Kamu Yang Aku Rindu

Kamu Yang Aku Rindu
Aku


__ADS_3

Namaku Rissa Valentina. Panggil saja aku Rissa. Jenis kelamin perempuan. Nama belakangku, di ambil dari nama hari di mana para kekasih dan mereka yang sedang jatuh cinta menyatakan cintanya. Orang-orang biasa menyebutnya Valentine day atau Hari kasih sayang. Dan hari itu sudah menjadi hari ulang tahunku, sejak aku membuka mataku. Seperti artinya kasih sayang. Setiap hari aku dikelilingi oleh kasih sayang dari Ayah, Ibu, Nenek, Kakek dan keluarga lainnya.


Ayahku bernama Dimas Setiaji, dan ibuku bernama Atiya Fauza. Ayahku bekerja di salah satu perusahaan swasta. Ayahku seorang yang benar-benar sibuk, tapi dia selalu berusaha meluangkan waktunya untuk keluarga, terutama untuk menyenangkan putri kesayangannya yaitu Aku. Sedangkan Ibuku, dia sama seperti ibu yang lain, ibuku adalah ibu rumah tangga yang selalu menyiapkan keperluan ku dan ayahku. Sebelum menikah dengan Ayah, Ibuku bekerja dikantor yang sama dengan Ayah. Bisa dibilang ayah dan ibu cinlok di tempat kerja. Setelah Mengandungku, ibu memutuskan berhenti dari pekerjaannya untuk fokus merawatku dan mengurus rumah tangganya.


Sejak kecil, aku tinggal dirumah nenek dan kakek dari pihak Ibuku. Aku tinggal disana bersama ayahku dan ibuku. Disana tidak hanya kami, ada Tante Yuli dan Om Adam, Tante Maya dan Om Arman dan juga anak-anak mereka, Dea, Anggun, Lia, Kiki, dan Andi. Mereka semua sepupuku, umur kami pun tidak terlampau jauh, hanya beda 1 tahun. Rumah nenek dan kakek cukup besar. Ada 5 kamar dirumah itu. Dan saat aku berumur 6 tahun, aku sudah punya kamar sendiri. Maksudku aku tidak lagi tidur ditengah ayah dan ibuku. Sebenarnya aku takut tidur sendiri, tapi lama kelamaan aku sudah terbiasa. Kadang-kadang sepupuku, yaitu Dea dan Anggun tidur bareng dikamarku. Terkadang Nenek ku yang menemaniku tidur dikamar, saat aku tidak bisa tidur karena takut sendirian.


Nenek adalah orang yang paling aku sayang di rumah itu. Saat aku dimarahi oleh Ibu ataupun ayah, nenek ku lah, orang yang berada di garda terdepan yang membelaku. Dia juga selalu menghiburku dengan es krim strawberry buatan nya kalau aku sedang sedih.


Di rumah itu, banyak sekali kenangan masa kecilku yang sangat menyenangkan. Pernah waktu itu aku main kejar-kejaran di dalam rumah bersama para sepupuku yaitu Dea, Anggun, Lia, kiki, dan Andi. Karena kelelahan aku duduk dan bersembunyi dibawah kolong meja makan, sampai aku pun ketiduran. Itu benar-benar lucu, semua orang dirumah kebingungan mencariku dan tidak bisa menemukanku dimana-mana, hanya kakek yang berhasil menemukanku di bawah kolong meja.


Kakek ku adalah pacarku yang pertama. Aku sangat menyayanginya, dia selalu memberikan apa yang aku inginkan. Dia sama seperti nenek, sangat baik padaku. Dia tidak pernah mengatakan tidak padaku, apalagi memarahiku. Malah dia akan mengajakku jalan-jalan keluar bersama sepupuku yang lain.


Tahun 2003, kakek meninggalkan kami semua untuk selamanya. Usiaku waktu itu menginjak tiga tahun, aku belum mengerti apa yang terjadi disekelilingku. Aku hanya bisa berdiri diam melihat nenekku, ibuku dan lainnya menangis. Tapi dalam hatiku aku sangat sedih. Aku menangis saat aku tidak menemukan kakek lagi dirumah.


***


Di sana, aku juga punya teman sepermainan, semua temanku perempuan hanya beberapa temanku yang laki-laki, itupun mereka seperti anak perempuan. Selain punya teman, aku juga punya musuh. Musuhku itu semuanya anak laki-laki. Aku tidak tau kenapa mereka jadi musuhku. Tapi, yang aku tau mereka suka mengganggu teman-temanku sampai menangis. Aku terkadang kesal dan membalas mereka yang menganggu teman-temanku. Aku bahkan mencubit lengan ketua geng dari anak-anak nakal itu, namanya Iqbal.


"Awh awh, sakit." ucap Iqbal.

__ADS_1


"Dengar ya Iqbal, kalau kamu masih ganggu Lala, aku tonjok."


Sebenarnya Iqbal adalah anak yang baik, hanya saja dia sedikit sombong dan sok kegantengan. Aku risih dengan gaya nya seperti itu. Ya, walaupun memang dia ganteng. Banyak teman-temanku yang suka padanya. Tapi, tidak denganku, aku benar-benar kesal denganya, apalagi kalau dia sudah mulai jahil. Aku dan Dia sering berantem karena hal-hal kecil. Seiringnya waktu, aku dan Iqbal akhirnya berteman dan melupakan masa lalu kami yang sering berantem itu. Ternyata Iqbal anaknya seru, emang gayanya aja yang sombong, namun sebenarnya tidak.


***


Saat aku kelas 5 SD, usiaku saat itu 10 tahun. Ayahku dipindah tugaskan ke Jakarta, jadi ibuku, aku dan semua barang-barang kesayangku pun ikut pindah. Rasanya aku ingin sekali mengatakan tidak mau pergi saat itu. Tapi, ya bagaimana aku harus ikut mereka kemana pun mereka pergi.


"Kita gak bisa main lagi." ucap Dea.


"Aku pasti akan merindukanmu."


"Aku juga."


"Jaga dirimu baik-baik." ucap Nenek


"Iya nek."


"Hati-hati dijalan, jangan lupa telepon kami kalau udah sampai." ucap Om Adam.

__ADS_1


"Iya, jaga diri kalian disini." ucap Ayah.


"Kabarin kalo udah sampai." ucap Om Adam."


"Iya." ucap Ibu.


"Kami pergi dulu, Assalamualaikum." ucap Ibu.


"Walaikumsalam."


"Sampai jumpa, dah." ucapku sambil melambaikan tangan.


"Dah Rissa." ucap Dea sambil melambaikan tangannya.


Di Jakarta, kami tinggal di sebuah perumahan yang ada dikawasan Jakarta selatan. Ayahku sudah lama membeli rumah itu, jadi sewaktu-waktu ayah ditugaskan ke Jakarta, kami tidak bingung harus tinggal dimana. Rumah baruku itu tidak terlalu besar tapi cukup untuk kami bertiga. Ada 3 kamar disana dan ada halaman yang cukup luas didepannya. Dihalaman itu terdapat ayunan besi yang berada dibawa pohon. Di sekitaran perumahan itu banyak sekali anak-anak yang sedang bermain. Aku sempat berkenalan dengan beberapa anak disana, dan mereka juga sangat baik. Aku bisa membayangkan bagaimana menyenangkannya bermain bersama anak-anak disini.


***


Selain pindah tempat tinggal. Aku juga pindah sekolah ke SD Negeri yang ada di jakarta. Bangunannya cukup besar dan katanya itu sekolah paling bagus di sana.

__ADS_1


Namun bagiku, itu adalah sekolah yang paling berkesan didunia. Tempat yang banyak menyimpan kenangan. Terutama menyangkut dengan seseorang yang sangat aku rindukan saat ini. Aku tidak pernah lupa akan sikapnya yang seperti orang dewasa dari anak lelaki seusianya. Mengingat kembali sikapnya itu selalu berhasil membuatku tersenyum sampai saat ini. Dia yang selalu mengisi hari-hariku di masa lalu, yang kali ini kisahnya ingin aku ceritakan padamu. Tentang Dia dan juga tentang seseorang yang sangat berjasa dalam hidupku.


--oo--


__ADS_2