
Bagian 23 Lintang
Lintang Kemuning, Pengendali.
PAPA duduk di depan meja gambarnya. Dia harus menyelesaikan desain lemari untuk pelanggan dari salah satu hotel ternama di Berastagi.
“Pa, tape recorder itu masih bagus?” kataku me- nunjuk tape recorder miliknya yang menarik perha- tianku pertama kali di pondok ini.
“Masih,” jawabnya tanpa mengalihkan pandang- an dari pekerjaannya.
Aku duduk di depan meja kecil itu. Sementara Papa ada di sampingku. Karena meja gambar dan meja kecil ini persis berdampingan. “Boleh, nggak, Lintang puter kaset ini?” Kuacungkan kaset pemberi- annya.
Dia menoleh dan memandang dengan tatapan te- duh, lalu mengangguk.“Nggak ganggu Papa kerja, kan?” “Nggak, nggak apa-apa.”
Dia meneruskan menggambar dan aku langsung mencolokkan steker tape recorder pada stopkontak. Dengan segera kumasukkan kaset ke dalam tape deck dan kututup. Aku sungguh nggak sabar menantikan apa yang akan kudengar hingga membuat Papa menggelari kaset ini adalah bukti bahwa aku dilahir- kan karena cinta.
Saat tombol play kutekan, terdengar decitan pita kaset berputar. Lalu, aku mendengar rekaman suara keributan dalam ruangan, seperti orang menggeser kursi, suara orang berbicara, dan perempuan berde- ham. Aku menyetel volume-nya sampai pada posisi nyaman didengar, nggak terlalu mengganggu Papa dan masih cukup bisa kudengar dengan jelas.
“One, two, three!”
Perempuan di dalam rekaman memberikan aba- aba. Kemudian, petikan gitar bertempo sedang dalam gaya musik folk yang nyaman di telinga menguar di udara dingin pegunungan ini. Aku seperti mengenal suara perempuan itu.
Intro sekitar delapan bar telah berlalu dan persis di ketukan yang tepat, suara ringan dan sendu se- orang perempuan—aku yakin yang memberi aba-aba tadi—mulai bernyanyi.
__ADS_1
Duniaku bola yang pahit Jalanku labirin yang rumit
Waktu kita berjumpa… duniaku menjadi bola gulali Waktu kita bersama… jalanku diapit pohon warna- warni
Bumiku tanah beranjau Hidupku disesaki rasa galau
Waktu kita bertemu, bumiku menjadi cokelat yang manis
Waktu kita berdua, hidupku seperti lagu-lagu harmo- nis
Reff:
Dia tidak menjanjikan kemudahan Tapi Dia menyiapkan pertolongan
Bagikuuu… kau orang yang dikirim Tuhan Untuk menemaniku memperbaiki keadaan
Liriknya sangat manis, diiringi petikan gitar di- namis, menjadikan lagu ini sederhana tapi luar biasa. Belum lagi, lagu ini dibawakan sepenuh hati. Aku bisa merasakannya. Please, jangan bilang itu suara Mama.
Ctrak!Aku menekan tombol ‘stop’. Rasanya nggak sang- gup mendengar bagian reff-nya diulang lagi. Sege- rombol kepedihan beriringan datang dari tiap jeng- kal nada yang mengalun. Itu aneh dan nggak bisa ku- tampik.
“Liriknya mamamu yang buat, Papa yang cipta- kan melodinya. Mamamu nyanyi, Papa yang ngiringin pake gitar.”
Nggak! Jangan katakan ini lagu Mama dan Papa! jeritku dalam hati. Nggak terasa, entah bagaimana, dari mataku meleleh air yang hangat. Mengapa cinta yang membuat dunia pahit menjadi gulali itu harus berpisah? Dan parahnya, perpisahan mereka ke- mungkinan terbesar penyebab hidupku dijejali ba- nyak kejadian bedebah.
__ADS_1
“Lin ”
Aku segera menghapus air mataku. Papa memu- tar tubuh dan menjulurkan tangannya untuk me- nyentuh pundakku.
“Bener Mama yang nulis lirik lagu ini, Pa?” “Ya.”
“Hanya orang berhati hangat yang bisa menulis- kan lirik semanis ini, Mama bukan orang seperti itu,” kataku sambil menunduk.
Aku mendengar Papa mendengkus. Suara gesek- an kursi dan lantai kayu bergemeletuk seperti gigi yang beradu, akibat pergerakan Papa mendekat pa- daku. Dia duduk menghadapku.“Asal kau tahu, mamamu dulu orang yang penuh cinta, semangat, dan periang. Cintanya yang beribu- ribu untuk orang lain itu, akhirnya malah menimbun dan membuat dirinya mati. Dia merasa bisa menjadi pahlawan untuk semua orang. Sampai-sampai dia lupa, bahwa dia hanya manusia biasa yang punya keterbatasan. Dia nggak bisa menyenangkan semua orang. Dia harus pilih. Pada akhirnya, dia bisa memi- lih. Dia memilih ibunya. Sayangnya itu bukan penye- lesaian dari masalah. Dia justru memicu masalah baru, karena pilihan itu membuatnya dihantui rasa bersalah pada orang yang dia tinggalkan, Papa.”
Papa berhenti dan mengubah posisi duduknya. “Cinta yang melimpah ruah itu meledak, Lin...,
hancur dan nggak berbentuk lagi. Dia jadi orang yang apatis memandang dunia. Papa pun bersalah karena nggak bisa menolong orang yang Papa cintai. Satu- satunya yang bisa Papa lakukan untuknya adalah de- ngan menceritakan pada semua orang bahwa akulah yang bedebah. Agar dia nggak dipersalahkan orang. Agar bebannya berkurang.”
Kali ini Papa menghela napas dalam. Aku juga. “Kau tahu, Nak? Bukan hanya orang-orang yang
percaya Papa bedebah. Bahkan bualan itu lama-lama menjadi kebenaran di mata mamamu, dan di mata-mu, Lintang. Bahkan di beberapa waktu juga menjadi benar di mataku sendiri.”Aku berkedip. Mataku perih. Air mataku jatuh ke meja. Agak shock mendengar kenyataan ini.
“Sebenarnya...,” lanjut Papa sambil meletakkan tangannya di atas meja,“... yang Papa lakukan itu juga nggak membantu banyak, Lin. Karena Papa melaku- kan kesalahan terbesar lainnya. Aku meninggalkan- mu, Lintang. Papa memang bedebah yang sesungguh- nya, aku nggak bisa memperjuangkan istri dan anak- ku. Papa memilih meninggalkan kalian. Papamu ini tak lebih dari seorang pecundang.”
Mata Papa berair.
“Aku telah kalah dari nenek tua penggila harta. Tapi dia yang menumbuhkan semangatku untuk bangkit. Dan itu udah Papa buktikan, meski dia nggak akan bisa melihat lagi. Seenggaknya, papamu ini udah puas.”
__ADS_1
“Nggak ada yang perlu Papa buktikan pada monster tua itu,” kataku lirih.
Papa menarik napas. Keperihannya kurasakan juga. Dia memandang langit-langit, matanya merah. Aku menubruk dadanya dan menangis di sana. Dada- ku sesak!