Kami Lintang

Kami Lintang
Kami Lintang - Bagian 13 Lintang


__ADS_3

Bagian 13 Lintang


Lintang, Pengendali.


SETAHUN setelah aku dilahirkan, Papa pergi me- ninggalkan rumah. Papaku jahat. Paling enggak itulah yang kupercayai sebelum mengetahui cerita sebenar- nya. Mama membawaku kembali tinggal di rumah Oma. Omaku bersuamikan pengusaha kaya, tapi Opa menikah lagi dan meninggalkannya.


Opa tetap menafkahi secara materi, walau Oma juga punya perusahaan sendiri. Meskipun hidupnya tetap serba berkecukupan, wanita tua itu bukan orang yang bahagia. Sayangnya, dia nggak mau menderita sendiri. Dia juga merenggut kebahagiaan orang. Kuketahui belakangan, dulunya Oma nggak merestui pernikahan Papa dan Mama. Tetapi karena Mama telanjur jatuh cinta pada papaku yang miskin, mereka kawin lari. Oma nggak patah arang. Dia terus mengganggu rumah tangga Mama, hingga akhirnya Mama terhasut. Mama jadi membenci Papa. Cinta Mama pada Papa kalah dengan cintanya pada Oma.Karena peristiwa itu, jiwa Mama terguncang. Dia jadi makhluk apatis mengerikan. Mama yang depresi bersama bayinya—aku—kembali ke rumah Oma. Se- jak saat itu, Mama menjadi pribadi pemarah dan cu- ek. Ketidakpeduliannya itu ngeri dan parah sekali. Aku pernah mendengar cerita dari tetangga, ketika aku berumur tiga tahun, Mama membiarkanku dipu- kuli Oma sampai berdarah. Hampir setiap hari Oma menyiksaku hanya karena kesalahan-kesalahan kecil. Dia benci padaku karena katanya aku mengingatkan pada Papa. Menurutnya Papa yang membuat hidup Mama hancur. Tetangga dan Tante Lea yang kerap menyelamatnya nyawaku. Mama? Biasanya hanya menatap ketakutan di kejauhan.


Mama kemudian bisa mengatasi depresinya de- ngan bergaul dan serius di partai bersama Tante Lea. Tante Lea udah lebih dulu terjun di ranah politik. Dia anggota legislatif sampai sekarang. Dia juga seorang aktivis kemanusiaan. Di sana—maksudku di partai— Mama berubah menjadi monster tapi dalam bentuk lain. Setidaknya aku udah aman. Karena yang tersisa hanyalah ‘monster’ cuek—Mama. Sedangkan mons- ter sebenarnya—Oma—meninggal saat aku SD kelas enam.


Kupikir, aku udah cukup aman. Namun, seekor alien muncul merusakku hingga ke akar-akarnya. Ali- en itu bernama ‘traumatik’. SMP merupakan masa terberatku—udah kukatakan, kan, sebelumnya? Ma- sa di mana alien itu mulai menggerogoti kejiwaanku.Syukurnya Tante Lea udah biasa menghadapi ‘orang gila’—ibunya sendiri dan mamaku. Jadi aku nggak terlambat untuk dikirim dari satu psikiater ke psikiater lain, dari satu psikolog ke psikolog lain, dari rumah sakit jiwa satu ke rumah sakit jiwa lain. Tak ketinggalan, menemui konsultan di berbagai bidang keahlian. Mulai dari konsultan kejiwaan, motivator, ustaz sampai ke konsultan metafisika alias dukun.


Bedebah sekali masa laluku, kan? Tapi, tenang- lah. Minimal aku udah melaluinya. Ah, udahlah, mengingat masa lalu bukan ide bagus untuk saat ini. Nggak ada juga orang yang nyaman membicarakan penyebab dirinya trauma. Sebagian waktu di hidup- ku udah pernah kulupakan malah. Memori traumatik secara lengkap disimpan oleh Bang Jaka dan Bunda Ret. Pengobatan menggiring ingatan itu kembali, tapi dengan cara lembut, hingga sedikit demi sedikit aku bisa menerima masa lalu.


Kami udah tiba di rumah dan makan siang ala kadarnya. Tadi, aku menggoreng tempe, nugget ayam, dan membuat sambal. Papa kembali dengan segenggam daun selada dari kebun. Di sini, apa saja jadi selera, mungkin karena atmosfernya selalu se- perti piknik.Sekarang, aku harus segera melihat apa yang terjadi di Rumah Pohon. Aku harus mencari tahu kenapa pencarian Felixia lama sekali? Di pondok belakang, aku naik ke tempat tidur. Kutundukkan kepala untuk masuk ke Sistem Rumah Pohon.


Rumah Pohon—inner world Lintang.


Rumah pohon sepi. Nggak ada siapa-siapa. Aku benar-benar ingin tahu apa yang terjadi di Hutan Larangan. Tapi, hanya Bang Jaka yang tahu jalan ke sana. Aku juga dilarang Mbak Icha untuk mencari tahu sendiri tentang ‘dark place’ itu. Jika tersesat, aku akan semakin parah.


Mungkin, lebih baik aku menemui Mer, Bunda Ret, dan Civa di Pondok Mawar.


Alter Jaka, Hutan Larangan, Inner World Sis- tem Rumah Pohon.


Kayaknya udah seharian gue keliling Hutan Larang- an. Kami berjalan di tepi sungai berlawanan dengan arus sungai yang seolah ga punya ujung ini.

__ADS_1


“Yakin ini jalannya, Drik?” Pertanyaan itu udah bolak-balik gue tanyain ke Adrik.


 “Iya, Bang,” teriaknya menyaingi deru aliran su- ngai yang deras.“Lo ga main-main, kan, sama gue?”


“Ya, enggaklah, Bang. Percaya sama aku. Perem- puan galak itu tinggal di balik air terjun sana.”


Selama berjalan, perasaan gue ga enak banget. Gue kepikiran Lintang terus. Semoga dia bisa menja- ga dirinya.


Suara deru air semakin deras dan menggema ketika kami mulai mendekati air terjun. Oh, jadi ujung sungai ini air terjun. Gue baru sekali menyusu- ri sungai hingga sejauh ini. Air terjun yang luar biasa indah, tapi menakutkan. Awan di sini hitam. Sama seperti awan di atas Danau Kabut.


“Di belakang air terjun itu ada gua, Bang,” jelas Adrik sambil menunjuk air terjun itu. “Fe... eh, pe- rempuan galak itu tinggal di sana.”


“Apa? Lo tadi bilang apa?”


“Bukan! Bukan yang itu. Sebelumnya lo mau ada nyebut sesuatu tapi ga jadi. Apa itu?” Gue tadi benar- benar dengar dia bilang ‘Fe’.


“Nggak ada, Bang,” jawabnya ketakutan.


Gue paling ga sabar sama anak yang mencla- mencle dan ga jujur kayak gini. Gue remas dan tarik kerah bajunya sampe dia jinjit. “Lo kenal Felixia, kan?” cecar gue.


 “Aku pernah ketemu tapi nggak kenal dan nggak mau kenal, Bang. Orangnya galak! Suwer, Bang.”“Gue paling ga suka dibohongin. Gue rendem lo ntar di sini kalo nggak ngaku. Mau lo?”


“Nggak, Bang. Nggak!”


“Ya, udah. Mau ngomong jujur, ga, lo?” paksaku. “Anu, Bang. A-aku sama Fe pernah pacaran,

__ADS_1


Bang. Ampun, Bang.”


Perlahan gue lepas cengkeraman gue. Gue pan- dangin dia dan gue ngakak ga bisa berhenti. Gue pe- gangin perut karena sakit dikocok tawa. Gitu, doang, pake ditutupin segala. Bikin gue curiga aja. Adrik kebingungan sekaligus malu.


“Jahanaaam! Bedebah! Anjir! Paraaah!”


Tiba-tiba ada suara teriakan cewek datang dari samping kami. Teriakan itu terdengar cukup ken- cang, tapi teredam, mirip suara yang keluar dari loudspeaker rusak—mendem. Sesosok perempuan berpakaian serba pink menerkam Adrik hingga cowok itu terjengkang. Cewek itu kini dudukin Adrik dan siap melayangkan bogem mentah.


Bak! Buk! Bak! Buk!


Gue diem aja mandangin Adrik ga berdaya didu- dukin sekaligus digebukin cewek aneh. Dia cuma mampu menutupi wajahnya dengan kedua tangan dan ga mau ngelawan sama sekali. Lepas dari gue, dia diterkam macan—eh, cewek psikopat. Gue biarin aja dulu, karena gue juga sebel udah dibohongin ini cowok.“Cowok sialan! Cowok nggak tahu diri! Tega- teganya kautinggalin aku! Udah, Adrik? Udah kauda- pat jalan keluar dari sini? Berhasil kau, ha? Berhasil? Anjirrr!” caci perempuan bermasker respirator reu- sablepink itu membabi buta. Suaranya teredam di dalam masker. “Terus, ngapain kau balik ke sini lagi, ha? Mau aku bunuh sekalian, anjir? Nggak puas kau- nyakitin aku, Adrik! Terima pembalasanku, bede- bah!”


Bak! Buk! Bak! Buk!


Gue menggeleng. Lama-lama kasihan juga liat Adrik bonyok begitu dipukulin. “Felixia!” panggil gue.


Dia masih teriak-teriak ga jelas dan ga ngegubris


panggilan gue.


“Felixia!” Gue menjerit lagi.


Felixia menoleh. Mata bulat besarnya menatap gue kaget. Dia memelotot—mungkin mulut di balik maskernya juga menganga—kayak lagi liat monster. Rambut merah jambunya masih sama, dikucir dua dengan aksesori banyak banget dijepit di kepala. Se- mua bentuknya serem-serem tersusun di rambut pink kusutnya.


“Bang Jaka?"

__ADS_1


__ADS_2