
Bagian 24 Lintang
Alter Bunda Ret.
PAGI dingin merambati urat-urat. Saya terbangun. Dengan masih memakai jaket dan kaus kaki, saya menjerang air. Saya harus merambat dari bawah ayunan tidur laki-laki itu untuk bisa sampai ke dapur. Jadi, untuk keluar, tentu saya mengakses pin- tu belakang saja. Lintang tinggal di rumah yang sa- ngat kecil.
Ini pertama kali saya menikmati secara langsung rumah baru Lintang. Saya selusupkan kedua tangan ke kantong baju hangat. Di sini dingin sekali, tetapi segar di satu waktu. Saya membiarkan rasa dingin itu menyentuh kulit wajah dan saya memejamkan mata. Dengan tarikan dalam, saya hela udara segar sebanyak-banyaknya. Itu membuat kepala saya menjadi sejuk dan serasa diisi dengan tuangan energi positif.Semoga cobaan ini segera berlalu, sehingga se- mua bisa merasakan ketenangan. Ini tempat sempur- na untuk hidup bahagia. Sebab, kebahagiaan itu seja- tinya bukan melulu tentang segala sesuatu dari luar ke dalam. Justru kebahagiaan itu dibuat dari dalam keluar. Itulah yang sedang Sistem Rumah Pohon upa- yakan.
Saya berjalan perlahan, menikmati suasana di bawah pohon-pohon pinus berembun. Di balik celah- celahnya, saya bisa melihat langit biru gelap seperti telah ketumpahan cat oranye beserta gradasi-grada- sinya di sudut timur. Saya berhenti melangkah dan menikmati matahari terbit dengan senyuman.
Saya harus kembali masuk untuk mengecek apa- kah air saya sudah mendidih atau belum. Ketika saya masuk, laki-laki itu masih lelap di buaian ayunan besar. Air sudah mendidih. Saya segera membuat kopi.
Sambil menyeruput kopi, saya memeriksa perse- diaan makanan mereka. Apa yang saya temukan? Te- pung, telur, madu, dan saya juga mendapatkan ide untuk sarapan. Pancake madu.
Tepat ketika pancake sudah saya susun rapi di atas dua buah piring, laki-laki itu bangun. Terhuyung, dia keluar dari ayunan besarnya dan melepaskan satu tautan ayunan untuk disatukan pada tautan seberang. Dia tampak lihai melakukannya dalam kondisi memicing di sisa-sisa rasa kantuk. Mungkin, dia sudah melakukan itu ribuan kali setiap bangun tidur.“Selamat pagi,” sapa saya. “Teh atau kopi?”
Laki-laki yang seyogianya hendak masuk ke ka- mar mandi itu menghentikan langkah. Dia mengerut- kan kening dan menatap saya dengan mata merah- nya.
__ADS_1
“Kopi,” jawabnya serak.
Dia tampak ingin bertanya tapi ndak jadi, karena dia langsung masuk ke kamar mandi. Saya menjerang air lagi untuk membuatkannya kopi. Saya hidangkan pancake dan kopi di meja makan di teras. Tadi di luar, saya menemukan posisi menyenangkan untuk sarapan. Saya lantas duduk di sana, menikmati kopi, pancake, dan matahari muda bersinar lembut. Pagi teromantis yang pernah saya rasakan.
Laki-laki itu muncul dengan rambut basah dan wangi sampo dibawa udara yang berlari-larian ma- suk ke hidung saya. Dia laki-laki dewasa yang berka- risma.
“Wuah, pancake yang berselera!” pekiknya lang- sung mengambil duduk di samping saya dan mengu- nyah satu pancake sekali suap.
“Wah, mulut yang lebar,” komentar saya terka- gum-kagum pada kemampuannya.
“Makasih,” ujarnya sambil tetap mengunyah. Dia lantas menyeka mulutnya. Setelah itu, dia menyeru- put kopi. “Takaran kopi dan gula yang pas.”
“Saya menyarankan Anda cepat-cepat menikah.” “Uhuk!” Lelaki itu tersedak dan batuk-batuk.
Saya jadi merasa bersalah. Saya berdiri dan me- mukul-mukul pelan punggungnya. Dia terbungkuk- bungkuk meningkahi batuknya yang enggan reda. Sa- ya masuk kembali untuk mengambil air putih. Ketika saya kembali, dia masih terbatuk. Saya beri dia mi- num dan batuknya mulai reda.
“Maaf, maafkan jika ucapan saya tadi menying- gung.”
__ADS_1
Dia mengernyit dan melambaikan tangan meng- isyaratkan kata ‘tidak’. “Nggak apa-apa. Tadi itu me- mang saran yang mengagetkan, sih,” katanya.
Saya menanti laki-laki ini bertanya siapa saya. “Tapi pancake-nya beneran enak, loh!” Dia mengalihkan pembicaraan, menyempurnakannya dengan jempol mengudara, dan senyuman lebar untuk saya.
Namun, itu malah di luar dugaan saya. Karena dia ndak menanyakan siapa saya. Mungkin, dia bosan menanyakan siapa-siapa yang sedang berada di tu- buh Lintang. Mungkin juga, dia sudah mulai terbiasa. Apa bedanya? Baginya, kami ini satu. Kami ini Lin- tang, bagaimana pun kami bersikap.“Terima kasih atas pujiannya. Tapi, saya benar- benar ingin tahu, mengapa Anda ndak mau menikah lagi?”
“Kau benar-benar mau tahu?” tanyanya balik sambil mengunyah pancake lagi.
Saya mengangguk.
Dia menelan pancake-nya dan berkata, “Aku bu- kan tipe orang yang mau memulai sesuatu yang baru, jika yang lama belum usai.”
Dia menggamit cangkir kopi dan dengan nikmat menyeruput sedikit. Lelaki itu bersandar, meman- dang saya teduh, kemudian mengangkat kedua ta- ngan sekaligus bahunya yang memberi arti ‘mau ba- gaimana lagi’.
“Maksudnya..., Anda dan Mama Lintang belum usai?”
Dia melepas punggung dari sandaran dan berde- ham. “Aku masih mencintainya.”
__ADS_1