Kami Lintang

Kami Lintang
Kami Lintang - Bagian 35 Lintang


__ADS_3

Bagian 35 Lintang


Sylia, Dumped Alter.


AKHIRNYA aku tertidur betulan. Bahkan sudah ter- lalu lama, karena hewan-hewan pagi sudah ribut di luar. Lama sekali rasanya aku tidak mendengar suara ayam dan burung-burung itu. Suara yang menanda- kan malam telah berakhir. Itu artinya, mari kita sam- but siang yang tidak menyenangkan dengan sema- ngat nol, bahkan minus.


Tidak ada yang menyenangkan saat pagi dan siang. Aku tidak suka dua waktu itu. Makanya, aku suka berada di Hutan Larangan. Di sana, setiap wak- tu serupa senja yang mendung. Bagus sekali. Sem- purna! Banyak hal yang memberikanku sedikit hi- buran di sana, saat selalu gagal mati berkali-kali.


Namun, aku sudah di sini sekarang. Tidak akan ada kegagalan itu lagi.


Tempat ini sudah sepi. Hanya ada seorang lelaki ngorok yang tidur di ayunan besar. Perlahan, aku bangkit. Kusingkirkan selimut dan menjejak lantai. Ada ambal abu-abu tebal di bawah sini. Aku berdiri. Aku merasa oyong3. Setelah agak reda, baru aku berjingkat. Aku harus keluar, tapi jangan sampai ketahuan. Orang-orang dewasa hobinya melarang. Pun pasti laki-laki yang sedang pulas itu.

__ADS_1


Aku berhasil melewati pintu tanpa membuat laki-laki itu terbangun. Kututup kembali dengan hati- hati. Udara pagi menyebalkan. Terlalu segar. Bau-bau kehidupan yang menjijikkan. Pohon pinus. Di mana- mana aku melihat pohon pinus menjulang.


“Mayoru.... Kau di mana? Tidakkah kau ingin bermain denganku. Maaa... yo... ru. ” bisikku geram.


Aku terus melangkah di jalan tanah antara pohon-pohon pinus. Di depan sana ada gerbang kayu. Aku harus keluar dari sini.


“Mayoru.   Tidakkah kau ingin mencekikku lagi?


Aku tidak akan melawan. Aku tidak bodoh seperti Lintang.”


“Mamaaa ini Minako-chan!” kataku lagi berusa-

__ADS_1


ha mengundang Mayoru.


Brak!


3 goyang


Aku menoleh. Pintu pondok membuka. Laki-laki itu bangun. Aku berlari menuju jalan besar. Dia me- ngejarku.“Lintang!”


Tidak! Tidak. Aku harus pergi. Aku tidak boleh gagal.


“Berhenti, Lintang!”

__ADS_1


Berhenti? Enak saja! Aku mempercepat laju lari. Sekarang aku sudah melewati gerbang. Di jalan aspal, aku berbelok ke kanan. Di kejauhan, kulihat lampu mobil dengan sorot menyilaukan. Mobil itu mengge- linding menuju kemari. Ini waktunya!


Aku akan menantikan mobil itu lebih dekat lagi dan....


__ADS_2