Kami Lintang

Kami Lintang
Kami Lintang - Bagian 8 Lintang


__ADS_3

Bagian 8 Lintang


PAPA meninggalkan pondokku beberapa jam yang lalu saat hujan udah sedikit reda. Pesannya, kalau lapar, dia udah menyiapkan makan malam di pondok depan.


Tadi kami ngobrol cukup banyak. Obrolan kami pun nggak serius. Tema-tema yang diambil hanya seputar pekerjaan Papa dan kegiatanku dulu ketika kuliah di jurusan Musik. Aku menyadari, kami berha- ti-hati memilih bahan pembicaraan. Sangat terasa bahwa kami saling menjaga agar jangan dulu mem- buka ‘kotak’ masa lalu.


Di luar masih gerimis. Aku menutup tirai-tirai jendela. Ada empat jendela di rumah kecil ini. Satu di samping sofa, satu di samping pintu—tepat di depan meja kecil, satu ada di dapur, dan satu lagi jendela di dekat tempat tidur. Semua udah kututup. Agak ngeri juga memandang jajaran pinus di luar. Apalagi saat hujan begini. Tanaman kecil bergerak tertiup angin saja, udah bisa membuatku membayangkan yang aneh-aneh. Batang besar pohon pinus jadi mirip tu- buh genderuwo. Ngeri.Hal bedebah yang kumiliki, selain memiliki ba- nyak alter adalah bisa melihat makhluk tak kasat mata. Sejak kecil, aku bisa merasakan keberadaan mereka dan menatap mereka. Jika Risa Saraswati kini bisa berdamai dengan teman-teman ‘hantunya’, aku enggak. Mungkin karena ‘kesialanku’ bukan cu- ma itu. Risa hanya memerlukan dirinya sendiri untuk berdamai dengan sahabat dari dimensi lain itu. Aku harus memastikan dulu, Jaka, Mer, Civa, Bunda Ret, dan Paman Weirdo juga mau berdamai dengan ‘me- reka’. Dan, sepertinya itu sangat mustahil terjadi.


Civa udah pasti, paling frustrasi kalau melihat makhluk astral. Mer benci hantu. Bunda Ret takut. Bang Jaka, biar badan besar kayak preman, dia takut hantu. Paman Weirdo, dia antara ada dan tiada se- perti hantu juga, sih. Namun, setahuku dia juga me- milih untuk menjauhi hantu-hantu itu. Aku? Aku bu- kan takut hantu. Aku hanya nggak mau jadi terlihat lebih aneh lagi. Punya alter banyak saling berganti saja udah cukup menyusahkan orang, apalagi nanti ada teman-teman hantu? Riuh! Terlalu riuh!


Civa tadi sangat ketakutan. Teror Mayoru datang lagi. Tadinya, aku mau mengambil gitar dan mencoba mengusir resah dengan memainkan beberapa lagu. Kuurungkan niat itu, karena urusan Mayoru ini ur- gent. Aku harus mengadakan rapat di Rumah Pohon.Aku memanjat tangga dan naik ke tempat tidur. Sambil bersila, kupejamkan mata dan mulai konsen- trasi memanggil mereka semua.


Rumah Pohon dalam ‘Kepala’—inner world.


Di sinilah tempat kami semua bisa berkumpul dan saling bertatap muka: di dalam kepalaku. Kami tinggal di rumah pohon. Bukan di dalam satu rumah pohon. Masing-masing kami, menempati satu rumah pohon yang nyaman. Di tengah-tengah, di atas sebu- ah pohon paling besar, ada satu rumah pohon tempat kami berkumpul. Semacam aula gitulah kira-kira. Antar rumah pohon satu dan rumah pohon lain, ada semacam penghubung berupa jembatan kayu. Dari jembatan-jembatan itu, kami bisa mengakses satu rumah pohon ke rumah pohon lainnya.


Jika salah satu kami ada di ‘depan’, maka yang lain ada di sini, menempati rumah pohonnya masing- masing, biasanya tertidur, melakukan kegiatan seha- ri-hari mereka sendiri, atau saling bertemu alter lain. Sekarang, aku mengumpulkan mereka di Rumah Pohon Utama. Semuanya sudah hadir, kecuali Paman Weirdo. Dia sedang berburu. Paman Weirdo seorang pemburu dari Australia. Dia jarang ada di sekitar sini.


Civa menempel dalam pelukan Bunda Ret. Gadis kecil itu menangis tersedu-sedu. Mer juga, begitu da- tang langsung mepet dan melingkarkan tangannya di lenganku. Bang Jaka dengan gaya selengekan duduk di atas dipan kayu. Meski dia berusaha tampak san- tai, wajahnya terlihat sekali menggambarkan kekha- watiran. Kekacauan itu udah tampak sekarang. Pada- hal Mayoru belum melakukan apa-apa, hanya me- nampakkan diri saja.“Tentang Mayoru,” kataku membuka diskusi.


Civa meninggikan suara tangisnya. Bunda Ret langsung mengelus kepala anak itu untuk menenang- kannya. Dia benar-benar ketakutan bahkan hanya mendengar namanya saja.

__ADS_1


Bang Jaka beringsut dan ikut bergabung bersama kami di lantai kayu rumah pohon. Dia bersila di sam- pingku. Tebakku, karena dia merinding duduk sendi- rian agak jauh dari kami.


“Aku akan berusaha mengatasinya sendiri,” je- lasku. “Jadi, kuminta kalian jangan ada yang keluar dulu sampai semuanya jelas.”


“Lin, sampai kapan kita mengurusi hal yang itu- itu saja? Aku sudah tak kuat, Lin! Kita punya masa depan! Setidaknya kau, punya masa depan! Kapan lagi kita bisa memikirkan masa depan tanpa ganggu- an?” pekik Mer emosional.


Mata birunya menatapku. Mata itu penuh dengan kepedulian besar terhadapku. Mer selalu hadir jika aku membutuhkan keberanian seorang cewek. Dia akan muncul jika aku membutuhkan rasa percaya diri. Dia yang mengambil alih jika ada tugas berbica- ra di depan umum. Dia yang ada di pesta-pesta ulang tahun atau kegiatan bersosialisasi lainnya. Namun, Mer juga punya kekurangan. Dia susah bersikap te- nang. Sifatnya macam bara kecil di lahan gambut.“Mer, tenang ngapa lo!” kata Bang Jaka agak se- bal. “Ini, kan, juga bukan kemauan Lintang. Gue juga sebel sama Mayoru. Tapi yang kita butuhkan seka- rang solusi. Walaupun solusi untuk ga ‘keluar’ gue bantah seratus persen.”


Aku memiringkan kepala menatap Bang Jaka se- bagai tanda mempertanyakan ucapannya itu.


“Lin… lo lagi ada di tempat baru, sama orang ba- ru pula meski dia memang Papa lo. Gue nggak akan ngebiarin lo sendirian di tempat asing yang kita juga belum tahu aman apa enggak untuk lo.”


Dia lemah pada jenis-jenis makhluk macam Mayoru. Aku jadi teringat untuk menanyakan sesuatu.“Tadi, dalam perjalanan ke Berastagi. Waktu kita masih di Medan, aku sempat pingsan. Bangun-ba- ngun, aku merasakan ketakutan luar biasa. Sampai aku harus minum obat darurat. Siapa yang lagi ada di ‘depan’ waktu itu?” tanyaku.


Semua diam. Bang Jaka bergerak gelisah. “Abang, kan?”


Pria bertubuh kekar dengan jenggot tipis di da- gunya itu mengangguk malu.


“Aku tahu, kalian semua sayang dan nggak mau terjadi apa-apa samaku. Tapi sejauh ini, hanya aku yang bisa bertahan menghadapi Mayoru atau makh- luk sejenis dia.”


“Ada! Ada seseorang yang lain!” Mer menyela. Kami semua menatapnya. Dia malah menunduk.

__ADS_1


Dia pasti merasa bersalah udah mengatakannya. Sa- ma sepertiku, semua yang ada di sini pasti tahu siapa yang Mer maksud.


“Jangaaan! Jangan, Kak Mer!” Civa berteriak his- teris.


Mer langsung beranjak menghampiri Civa dan duduk memeluknya. “Maaf. Maafkan aku, Civa. Tapi kita tidak punya cara lain, Sweetheart.”


Civa kembali tersedu. Kalau Civa sedih terus, bi- sa berpengaruh pada mood-ku. Bahaya jika membi- arkan dia ketakutan dan menangis.


“Gimana, Bang Jaka? Bunda Ret?” tanyaku.Bang Jaka tampak gusar. Dia melipat tangannya dan memandang lantai kayu. Dia belum mendapat jawaban tampaknya. Aku mengalihkan pandanganku pada Bunda Ret. Dia memberikan senyuman hangat padaku meski sangat dipaksakan.


“Bunda akan setuju saja pada keputusan kalian. Bunda akan memberikan dukungan semaksimal yang Bunda bisa lakukan. Jika itu harus terjadi, Civa biar Bunda yang jaga. Bunda akan membawanya ke Pon- dok Mawar di tengah hutan.”


“Mer... Mer ikut, Bunda,” sambar Meredith de- ngan suara bergetar.


Bang Jaka mendengkus. Dia membebaskan satu tangan dari lipatan di depan dadanya untuk menyen- tuh dagu. “Kalau begitu, aku setuju,” tukasnya.


Aku mengangguk. Kualihkan pandangan ke Mer, dia juga mengangguk. Kepala Civa tertanam di dada- nya. Kasihan sekali anak itu. Bunda Ret tersenyum padaku. Bang Jaka merengkuh pundak dan menarik- ku ke dalam pelukannya.


“Aku yang akan menyeberang ke hutan larangan dan mencarinya.”


“Terima kasih, Bang. Kau memang selalu bisa kami andalkan!”

__ADS_1


__ADS_2