Kamu Yang Aku Rindu

Kamu Yang Aku Rindu
Perasaanku


__ADS_3

1 bulan kemudian...


Pada tanggal 14 Februari 2017. Dimana itu adalah hari kasih sayang dan juga hari ulang tahunku yang ke 17 tahun. Orang-orang biasanya akan merayakan sweet seventeen mereka dengan pesta meriah bersama keluarga dan teman-teman terdekat. Namun, tidak denganku. Aku tidak ingin merayakan apapun. Walaupun Ibu sudah merencanakan pesta ulang tahunku, tapi aku tidak ingin itu, meskipun hanya pesta kecil, aku tetap tidak mau.


Ada alasan aku seperti ini. Setelah pulang dari Jakarta. Pikiranku terus memikirkan kondisi Dicky yang aku sendiri tidak tahu. Padahal Ibu dan Ayah selalu berhubungan dengan Ibu Yanti dan Ayah Rahmad, orang tua Dicky. Dan mereka tahu kondisi Dicky.


Setiap kali aku ingin bertanya pada Ibu dan Ayah mengenai kondisi Dicky. Raut wajah mereka membuatku ragu dan takut untuk mendengarnya. Aku tidak siap mendengar kabar buruk soal Dicky. Aku tidak ingin itu. Dan aku lebih memilih untuk menutup telingaku, walaupun aku ingin tahu dengan keadaan Dicky.


Seperti biasanya, saat aku sedih, aku pergi ke taman dekat rumah. Aku duduk di kursi bawah pohon ke arah air mancur taman. Seharusnya aku bahagia di hari ulang tahunku. Tapi, aku tidak bisa bahagia di atas keadaan yang dialami Dicky.


Dicky, bagaimana keadaanmu, aku harap kamu baik-baik aja!


Di tengah-tengah kesunyian diriku. Sebuah tangan tiba-tiba menutup kedua mataku. Aku tahu itu tangan siapa.


"Iqbal." ucapku.


"Kok kamu tau kalo aku datang." ucap Iqbal sembari duduk di sebelahku.


Aku tersenyum.


"Tercium dari baunya." ucapku. Dengan ekspresi bingungnya, dia mencium aroma bajunya. Dan itu membuatku geli melihatnya.


"Hem, wangi kayak ini, di bilang bau." ucapnya. Aku ketawa.


"Bercanda Iqbal." ucapku.


"Hahaha."


"Selamat ulang tahun rissa ku sayang." ucapnya.


"Dan happy valentine day." sambungnya. Dia memberikanku dua coklat favoritku.


Aku tersenyum dan memeluk Iqbal.


"Happy valentine days to you." ucapku tepat ditelinganya. Aku dan Iqbal saling tersenyum.


"Aku punya kejutan buat kamu." ucap Iqbal.


"Aku kan udah bilang sama kamu, aku gak mau kejutan apapun." ucapku.


"Ini aja cukup." ucapku sambil menunjukan dua coklat pemberiannya.


"Gak boleh loh, nolak hadiah dari orang, apa lagi dari orang yang kamu sayang, itu sama saja kamu memukulnya, kamu mau dia terluka." ucap Iqbal. Aku diam sebentar sambil memperhatikan Iqbal memainkan ponselnya.


"Ya udah deh, apa kejutannya." ucapku.


"Ini, ada yang mau ngomong sama kamu." ucap Iqbal sambil memberikan ponselnya.


Dengan bingung aku mengambil ponsel Iqbal itu.


"Siapa?." ucapku pada Iqbal.


"Coba bilang hallo." ucap Iqbal. Aku pun menuruti Iqbal.


"Hallo." ucapku pelan.


Dari seberang sana, terdengar seseorang menyebut namaku dengan lembut. Suara yang sangat selama satu bulan lebih ini aku nantikan. Begitu senang diriku sampai rasanya aku ingin menangis.


"Dicky." ucapku sambil menatap Iqbal yang tersenyum.

__ADS_1


"Apa kabar ris?." ucap Dicky.


"Baik, alhamdulillah." ucapku dengan air mata yang tidak bisa aku tahan lagi.


"Kamu, bagaimana kabarnya." tanyaku.


"Alhamdulillah baik, kamu nangis ya." ucap Dicky. Aku ketawa sambil menghapus air mataku.


"Sedikit." ucapku.


"Jangan nangis loh, nanti Iqbal juga sedih, aku bakalan sedih juga kalo gitu." ucap Dicky. Aku senyum sambil menahan air mataku. Aku diam.


"Selamat ulang tahun rissa, semoga panjang umur, sehat selalu, makin pinter, dan makin cantik." ucap Dicky.


"Maaf baru sempat telepon kamu." sambungnya.


"Ya gak pa-pa." ucapku.


"Oh ya, kata Iqbal kamu gak mau ngerayain sweet seventeen kamu, kenapa?." ucap Dicky.


"Gak pa-pa." ucapku.


"Rindu." sambungku.


"Kalo kamu rindu, itu artinya kamu harus doain aku biar selalu sehat." ucap Dicky.


"Aamin." ucapku tertahan dengan air mataku.


"Disana kamu baik-baik ya sama Iqbal, awasi Iqbal nanti dia ikut tawuran lagi." ucap Dicky.


Aku ketawa dengan air mata yang jatuh membasahi pipiku. Iqbal tersenyum menghapus air mataku.


"Dah, aku sayang kamu." ucap Dicky.


Setelah itu, aku mengembalikan ponsel milik Iqbal.


"Udah?." ucapnya. Aku mengangguk sambil menatap senduh Iqbal.


Seketika aku langsung memeluk Iqbal. Aku benar-benar tidak percaya telah memiliki seorang pacar seperti Iqbal. Dia yang selalu berusaha untuk membuatku senang setiap hari, walaupun dia tahu kalau aku sedang merindukan seseorang. Mungkin kalau dia orang lain, aku pasti sudah ditinggal karena memiliki cowok lain dalam hidupku. Aku sangat beruntung memiliki pacar sekaligus sahabat yang baik.


"Terima kasih banyak Iqbal." ucapku sambil mengeratkan pelukanku.


"Terima kasih kembali." ucap Iqbal sambil mengelus rambutku.


"Aku cinta kamu." ucapku sambil memeluk Iqbal lagi.


"Aku juga cinta kamu." ucap Iqbal.


"Oh ya, kata Dicky aku harus pulang." ucapku.


"Aduh, aku lupa." ucap Iqbal.


"Ayo." ucap Iqbal sambil menggenggam tanganku. Membawaku pergi dengan motor Iqbal yang melaju cepat menuju rumah nenek.


***


Sesampainya dirumah, aku segera berjalan masuk ke dalam. Betapa terkejutnya aku, saat semua orang berkumpul didepan pintu memberikanku kejutan.


"Happy birthday rissa." teriak semua orang.

__ADS_1


Aku bahagia, sampai aku tidak bisa berkata apa-apa untuk menjelaskannya.


"Tiup lilin nya sayang." ucap Ibu membawa kue yang dihiasi lilin nyala kepadaku.


"Make a wish." ucap Dea.


"Doa." ucap Andi.


"Norak, make a wish ya doa lah." ucap Dea.


"Hahaha."


Aku memejamkan mataku. Seraya mengucapkan harapan ku di dalam hati. Lalu aku meniup lilinnya.


"Yeahh." ucap semua orang sambil bertepuk tangan.


"Selamat ulang tahun sayang." ucap Ibu padaku, mencium keningku.


"Gak terasa anak ayah udah gede sekarang, ayah doain yang terbaik buat rissa." ucap Ayah.


"Semoga panjang umur rissa sayang." ucap nenek.


"Semoga makin cantik dan-." ucap om Adam.


"Dari dulu, doa nya itu-itu aja om." potong Andi.


"Hahaha."


"Amin, makasih om adam ganteng." ucapku.


"Hahaha."


"Yuk kita kebelakang, kita makan." ucap tante Yuli.


"Asik." ucap Lia.


Kami semua termasuk aku dan Iqbal pergi ke belakang. Maksudnya meja makan. Untuk makan bersama. Dan semua makanan di atas meja temanya pink, warna favoritku. Di sisi tembok sebelah kanan, ada backdrop dekorasi ulang tahun, yang juga berwarna pink.


Sweet seventeen Rissa. Itu tulisan yang ada di backdrop dekorasi itu. Bagus sekali. Rasa bahagia bercampur aduk dengan haru. Aku ingin menangis, tapi aku tahan karena itu adalah hari ulang tahunku dan hari kasih sayang. Aku tidak mau merusak lambang kasih sayang dari orang-orang yang aku sayang.


"Rissa." panggil Ibuku. Aku menoleh dan melihat Ibu membawa sebuah kotak berukuran sedang yang dibungkus berwarna pink.


"Iya bu."


"Ini titipan dari Dicky, Ibu Yanti dan Ayah Rahmad, selamat ulang tahun kata mereka." ucap Ibuku. Aku tersenyum.


Aku segera pergi, berlari menuju kamarku. Dengan penasaran aku membuka kotak itu. Indah dan penuh kenangan, sebuah foto-foto masa lalu aku dapatkan sebagai hadiah ulang tahunku dan juga hadiah valentine day dari Dicky dan keluarganya. Air mataku seketika jatuh, kala memperhatikan satu-persatu foto-foto itu. Masa lalu yang selalu aku rindu kini ada di hadapanku dalam bentuk frame kenangan.


Dicky,


Aku suka hadiah darimu


Sangat bagus dan lucu


Aku menyimpannya di atas meja belajar, jadi aku bisa melihat kita di masa lalu setiap hari.


Aku rindu kamu


--ooo--

__ADS_1


__ADS_2