
Bagian 51 Lintang
Lintang, Pengendali di Inner World Lintang.
SEJAK kejadian kehancuran Sistem Rumah Pohon kemarin, baru sekarang aku memberanikan diri ma- suk ke sini lagi. Itu pun karena Bang Jaka berulang kali meyakinkan bahwa mereka nggak marah pada- ku.
Kupijakkan kaki ke sini lagi. Hatiku mencelus. Bencana di dalam sini, semua karena ulahku. Aku pernah meragukan sistem ini kemarin—terus terang. Aku melanggar aturan terpenting sistem. Dan itu mengakibatkan Sylia keluar lagi.
Ketika dia kami singkirkan ke Hutan Larangan dulu, masih sangat jelas dalam ingatanku, dia ber- sumpah akan menghancurkan kami semua. Dia berhasil melakukannya. Menjadi sebuah ironi karena itu disebabkan ulahku.Tiga atau empat hari yang lalu, Bang Jaka sempat ke ‘depan’ sewaktu sesi dengan Mbak Icha. Dia men- catat di jurnal bahwa sekarang Sylia ditangani Paman Weirdo. Mbak Icha katakan itu solusi yang sangat bagus. Tetapi, dia berpesan agar Paman berhati-hati menjaganya.
Itu dia Paman Weirdo, bersama Bang Jaka dan Adrik sedang membangun kembali rangka Rumah Pohon Utama.
“Lintang!” Mer memekik dari teras rumahnya. “Mer!” Aku melambai.
Senang rasanya mendengar Mer masih menya- paku sama hangatnya. Sebuah paku seperti menusuk dadaku. Rasa bersalah pada sistem masih bercokol. Felixia keluar dari rumahnya. Pun Bunda Retno dan Civa. Mereka melambai-lambai, tersenyum lebar, dan memintaku segera naik.
Ah... air mataku semakin deras saja berjatuhan. Felixia menyongsong ketika aku naik dari tangga Pa- man Weirdo.
__ADS_1
“Jangan nangis, Kak Lin. Mereka sedang memba- ngun kembali sistem. Kak Lin harus happy, karena itu asupan energi bagi kami di dalam sini.”
“Ya, ya, kau benar, Fel.” Aku segera mengusap air mataku.
Sampai di atas, Mer udah menantiku dengan se- nyum mengembang dan tangannya terbuka lebar. “Oh, Lintang, my dear!” Dia memelukku hangat.
Aku telah membaca semua cerita yang mereka tuliskan di jurnal. Mereka telah menuliskan pengala- man di dalam sini ketika peristiwa itu berlangsung. Aku mengenangnya dengan pahit saat memeluk me- reka satu per satu.
“Bunda,” gumamku kala memeluk Bunda Ret. “Maafkan aku.”
“Ndak perlu minta maaf, Nduk. Ini perjuangan kita bersama. Jangan pernah memelihara rasa bersa- lah itu. Ndak bagus itu. Sudah, sudah.” Dia mengelus punggungku.
“Apa kabar Kapten Kirk?” tanya Mer menggodaku.
“Mer!” Aku memelotot.
“Pengumuman, pengumuman!” Mer membuat corong dengan kedua tangan di mulutnya. “Lintang sudah punya pacar!”
__ADS_1
Teriakan aneh Mer itu sampai membuat Bang Jaka, Paman Weirdo, dan Adrik berhenti dari peker- jaannya.“Ciyusan?” pekik Bang Jaka.
“Iya!” teriak Mer pada Bang Jaka. “Yang aneh- nya. ”
Aku menubruk Mer dan menutup mulutnya agar nggak memberitakan hal-hal konyol seperti itu. Na- mun, Felixia si begundal nan kekar bertenaga turbo, menarikku dan mengunci tanganku.
“Bilang, Kak Mer! Apa yang terjadi? Cepat!”
Aku meronta, mencoba lepas dari Felixia. “Fel!
Lepasin, nggak? Feeel!”
“Yang anehnya,” kata Mer melanjutkan berteri- ak-teriak. “Masa sewaktu selesai Sastra nembak, dia malah manggil aku. Ya, udah sekalian aja Sastra aku gombalin. Biar dia makin klepek-klepek.”
Semua orang terpingkal-pingkal mendengarnya. “Bagus, Mer!” umpatku satir.
“Nanti kalo lo nikah, malam pertamanya manggil Mer juga kali!” sahut Bang Jaka.
__ADS_1
“Ih.” Aku menjengit. “Jauh amat mikirnya!” “Aku tidak akan mau, ih!” Mer bergidik.
Aku tersenyum. Pertama kali dulu, aku kira Mer yang benar-benar suka pada Sastra. Belakangan, dia tulis di jurnal, Sastra adalah kandidat untuk dia jodohkan denganku. Mer prihatin dan miris melihat dunia percintaanku. Katanya, dia hanya ingin menyelamatkanku. Dasar, Mer.