
Bagian 15 Lintang
Alter Jaka, Rumah Pohon—inner world Lin- tang.
KAMI bertiga, akhirnya sampai di Rumah Pohon. Felixia langsung berlari dan manjat rumah pohon miliknya dulu. Dia meluk pintunya kegirangan kayak bocah dikasih bakso kojek.
Kalau Adrik beda lagi. Dia langsung pasang wa- jah keheranan. Dia bersemangat memandang sekeli- ling. Kayak orang mau beli tanah.
“Fe bener, Bang. Tempat ini keren dan nyaman.” “Ya, tapi sebaiknya nanti aja kita lanjutkan acara
mengagumi tempat ini. Sekarang gue harus coba panggil Lintang. Gue khawatir banget.”
“Ya, Bang. Aku juga penasaran ama Kak Lintang,” kata Adrik.
Lintang (Pengendali), Rumah Pohon—inner world Lintang.
Sekembalinya ke Rumah Pohon, tergesa aku naik ke Rumah Pohon Utama. Aku melihat pergerakan orang di dalam sana. Dari kejauhan, kudengar suara ringtone ponsel. Akan tetapi kuabaikan. Ini lebih pen- ting.
__ADS_1
“Bang Jaka!” pekikku dengan kelegaan luar biasa. “Lintang!” Bang Jaka memelukku erat. “Gue kha- watir banget sama lo, Bocah, etdah!” katanya sambil mengacak-acak rambutku. “Gue kira kita bakal hilang koneksi selamanya.”
“Aku juga khawatir waktu nggak bisa panggil Bang Jaka,” sahutku seraya melepas pelukan. Kuta- han air mata yang hendak tumpah.
“Tapi sekarang lo ga usah khawatir. Nih. ” Bang Jaka melirik cowok dan cewek di sampingnya.
Pandanganku beralih ke dua sosok di samping Bang Jaka. Salah satunya perempuan berambut pink yang sangat kukenal. Entahlah, sebagian diriku mem- bencinya, tapi sebagian lain lebih merindukannya.
“Kak Lin,” ujarnya lirih. “Felix,” gumamku.
Aku nggak tahu mau ngomong apa. Rasanya canggung. Sementara suara ringtone ponsel terus menjerit-jerit di dunia luar. Aku belum bisa kembali sekarang.
“Iya. Makasih banyak, ya, Felix. Udah mau no- longin kita.”
“Rumah Pohon adalah tanggung jawabku juga, Kak,” katanya sambil melepaskan pelukan. Kami sa- ling pandang sesaat.
Aku mengangguk dan beralih pada pria tinggi kurus di samping Felixia.
__ADS_1
“Kenalin, Kak. Saya Adrik.”
Pria berseragam SMA itu memberikan senyum manis padaku dan menjulurkan tangannya.
Kujabat tangannya, “Lintang.” Aku menatap Bang Jaka untuk meminta penjelasan. Lelaki itu menarik tanganku keluar dari Rumah Pohon Utama.
“Lo berdua di sini dulu bentar, ya,” katanya pada dua sosok itu. Bang Jaka terus menyeretku hingga tiba di rumah pohonnya.
“Bang, siapa laki-laki itu?”
“Ini juga mau gue jelasin, Lin,” katanya. “Jadi, pas gue udah putus asa nyari Felix, gue ketemu Adrik di dalam Hutan Larangan. Dia kebingungan nyari jalan keluar dari sana. Pas gue tanya tentang Felix, dia ta- hu. Ya, udah sekalian gue kasih kesepakatan. Kalau dia mau bantuin cari Felix, gue ajak dia ke sini sebagai imbalan. Selama perjalanan gue observasi dia, apakah dia baik untuk sistem kita apa enggak. Dan lo tahu, Lin? Lo pasti kaget denger ini.”“Apa, Bang?”
“Felixia dan tuh cowok pacaran! Felix udah ber- ubah banget. Beneran, Lin. Lo harus percaya sama gue. Gue udah liat dengan mata kepala sendiri. Ke- simpulan gue dia berubah karena Adrik. Terus gue putuskan bawa Adrik ke sini. Karena cowok itu akan berguna buat jinakin Felixia di sini.”
Aku tertegun memandang Bang Jaka. Bohong kalau aku nggak senang mendengar ceritanya. Itu menggembirakan sekali malah. Aku merasakan satu partikel bedebah telah teruraikan. Suara pintu yang digedor-gedor kencang membuatku tersentak. Itu bukan pintu di rumah pohon mana pun. Itu pintu di dunia luar.
“Abang selalu jadi yang terbaik bagi kami. Jadi, apa pun yang Abang katakan, aku percaya. Tapi, se- karang aku harus pergi dulu. Aku harus keluar. To- long, kalian stand-by di sini. Karena Mayoru semakin nekat.”
__ADS_1
“Kami pasti selalu di sini. Berjaga! Sampai jumpa, Lin.”