
Bagian 49 Lintang
Lintang, Pengendali.
SELESAI packing, Sastra membantu membawa ran- selku ke depan. Aku hanya memanggul gitar. Ku- minta dia berjalan dari pintu belakang saja untuk masuk ke pondok Papa, tapi dia menolak. Dia malas membuka sepatunya. Dia kemudian memutar ke de- pan dari luar saja. Kubiarkan dia sendiri, sementara aku tetap membuka pintu belakang.
Aku terperanjat melihat Papa dan Mbak Nisa berpelukan di dapur. Mereka langsung melepas pe- lukannya. Aku gelagapan dan jadi salah tingkah.
“Eh, maaf, maaf.” Hanya itu yang mampu kuucap- kan. Kakiku refleks mundur menjauh.
__ADS_1
Papa menyusulku. “Lintang, tunggu!”
Aku berhenti dan berbalik. Papa berdiri di depan pintu belakang.“Ini nggak seperti yang kaulihat, Nak.”
Aku menghela napas, lalu mengembuskannya ce- pat. “Nggak apa-apa, Pa. Papa berhak bahagia.”
“Lin,” panggil Papa sambil berjalan mendekatiku. “Kau mau ke mana, Nak?”
Aku nggak ingin kepergianku meninggalkan rasa nggak enak pada Papa. Dia telah menolongku. Dia udah berbuat semaksimal yang dia mampu untukku. Aku udah cukup merasakan kasih sayangnya. Hari ini berbeda dengan masa lalu. Di masa lalu, mungkin dia pernah menjadi milik keluarga kami seutuhnya. Teta- pi masa itu telah lama ditinggalkan dengan berbagai bekas luka. Dia memang papaku. Namun, bukan ber- arti aku bisa memaksanya menjadi milikku kembali. Itu egois.
__ADS_1
“Benar itu keputusanmu, Nak?” Aku mengangguk.
“Sini.” Papa menarikku dalam pelukannya. “Papa senang kau ada di sini,” katanya setelah pelukan ka- mi lerai. “Ini rumahmu juga. Kau camkan itu, ya. Suka hatimu kalau mau ke sini kapan pun kau mau. Tapi izin mamamu dulu, tentu aja.”
Aku mengangguk lagi. “Papa, berbahagialah de- ngan Mbak Nisa,” kataku.“Agak sulit bagi Papa, Lin.” “Kenapa? Tadi itu apa?” cecarku.
“Itu..., susah dijelaskan. Papa belum memberikan kepastian apa pun pada Nisa. Papa belum merasa lega jika belum menuntaskan perasaan pada mama- mu.”
Aku melipat tangan. “Papa masih mengharapkan Mama?”
__ADS_1
Dia mengangguk.
“Mama bukan perempuan yang Papa cintai dulu. Mama udah berubah. Papa nanti akan repot meng- urusi kami. Biarkan saja kami tetap indah di masa lalu Papa,” kataku tegas. Kusentuh bahu Papa sebe- lum berlalu untuk menemui Mama dan Tante yang udah menantiku.