
Bagian 40 Lintang
Alter Jaka di Inner World Lintang.
KEMUNGKINAN yang dikatakan Felix itu sangat ma- suk akal. Gue jadi bergidik membayangkannya. Kena- pa Lintang bisa sebodoh itu? Gue ga percaya ini terjadi. Kalau itu benar terjadi gue marah besar padanya. Tetapi ga ada waktu untuk membesarkan rasa marah gue sekarang. Yang perlu gue lakukan adalah meredamnya dan mencari cara cepat untuk menolong Lintang. Biarpun dia udah melanggar per- janjian dan gue merasa ga dihargai, dia tetap tang- gung jawab gue. Soal gimana perasaan gue terhadap- nya, itu nanti aja dibahas.
Lintang, lo udah ngelakuin kesalahan fatal.
Ga satu alter pun kecuali Felixia yang dapat ter- hubung dengannya. Itu pasti karena dia ga lagi mengakses rumah pohon, melainkan Hutan Larang- an. Kemudian di dunia luar sana, bisa aja Mayoru itu datang lagi. Karena itu dia berusaha memanggil Fe- lixia. Sekali aja dia bisa mengakses tempat larangan itu, maka dia bisa mengalami kebingungan, kecemas- an, dan semua perasaan buruknya terpanggil lagi. Ngapain dia melakukan itu, sih? Ga abis pikir gue!Dan... sesuatu baru aja terlintas di kepala gue. Bagaimana kalau Sylia.... Ah! Jangan. Please, jangan sampe itu terjadi. Sylia itu berbahaya.
Kami sampai juga di dasar jurang, akhirnya. Paman Weido benar. Jalur tebing di sebelah sini lebih mudah karena banyak batu-batu kokoh menonjol untuk dijadikan pijakan. Di bawah sini tanahnya be- rupa pasir endapan. Yang bisa tumbuh hanya rerum- putan kuning. Sisanya bebatuan besar dan kecil ber- serakan di sana sini.
Di balik semak sebelah sana, tersembunyi celah kecil. Dari celah yang hanya bisa dilewati satu orang itu, kita udah mulai memasuki wilayah Hutan La- rangan. Ga ada rahasia lagi sekarang, gue ga perlu menutup mata siapa pun. Gue hanya berjalan me- mimpin di depan dan menyingkirkan semak-semak agar bisa dilalui.
Ketika memasuki celah kecil itu, kami berbaris. Gue sempat memeriksa ke belakang, semuanya tam- pak memutar kepala masing-masing, mencari tahu karena baru mengenal tempat ini. Kami dilingkupi batu cadas yang merupakan dinding tebing nan ting- gi menjulang. Di sini gelap. Di bagian atas celah ini terbuka dan bisa langsung melihat segaris langit. Namun, sama aja karena langit di sini kelabu. Mata- hari selalu bersembunyi.Masuk lebih dalam di Hutan Larangan, kami be- lum menemukan apa-apa.
“Lo masih ada akses ke Lintang, Fel?” tanya gue.
Dia menggeleng. “Susah, Bang. Sepertinya udah benar-benar putus. Bener-bener anjir! Bangsat!” Dia kesal dan menarik rambutnya. Adrik dengan sigap merangkul gadis itu.
“What the—” pekik Paman Weirdo terputus. Le- laki itu melihat ke satu titik. “Itu.”
Kami semua menoleh ke arah yang ditunjuk Pa- man. Ada sesosok manusia tergeletak di atas batu besar. Tubuh itu terkulai lemas menghadap samping.
“Kak Lintaaang!” Felixia berlari. Kami semua berlari.
Benar. Sosok itu Lintang. Dia terbaring ga sadar- kan diri. Lehernya merah, seperti bekas jeratan tali atau semacamnya.
__ADS_1
“Apa yang terjadi?” Felixia langsung berjongkok dan mengangkat kepala Lintang untuk dipangkukan di pahanya.
Gue berjongkok dan mengecek napasnya. Dia hanya pingsan. “Lintang di sini. Lalu yang di depan siapa?” tanya gue.
“Kak Lin, bangun, Kak!” Felixia menepuk-nepuk pipi Lintang.“Lin!” Gue ikut membangunkannya. “Uhuk!” Lintang terbatuk.
Syukurlah. Matanya terbuka perlahan. “Kalian?” erangnya.
“Siapa di depan, Lin?” tanya gue ga sabar. “Maafkan a-ku...,” gumamnya lemah.
“Nanti aja minta maafnya!” bentakku emosional. “Katakan, Lin, siapa di depan?”
“Sy-lia.”
“APA?” Yang pasti bukan cuman gue yang teriak barusan. Semuanya benar-benar kaget.
“Maafkan aku,” katanya terisak. “Di luar ada Ma- yoru, Fel,” lanjut Lintang dengan suara serak.
Perlahan, Lintang mengangkat tubuhnya. Dia du- duk. Wajahnya sedih dan penuh penyesalan. Dia ga berani natap gue. Gue juga lagi malas melihatnya lama-lama. Gue takut emosi mengalihkan fokus gue. Jadi, gue memilih memandang Felixia yang berjalan menjauhi kami untuk mengambil posisi agar bisa mengusahakan switching dengan Sylia di ‘depan’. Gue yakin, meminta Sylia mundur itu sulit dan membu- tuhkan waktu.
Felix membelakangi kami. Dia duduk bersila dan menunduk. Jika dia berhasil bernegosiasi dengan Sy- lia, maka gadis pemurung tapi berbahaya itu akan ganti masuk ke sini. Dia bisa muncul di mana aja di sekitar sini. Gue punya rencana.“Bro, ambil posisi menyebar di sekitar sini. Sylia bisa muncul di mana aja. Kita harus siap-siap. Cepat tangkap kalau dia muncul. Jangan biarkan lari. Dia lemah, mudah menangkapnya. Tapi intinya kalau udah tertangkap, jangan biarkan kecengengan dan kelemahannya mengelabui kita.” Gue menjelaskan rencana pada Adrik dan Paman Weirdo.
“Siap, Bang!” Adrik langsung menuju satu titik. “Yeah.” Paman Weirdo pun segera beranjak untuk memilih posisinya sendiri.
“Maafkan aku, Bang,” ucap Lintang lirih ketika gue mau beranjak ke titik lain.
Gue terpaksa berhenti dan menunduk melihat- nya. Dia masih terduduk lemah. Jadi, gue memilih berjongkok lagi. Sepertinya dia ingin menyampaikan sesuatu ke gue.
__ADS_1
“Maafkan aku.” Lintang menangis.
Gue menyentuh bahunya. Gue bukan Jaka yang tukang nge-judge. Siapa minta maaf, pasti gue maafin. Dia pasti punya alasan kenapa ngelakuin ini. Dan alasan itu yang belum gue dengar. Mungkin kalau gue tahu, gue bisa paham.
“Ga apa-apa, Lintang. Gue cuman ga paham aja kenapa lo lakuin ini semua?”
“Aku nggak sengaja, Bang.”
Gue mengernyit dan menatapnya untuk meminta penjelasan lebih lanjut.“Waktu itu, aku nggak sabar pas Abang menjem- put Felixia terlalu lama. Sumpah, Bang. Aku nggak ada niat mau ke Hutan Larangan. Aku tahu aturan- nya. Karena aku terlalu gelisah dan nggak tahu harus melakukan apa, aku bermaksud nyusul Bunda Ret, Mer, dan Civa di Pondok Mawar. Aku udah lama nggak ke Pondok Mawar, jadi aku kesasar. Waktu memilih jalan yang salah itulah, aku menemukan akses ke Hutan Larangan. Aku bener-bener penasa- ran, Bang. Aku pikir, nggak apalah masuk sebentar. Sumpah, Bang! Cuman gitu aja. Aku nggak lama di sini dan meneruskan perjalanan ke Pondok Mawar.”
Gue mengangguk. Gue paham sekarang. Meski- pun pada waktu itu dia ga keliaran di sini, dia udah tahu bahwa ini Hutan Larangan. Dia udah punya kuncinya. Begitulah istilahnya. Dan kunci-kunci itu bisa membuka otomatis kapan saja dirinya menga- lami guncangan di luar.
“Lalu tiba-tiba, waktu aku merasa sedih karena suatu hal, aku mengalami panic attack, Bang. Mayoru datang. Dan... yang terbuka bukan jalur ke rumah pohon melainkan ke sini. Dan, seperti Abang tahu, yang terpanggil bukan Felixia tapi Sylia.”
Lintang menangis lagi. Dia tampak bingung. Gue malah kasihan sekarang. Gue mengelus kepalanya.
Dia menubruk dan memeluk gue erat. Lintang me- lanjutkan tangisannya di bahu gue.“Maaf, Bang. Maaf.”
“Ga apa-apa. Sekarang kita selesaikan ini. Lebih cepat, mungkin bisa membuat hujan deras di luar sana berhenti dan nggak menenggelamkan rumah pohon.”
“APA?” Lintang dengan segera tercerabut dari pelukan gue. Dia memelotot. “Apa maksudnya, Bang?”
“Rumah Pohon dilanda hujan badai dan banjir. Tadi sewaktu kami ke sini, rumah pohon masih baik- baik saja. Ga tahu kalau sekarang. Mengingat hujan beberapa menit aja banjirnya udah kayak laut.”
“Separah itukah?” tanya Lintang lirih. Dia me- nyentuh bibir pucatnya dengan ujung jari. Sorot mata itu penuh penyesalan.
“Yup!” jawab gue. “Tapi kita masih punya waktu kok, untuk memperbaiki ini. Semoga Felixia berha. ”
__ADS_1
Perhatian kami teralihkan dengan hadirnya cahaya di depan Felixia. Cahaya itu selalu muncul jika siapa pun akan masuk ke dunia ‘depan’. Cahaya itu semacam portal. Itu artinya, Felixia berhasil dan se- bentar lagi akan menguasai tubuh Lintang. Syukur- lah.
“Semua siap-siap di posisi buat nyambut Sylia!” Gue berdiri, lalu berlari mencari lokasi untuk bersi- ap-siap.