat keha- diran Felixia. Meskipun tadi Papa cerita sembari sarapan, dia kurang suka dengan attitude Felixia.


“Kenapa, sih, ada alter gituan dalam diri kau, Lin?” tanyanya sambil menyuapkan nasi uduk ke mulutnya.


Nasi uduk itu dibawa oleh Pak Ginting, salah satu karyawan di workshop Papa. Kata Papa, dia sengaja meliburkan pekerjanya dua hari yang lalu agar bisa fokus mengurus kepindahanku. Hari ini workshop Papa kembali beroperasi, menyelesaikan pesanan demi pesanan.


Aku mengangkat bahu sebelum bercerita pada Papa tentang bagaimana alter-alter itu muncul. Aku sendiri nggak yakin alasan-alasan apa yang mengaki- batkan alter dengan sikap tertentu muncul.“Sifat-sifat brutal Felixia itu muncul waktu Lin- tang SMA, Pa. Waktu itu, penyakit Lin belum ditemu- kan. Terus, waktu Lin kuliah, kalau nggak salah tahun 2013, kami menerima kemunculan Felixia di Rumah Pohon. Setahun setelah Lintang didiagnosa DID di tahun 2012. Dia memang pengacau. Kata Mbak Icha, alter Felixia sepertinya memang berasal dari masa Lintang SMA. Dia udah ada jauh sebelum tahun 2012.”


“Alter yang mengganggu apa nggak bisa diusir, Lin?” Papa bertanya serius.


“Bisa, sih, Pa. Tergantung seberapa mengganggu dia. Kalau udah nggak berguna di sistem lagi, dia bisa diasingkan.”


Aku ingin cerita lebih panjang pada Papa, tapi aku harus cepat-cepat menyelesaikan sarapan. Satu jam lagi aku udah harus sampai di rumah Chaca. Lagi pula, kalau kuceritakan semua, pasti harus menceri- takan tentang Mayoru juga. Itu akan lebih panjang lagi. Nanti saja kalau waktunya tepat, aku akan cerita. Kalau Papa bertanya apakah alter bisa disingkir-


kan selama-lamanya? Bisa. Selain pernah menying- kirkan Felixia, kami juga pernah menyingkirkan se- orang alter lain. Itu terjadi lima tahun yang lalu.


Namanya Sylia. Sylia adalah perempuan lima be- las tahun yang berjiwa klenik. Dia selalu dipenuhi duka dan cenderung ingin bunuh diri. Dia juga bertu- buh ringkih dan penyakitan. Walaupun kalau dilihat secara fisik, dia nggak berbahaya bahkan sangat ra- puh, sebenarnya dia sangat berbahaya. Dia terobsesi dengan dunia supranatural. Baginya itu permainan seru. Dia membuat semua penghuni sistem ketakut- an.Seperti yang udah kuceritakan, aku punya ke- mampuan melihat makhluk gaib sejak kecil. Kemam- puanku itu, sebenarnya udah diupayakan agar hilang oleh Tante Lea dan Mama. Mereka memanggil ustaz untuk melakukan rukiyah. Untuk beberapa tahun, aku lepas dari teror penampakan makhluk gaib.


Puncaknya, setahun setelah aku mengenal semua alter dan sistem Rumah Pohon, Sylia melakukan ritu- al pemanggilan roh. Akibatnya, Sistem Rumah Pohon kocar-kacir. Kondisi rumah pohon seperti diterjang tsunami. Saat itulah alter Felixia muncul di Rumah Pohon. Dia alter yang nggak bisa merasakan kehadir- an makhluk gaib. Kuakui, dulu dia menolong kami. Dan sekarang, sepertinya dia melakukan itu lagi.


Waktu itu supaya kekacauan nggak terjadi lagi, kami semua sepakat untuk ‘membuang’ Sylia selama- lamanya. Karakternya nggak berguna lagi untuk sis- tem kami. Dia hanya merusak. Yeah, mungkin kau udah tahu kelanjutan kisahnya, bahwa ternyata Fe- lixia muncul. Dia menyelesaikan satu masalah dan sayangnya, menimbulkan masalah baru. Kemudian Felixia diasingkan juga.Aku mengayuh sepeda dengan santai. Ternyata sepeda Papa masih bagus. Aku hanya perlu memom- pa bannya sedikit. Koper gitar kukaitkan di pung- gung. Matahari membuat pagi agak hangat. Meskipun begitu, aku tetap memakai sweater. Perjalanan ke tempat kerja yang sangat menyenangkan.


Pagar tanaman rambat udah terlihat. Aku mela- kukan seperti yang Papa lakukan kemarin.


“Siapa?” tanya orang di dalam speaker.


“Lintang,” jawabku sambil menekan sebuah tombol.


Klang. Shiiing Pagar itu menggeser sendiri. Aku


segera masuk. Tak lama pagar menutup kembali. Da- ri pintu berukir rumit, kepala Chaca tampak me- nyembul.


“Kakak! Selamat pagi!” sapanya ramah. “Selamat pagi, Chaca.”

__ADS_1


Dia menyongsong dan menggandeng tanganku masuk. “Om nggak ikut, Kak?”


“Om banyak kerjaan di rumah.”


“Oh.... Nanti kita main kuda-kudaan lagi seperti kemarin, ya, Kak?”


“Apa?” pekikku terperanjat.


Paman Weirdo!


***


 Hari ini, Chaca tampak bosan. Mungkin, karena aku mengajarkan teori gitar dulu padanya. Itu harus, menurutku. Karena sebelum kita bisa bermain gitar, kita harus mengenal dulu benda apa yang kita mainkan ini. Masuk akal, kan? Namun, sepertinya dia udah terkena pengaruh Paman Weirdo yang pasti kebanyakan mengajaknya bermain.


“Oke! Supaya nggak bosen, Kak Lin ada permainan!”


“Yeiiiy!” Chaca langsung berteriak gembira.


Aku ingat permainanku dengan Mbak Icha ketika aku merasa bosan dan tertekan dalam sesi konsultasi kami. “Nama permainan ini adalah Tepuk Pada Hari Minggu! Tahu lagu Naik Delman, kan?”Kulihat Chaca mengernyit sedikit.


“Oh, itu. Tahu, Kak! Tahu!”


“Nih, Kakak ajarkan tepuknya dulu.”


Saat aku memberikan contoh tepukan pada Cha- ca, ekor mataku melihat seseorang sedang memper- hatikan kami. Karena ingin tahu, aku menoleh untuk memastikan, apakah itu hantu Mayoru atau siapa.


Glek!


Di-dia? Bukankah itu Kapten Kirk alias Chris Pine dari Tea Pot Cafe? Ya, ampun... kenapa bisa kete- mu di sini. Dia tersenyum dan kembali masuk. “Cha, laki-laki itu siapa?”


“Mana, Kak?” Chaca menoleh. Tentu saja dia nggak melihat siapa-siapa lagi sekarang.“Tadi ada laki-laki pakai kaus putih dan celana pendek.”


“Oh... itu Om Chaca, adik Mama. Baru datang dari Medan tadi malam.”


Nggak salah lagi, dia pasti cowok yang menatap- ku aneh di Tea Pot Cafe. Aku yakin sekali kalau dia gebetan Mer. Makanya pagi kemarin, Mer ngebet buat sarapan di sana. Karena Mer tahu itu adalah pagi terakhir kami berada di Medan. Mer pasti senang kalau tahu hal ini. Sayangnya, Mer belum bisa keluar. Aku baru sadar. Ada yang luar biasa hari ini.


Mayoru belum terlihat batang tenggorokannya sam- pai detik ini. Itu melegakan. Mudah-mudahan sela- manya.

__ADS_1


***


Akhirnya, pertemuan kedua ini berjalan sukses. Nggak ada hambatan berarti. Kecuali protes lucu Chaca karena aku tampak kurang bersemangat hari ini. Andai dia tahu, bahwa nggak ada yang bisa me- nyaingi semangat Paman Weirdo.


Waktu mau pamit sama Mbak Nisa, ternyata be- liau nggak ada di rumah. Padahal aku mau menggo- danya dengan pura-pura bilang Papa kirim salam. Yah, lumayanlah jadi comblangnya Papa. Mbak Nisa ke hotel, kata Chaca. Kemarin Papa sempat cerita kalau Mbak Nisa itu pemilik beberapa hotel dan pe- nginapan di sekitar Berastagi. Pantesan kaya.Aku sempat celingukan mencari Kapten Kirk. Te- tapi, orangnya entah menghilang ke mana, mengingat rumah ini cukup besar dan berlantai dua. Saat mena- iki sepeda dan mulai mengayuh, kudengar seseorang berteriak.


“Tunggu!”


Aku menoleh, aduh, Kapten Kirk. Kenapa aku jadi salah tingkah begini? Di tangannya ada beberapa lembar kertas. Dan, nggak mungkin banget itu surat cinta.


“Ini punyamu ketinggalan,” katanya.


Oh, ya, tentu itu bukan surat cinta. Itu lesson plan-ku. Kenapa nggak Chaca, ya, yang mengantar- kannya padaku? Ah, nggak boleh ge-er. Segera kuca- gak kembali sepedaku. Dia berjalan keluar dan kami bertemu di tengah jalan. Cowok ini benar-benar ganteng.


“Sepertinya kita pernah ketemu, ya?” katanya sambil menyerahkan kertas itu.


“Mungkin,” kataku, malu mengakui terang-te- rangan kalau aku sangat ingat dengan pertemuan ka- mi.


“Oh, Tea Pot Cafe, ya?”


 “Mungkin aja, dua hari lalu aku ke sana,” jawab- ku masih ogah mengakui kalau aku mengingat wa- jahnya.“Iya, aku juga ada di sana. Kenalin, aku Sastra.” Dia mengulurkan tangan.


“Lintang,” jawabku sambil menjabat tangannya dengan gugup. Aku kaku seperti pengin pingsan.


“Iya, aku ingat kamu. Kayaknya kemarin itu ter- buru-buru keluar kafe kalau nggak salah, ya.”


“He-em.” Aku nggak tahu lagi harus berkomentar apa. Meredith, I need your help!


“Eh, maaf, aku harus pulang. Permisi.” Segera kuseret sepedaku dan enyah dari hadapannya.


“Makasih, ya!” kataku lagi sambil mengangkat kertas-kertas itu tanpa menoleh.


“Ya, sama-sama. Besok ke sini lagi, kan?” tanya-nya.


Inginnya aku jawab enggak, tapi itu nggak mung-


kin. “Ya!”

__ADS_1


__ADS_2