
Pagi itu, adalah pagi hari minggu pertama yang menurutku sangat membosankan. Tidak ada kecerian sama sekali. Aku merindukannya.
Bel rumah berbunyi. Ayah membukakan pintu. Betapa terkejut dan senangnya aku saat aku tau yang datang adalah Dicky bersama kedua orang tuanya. Ayah mempersilahkan mereka masuk dengan senang.
"Bu, ada tamu jauh nih." ucap Ayah.
"Wah." ucap ibuku sambil tersenyum.
"Silakan duduk." ucap ibu.
"Tumben kesini?." tanya Ayah.
"Ya nih, Dicky ingin bertemu Rissa, kebetulan masih ada barang juga dirumah lama, jadi sekalian aja mampir." ucap ibu Dicky.
Aku yang mendengar itu tersenyum malu dan pergi bersembunyi di kamar. Aku dapat mendengar jelas mereka semua tertawa. Aku benar-benar malu. Dari dalam kamar, aku mendengarkan semua yang sedang mereka bicarakan.
"Ky, katanya kamu mau main sama Rissa." ucap ayah Dicky.
"Om, boleh aku ajak Rissa main di luar." ucapnya.
Aku tidak percaya ini. Dia meminta izin ayah.
"Main kemana?." tanya ayah.
"Disini-sini aja oom." jawab Dicky.
"Rissa." panggil Ayah.
Bagaimana ini ayah memanggilku. Haruskah aku keluar. Tapi aku malu bertemu mereka. Terdengar ayah memanggilku lagi. Aku pun keluar dan berpura-pura tidak tau apapun.
"Iya ayah." ucapku.
"Dicky mau ajak kamu main." ucap ayah.
Aku diam sambil memperhatikan Dicky berjalan mendekatiku.
"Jangan jauh-jauh ya." ucap ayah.
"Iya om." jawabnya.
"Ayo." ucapnya sambil memegang tanganku. Aku hanya diam mengikutinya.
***
"Mau main apa?." tanyaku saat sudah di luar.
"Hmm, sepeda." ucapnya.
"Hah." ucapku sambil melihatnya naik kesepadaku.
"Ayo." ucapnya.
"Mau kemana?." tanyaku.
"Ayo ikut aja." ucapnya.
Aku menghela nafas, dan mengikutinya. Aku pun duduk di depan, seperti waktu itu.
"Kita mau kemana?." tanyaku lagi.
"Jalan-jalan." ucapnya.
Aku diam, tidak tau harus berkata apa lagi padanya. Aku pikir untuk hari ini, aku harus menikmati moment bersamanya, karena aku tidak tau kapan bisa bersepeda bersamanya lagi. Ya walaupun, aku dan dia bisa bertemu setiap hari disekolah, tapi tidak untuk bermain bersama seperti biasa kami lakukan.
Dia menghentikan sepeda didepan sebuah toko aksesoris tak jauh dari rumah. Aku ingat toko itu, sebelum hari ini, aku pernah ditemaninya ke sini, saat itu aku sedang mencari sanggul rambut untuk keperluan upacara disekolah dan dia menemaniku ke toko aksesoris itu.
"Kenapa kita kesini?." tanyaku.
"Aku mau beli ikat pinggang, punyaku hilang gak tau kemana." ucapnya.
Saat sedang menunggunya mencari ikat pinggang. Aku tak sengaja melihat sebuah jepit rambut bulu ayam berwarna biru muda. Menurutku jepit rambut itu sangat bagus, apalagi aksen bulu ayam berwarna biru itu, aku suka jepit itu. Aku ingin membelinya, tapi aku lupa bawa uang. Kalau aku tau Dicky membawaku kesini, aku pasti sudah membelinya.
"Sudah ketemu?." tanyaku
"Sudah, ayo pulang." ucapnya.
"Bentar, bayar dulu." ucapnya.
"Aku tunggu diluar ya." ucapku. Dia mengangguk.
"Ayo." ucapnya saat dia keluar dari toko.
Kami pun pulang kerumah. Disepanjangan jalan aku hanya diam. Beberapa kali Dicky mengajakku bicara, tapi aku merespon seadanya saja. Aku masih memikirkan jepit rambut itu. Setelah aku sampai dirumah, aku akan meminta ayah membelikan jepit rambut itu.
__ADS_1
Sesampainya di rumah. Dicky memarkirkan sepeda ditempatnya. Aku mengambil kantong kresek dari sepeda, aku ingin melihat ikat pinggang yang dia beli tadi. Sebelum aku bisa melihatnya, dia langsung mengambilnya dan mengambil sesuatu dari kantong kresek itu.
"Apa itu?." tanyaku, saat melihat dia menyembunyikan sesuatu di belakangnya.
"Hmm."
"Apa yang kamu sembunyikan." tanyaku.
"Hmm, tidak ada." ucapnya bohong.
"Kamu bohong, aku ingin lihat, sini." ucapku sambil mencoba melihat ke belakangnya, namun dia terus menghalangi ku melihat barang yang disembunyikannya.
"Dicky aku ingin lihat." ucapku.
"Tidak boleh." ucapnya.
Aku tidak kehilangan akal cerdikku. Aku pun menggelitikinya, berharap dia akan menyerah dan menujukan barang yang disembunyikannya itu padaku.
"Haha."
"Rissa hentikan." ucapnya sambil tertawa.
"Tunjukan itu padaku." ucapku sambil terus menggelitikinya.
"Haha, gak." ucapnya.
"Sini." ucapku mulai kesal. Aku mencoba merebut barang itu darinya.
"Rissa jangan." ucapnya menghalangiku.
Aku tidak peduli, aku sangat ingin melihat apa yang disembunyikan Dicky dariku. Aku terus mencoba mengambil barang itu. Tanpa sengaja bibirnya mengenai pipi kananku. Aku seketika terdiam sambil memegang pipiku.
"A-aku-."
Sebelum Dicky mengatakan sesuatu. Aku langsung pergi dan berlari masuk kedalam rumah. Aku kesal, malu. Aku tidak tau harus melakukan apa selain pergi dari sana.
***
Saat aku masuk didalam rumah, aku melihat ayah dan ayahnya Dicky sedang mengobrol. Aku langsung nyelonong masuk ke kamar, sebelum aku masuk kemar, ayah memanggilku.
"Ris, dari mana?." tanya ayah.
"Jalan-jalan." jawabku.
"Diluar om." ucapku.
"Rissa ke kamar dulu ya." ucapku.
"Yah nak." ucap ayah.
Aku pun masuk ke kamar dan mengunci pintu. Aku menjatuhkan tubuhku di kasur. Aku menangis sambil memukul-mukul bantal yang tidak bersalah. Aku kesal dengan kejadian tadi, kenapa bisa Dicky menciumku. Namun, tidak bisa dibohongi ada rasa senang didalam diriku.
Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu.
"Rissa, ayo makan." ucap Ibu.
"Iya bu."
Aku segera bangun dan menghapus air mataku. Aku kemudian keluar dari kamar. Di meja makan, ku lihat semua sudah berkumpul termasuk Dicky. Aku pura-pura tidak melihatnya dan duduk dihadapannya. Ibu mengambil makanan untukku.
"Mau ini?." tanya ibu menawarkanku capcay. Aku mengangguk.
"Sayang, kata ayah, kalian abis jalan-jalan, kemana aja tadi." ucap Ibu.
Aku diam, bingung bicara apa.
"Seputaran komplek ini aja tante, tadi juga mampir ke toko aksesoris." ucapnya.
"Oh ya, ibu gak nemuin ikat pinggang kamu." ucap ibu Dicky
"Udah beli kok bu tadi." ucapnya.
"Oh, maaf ya nak." ucap ibu Dicky.
"Gak pa-pa bu." ucapnya.
"Bu, disana ada jepit rambut bagus banget, kayak bulu ayam gitu." ucapku saat teringat jepit rambut yang aku suka itu.
"Oh ya, mana ibu mau lihat." ucap ibu.
"Rissa gak beli bu, Rissa gak bawa uang, padahal Rissa pengen jepit rambut itu." ucapku sambil cemberut.
"Ya udah, nanti kesana sama ayah." ucap ibu. Aku tersenyum menatap ibu.
__ADS_1
"Kenapa Dicky gak beliin jepit rambut buat Rissa?." tanya Ibu Dicky. Sebelum Dicky mengatakan sesuatu, aku langsung bicara.
"Dicky gak tau tante, Rissa gak bilang sama Dicky kalau Rissa mau jepit rambut." ucapku. Dicky hanya diam menatapku.
"Hem, ya udah nanti tante beliin ya, yang banyak buat Rissa." ucap Ibu Dicky.
"Gak usah repot-repot jeng." ucap Ibu.
"Gak pa-papa-pa jeng, Rissa sudah kayak putriku sendiri." ucap Ibu Dicky. Ibu tersenyum menatapku.
"Iya kan cantik, mau kan jadi anak tante." ucap Ibu Dicky. Aku tersenyum sambil menganggukkan kepala.
"Jadi, jangan panggil tante lagi, panggil ibu ya sama kayak Dicky panggil ibu." ucap Ibu Dicky.
"Panggil om, ayah juga." ucap Ayah Dicky.
Aku menatap ayah dan ibu. Mereka tersenyum dan menganggukkan kepala padaku.
"Iya Ibu, Ayah." ucapku pelan.
Ayah dan Ibu ku tertawa, begitu juga ayah dan ibu Dicky, sementara Dicky hanya tersenyum.
***
Hari mulai sore. Dicky dan keluarganya berpamitan untuk pulang. Hubunganku dan Dicky terasa canggung karena kejadian tadi, sepanjangan hari kami tidak bicara apapun. Dan saatnya dia harus pulang, sejujurnya aku ingin mereka bisa menginap disini, tapi aku tidak bisa mengatakannya.
"Kami pulang dulu ya jeng, terima kasih jamuannya." ucap Ibu Dicky bercanda.
"Ahh, biasa aja jeng." ucap ibu sambil tertawa.
"Kapan-kapan, mampir lagi ya kesini." ucap Ayah.
"Mampir juga kerumah baru kami." ucap Ayah Dicky. Ayah tertawa.
"Iya, nanti kami sekeluarga pasti kesana." ucap Ayah.
"Ditunggu ya." ucap Ayah Dicky bercanda.
Semua orang tertawa. Tidak dengan aku dan Dicky.
"Oh ya sudah, kami pamit pulang ya." ucap Ayah Dicky sambil bersalaman dengan ayah dan ibu.
Setelah bersalaman dengan ibu dan ayah. Ibu Dicky mendekatiku. Dia berjongkok sejajar denganku. Dia mengelus pipiku dan mencium keningku. Aku tersenyum dan memeluknya. Entah kenapa aku memeluk Ibu Dicky. Itu mengalir begitu saja, mungkin aku sudah kenal dengannya jadi aku gak canggung dengan orang baru.
"Ibu pulang dulu ya." ucap Ibu Dicky.
Tanpa sadar aku menangis. Aku seperti akan tinggal pergi jauh oleh seseorang yang aku sayang. Aku melepaskan pelukanku.
"Ehh, kok nangis, nanti cantiknya hilang loh." ucap Ibu Dicky tersenyum sambil menghapus air mataku.
"Kira-kira kapan Rissa bisa kami bawa pulang." ucap ayah Dicky.
"Ahhh." ucap ayah sambil tertawa.
Ayah, ibuku dan ayah, ibu Dicky tertawa.
"Sudah jangan nangis lagi." ucap Ibu Dicky.
"Kami pulang dulu ya sayang." ucap Ayah Dicky mengelus kepalaku.
Aku menganggukkan kepala. Mereka berdua tersenyum. Dicky kemudian mendekatiku, dia memberikan sebuah kotak kecil padaku.
"Apa ini?." tanyaku.
"Buka aja nanti." ucapnya.
"Baiklah." ucapku. Ibuku tersenyum. Dia mengelus kepala Dicky.
"Ya sudah, ayo pulang." ucap Ayah Dicky.
"Kami pulang ya, Assalamualaikum." ucap Ibu Dicky.
"Waalaikumsalam." ucap Ayah dan ibu.
"Hati-hati dijalan." ucap Ayah. Sebelum mobil mereka melaju pergi.
Setelah itu, aku langsung masuk ke dalam kamar. Aku penasaran dengan kotak yang diberikan Dicky. Aku segera membukanya. Ternyata kotak itu berisi jepit rambut yang ingin aku beli di toko aksesoris itu. Dicky membelikannya untukku. Ada sebuah surat juga didalam kotak itu. Aku membacanya.
Rissa maaf ya, ini yang aku sembunyikan darimu, jepit rambut yang kamu suka. Maaf juga soal tadi aku tidak sengaja. Sekali lagi maaf
Dicky
Aku tersenyum setelah membaca surat itu ditambah dengan jepit rambut yang sangat aku suka. Aku benar-benar sangat senang.
__ADS_1
--oo--