
Pagi itu, dengan perasaan senangku. Aku benar-benar bahagia. Aku jalani pagiku itu dengan selalu tersenyum. Tetapi, itu tidak bertahan lama. Saat sarapan pagi bersama Ayah, Ibu, Iqbal, Dea, Andi dan Kikky. Aku mendapat kabar bahwa Dicky masuk ke rumah sakit.
Aku tidak percaya. Baru saja kemarin kami bertiga bersenang-senang bersama. Bagaimana mungkin Dicky jadi sakit. Mungkin Dicky kelelahan kemarin, mengingat kondisi ginjal Dicky yang terganggu.
Setelah mendapat kabar itu. Aku dan yang lain segera ke rumah sakit.
Dari luar ruang ICU. Aku melihat Dicky yang sedang di tangani oleh dokter dari kaca kecil di pintu. Aku menangis, aku khawatir dengan keadaan Dicky.
Ibu yanti pun tak henti-hentinya menangis sampai Ibuku yang menenangkannya juga ikut menangis.
"Kemarin dia baik-baik aja, dia sangat senang setelah main sama rissa dan iqbal kemarin." ucap Ibu Yanti pada Ibuku.
"Yang sabar bu, kita gak tau ini terjadi, kita doain Dicky." ucap Ibuku.
Sementara Ayahku dan Ayah Dicky juga cemas dengan kondisi Dicky. Mereka sibuk cari darah buat Dicky.
Iqbal lalu datang mendekatiku dan merangkulku.
"Dia akan baik-baik aja kan bal." ucapku.
"Iya ris, kita doain, semoga Dicky baik-baik aja." ucap Iqbal.
"Aamin." ucapku.
Iqbal memelukku dan mencoba menenangkan aku. Lalu dia mengajakku berjalan-jalan di taman rumah sakit. Andi, Dea dan Kikky juga ikut. Mereka juga syok dengan keadaan Dicky. Apa lagi Dea. Baru saja aku semalam cerita sama dia bahwa aku bersenang-senang bersama Iqbal dan Dicky.
Di taman itu. Aku cuma duduk diam di kursi putih panjang dekat air mancur sambil memperhatikan Iqbal, Dea, Andi dan Kikky yang lagi asik bercanda. Aku mengerti mereka mencoba untuk membuat aku tertawa. Tapi sekarang, aku tidak ingin tertawa. Pikiran terus ke Dicky dan aku cemas dengan kondisinya.
"Jangan diem aja dong sayang." ucap Iqbal sambil mencolek hidungku.
"Aduh sayang." goda Dea.
"Hahaha."
Aku diam memperhatikan Iqbal.
__ADS_1
"Hem, kamu mau es krim?." tanya Iqbal. Aku diam.
"Yak, kamu mau es krim juga." ucap Kikky.
"Mauuuuu, strawberry ya." ucap Dea.
"Wah, strawberry itu kan kesukaan rissa, ya kan ris." ucap Iqbal padaku.
"Gak suka, gak suka." ucapku dengan air mataku yang ingin jatuh.
Aku lantas memeluk Iqbal yang berada didepanku. Aku menangis di pelukannya. Terasa tangan Iqbal mengelus kepalaku.
"Jangan nangis ris." ucap Iqbal.
"Iya ris, aku jadi ikut sedih." ucap Dea.
"Aku mau ketemu Dicky, boleh bal?." tanyaku pada Iqbal.
"Dicky masih tidur, dia kan harus istirahat." ucap Iqbal. Aku melihat ke Iqbal.
"Boleh." jawab Iqbal.
"Kapan Dicky bangun bal?." tanyaku lagi. Dicky diam dan yang lain juga diam.
"Bal jawab." ucapku.
"Kita doain Dicky ya, biar cepat sembuh." ucap Iqbal. Aku diam sambil menatap Iqbal menghapus sisa air mataku.
"Ya udah, kita pulang yuk, udah sore." ajak Andi.
"Ya, ayo ris, kita pulang, ayah sama ibu pasti nunggu kita." ucap Iqbal.
"Aku gak mau pulang, aku boleh nginep sini bal?." tanyaku lagi ke Iqbal.
Lagi-lagi Iqbal diam dan yang lainnya juga diam.
__ADS_1
"Ris... kita besok pulang ke rumah nenek." ucap Dea.
"Om Dimas dari kemarin udah urus semuanya." sambungnya.
Jangan tanya bagaimana reaksiku. Aku tidak tahu harus menjelaskan apa. Aku menangis. Aku ingin tinggal, tapi itu tidak mungkin.
Kikky bilang, dia akan coba bicara sama Ayahku, meminta izin atas nama aku, agar diizinkan menginap semalam di rumah sakit. Namun, dilarang sama Ibuku.
Saat itu ku benar-benar sedih. Aku tidak bisa mengucapkan sampai jumpa pada Dicky seperti waktu itu. Aku bahkan tidak sempat untuk mampir ke rumah sakit untuk berpamitan langsung padanya, Ayah Rahmad dan Ibu Yanti.
Dijalan pulang dari rumah sakit. Aku duduk termenung di dekat jendela mengkhawatirkan apa yang aku pikirkan. Entah bagaimana ku jelaskannya pada kalian. Aku tak punya kata-kata yang mewakili apa yang aku rasa. Pokoknya, aku gak bisa ketawa, gak bisa tersenyum. Hanya bisa menangis, menangis dan menangis.
Kuingat lagi saat-saat aku bersama Dicky. Begitu indah rasanya mengingat kebersamaan kami di masa lalu. Apalagi yang begitu aku ingat jelas adalah saat-saat aku, Iqbal dan Dicky bersama. Tak bisa aku bayangkan bagaimana moment kegembiraan kami lakukan kemarin akan berakhir seperti ini.
***
Tiba saatnya aku harus meninggalkan rumahku lagi dan kembali ke rumah nenek. Ini kedua kalinya aku tidak bisa mengucapkan selamat tinggal pada Dicky. Hatiku berdenyut bersama air mataku yang meleleh.
Aku belum bisa bicara pada Dicky yang keadaan masih belum siuman.
Ibu Yanti bilang padaku, Dicky akan menelepon aku kalau dia sudah bangun nantinya. Tapi, kapan Dicky akan menelepon diriku.
Sampai kapan aku menunggu kabar Dicky. Aku sudah terjebak dalam keadaan yang mengambang dengan perasaanku yang tak bisa aku kendalikan lagi ini. Begitu membuatku merasa bahwa hal itu benar-benar sulit buat aku terima dalam keadaan apapun.
Dalam keheningan, sunyi hatiku saja, aku masih ingat saat-saat aku tertawa bersama Dicky, saat memeluk dirinya. Aku juga selalu memikirkan Dicky bahkan saat berjauhan seperti ini, aku semakin memikirkannya, merindukannya. Jika aku lari dalam keadaan ini, aku akan semakin tidak bisa menghapusnya dalam dalam pikiranku.
Namun harus aku garis bawahi. Semua yang kulihat dan rasakan adalah sebuah perasaan masa lalu yang harus dikenang. Dan saat ini yang sedang aku lihat dan bersamaku adalah masa depan. Dia yang menemaniku selama ini, M. Iqbal Ardiansyah.
Aku tak perlu mengatakan apa-apa, jika aku melihat mata Iqbal dan senyum tipisnya yang selalu dia tunjukkan padaku setiap hari membuatku yakin dalam hidup ini. Aku tak ingin melihat Iqbal jadi lelah, terus-terusan merasa kecewa karena perasaanku ini. Aku tahu ini sulit. Tapi, aku mau mencoba, aku akan selalu disini bersama Iqbal seperti matahari yang terbenam keungu-unguan bahkan jika terlihat mendung seperti hujan yang sangat deras.
Aku sangat berterima kasih padanya. Dia yang selalu berusaha membuatku senang. Dia yang begitu baik padaku. Dia yang mengembalikan semangatku. Dia yang selalu membuatku yakin bahwa semua akan baik-baik saja. Aku beruntung bisa bersamanya dan bahagia.
Aku menyandarkan kepalaku di bahunya. Dia memelukku dan berkata: "Semua akan baik."
Seperti yang dikatakan Iqbal. Semua akan baik. Baik untuk aku, untuk kamu dan untuk kita. Meskipun sangat sulit untuk bisa melupakan sesorang yang begitu banyak menjadi bagian hidupku. Bahkan kalau dirasakan secara mendalam, itu benar-benar menyakitkan.
__ADS_1
--ooo--