Kamu Yang Aku Rindu

Kamu Yang Aku Rindu
Tak mungkin


__ADS_3

Dicky kehilangan keseimbangannya, kami hampir saja kecelakaan, beruntung Dicky cepat menginjak rem sebelum menabrak trotoar. Orang-orang yang berada disekitar lokasi berkerumun melihat apa yang terjadi. Mereka mengetuk kaca mobil untuk memastikan keadaan kami berdua. Dicky membuka jendela kaca dan meminta maaf kepada orang-orang.


"Kamu tidak pa-pa?." tanya Dicky padaku.


"Gak, kamu." ucapku. Dicky menggelengkan kepalanya.


"Maaf ris, aku kurang hati-hati nyetirnya." ucapnya.


"Sebaiknya kita naik taksi aja ky." ucapku.


"Gak perlu, aku masih sanggup." ucapnya.


"Ky, aku gak mau kita celaka, untung gak ada polisi, kamu juga belum punya SIM kan, jangan buat masalah lain, sekarang kita harus cepat pulang, kondisi kamu semakin memburuk." ucapku sangking cemasnya.


Akhirnya Dicky menurut padaku. Aku segera memanggil taksi dan langsung membawa Dicky pulang ke rumah. Sesampainya di rumah Dicky. Entah kenapa aku langsung teriak memanggil ibu Yanti. Ibunya Dicky pasti kaget, buktinya dia segera keluar saat aku memanggilnya.


"Kenapa rissa." ucap Ibu Dicky cemas.


"Dicky bu." ucapku.


"Hah, dicky." ucap Ibu Dicky.


Dengan bantuan supir taksi, Dicky di bawa masuk ke kamarnya. Ku lihat Ibunya Dicky langsung menelpon seseorang. Aku yakin dia pasti telepon Dokter. Tebakan aku benar, tak lama kemudian Dokter datang dan memeriksa keadaan Dicky.


Dari luar kamar, ku lihat Dicky diperiksa oleh dokter ditemani oleh Ibu yanti yang terlihat begitu khawatir. Aku pun berjalan mendekatinya.


"Sepertinya hari ini kamu bersenang-senang ky." ucap Dokter itu. Ku rasa Dokter itu mengajaknya bercanda. Dicky tersenyum.


"Kamu makan es krim?." tanya Dokter.


"Sedikit." ucap Dicky sambil ketawa kecil.


"Jangan diulangin lagi ky, ini bahaya buat ginjal kamu." ucap Dokter.


"Iya dok." ucap Dicky sambil senyum.


"Itu siapa?." tanya Dokter sambil melihat ke arahku.


"Rissa." ucap Dicky. Aku tersenyum pada Dokter.


"Pacarnya ya, cantik." ucap Dokter itu pada Dicky. Dicky dan Ibunya hanya tersenyum.


"Dok, haruskah saya bawa Dicky ke rumah sakit." tanya Ibu yanti.


"Gak perlu, Dicky hanya kelelahan saja, dan hindarin makanan yang dilarang." ucap Dokter.


"Dengarin itu ky." ucap Ibu yanti pada Dicky.


"Iya." ucap Dicky.


"Dok, jadwal cuci darahku bisa ganti besok gak, soalnya lusa aku mau liburan ke puncak." ucap Dicky.


Hah! cuci darah? Dicky sakit apa? Apa aku melewatkan semuanya?. Jujur aku kaget, kenapa Dicky harus cuci darah hanya karena makan es krim.


"Kenapa harus cuci darah, emang dicky kenapa?." tanyaku entah pada siapa.


Ibu yanti, Dicky dan Dokter bersamaan melihat ke arahku. Ku lihat Dokter ingin mengatakan sesuatu padaku. Tapi, Dicky menghentikannya.


Aku penasaran. Sebenarnya ada apa ini. Apa aku tidak boleh tahu yang terjadi pada Dicky selama ini. Tapi, aku ingin tahu, Dicky temanku, cinta pertamaku dan juga orang yang aku sayang. Namun, semua diam saat aku menunggu jawaban.

__ADS_1


Aku mulai kesal saat Dicky mengatakan "Gak pa-pa ris.". Kata itu berulang kali aku dengar dari taman sampai ke rumahnya, jawabannya selalu gak pa-pa. Padahal kalian tahu keadaan Dicky jauh dari kata itu.


Aku tidak mau dengar kata itu, aku mau jawaban. Aku cemas dengan keadaanmu ky! Tolong kasih tau aku!


"Dari tadi kamu bilang gak pa-pa terus." ucapku. Dicky tersenyum sambil menunduk.


"Ibu kasih tau Rissa ya." ucap Ibu Dicky. Dicky diam. Ku lihat Ibu Yanti mendekatiku.


"Dicky kenapa bu?." tanyaku pada Ibu Dicky. Ibu Yanti tersenyum.


"Ikut ibu, nanti ibu ceritain." ucap Ibu Dicky.


Dengan bingung aku pun mengikuti ibu sampai di kamarnya. Ibu Yanti menceritakan semua padaku. Kata ibu yanti Dicky mengalami gagal ginjal semenjak masuk SMP. Kaget, sedih yang aku rasakan saat mengetahui itu.


Coba kalian bayangkan, niat aku ke Jakarta untuk bertemu dan bersenang-senang bersama Dicky mengulang lagi masa lalu kami. Namun, aku harus mengetahui kenyataan mengenai penyakit Dicky yang selama ini aku tidak tahu.


Tanpa diriku, Dicky melewati semuanya untuk bertahan di tahap ini. Ingin rasanya aku mengulang lagi waktu disaat aku kembali ke rumah nenek. Kalau bisa aku ingin berada di waktu itu lagi dan mengatakan tidak pada ayah dan ibuku agar aku tetap di jakarta bersama Dicky, menemaninya agar rindu dan rasa menyesal ini sedikit berkurang. Namun sayangnya tidak bisa. Kenyataannya adalah aku telah melewati semuanya.


***


Aku duduk termenung di teras rumah Dicky. Aku belum menemuinya lagi setelah aku tahu mengenai sakitnya itu. Aku masih tidak percaya dengan hal itu. Rasanya tak mungkin Dicky bisa sakit parah. Ya, kembali lagi, semuanya atas izin yang maha kuasa.


Matahari mulai terbenam dan hari perlahan gelap, aku kembali masuk dan pergi ke kamar Dicky. Ku lihat Dicky tengah terbaring di tempat tidur. Perlahan aku berjalan mendekatinya. Aku duduk di pinggir tempat tidur sambil menatap wajahnya yang masih pucat.


"Ky." panggilku. Namun, Dicky tidak menjawab dia tertidur. Perlahan aku memberanikan diri menyentuh tangannya.


"Ky." panggilku lagi. Namun, Dicky tetap sama.


"Maaf." ucapku sambil menahan air mataku.


"Rissa." ucap Dicky pelan.


"Iya." ucapku sambil melihat Dicky bangun.


"Kenapa?, mau minum, aku ambilin ya, tapi aku gak tau kamu boleh minum apa, yang hangat atau biasa, aku takut salah." ucapku. Dicky menggelengkan kepalanya.


"Gak ris." ucapnya sambil senyum.


"Kenapa kamu gak bilang kalo gak boleh makan es krim." ucapku.


"Harusnya kamu bilang, jadi aku gak nyuruh kamu makan es krim, makan roti itu, aku juga gak bakal ngajak main sepeda tadi, gak pa-pa kita duduk-duduk aja coba tadi." ucapku frustasi.


"Rissa, aku gak pa-pa." ucapnya.


"Ih kamu bilang gak pa-pa terus." ucapku dengan air mataku yang tiba-tiba menetes.


"Kok nangis, beneran ris, aku gak pa-pa." ucapnya. Aku diam sambil menangis.


"Rissa." ucapnya sambil memegang tanganku.


"Rissa, hush, diam, liat aku." ucapnya. Sambil sesegukan aku diam menatapnya.


"Aku gak pa-pa, serius, aku baik-baik aja kok." ucapnya.


Aku lantas memeluknya. Entah kenapa aku memeluknya saat itu. Tidak ada alasan yang jelas dalam diriku, aku hanya ingin memeluk saja. Dan aku tahu Dicky pasti ingin sebuah pelukan untuk menyemangatinya.


"Cup, cup, udah nangisnya, gak pa-pa." ucap Dicky sambil menepuk pundak ku. Aku melepaskan pelukanku dan senyum sambil menghapus air mataku.


"Kamu tau ris, aku dari tadi ingin peluk kamu, tapi aku takut kamu dorong." ucapnya sambil ketawa kecil. Aku senyum.

__ADS_1


"Gak lah, tapi kamu jangan bikin kaget tiba-tiba meluk, aku bisa saja dorong kamu." ucapku bercanda.


"Hahaha."


Aku dan Dicky saling berpelukan lagi. Rasanya hangat. Melampiaskan rasa rindu yang berat ini. Ingin aku mengatakan "aku merindukanmu" pada Dicky. Namun, aku didahului oleh dirinya yang mengatakan "Aku rindu kamu ris.". Senang rasanya mendengar itu langsung dari Dicky. Jadi, aku tahu perasaannya juga masih sama dan belum berubah untukku.


Suara ketukan pintu mengejutkan kami. Aku dan Dicky spontan melihat ke arah pintu dan melihat Ibu Yanti tengah berdiri dengan membawa makanan menatap kami. Jelas, aku dan Dicky kaget, kami baru saja berpelukan, dan Ibu Yanti pasti melihatnya. Apa yang nanti dia pikirkan tentang aku. Hanya kata maaf yang keluar dari mulutku.


Yang aku khawatirkan, tidak terjadi. Saat aku melihat Ibu Yanti tersenyum sambil berjalan mendekati kami.


"Ibu ganggu kalian ya." ucap Ibu Dicky. Aku dan Dicky tersenyum.


"Gak bu." ucapku.


"Ini, ibu bawa makan malam buat kalian berdua." ucap Ibu Dicky sambil meletakkan nampan berisi makanan di nakas.


"Iya bu." ucap Dicky.


"Kamu tau ris, Dicky itu seneng banget saat tau kamu udah di jakarta." ucap Ibu Dicky. Aku senyum sambil menoleh ke arah Dicky yang sedang tersenyum.


"Awalnya dia gak mau hadir acara reunian sd, tapi tiba-tiba dia mau pergi." ucap Ibu Dicky lagi.


"Hahaha."


"Ya udah kalian makan ya, itu udah pisahin nasi goreng buat rissa, capcay kembang kol buat Dicky." ucap Ibu Dicky.


"Ya ibu."


"Ibu pergi dulu ya." ucap Ibu Dicky. Aku dan Dicky mengangguk. Ibu Yanti pun pergi.


"Kita makan yuk." ajakku. Dicky mengangguk.


Aku mengambil makanan yang dibawa Ibu Yanti tadi dan makan bersama Dicky. Setelah makan malam. Aku berniat untuk mengajak foto bersama Dicky. Aku tidak yakin Dicky mau atau tidak. Tapi, setidaknya akan aku coba.


"Ky, kita foto-foto ya." ucapku.


"Buat apa?." tanyanya.


"Aku tak ingin melewati moment sama kamu ky, kayaknya selama ini aku udah melewati semuanya." ucapku.


"Seharusnya, sebelum kamu pergi waktu itu, aku datang lebih dulu, aku mau kasih nomor telepon agar kita bisa teleponan, tapi aku malah bangun kesiangan, jadi telat." ucapnya sambil ketawa kecil. Aku senyum.


"Yuk kita foto." ucapku dengan ponselku yang sudah siap. Dicky mengangguk.


"Bentar belum siap." ucapnya sambil merapikan rambutnya.


"Udah ganteng kok." ucapku.


"Hahaha."


Waktu itu bersama Dicky aku melupakan Iqbal. Aku merasa kembali ke masa lalu kami yang sangat menyenangkan. Aku tahu ini salah, seharusnya aku bisa membuat batasan pada diriku. Tapi, aku tidak bisa.


Iqbal, maafkan aku! Aku tidak berniat membuatmu cemburu!


--oo--


Jangan lupa tinggalkan vote dan komentarnya ya.


Line : rafikaanggraini11

__ADS_1


Instagram : rafikaanggraini11


Thank you


__ADS_2