Kami Lintang

Kami Lintang
Kami Lintang - Bagian 46 Lintang


__ADS_3

Bagian 46 Lintang


Alter Jaka di Inner World Lintang.


SYLIA udah diamankan di suatu tempat. Paman Weirdo meyakinkan gue, kalau gadis berbahaya itu ga akan bisa lepas, minimal sampai gue temukan tempat pengasingan baru.


Setelah semua ini selesai, gue heran. Kenapa rasa marah gue yang tadinya besar pada Lintang sama sekali hilang? Gue lega banget ini udah berakhir. Semoga dia ga bakal mengulangi kecerobohannya itu. Terus terang, gue kasihan padanya. Rasa lelah memperjuangkan semua ini sepertinya ga ada apa- apanya dengan struggle Lintang menghadapi cabaran demi cabaran di hidupnya. Sampai-sampai dia mena- mai hidupnya adalah hidup bedebah.


Ah, Lintang, semoga lo cepat menemukan keba- hagiaan, hingga lo ga bilang lagi kalau hidup lo bede- bah.“Anjir! Bedebah! Paraaaah!” Tiba-tiba Felixia muncul di antara kami. Dia tertawa-tawa sendiri.


“Ada apa, sik? Girang banget?”


“Ada cowok yang suka sama Kak Lin. Sayangnya aku nggak tahu. Aku jutekin dia. Terus, aku tinggal begitu aja. Urusan aku, kan, sama Mayoru. Bukan cowok! Moga Kak Lin bisa, deh, menanggulanginya.”


“Banjir keles, ditanggulangi.” Gue mengikik. “Omong-omong banjir, Rumah Pohon masih ban-


jir, nggak, ya?” Felixia menanyakan hal yang gue pe- ngin tahu juga jawabannya.


“Yuk, ah, kita cepat balik! Khawatir, nih, sama Bunda, Mer, dan Chiva,” ajak gue.


“By the way, Sylia diungsikan ke mana?” tanya Felixia.

__ADS_1


“Dia sudah aman. Kau tenang saja, Nak.” Paman Weirdo menjawab.


“Sepertinya Sylia perlu kita carikan cowok, yak. Supaya dia merasa hidupnya lebih berharga.” Adrik tiba-tiba nyeletuk.


Semua hening memandangnya. Pada ga nyangka, mungkin, dengan idenya yang cemerlang itu. Dan, mungkin, dia pun ga menyadari kalau Felixia juga berubah karena ada dirinya sebagai pacar.


“Ciyeee!” ledek gue tiba-tiba.


“Apaan, Bang?” tanyanya bingung.“Kagak! Saran yang bagus itu!” jawab gue meng- alihkan. “Tapi masalahnya, di sini ga bisa gitu aja ketemu cowok kayak di emol.”


“Hei, Sylia masih umur lima belas tahun. Dia ti- dak boleh pacar-pacaran,” bantah Paman Weirdo. “Biar saja, pelan-pelan aku ajak dia bertualang dan berburu. Mungkin, dengan itu semangat hidupnya akan tumbuh.”


“Wuah, Bro! Ide brilian itu,” puji gue satir. Usia gue dan Paman terpaut jauh, tapi gue main bra-bro, bra-bro aja. Dia juga ga keberatan, sih. Ya, udah. Kan, jadi lebih akrab. “Tapi, baiknya dia dibuang aja. Kalau gue udah nemu tempat buangan,” lanjut gue serius.


Gue mikir. Iya, juga, sih.


“Udah, tenang. Serahkan Sylia padaku. Kita ubah anak itu menjadi anak yang optimis. Alter nggak bisa dibuang. Semakin dibuang semakin berbahaya, dia tetap ada sampai semua kepribadian Lintang menya- tu. Sampai kita semua menyatu. Dia bagian dari kita. Dia nggak bisa dihapus, tapi pasti bisa dikendalikan. Kalau dihapus, nanti tetap ada bagian yang hilang dari Lintang jika suatu saat dia pulih. Justru itu ma- lah menjadi bibit penyakit yang menghambat kesem- buhan Lintang. Lihat, kan? Udah terbukti sekarang.


Jangan sampai kita mengulang kesalahan yang sa- ma.”Gue mengangguk. Paman ada benarnya. Lagi-lagi kepintaran dikalahkan oleh pengalaman. Emang gue pinter? Kalau itu, sih, meragukan. Kalau gue kuat, itu ga diragukan lagi.


“Haha. Tidak sia-sia aku sering hadir saat sesi di tempat praktik Icha,” imbuhnya sambil tertawa. Dia bangga atas idenya. Ya, menurut gue idenya memang patut dibanggakan.

__ADS_1


“Baik. Kami percaya pada Paman kalau begitu,” kata gue akhirnya.


Dengan perasaan sangat berbeda dengan ketika waktu berangkat ke Hutan Larangan tadi, kami pu- lang sambil banyak bercanda dan tertawa. Perjalan- an pun jadi ga begitu terasa capek. Saat sampai di lokasi hujan separuh tadi, kami senang. Hujannya udah berhenti di sisi sana. Ini mengabarkan satu hal, hujan benar-benar udah berhenti di rumah pohon.


Saking ga terasanya berjalan, kami bahkan udah sampai di bukit tempat menambatkan rakit. Air be- nar-benar udah surut. Air serupa laut bergejolak tadi hilang begitu saja, seolah ga ada kejadian apa-apa. Padang sabana membentang luas di bawah sana. Aneh beud.


“Yah, kenapa udah surut, sih?” keluh Felixia. “Apa, sih, Yang?”


Aduh, gue pengin ngakak Adrik manggil Felix begajulan itu dengan ‘Yang’. Gue harus tahan. Ga bo- leh ngakak di depan pasangan kekasih. Nanti gue di- bunuh dan dianggap jomlo nyinyir nirlaba.“Iya. Kalau naik rakit, kan, nggak capek. Biarpun mengerikan terombang-ambing di atas air, kita nggak mesti jalan jauh,” sungutnya.


“Aneh beud, pacarmu itu, Drik. Ini tandanya banjir rumah pohon pasti udah surut. Kondisi udah normal.”


“Iya, Bang Jaka..., tapi, kan, capek.”


“Kalau capek biar aku gendong,” tawar Adrik tulus.


“So sweet!” pekik gue dengan mata berlope-lope.


Pengin ngakak lagi dah gue.


“Kalau aku, sih, lebih menyayangkan tempat ti- dur nyamanku, harus ditinggal di sini. Haha!” Paman Weirdo mencebik.

__ADS_1


“Tenang, Bro. Ntar gue bantu bikin tempat tidur yang lebih nyaman lagi. Pake per antikarat dan busa bulu angsa.”


__ADS_2