Kami Lintang

Kami Lintang
Kami Lintang - Bagian 3 Lintang


__ADS_3

Bagian 3 Lintang


Lintang Kemuning, Pengendali.


MOBIL Mama udah nggak ada di garasi. Rumah lengang. Tante Lea juga pergi bersamanya. Mama memang nggak pernah pergi tanpa Tante Lea. Nggak tahulah ke mana. Kalau mau tahu, nanti saja cek di teve atau internet.


Aku menyimpan sepeda di garasi dan mencari kunci serep di kotak tempat Tante Lea biasa me- nyembunyikan kunci. Segera kubuka pintu yang menghubungkan garasi dan ruang makan.


Belum berapa lama aku berada di dalam rumah, deru Chevrolet K10 1978 Papa merasuki gendang telinga. Truk tua itu ternyata masih dipakai. Kondisi terakhir saat aku melihatnya sangat menyedihkan.


Truk itu sering mogok. Bodinya bercak-bercak dem- pul seperti punggung panuan. Baknya penuh serbuk kayu. Papa memang perajin perabot dari kayu. Kata Mer, papaku carpenter. ‘Kang kayu aja, susah amat nyebut carpenter.Dia memakai truk itu untuk belanja bahan, untuk mengantarkan produk jadi ke pemesan, bahkan un- tuk jalan-jalan. Dia sangat menyayangi truk jelek itu. Padahal dia bisa membeli truk baru yang lebih gagah. Katanya itu truk pembawa berkah dan teman setia- nya melewati berbagai cobaan di bisnis perabotan, hingga dia menjadi sesukses sekarang. Dia akan mempertahankan truk butut itu, apa pun yang terja- di.


Aku balik lagi ke pintu tempatku masuk tadi un- tuk menyongsong Papa. Ini kejutan! Truk butut itu udah agak lumayan. Badan panunya udah tertutup cat hijau army nan mengilap.


Ketika Papa muncul dari kepala truk, dia terse- nyum lebar. Ah, Papa selalu mengingatkanku pada Mario Bross. Kumis tebalnya.


“Kuy!” teriaknya.


Aku mengernyit. Dia ngomong apaan?


Karena melihatku bingung, dia mengulangnya. “Kuy.”


Aku menaikkan bahu. Dia berjalan ke arahku. “Masa nggak tahu kuy? Itu yang sering dibilang


anak milenial. Artinya, yuk!”


Oh, itu nggak digunakan oleh orang berumur dua puluh lima. Minimal, aku bukan salah satu pengguna- nya. Untuk apa bilang ‘kuy’ kalau ‘yuk’ udah bagus dan bisa dipahami? Aku tahu Papa mungkin mencoba agar lebih dekat denganku. Sayangnya, dia kurang survei.Tanpa menunggu reaksiku, Papa ngomong lagi. “Mamamu di dalam?”


Aku menggeleng. Mendengar jawaban itu, dia terlihat semakin santai daripada sebelumnya dan masuk ke rumah. Seolah-olah, dia pengendara sepe- da motor nggak pakai helm yang merasa lega karena di persimpangan nggak ada polisi.


“Papa sarapan dulu aja. Lin mau siap-siap,” ka- taku.


Aku meninggalkan Papa di ruang makan. Sebe- narnya tadi malam, aku udah mengemasi baju-baju- ku. Aku hanya perlu mengganti pakaian jelek ini. Mer suka baju-baju feminin sedangkan aku sebaliknya. Jeans-nya kupertahankan. Aku hanya mengganti blus ungu berenda menjijikkan ini dengan kaus biru le- ngan panjang.


Saat aku melihat kaca....

__ADS_1


“Mer!”


Asli, make up Mer norak banget. Aku nggak terla- lu masalah dengan make up, tapi jangan terlalu tebal begini juga kali. Aku mengambil tisu basah. Kugosok tepian hidung yang mirip punya Mama ini—syukurlah sekarang nggak lagi. Kulap semua lapisan bedak di wajah ovalku yang juga mirip Mama. Apakah ha- nya mitos atau fakta? Jika ibu dan anak perempuan- nya berwajah terlalu mirip, biasanya nggak saling cocok. Mengingat hubunganku dengan Mama, seper- tinya itu fakta.Satu hal paling penting harus kubawa, gitar! Eh, mana gitarku? Ah, ya. Tadi Mer keluar. Biasanya ka- lau ada dia, apa-apa udah menjadi rapi dan berpin- dah ke tempat semestinya. Aku membuka kotak gi- tar. Benar, kesayanganku berbaring di sana. Udah lebih bersih dari sebelumnya.


“Thanks, Mer.”


Aku bergegas keluar. Papa sedang menyeruput kopi buatannya sendiri.


“Udah siapnya kau? Papa baru buat kopi.” “Ya, udah habiskan dulu, Pa.”


“Ada botol atau mug bertutup? Biar dibawa aja.”


Aku mengangguk dan mencarikannya di lemari penyimpanan pecah belah.


***


Truk Chevrolet Papa udah meluncur keluar kom- pleks. Aku menoleh ke belakang dan cepat kembali menoleh ke depan lagi. Aku takut itu bisa menggen- tarkan kebulatan tekadku.


Papa menyetir sambil bersenandung. Pria ini tampak selalu bahagia dan ceria. Kata Mama, dia be- debah. Aku nggak begitu ingat apa saja yang ada di list macam-macam perbuatan bedebah yang dise- matkan Mama padanya. Menghitung partikel-partikel bedebah pada diriku saja aku masih kerepotan. Satu yang pasti, akhir-akhir ini Papa mulai dekat dengan- ku. Mungkin karena dia udah tahu penyakitku. Usaha mendekatkan dirinya lumayan sukses karena aku pun sedang butuh dia.Kata Papa, dia punya pelanggan tetap dari da- erah gunung, Berastagi. Keluarga kaya itu minta di- buatkan satu set kursi kayu untuk teras taman bela- kang mereka beberapa bulan lalu. Papa memang udah terkenal di daerah itu dan udah punya cabang. Di sana dia membeli tanah, membangun rumah, dan punya workshop walau nggak sebesar di Medan.


Pada hari yang sama, Papa meneleponku. Tentu saja aku menerimanya dengan senang hati. Aku bu- tuh keluar rumah dan melakukan kegiatan yang bisa mengaktifkan sel-sel dalam otakku. Udah dua tahun aku menganggur sejak lulus menjadi Sarjana Musik. Jika ada kesempatan bekerja, Mama dan Tante Lea selalu menghalangi. Kata mereka, gajinya kecil. Ya, iyalah! Di mana, sih, guru les gitar belum terkenal yang gajinya gede? Dasar mereka saja yang terlalu berlebihan mengkhawatirkanku.Aku semakin bersemangat karena tempatnya ja- uh dari rumah. Aku bisa lebih lama menghindar dari Mama dan segala sensasinya. Tinggal di rumah Mama tanpa kegiatan berarti, bukan hal yang baik. Sama sekali enggak.


“Mamamu kenapa? Papa tengok beritanya di ti- pi.” Pertanyaan Papa membuatku menoleh padanya.


Saat itu kami udah jauh dari rumah. Hiruk pikuk jalanan Kota Medan udah terasa. Papa mengajukan pertanyaan pada orang yang salah. Jadi, aku hanya menaikkan bahu.


“Kau udah bilang Mama, kan?” “Untuk apa?”


“Lah... minta izin, dong, Lin.”


Aku menggeleng. Di rumah itu, kalau nggak salah ingat, nggak berlaku acara izin-izinan. Mama juga se- ring pergi sesukanya.


Di kepalaku hadir suara-suara. Aku menyentuh dahi dengan ujung jari. Sempat kudengar Papa berta- nya, “Kenapa, Lin?”


Alter Jaka (Laki-laki, 28 tahun).

__ADS_1


Gue ada di dalam mobil. Saat melihat sekeliling, ada Om Eky di kursi kemudi. “Mobilnya keren.” Gue bisa merasakan cat yang halus dan mengilap saat memu- kul pelan pinggiran jendela.


“Makasih, loh, Lin.” Om Eky merespons sambil terus fokus menyetir.


“Hm, ini Jaka, Om.”


Om Eky menoleh. Wajahnya penuh rasa kaget. Dengan cepat dia memindai mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki. Gue jadi ikut-ikutan melihat badan Lintang dari dada hingga ke bawah juga. Padahal gue jarang melakukannya, karena ga terlalu nyaman ngeliatin tubuh Lintang yang perempuan. Walaupun bodinya ga bohay, tetap aja dia perempuan.


Yang kedua, ga nyaman lihat badan Lintang itu karena aslinya badan gue lebih seksi daripada dia. Badan gue atletis berotot. Ga jauh beda sama Ade Ray. Dada gue juga bisa gue goyang-goyangin naik turun saking tebalnya otot di sana. Rambut gue juga jauh lebih rapi. Ga gondrong semrawut kayak Lin- tang. Potongan rambut gue kayak Leonardo D’Caprio di film Titanic, coy! Dulu gue belah tengah, tapi di tahun 2018 ini gue sibak ke samping. Biar up to date kayak Pak SBY. Keren, kan, gue?


“Ah, ya, ampun!” katanya sambil kembali melihat jalanan.


Om Eky selalu memunculkan sikap frustrasi ka- lau menemukan anaknya switching dengan alter-al- ternya. Gue maklum. Dia belum terbiasa. Dia juga ba- ru diberitahu belakangan ini.“Om ada nyimpen karet gelang, kagak? Rambut Lintang semak amat. Gerah.”


“Tuh, cari di laci dashboard.”


Om Eky kelihatan banget berusaha ngomong bi- asa aja. Tapi gue bisa menjumpai nada kegugupan karena tiba-tiba anaknya menjadi orang lain.


Gue mengacak-acak laci dashboard. Sebelum me- nemukan karet gelang, gue menemukan kaset. Ajaib. Player-nya udah ga ada, tapi kasetnya masih ada. Pasti itu kaset berarti banget bagi Om Eky.


“Seandainya Lintang mau dicepak,” kata gue sambil mengikat asal rambut lurus panjang milik Lintang.


“Setuju! Panjang juga nggak pernah mau disisir atau diiket, kek, minimal. Udah nggak pernah mau senyum, rambut begitu. Bikin takut aja. Lebih men- ding kunti, biar serem tapi masih mau ketawa nga- kak.”


Gue tertawa keras sekali. Seandainya Lintang mendengar ini. Udah dipastikan dia ga akan ikut ter- tawa. Dia akan mencebik, muntah, dan memunculkan wajah yang lebih seram lagi. Om Eky ikut tertawa.


“Senang melihat Lintang tertawa,” katanya.


Di matanya, gue adalah Lintang yang sedang ter- tawa, tentu saja. Ada hening beberapa detik, sebelum gue harus mengutarakan hal penting untuk kelang- sungan hidup bahagia Lintang.“Gue khawatir sama Lintang, Om. Baru kali ini dia jauh dari rumah dan mamanya.”


Om Eky menggeleng dan bilang, “Enggak perlu khawatir, aku di sana. Aku yang jaga dia. Selama dia di sana, aku nggak akan ngambil kerjaan di Medan. Kukasih sama anggota aja nanti.”


Gue menggeleng lemah. Pria ini baru benar- benar hadir di kehidupan Lintang sekarang. Dulu, dia hanya sekelebatan ga penting yang suka terbang ga tentu arah. Susah untuk gue bisa begitu aja diyakin- kan. Beda dengan Lintang yang gampang banget per- caya padanya. Benar, Om Eky memang terlihat baik. Banyak orang terlihat baik tapi nyatanya enggak, kan?


Gue memilih diam. Sebenarnya, karena udah le- bih banyak keluarga yang tahu tentang Lintang, gue merasa agak lega. Setidaknya udah ada yang mema- hami kondisinya selain dirinya sendiri. Biarpun be- gitu, gue yang paling mengerti dia dan bisa diandal- kan. Gue ga akan pergi ke mana-mana dan akan sela- lu hadir jika Lintang dalam kekacauan.

__ADS_1


Lampu merah Simpang Pos Jalan Djamin Ginting menyala. Mobil ini berhenti. Di tiang flyover yang melayang di atas perempatan ramai ini, gue melihat seorang perempuan berpenampilan ga pada tahun- nya. Dia berkebaya Jawa jadul berwarna krem dekil dengan bawahan batik cokelat pudar. Kulitnya putih bersinar. Rambutnya disanggul. Dia berdiri saja di sana. Memanggul anggun payung kertas, dia menatap gue. Bukankah itu....Mayoru?


__ADS_2