Kamu Yang Aku Rindu

Kamu Yang Aku Rindu
Permohonan maaf Iqbal


__ADS_3

Entah sudah berapa lama aku tertidur. Saat aku bangun kamarku sudah terang karena sinar matahari. Aku perlahan duduk sambil memegang kepalaku yang terasa pusing, mungkin itu efek dari obat tidur. Ku lihat ibu sedang membereskan kamarku.


"Eh, Rissa udah bangun." ucap Ibuku. Aku senyum sambil menyandarkan tubuhku di kepala tempat tidur. Ibu berjalan mendekatiku.


"Rissa butuh sesuatu?." tanya Ibu sambil merapikan rambutku.


"Ayah mana." ucapku.


"Hem, baru juga bangun udah nyari pacarnya aja." ucap Ibu menggodaku.


"Ahh, ibu." ucapku. Ibu tertawa.


"Ada didepan." ucap Ibu.


"Rissa mau sarapan apa?." tanya Ibu.


"Yang ada aja bu." ucapku.


"Ya udah, Rissa mandi sana, ibu siapin dulu makanannya." ucap Ibu. Aku mengangguk.


Aku mengambil ponselku di atas nakas. Aku memeriksanya, berharap Iqbal menghubungiku atau setidaknya ada satu chat dari dirinya. Tapi, harapanku tak terwujud. Yang biasanya handphoneku dipenuhi spam chat sekarang tidak ada lagi. Tak ada satu pun notifikasi chat dari Iqbal.


Sekarang aku sendiri, jauh dari Dicky dan juga Iqbal. Entah bagaimana diriku sekarang dengan perasaan ini. Dua orang yang aku sayang tidak bersamaku lagi dan mungkin, aku akan sendiri menjalankan hidupku dengan sunyi.


***


Setelah mandi dan merapikan diriku. Aku menemui ayah yang lagi baca koran di teras. Cuaca hari ini begitu cerah. Namun, tidak denganku, hariku mendung dan sunyi. Aku pun duduk di sebelah ayah.


"Pagi pacarnya ayah." ucap Ayah padaku sambil fokus membaca koran.


"Pagi menjelang siang ini yah." ucapku.


"Hahaha."


"Ayah gak kerja?." tanyaku.


"Hari ini ayah mau sama pacarnya ayah." ucap Ayah sambil mengelus rambutku. Aku senyum.


"Kepalanya sakit gak?." tanya Ayah padaku.


"Sedikit." ucapku. Aku merebahkan diriku di bahu ayah.


"Ayah." ucapku.


"Iya, kenapa sayang?." tanya Ayah.


"Dulu, saat ayah pacaran sama ibu pernah putus gak?." tanyaku.


"Pernah, malah yang mutusin ibu itu ayah, ibu suka ngatur-ngatur, cerewet, jadi ayah putusin." ucap Ayah. Aku diam.


"Tapi, karena ayah sayang dan cinta sama ibu, ayah minta maaf terus balikan lagi sama ibu." ucap Ayah. Aku hanya diam. Aku tidak tahu harus mengatakan apa.


"Udah sayang, gak usah mikirin itu lagi, ahh." ucap Ayah sambil merangkul ku.


Tiba-tiba Andi datang dengan memakai baju olahraga lengkap dengan sepatu olahraganya. Kelihatannya dia habis joging. Aku kaget, ini kan bukan hari minggu. Harusnya dia sekarang ada disekolah.


"Hei jagoan." ucap Ayah pada Andi.


"Om." ucap Andi sambil melakukan tos yang biasa dia dan ayah lakukan.


"Kamu gak sekolah?." tanyaku.


"Gak." ucap Andi.


"Andi kena skorsing." ucap Ayah.


"Hah." ucapku kaget.


"Awas nanti kemasukan lalat mulutnya." ucap Andi sambil menarik hidungku.

__ADS_1


"Ihh." ucapku. Ayah tersenyum.


"Sakit." ucapku sambil menggosok hidungku.


"Hahaha."


"Aku masuk dulu om, mau makan, laper." ucap Andi. Ayah hanya mengangguk. Andi pun pergi masuk kedalam.


"Andi." panggilku sambil berlari menyusul Andi masuk kedalam.


"Apa." ucap Andi sambil terus berjalan ke arah dapur.


"Serius, kamu di skorsing lagi." ucapku.


"Iya Rissa." ucapnya.


"Gara-gara?." tanyaku.


"Biasalah cowok keren." ucap Andi sambil duduk dikursi meja makan.


"Heh, keren darimana." ucapku sambil duduk dihadapannya.


"Tante tiya masak apa?." ucap Andi pada Ibu yang lagi masak.


"Nasi goreng sayang." ucap Ibu.


"Mau tante." ucap Andi.


"Bentar ya, tante bikinin punya Rissa dulu." ucap Ibu.


"Rissa gak laper bu, buat Andi aja nasi gorengnya." ucapku.


"Kenapa gak mau makan, ibu udah masak loh buat kamu." ucap Ibu sambil menuangkan nasi ke piring.


"Iya kamu nih ris, gak boleh gak makan, tante tiya udah capek masak." ucap Andi. Aku diam.


"Ini sayang, dimakan." ucap Ibu sambil memberikan sepiring nasi goreng padaku.


"Dihabisin ris, jangan gak, nanti nasinya nangis loh, ya gak tante." ucap Andi memprovokasi. Aku menatap kesal Andi.


"Andi, sepatunya dibuka dong sayang, masa didalem rumah pakai sepatu." ucap Ibu. Aku tersenyum.


"Hehe, maaf tante, lupa." ucap Andi.


"Kamu ini." ucap Ibu sambil berlalu pergi untuk masak lagi.


"Hahaha." Aku ketawa.


"Seneng, ketawa terus." ucap Andi kesal. Aku senyum sambil makan nasi goreng buatan Ibu.


***


Setelah makan nasi goreng bersama Andi. Dan Andi juga sudah ganti baju. Kami berdua pun main game Downhill Domination PS2 di kamar Andi. Kamar Andi, tidak begitu luas. Tapi, cukuplah untuk dia dan barang-barang favoritnya, yang kalau gak disusun dan dirapikan setiap hari oleh Ibuku ataupun tante Maya, mama Andi. Mungkin kamarnya akan jadi seperti gudang.


Awalnya aku tidak mau main PS dengan Andi. Tapi, Andi paksa aku. Jangan galau terus katanya. Benar, apa yang dikatakan Andi, aku tidak boleh galau, aku harus bisa move on dan menjalankan hidupku dengan baik dan bahagia. Walaupun harus berdampingan dengan kenangan masa lalu yang mungkin sulit untuk aku lupakan.


Sungguh, rasanya aku tidak bisa untuk melupakan Iqbal. Aku saja masih mencintai Dicky dan selalu ingat akan dirinya. Apalagi Iqbal, orang yang selalu ada untuk aku dan membuatku senang setiap hari. Tapi, aku harus berusaha. Meskipun pada akhirnya aku tidak akan pernah bisa move on dari perasaan ini.


"Kemarin aku ketemu Iqbal." ucap Andi sambil fokus ke layar tv. Aku diam mendengarkan.


"Dia nanyain kamu, udah sampe rumah atau belum, terus aku bercandain dia, aku bilang rissa belum sampe rumah, ini aku lagi cari dia." ucap Andi.


"Terus." ucapku.


"Terus kamu harus move on, dia udah mutusin kamu, dia juga buat kamu nangis seharian." ucap Andi.


"Kamu masih aja tertarik kalo denger namanya." ucap Andi lagi. Aku hanya diam.


Tak lama kemudian terdengar suara bel berbunyi.

__ADS_1


"Siapa itu?." tanya Andi.


"Entah." ucapku.


"Ck!." ucap Andi kesal dengan bel yang terus berbunyi.


Sepertinya Ibu dan Ayah sedang berada di kamar. Mungkin mereka tidak mendengarnya. Dan yang lain sedang tidak berada dirumah, sepupuku yang lain juga belum pulang sekolah. Andi pun berdiri ingin pergi memeriksa siapa yang datang. Namun, aku menghentikannya dan menawarkan diri untuk membukakan pintu. Andi pun mengangguk. Aku segera pergi menghampiri pintu.


"Bentar." ucapku.


Ketika aku membukanya, betapa terkejutnya diriku, saat tahu orang yang membunyikan bel itu adalah Iqbal. Iqbal masih memakai baju sekolah. Sepertinya dari sekolah dia langsung ke rumahku. Tapi, saat ini, aku belum ingin bertemu dengannya. Aku masih kesal. Segera aku menutup pintu. Namun, Iqbal menahannya.


"Tunggu ris, aku ingin bicara." ucapnya.


"Kamu pulang aja." ucapku sambil terus mendorong pintu.


"Ris, maafkan aku." ucapnya.


"Kamu pulang aja sana, aku gak mau ketemu kamu." ucapku keras.


"Kenapa ris?." tanya Andi yang datang menghampiriku.


"Iqbal." ucap Andi. Aku segera pergi mencari perlindungan dibelakang Andi.


"Ris!." ucap Iqbal pelan.


"Usir orang itu Andi, aku gak mau ketemu sama dia." ucapku dibalik tubuh Andi.


"Kamu dengarkan bal, pulanglah." ucap Andi.


"Aku mohon ris, sekali saja beri aku kesempatan buat bicara." ucap Iqbal memohon.


"Enggak." tegasku. Iqbal berjalan masuk kedalam dan menarik tanganku. Aku memeluk pinggang Andi, menahan diriku.


"Aku gak mau." ucapku sambil mencoba melepaskan tanganku yang di genggam Iqbal. Andi yang melihat tanganku ditarik-tarik Iqbal, lantas mencoba melepaskan kasar tangan Iqbal dariku.


"Lepas bal." ucap Andi. Aku tidak kuat lagi menahan air mata, tanganku terasa sakit. Seketika air mataku jatuh.


"Sakit." ucapku sambil nangis. Andi pun berhasil melepaskan tanganku. Aku terus menangis sambil memeluk pinggang Andi dari belakang.


"Kamu ini kenapa bal, rissa gak mau ketemu kamu, ya udah, pergi sana." tegas Andi.


"Ris." ucap Iqbal mencoba mendekatiku. Namun, dihalangi oleh Andi.


"Berhenti bal, pergilah atau kita berantem disini." tegas Andi.


"Ada apa ini hah." tegas Ayah yang baru datang sama Ibu. Aku diam, Andi dan Iqbal diam.


"Kenapa sayang?." tanya Ibu padaku. Aku langsung berlari masuk kedalam kamarku dan mengunci pintuku.


"Aku gak mau ketemu sama Iqbal, suruh pulang aja." teriakku dari kamar.


"Iqbal kenapa kamu kesini?." tegas Ayah.


Aku menutup telingaku dan menjauh dari pintu kamar. Aku tidak mau dengar apapun. Aku tidak peduli dengan Iqbal yang mungkin akan dimarahi ayah. Paling buruknya Iqbal akan di tampar oleh Ayah. Lebih baik aku tidak tahu dan aku tidak akan memikirkan apapun, apalagi merasa bersalah.


Sambil nangis, aku memojokkan diriku ditembok. Aku duduk sambil memeluk lututku. Mungkin kalian pikir aku kekanak-kanak dengan masalah ini. Seharusnya aku menemui Iqbal dan mencari titik terang hubungan kami. Tapi, tidak aku lakukan.


Beberapa menit kemudian, terdengar suara ketukan di jendela kaca kamarku. Aku berhenti menangis dan mendekatinya. Suara Iqbal terdengar memanggil namaku lembut. Dia masih nekat menemuiku setelah apa yang terjadi.


"Ris, aku tau kamu gak mau bicara sama aku, jadi aku saja yang bicara." ucapnya.


"Ayah kamu marah sama aku, tapi aku emang pantas nerimanya, aku udah nyakitin kamu, perasaan kamu." ucapnya. Seketika air mataku jatuh. Aku kasihan pada Iqbal. Pasti Iqbal juga mendapat sebuah pukulan dari Ayah.


"Maafin aku ris, harusnya aku gak ngomong putus, aku nyesel, aku sayang sama kamu, aku rindu kamu, aku gak mau putus." ucapnya.


"Kamu boleh marah, pukul aku kalau perlu, tapi jangan kayak gini, aku gak mau kamu pergi dariku ris, aku sayang sama kamu." ucapnya.


"Aku cuma diberi waktu ayah kamu tiga menit buat bicara sama kamu, ini udah lewat, aku pulang dulu ya, kamu istirahat, jangan lupa makan, tersenyum, ya udah aku pulang ya."

__ADS_1


"Assalamualaikum." ucapnya.


--oo--


__ADS_2