Kamu Yang Aku Rindu

Kamu Yang Aku Rindu
Putus


__ADS_3

Esok harinya. Aku pergi sekolah bareng Iqbal. Seperti biasa aku memeluk dia diatas motor sambil menikmati angin sejuk di pagi hari yang cerah, seperti perasaanku ini.


"Tugas kamu udah selesai, kan?." tanyaku.


"Sudah, kan kerjain bareng kamu." ucapnya.


"Hahaha."


"Seneng banget keknya." ucapnya.


"Iya, karena aku sama kamu." ucapku.


"Hahaha."


"Kamu udah sarapan?." tanyaku.


"Belum." ucapnya.


"Kenapa belum sarapan?." tanyaku.


"Buru-buru tadi." ucapnya.


"Nanti kita mampir dulu ke kantin baru ke kelas." ucapku.


"Kamu belum sarapan juga." tanyanya.


"Udah." ucapku


"Terus kenapa ke kantin." ucapnya.


"Kan, kamu belum sarapan, nanti kamu sakit, terus siapa yang jagain aku." ucapku.


"Hahaha."


Sesampainya di sekolah. Iqbal menyuruhku untuk duluan pergi ke kantin. Dia mau ketemu sama teman-temannya dulu. Ada urusan, katanya. Aku tidak tahu urusan apa dia maksud. Aku juga tidak mau ikut campur urusannya. Lebih baik aku segera ke kantin dan memesan makanan untuk pacarku yang tersayang.


"Pagi bik." sapaku pada bik Iyah. Salah satu pedagang di kantin sekolah.


"Ehh, neng Rissa, pagi juga neng." ucapnya. Aku senyum.


"Tumben pagi-pagi ke kantin." ucapnya.


"Iya nih, Iqbal belum sarapan." ucapku.


"Oh, pacarnya eneng yang kasep itu, ya." ucapnya. Aku senyum.


"Iya bik." ucapku.


"Mau pesan apa neng?." tanya bik Iyah.


"Nasi uduk." ucapku.


"1 porsi ya neng." ucapnya.


"Hem, 2 deh bik, Rissa masih laper, hehe." ucapku.


"Ok siap neng, duduk dulu aja nanti bibik anterin." ucapnya.


"Ok bik." ucapku.


Sambil nunggu Iqbal dan nasi uduknya datang. Aku duduk sambil main handphone. Tanpa sengaja mataku melihat Dito. Dia berjalan ke arahku sambil melambaikan tanganya padaku. Aku langsung pura-pura tidak melihatnya. Aku tidak enak dengannya.


Setelah kejadian kemarin. Semua kontak cowok di handphone ku termasuk Dito di blokir sama Iqbal. Kecuali kontak Ayah, sepupuku yang cowok Kikky, Andi dan kontak dirinya. Kalau sudah seperti ini, apa lagi yang bisa aku lakukan, selain menghindar.


"Ris." ucap Dito saat dia sudah berdiri didepan mejaku.


"Hah, Dito." ucapku pura-pura tidak sadar kalau dia datang.


"Ada apa?." tanyaku


"Ris, nomor kamu gak bisa dihubungi ya, aku chat kamu juga gak kamu bales-bales, kenapa?." ucap Dito. Aku diam sebentar sambil mencari alasan.


"Hem, iya nih, kuota aku habis, aku lupa beli." ucapku. Dito menatapku tidak percaya.


"Tapi, anak-anak lain bisa hubungin kamu." ucap Dito. Aku diam.


"Atau nomor aku di blok." ucap Dito.


"Aku kan pakai wifi sekolah, ini aku baru bisa main sosmed." ucapku.

__ADS_1


"Udah ris, gak usah bohong, aku tau nomor aku di blok." ucap Dito sambil duduk di bangku yang ada didepanku.


"Maaf dit." ucapku.


"Pasti Iqbal kan yang udah blok nomor aku." ucap Dito. Aku diam.


"Kamu kenapa sih masih sama Iqbal, dia itu udah ngekang kamu, cemburuan, dia gak baik untuk kamu, ris." ucap Dito. Aku mengangkat alisku menatapnya.


"Dia juga sering ikut tawuran, suka buat onar di sekolah, kenapa kalian gak putus aja."


"Maksud kamu apa?." tanyaku.


"Aku cuman bilang kalo Iqbal itu gak baik untuk kamu." ucap Dito.


"Iqbal baik kok, ya aku tau Iqbal suka berantem, suka ikut tawuran, tapi dia gak pernah buat onar disekolah kalo gak ada yang ganggu dia duluan." ucapku kesal.


"Ris, kamu itu gak tau dia kayak gimana, dia aja suka berantem, mukul orang, nanti kamu juga jadi sasarannya, aku khawatir sama kamu." ucap Dito.


"Aku tau Iqbal seperti apa, aku udah kenal dia dari aku sd, selama aku sama dia, dia gak pernah mukul aku." ucapku.


"Iya, tapi lama-lama kamu bakal jadi objek sasarannya." ucap Dito.


"Udah deh dito, kamu kenapa sih, nyuruh-nyuruh aku buat putus sama Iqbal." ucapku.


"Aku cuma gak mau kamu terluka ris." ucap Dito.


"Cukup dito, mending kamu pergi, bentar lagi Iqbal kesini." ucapku.


"Aku hanya memperingati kamu aja ris, hati-hati." ucap Dito. Kemudian dia pergi.


Akhirnya aku bisa bernafas lega. Aku kesal dengan Dito yang menjelek-jelekkan Iqbal. Siapa yang tidak marah, kalau pacarnya di jeleki-jeleki orang lain. Apalagi orang itu baru kenal. Aku lebih tahu Iqbal itu seperti apa. Dia teman masa kecil aku. Jadi orang lain yang baru kenal dia tidak ada hak untuk bilang kalau Iqbal itu jahat.


"Maaf lama sayang." ucap Iqbal yang baru datang. Dia duduk didepanku.


"Gak pa-pa." ucapku.


"Aku tadi ketemu dito, apa dia nemuin kamu disini." tanya Iqbal. Aku mengangguk.


"Ngapain?." tanya Iqbal.


"Gak ada apa-apa." ucapku sambil tersenyum.


"Eh, itu makanan udah datang." ucapku saat melihat bik Iyah datang dengan membawa dua piring nasi uduk.


"Maaf bibik agak lama." ucap bik Iyah.


"Ya bik, gak pa-pa, makasih bik." ucapku.


"Makasih bik." ucap Iqbal.


"Sama-sama." ucap bik Iyah.


"Bibik tinggal dulu yah." ucap bik Iyah.


"Iya bik." ucapku. Bik Iyah pun pergi.


"Kata kamu tadi udah sarapan?." tanya Iqbal.


"Iya udah, tapi masih laper, hehe." ucapku. Iqbal tersenyum.


***


Saat jam istirahat. Aku duduk sendirian di kelas. Semua teman-temanku pergi keluar. Hanya ada aku dan handphone yang menemaniku. Iqbal juga lagi keluar. Entah kemana. Mungkin kumpul sama teman-temannya.


Aku lapar. Tapi, aku lagi males ke kantin. Biasanya aku ke kantin sama Iqbal, makan bakso. Sayangnya Iqbal tidak ada. Aku tidak mau pergi ke kantin sendiri. Dan bertemu lagi sama Dito dan membicarakan hal yang tidak-tidak mengenai pacarku. Dito memang teman sekelasku, tapi saat di kelas dia tidak ada kesempatan untuk bicara padaku karena Iqbal selalu di dekatku. Itu bagus, jadi aku tidak harus mendengar omong kosong dari dia.


Saat aku lagi asik dengan kesunyian dikelas. Tiba-tiba Novi temanku datang sambil tergesa-gesa.


"Kenapa Nov." ucapku heran melihatnya.


"Ris, Iqbal berantem sama Dito dilapangan." ucap Novi. Aku kaget.


"Apa." ucapku. Aku segera berlari menuju lapangan bersama Novi.


Semua anak-anak berkerumun menonton perkelahian. Teman-teman Iqbal dan beberapa guru berusaha melerai Iqbal dan Dito yang saling menonjok. Pakaian mereka berantakan. Wajah mereka berdua juga berdarah. Aku bergegas menerobos kerumunan untuk menghentikan Iqbal.


"Iqbal." teriakku. Aku menarik dan menahan lengan Iqbal yang masih ingin menonjok Dito. Begitu juga Dito.


"Iqbal sudah." ucapku. Iqbal menoleh menatapku sebentar.

__ADS_1


"Udah." ucapku pelan. Emosi Iqbal perlahan meredah.


Bersamaan itu, Iqbal dan Dito langsung dibawa ke ruang guru. Tak ada yang boleh masuk selain aku. Beberapa anak berkerumun di depan ruang guru untuk mengintip apa yang terjadi didalam ruang guru.


Aku berdiri disebelah Iqbal duduk dengan tanganku yang digenggam erat oleh Iqbal. Sementara Dito duduk di kursi lain. Beberapa guru nampak pusing, dengan kejadian hari ini. Termasuk kepala sekolah, pak Mahmud.


"Sebenarnya ada apa ini?." tanya pak Mahmud.


"Berani ganggu dia, kuhajar dia sampai mati!." tegas Iqbal. Dito menundukan kepalanya.


Entah Iqbal bicara apa. Aku tidak tahu. Dia itu aku. Apa yang aku lakukan. Emang Dito ganggu apa. Aku bingung.


"Kenapa bal." ucapku pada Iqbal. Iqbal diam.


"Ada apa ini Rissa, bisa jelasin sama bapak." ucap Pak Mahmud. Aku diam. Apa yang harus aku jelaskan, aku saja tidak tahu.


"Jangan tanya dia pak, dia gak tau apa-apa." ucap Iqbal pada Pak Mahmud.


"Tanya sama anjing itu." ucap Iqbal sambil menatap tajam ke arah Dito. Dito hanya diam.


"Iqbal." ucapku sambil menggerakkan tanganku. Iqbal menoleh ke arah ku. Aku menggelengkan kepala, mengisyaratkannya kalau dia tidak boleh bicara kasar di depan guru.


"Aku mau pulang!." ucap Iqbal sambil berdiri dari duduknya.


"Ayo ris." ucapnya. Iqbal lalu pergi sambil terus menggandeng tanganku.


Tak ada yang berusaha mencegah Iqbal. Aku tidak enak sama guru-guru dengan sikap Iqbal. Aku bahkan tidak tahu ada masalah apa dia dengan Dito. Dan kenapa ada aku. Apa hubunganku dengan mereka berantem.


"Bal." panggilku. Dia berhenti lalu berbalik menatapku.


"Ada apa?." tanyanya.


"Harusnya aku yang tanya itu." ucapku.


"Ada apa?." tanyaku.


"Aku sayang sama kamu Ris." ucapnya.


"Ya bal, aku tau, tapi kenapa berantem sama Dito." ucapku.


"Kamu gak harus tau." ucapnya.


"Kenapa?." ucapku. Iqbal diam.


"Aku tau kalo kamu gak suka Dito, tapi kan gak harus berantem bal." ucapku.


"Aku gak bakalan mukul orang, kalo orang itu gak cari gara-gara duluan." ucapnya.


"Jangan bilang, kamu mukul dia karena cemburu." ucapku.


"Ya, wajar kalo aku cemburu, kamu pacar aku." ucapnya.


"Kita udah sepakat bal, gak bahas masalah ini lagi." ucapku.


"Kamu belain dia." ucapnya.


"Aku gak belain dia bal." ucapku.


"Usaha aku buat ngelindungi kamu dari orang macem dia, gak pernah kamu hargain ris, semua orang tau, aku cemburuan, suka mukul orang, suka ngekang kamu, gak boleh ini, itu." ucapnya.


"Aku juga denger, orang-orang bilang sama kamu, buat putus sama aku." ucapnya.


"Gak gitu bal, kok kamu bahas itu." ucapku.


"Kamu pasti mikir kalo hubungan kita ini salah, kamu ingin putus denganku, kan." ucapnya.


"Kok, kamu ngomong gitu." ucapku dengan air mataku yang sebentar lagi ingin turun.


"Kalo kamu memang mau putus sama aku, ya udah." ucapnya.


"Sekarang, kamu bebas, lakuin apa yang kamu suka." ucapnya.


Seketika air mataku jatuh. Rasanya begitu menyakitkan mendengar Iqbal mengatakan itu. Aku gak ada niatan sama kali buat putus sama dia.


"Kamu jahat, bal." ucapku. Aku segera pergi meninggalkan Iqbal.


Ketika aku pergi Iqbal tidak memanggilku apalagi menahan aku untuk tidak pergi. Dia benar-benar ingin putus denganku. Aku tidak menyangka Iqbal akan tega seperti ini.


Iqbal,

__ADS_1


Apa kamu sadar, perkataanmu ini jauh lebih menyakitkan dari sebuah pukulan di tubuhku! Sakit bal! Hatiku sakit!


--oo--


__ADS_2