
Bagian 12 Lintang
Alter Paman Weirdo.
TIBA-TIBA, ada anak kecil cantik di depanku. “Hey, hey, beautiful girl? How’re you doin’?”
Anak itu menatapku heran.
“Don’t be afraid of me, yeah, little sweety girl. So, tell me, what are we doing now?” kataku sambil me- ngernyitkan dahi, memohon agar dia memberikan sedikit info tentang apa yang dilakukan Lintang sebe- lumnya.
“Not an English lesson for sure,” jawabnya dengan suara nggak yakin dan menunjukkan gitarnya.
Aku tertawa keras. “Huahahahaha! Yeah, you’re right. You and your guitar, right?”
Dia anak Indonesia yang bagus bahasa Inggris- nya. Supaya dia tidak terlalu kubuat bingung, aku akan berakting seperti Lintang. Aku tidak terlalu ta- hu bagaimana cara menjadi Lintang. Ah, ya, yang pas- ti Lintang tidak menggunakan bahasa Inggris dalam keseharian.“Oke! Kita mulai pelajarannya. Eh, siapa tadi na- mamu, Sweety?”
“Kak Lin lucu, deh. Pelupa banget. Panggilanku Chaca, Kak,” katanya sambil terkekeh.
“Hehe, sorry, Chaca. Kalau begitu, kita mulai de- ngan mempelajari lagu semangat untuk berburu!” pekikku.
***
__ADS_1
Lintang Kemuning, Pengendali.
Begitulah. Hari pertamaku mengajar diambil alih Paman Weirdo. Sebagian diriku sangat bersyukur sebenarnya. Dia jarang muncul. Sebuah keberun- tungan dia muncul ketika nggak satu pun alter lain bisa muncul. Dia menyelamatkan hari pertamaku. Walau aku nggak bisa membayangkan bagaimana kacaunya dia mengajar. Dia pemburu, bukan guru les gitar.
Sebagian diriku juga kecewa. Mengapa aku nggak bisa menguasai hari pertamaku sendiri? Seharusnya ini jadi hari milikku. Apa pun itu, terima kasih, Pa- man Weirdo. Kalau nggak ada dia, mungkin aku sekarang sedang dilarikan ‘lagi’ ke rumah sakit di Medan. Lebih parahnya, murid baruku akan menyaksikan gurunya ‘kacau balau’. ‘Kekacaubalauan’ Paman We- irdo masih jauh lebih lumayan dibanding aku saat ‘kumat’.Aku udah di jalan pulang sekarang. Tepatnya di dalam Chevrolet Papa yang menggelinding pelan kembali ke rumah.
“Tadi kau bersemangat ‘kali, ya?” kata Papa sam- bil menyetir.
“Yah. Yah, gitu, deh, Pa.” Aku tersenyum kaku.
Pasti aku tadi banyak bergerak, mencak-mencak, dan pecicilan, khas Paman Weirdo. Walau begitu, aku yakin Chaca nggak terganggu dan malah senang. Pa- man Weirdo mudah disenangi anak-anak—apalagi untuk anak sesupel Chaca.
“Btw, suami Mbak Nisa di mana, Pa?” Akhirnya aku menemukan cara untuk membelokkan pikiran kalut itu. Minimal saat di depan Papa. Aku takut ke- cemasan ini diketahui olehnya.
“Mereka udah pisah,” jawab Papa datar.
Aku menoleh, memberi senyuman penuh arti, kemudian memicingkan mata pada Papa.
“Apa, Lin? Kenapa?” tanya Papa dengan nada ri- ang. Dia hampir tertawa.“Pantesan,” kataku. “Pantesan apa?”
“Kayaknya kalian saling suka, deh,” simpulku. “Bisa jadi.” Papa menjawab sambil memberikan
__ADS_1
senyuman lelaki dewasa.
Bagaimana, ya, caraku menggambarkan senyum- an lelaki dewasa? Pokoknya Papa tampak berseri seperti remaja kasmaran, tapi nggak kehilangan aura pria dewasanya. Papa juga berusaha jujur, tapi nggak dengan cara norak. Dia nggak membantah. Dia meng- akuinya dengan cara yang manis.
“Papa udah lama sendirian. Nggak ada salahnya memulai hubungan baru.”
Papa menjengit. Aku udah siap mendapat kata- kata ‘anak-anak tahu apa, sih, soal orang dewasa?’, seperti yang sering kudapat dari Mama jika berko- mentar tentangnya. Tetapi Papa kemudian terse- nyum.
“Nisa itu perempuan kaya raya. Papa agak trau- ma sama perempuan kaya.” Papa tertawa lepas.
Tawa itu membuatku nyaman dan menjadi se- macam pintu gerbang yang mempersilakanku masuk untuk ikut dalam kehidupan Papa. Aku tiba-tiba jadi merasa berarti dan dianggap.
“Nggak semua perempuan kaya raya seperti Ma- ma, Pa,” kataku.
“Iya, sih.”“Udah berapa lama Papa kenal Mbak Nisa?” “Sekitar dua tahun.”
“Udah cukup lama untuk saling kenal.”
“Iya, sih, tapi Papa masih ragu. Lagian sekarang fokus Papa itu kau. Papa masih mau menikmati ke- bersamaan dengan anak gadis Papa yang cantik ini.”
Aku tersenyum lebar mendengar jawaban diplo- matis itu. Sama sekali nggak terendus Papa mau menghindari bahasan ini. Padahal, sepertinya, sih iya! Namun, rasanya haru mendengar itu. Aku pengin nangis. Papa berhasil membungkam mulutku untuk nggak membicarakan Mbak Nisa lebih jauh. Sementa- ra, aku menikmati kebahagiaan dipuji Papa. Karena, ya, aku juga sebenarnya menginginkan kebersamaan dengan Papa yang dulu pernah terenggut.
__ADS_1