Kami Lintang

Kami Lintang
Kami Lintang - Bagian 31 Lintang


__ADS_3

Bagian 31 Lintang


Felixia, Rumah Pohon—inner world Lintang.


AKU dan Adrik mungkin yang paling biasa dengan cuaca dingin, hujan, dan badai seperti ini. Karena sebagian besar hari-hari di Hutan Larangan, ya, seperti ini. Tapi memang, kuakui, aku juga merasa heran mengapa di Rumah Pohon bisa ada hujan seperti ini. Hal jelek apa lagi, sih, ini? Aku setuju dengan prediksi Paman Weirdo tadi. Bahwa awan hitam atau hujan merupakan pertanda buruk di Rumah Pohon. Tapi, bedebah anjir apa itu, belum ada yang tahu.


Berkali-kali aku berusaha mengakses Kak Lin- tang. Namun, usahaku senantiasa nihil. Aku punya perasaan nggak enak. Instingku mengatakan Kak Lin dalam bahaya. Aku memilih beranjak dan memisahkan diri dari kerumunan di tengah rumah pohon. Adrik tampak ingin mengikutiku, tapi aku menahan- nya. Kusampaikan itu melalui ekspresi wajah dan gerakan tangan. Dia mengerti, lalu duduk kembali di sebelah Kak Mer.Aku duduk di dekat rak buku, berusaha memu- satkan pikiran untuk menjangkau Kak Lin. Kucoba mengabaikan percakapan Bang Jaka dan penghuni lainnya. Mereka masih sibuk membahas apa yang terjadi sebenarnya. Kupejamkan mata sesaat.


“Air naik!”


Aku tahu itu suara Adrik. Saat membuka mata, kulihat dia sedang mengintip di sela-sela kayu jende- la. Entah sejak kapan dia sudah nggak duduk di anta- ra kerumunan lagi. Semua penghuni serempak berdi- ri. Wajah mereka panik. Civa nggak ikut. Dia tetap duduk di ambal dan membenamkan wajahnya di antara lutut.


Aku berusaha menekan rasa penasaran. Sebe- narnya, aku juga ingin tahu bagaimana sebuah hutan dengan banyak pohon rindang dan akar-akar kokoh bisa banjir? Setahuku di sekitar sini nggak ada sungai yang punya kemungkinan meluap. Namun, kubiarkan mereka saja yang menyaksikan.


Dalam hati, aku nggak henti-henti menyebut na- ma Kak Lintang.


Felixia!


Gemuruh hujan, suara siur angin, dan suara ribut penghuni-penghuni lain membuat suara yang me- manggil namaku itu antara ada dan tiada.“Semuanya, tolong, diam!” teriakku sambil berdiri.


Mereka semua berpaling dari jendela dan me-

__ADS_1


mandangku heran.


“Maaf, tapi aku seperti mendengar suara Kak Lin!” Aku kembali menajamkan telinga. Kupejamkan mata agar bisa fokus mendengar. Suara petir berkali- kali membuat ini terasa semakin sulit.


Felixia... Hutan Larangan.


Ya! Aku mendengar lagi. Suara Kak Lintang. Aku membelalak. Bang Jaka sudah berdiri persis di de- panku. “Kak Lin bilang Hutan Larangan, Bang. ”


“Apa?” Bang Jaka teriak.


Paman Weirdo berdiri di sebelah kursi tempat dia duduk tadi. “I think. what’s Lintang trying to say


Semuanya bergerak hendak bersiap-siap. “Engga! Engga! Ga bisa semua pergi. Mer, Bunda


Ret, dan Civa, tinggal di sini,” perintah Bang Jaka te- gas. “Lihat, di luar hujan deras dan banjir!”


“Tidak bisa, Jaka! Aku harus ikut,” bantah Mer. “Tolong dengar gue, Mer. Lo harus di sini. Siapa


yang menjaga rumah pohon? Hutan Larangan tempat berbahaya. Lagi pula, siapa yang melindungi Lintang jika dia tiba-tiba meminta bantuan di sini?”“Ya, mesti ada orang yang tinggal di sini,” saran Paman Weirdo menguatkan.


Kak Mer mendengkus dan melipat tangannya kesal. Aku mengerti perasaannya. Dia juga ingin tahu apa yang terjadi pada Kak Lin, sebab wanita itu yang selalu menjadi tempat Kak Lin nyaman berbicara un- tuk urusan apa saja. Hubungan mereka seperti adik kakak sekaligus sahabat.

__ADS_1


Aku mendekatinya. “Kak Mer, aku tahu perasa- anmu. Aku berjanji akan kembali dengan selamat dan menceritakan semua yang kulihat nanti padamu.”


Dia memandangku dan tersenyum kecut. Dia me- narikku dalam pelukan. “Lakukan yang terbaik, Fe- lixia! Kami memercayaimu!”


Kata-kata Kak Mer serupa air hangat yang mem- basuh hatiku. Rasanya nyaman dan membuatku se- makin bersemangat. Ini juga menjadi penanda, aku sudah benar-benar diterima lagi di sini sebagai bagi- an dari mereka. Bagian yang membantu, bukan mengganggu. Rasanya menyenangkan sekali.


“Ya, Kak Mer. Pasti!” jawabku ketika pelukan ka- mi lerai.


Aku pun memeluk Bunda Ret yang berdiri di sebelah Kak Mer. Dia mengusap-usap punggungku. “Hati-hati, yo, Nduk! Jangan gegabah. Pikir dulu sebe- lum bertindak,” nasihatnya.


“Iya, Bun. Doakan kami, ya.”Aku menoleh pada Civa. Dia masih duduk di dalam selimut di atas ambal. Anak itu sudah mirip gulungan kapas. Putih, pucat, dan ringkih. Kasihan sekali Civa. Aku mengelus kepalanya. Dia enggan me- natapku. Pandangannya nanar ke satu titik di ambal.


“Hanya setinggi ketiak!” teriak Paman Weirdo. Ternyata dia sudah ada di bawah untuk menge-


cek ketinggian air. Seketiak Paman Weirdo artinya bisa sebatas leherku.


“Aku akan menggendongmu,” kata Adrik seolah membaca kekhawatiran dalam kepalaku.


Aku menatapnya. Aku ingin menangis terharu akan kebaikannya. Namun, aku malu menunjukkan itu. Aku nggak terbiasa menunjukkan sikap baik pa- danya. Jadi, aku hanya menepuk bahunya dan meng- angguk.


“Aku bisa sendiri.”

__ADS_1


__ADS_2