Kami Lintang

Kami Lintang
Kami Lintang - Bagian 4 Lintang


__ADS_3

Bagian 4 Lintang


Lintang Kemuning, Pengendali.


KATA Papa, aku sempat pingsan. Dia menepi seben- tar setelah melewati simpang flyover Selayang dan berusaha membuatku sadar kembali. Aku terba- ngun. Kepala pening luar biasa. Debar jantungku ra- sanya keras sekali.


“Kenapa, Lin atau Jaka, atau siapalah?” Papa ber- tanya panik sambil mengencangkan penutup botol minyak angin. Mungkin, benda itu yang membantu menyadarkanku.


Aku menegakkan punggung, membenarkan posi- si duduk, lalu memegang kepala. Tanganku meraih tas ransel di sebelah, kemudian berusaha membuka ritsleting kantong depannya.

__ADS_1


“Apa? Mau ambil apa? Biar Papa ambilkan,” kata Papa buru-buru menjulurkan tangan untuk membu- ka ritsleting.“Obat, Pa,” kataku pelan.


Kepala dan jantungku seperti mau meledak ke- tika aku berbicara. Jadi kupegangi kepala sialan ini, biar nggak lepas dan menggelinding.


“Yang Lorazepam,” lanjutku dengan perjuangan setengah mati untuk membuka mulut.


Papa mengambil tabung-tabung kecil berisi pil dan membaca satu per satu labelnya. Ketika udah menemukan obat dengan nama yang kusebut, dia memberikan tabung itu padaku. Aku mengambil sebutir pil tepat ketika Papa menyodorkan sebotol air mineral. Segera kutenggak obat penyelamatku ini, kemudian menyerahkan botol mineral kembali pada Papa. Kusandarkan punggungku di jok.


Beberapa menit kemudian, debur jantungku ber- angsur normal. Pada saat itu, Papa meletakkan ta- ngan di kepalaku dan mengelusnya. Aku menoleh padanya. Matanya berair. Tiba-tiba suasana jadi emo- sional. Nggak tahu kenapa aku juga pengin nangis. Papa menjulurkan badannya untuk memelukku.

__ADS_1


“Maafkan Papa.”“Lintang nggak apa-apa,” kataku udah nggak se- emosional tadi.


Aku juga nggak mengerti kenapa kata maaf dari Papa memudarkan sikap emosionalku tadi. Air mata pun nggak jadi terjatuh. Ada suara dalam kepalaku yang berontak. Mungkin, itu Jaka. Dia bilang kata- kata semacam, ‘Ke mana lo selama ini?’ pada Papa. Tapi segera kuabaikan. Aku nggak ingin merusak hari baruku. Seenggaknya Papa yang membukakan jalan menuju lembar baru ini.


Papa mengurai pelukan, menggenggam kedua bahuku sebentar, dan menghapus basah di matanya. “Kau udah lebih tenang?” tanyanya bersungguh- sungguh.


Aku mengangguk. “Lanjut jalan aja, Pa.”


Papa menginjak gas dan mobil kembali meluncur di jalan. Dia jadi terus-terusan melirik untuk meme- riksaku. Aku masih bersandar di jok. Hari ini udah terasa melelahkan, padahal matahari belum terlalu tinggi. Semoga sampai nanti nggak ada gangguan apa-apa lagi.

__ADS_1


Aku nggak meminum Lorazepam setiap hari. Ha- nya saat aku diserang kecemasan luar biasa. Lazim- nya, itu dipicu sebuah keadaan yang nggak nyaman. Kehadiran Mayoru, pasti. Aku pengin Bunda Retno keluar, tapi aku terlalu lelah. Sepertinya dia juga se- dang sibuk. Jadi, lebih baik aku tidur saja sekarang.


__ADS_2