Kami Lintang

Kami Lintang
Kami Lintang - Bagian 29 Lintang


__ADS_3

Bagian 29 Lintang


Lintang, Pengendali.


AKU terbangun dengan kepala sangat berat. Masih di atas sofa, aku bergelung. Kucari ponsel dan mene- mukannya di kantong celana. Aku harus menelepon Mama untuk menjemput. Ini bukan hidupku. Aku hanyalah remahan masa lalu Papa yang nggak perlu hadir mengganggu kebahagiaannya. Dalam benak berkecamuk, jika aku mengikuti perkataan Mer, un- tuk menyampaikan perasaan ini pada Papa, hidup Papa pasti akan terusik. Itu jelas bukan solusi bagus.


Akan tetapi, di lain pihak, kutahan lagi keputusan menelepon Mama. Dalam kondisi seperti ini aku nggak akan bisa menyembunyikan perasaanku. Jika aku tampak bersedih saat sedang bersama Papa, Ma- ma pasti mengamuk. Dia pasti menuduh Papa telah menyakitiku. Itu akan menyakiti mereka berdua. Jadi, aku harus bagaimana?Kupeluk diriku sendiri dan menangis. Untuk nggak menyakiti semua orang, apa itu artinya aku harus menyakiti diri sendiri? Jika aku nggak ada lagi di dunia ini, semua masalah akan beres, kan? Begitu, kan?


Apa kubilang. Kau selalu tak percaya padaku, Lin- tang. Apa kubilang. Jika keputusan ini kaulakukan se- jak dulu, kau tak akan perlu merasakan kebingungan- kebingungan lagi.


Sebuah suara dalam kepalaku mendengung. Rasa pusing luar biasa mendera kepala. Tempurung otak- ku seperti dipelintir.


Kurang ajar! Dia nggak boleh hadir. Kenapa dia datang? Nggak! Jangan! Jangan! Aku bangkit dari sofa dengan panik. Laci di dekat dapur adalah tujuanku. Di sana aku menyimpan obat-obatan. Tetapi, perja- lananku ke laci yang kupikir hanya berjarak sekitar lima sampai enam langkah ini, nggak mudah. Soal- nya, setiap kaki ini menyentuh lantai, kepalaku se- perti ditombak. Sakit!


Akhirnya, aku berhasil juga sampai di laci. Biasa- nya, begitu gampang menarik laci ini, tapi sekarang rasanya seperti menggeser batu sebesar gunung. Ma- na pondok ini seperti berputar-putar. Kombinasi yang sangat parah.


Kutarik napas dengan segenap kekuatan. Kutarik napas untuk mengumpulkan energi lagi. Secara biologis, mungkin bernapas nggak akan bisa berubah menjadi energi. Karbohidrat, glukosa, atau semacam- nya yang bisa. Entahlah, nilai-nilai pelajaranku juga rendah semua. Satu yang paling kutahu, jika pikiran- mu menganggap bisa, semua bisa! Aku orang yang udah membuktikan hal itu.Isi laci telah terlihat. Tentu saja isinya adalah bo- tol-botol berlabel, berisi pil-pil warna-warni, obatku. Nggak ada ini, aku nggak hidup. Di sebelahnya aku melihat pisau dapur. Pisau itu sangat mengilap. Meli- hatnya, kok timbul semacam gairah aneh.


Sakit kepala, sialan! Aku tahu sakit kepala itu sial- an, Lintang. Maukah kau mengakhiri penderitaan ini dengan menusukkan pisau itu sekalian ke kepalamu? Aku jamin, kau pasti tak akan merasakan sakit lagi. Rasa sakit itu bedebah, Lin. Bedebah! Suara itu me- mantul-mantul lagi di kepalaku. Terdengar jauh, tapi aku bisa mendengarnya dengan jelas.


“Syliaaa! Pergi kau, Keparat!” pekikku sambil mengacak-acak isi laci.


Aku membaca dengan cepat demi mencari Lora- zepam. Mana dia? Mana dia? Aku mengacak-acak se- mua. Sayang, tulisan-tulisan di badan botol tampak buram. Aku nggak bisa membacanya. Semakin kude- katkan mata ke tulisan, kepalaku semakin remuk. Aku membuka satu botol dan kutemukan pil warna biru. Walau rasa sakit ini hampir membuatku mati, aku masih bisa ingat Lorazepam nggak berwarna biru, tapi putih. Kuletakkan lagi botol itu. Alpa kupu- tar tutupnya, hingga gerakan asalku membuatnya tumpah berantakan.Hasilnya, aku semakin panik. Aku mulai mera- ung-raung. Sylia semakin ribut.

__ADS_1


Mengambil pisau lebih cepat prosesnya, Lintang!


Kuputuskan untuk lanjut membuka satu per satu botol dan mengabaikan bujukan Sylia yang kian menggoda itu. Aku menjerit-jerit. Maksudnya agar suara Sylia tak lagi terdengar.


“Diam. Diaaam!”


Kini, semua benar-benar teracak, hingga bebera- pa obat kutumpahkan dan saling tercampur. Ah, si- alan! Dia obat darurat. Aku nggak meletakkannya di laci. Aku selalu membawanya ke mana-mana. Ingat- anku baru memberitahukan kalau aku menyelipkan- nya di koper gitarku! Bangsat! Aku harus kembali lagi ke sofa. Namun, ketika aku berbalik, di sofa aku melihat Mayoru.


Badanku bergetar. Aku bisa merasakan suhu tu- buhku menurun drastis. Kakiku dingin, membeku. Pun tanganku. Bahkan, sepertinya otakku ikut me- ngeras. Mayoru seperti nggak membiarkanku meno- leh ke arah lain. Mataku dipaksa untuk menatap wajahnya. Dia tersenyum lebar—terlalu lebar, hingga kedua ujung bibirnya hampir menyentuh telinga.


Sudut mata tanpa pupilnya itu ikut naik. Dia sangat menakutkan.Biarkan aku datang, Lintang. Aku bisa berbicara baik-baik pada Mayoru. Dia bisa menjadi teman. Dia teman kita. Sama seperti aku. Aku adalah teman.


Nggak! Jangan! Aku nggak akan membiarkan Sy- lia datang lagi. Dalam gerakan cepat dan tanpa kusa- dari, Mayoru bergeser ke depanku. Dia menjulurkan tangan berkuku panjangnya untuk mencekikku. Di- ngin tangannya serupa pisau yang menyayat batang leherku.


“Kekhkh!” Suaraku tertahan di kerongkongan.


Ah, Lintang. Aku rasa Mayoru bisa membantumu lepas dari semua kebingunganmu itu. Biarkan saja dia mencekikmu sampai mati.


Suara Sylia menggema. Anak itu? Suaranya se- makin terang! Apa dia? Nggak, nggak mungkin. Eng- gaaak! Masih tanpa melihat, aku meneruskan lagi perjuanganku menggapai pisau, sambil nggak henti memusatkan pikiran untuk memanggil Felixia.Felixia tak berguna itu bisa kaukeluarkan, menga- pa aku tidak? Tidak akan efektif jika demit datang, Felixia keluar. Sudah dibuktikan, bukan? Semakin ka- cau hidupmu nanti, Lintang. Aku saja. Aku bisa meng- atasi Mayoru.


Dingin pisau udah bisa kurasakan. Jadi, kugeser tanganku turun sedikit untuk menggapai gagangnya. Dapat! Aku dapat dua hal di saat bersamaan. Perta- ma, pisau yang udah kugenggam. Dua, sebuah pemi- kiran. Bagaimana kalau Mayoru hanya imajinasiku? Bagaimana kalau itu kubuktikan sekarang? Aku me- mejamkan mata dengan susah payah karena Mayoru seakan mengendalikan semuanya. Setelah kupaksa dengan cukup keras, akhirnya mataku terpejam. Ku- pusatkan pikiranku kembali.


Mayoru, siapa pun kau, kau nggak ada. Kau hanya terbentuk dari imajinasiku. Sekarang... kuperintahkan kau untuk menghilang. Dan, jangan pernah kembali.

__ADS_1


Aku membuka mata. Mayoru masih ada di depan mataku. Dia bahkan lebih erat mencengkeram leher- ku. Sementara, Sylia menceracau dan membujuk agar aku menyerah saja. Menurutnya, lebih enak mati da- ripada hidup dalam kebingungan. Nggak! Kalaupun harus mati, itu karena keinginanku sendiri. Bukan karena mendengar Sylia.


Napasku memang udah sesak karena tercekik. Namun, aku masih punya semangat perlawanan. Aku nggak boleh kalah!DIAAAM! MAYORU, KAU NGGAK ADA! KAU NGGAK ADA! SAMA SEKALI NGGAK ADA!


Aku menjerit, tapi suara jeritanku nggak keluar. Jeritanku seakan menggema di dalam tempurung kepalaku saja.


FELIXIA! jeritku lagi dalam benakku.


Pada detik itu, aku berhasil mengangkat tangan yang menggenggam pisau ke depan tubuhku. Dalam kondisi sedekat ini pada Mayoru, aku yakin ujung pisau pasti sudah mengenai tubuhnya. Namun, dia bergeming.


Aku tahu Mayoru mempermainkanku. Dia bisa saja mengencangkan cekikan lagi sekuat tenaga ne- gatifnya, agar aku lebih cepat tewas. Akan tetapi, dia memutar-mutarkan saja jemari dinginnya di leherku, dengan kekuatan yang terus menerus sama. Hanya membuatku sesak napas. Dia mungkin ingin aku mati perlahan. Mati karena perpaduan melihat kengerian wajah jeleknya dan kehabisan udara.


Aku menusuk-nusukkan pisau ke badannya. Lo- los semua. Aku hanya menusuk udara.


FELIXIA!


Dia nggak ada di sini, Bodoh. Kau sudah mengelu- arkannya dari sini.


Kuabaikan Sylia.


FELIXIA!“Minako-chan! My baby,” gumam Mayoru dan tersenyum menakutkan.


Kuku-kukunya kini mencengkeram leherku. Aku rasa, kali ini dia serius. Dia serius ingin membunuh dan mengajakku ke dunianya. Aku memelotot, se- iring dengan kesakitan yang luar biasa.

__ADS_1


Inikah akhir hidupku?


FEL....


__ADS_2