
Besok paginya. Aku dibangunkan oleh Ibu, karena hari sudah siang. Dan aku masih terlelap.
"Rissa, ayo bangun, udah jam setengah tujuh." teriak ibu.
Sial,
Aku jadi bangun kesiangan karena semalam. Aku segera bangun dan bergegas siap-siap untuk pergi sekolah. Dengan cepat aku mandi, kemudian memakai seragam, Menyisir rambutku, memakai sepatu, menyusun buku-buku pelajaran dan memasukkannya ke dalam tas.
"Rissa, sarapan dulu." teriak ibu.
"Iya bu." ucapku.
Aku lantas pergi ke meja makan. Disana sudah ada Ayah dan Ibu yang sedang sarapan. Aku duduk ditempatku. Aku langsung makan nasi goreng yang sudah disiapi oleh ibu.
"Ibu sudah bilang, nanti aja ke pasar malamnya, pas hari libur, kan kamu jadi kesiangan." ucap Ibu sambil menyiapkan kotak bekalku.
"Masih jam setengah tujuh bu." ucap Ayah.
"Ayah ini manjain Rissa terus." ucap Ibu. Ayahku cuman tersenyum.
"Sudah selesai sarapannya, ayo pergi nanti kamu terlambat." ucap Ayah padaku.
"Iya ayah." ucapku.
"Aku pergi sekolah ya bu." ucapku sambil mencium tangan Ibu.
"Iya sayang." ucap Ibu sambil mencium kening, dan kedua pipiku. Ibu juga mencium tangan Ayah.
"Jaga rumah." ucap ayah bercanda. Ibu memukul pundak ayah.
"Hahaha." ayah ketawa sambil memeluk Ibu.
"Hati-hati ya." ucap Ibu.
"Assalamualikum."
"Walaikumsalam."
***
Di perjalanan menuju sekolah. Aku terus tertawa karena cerita tidak jelas dari Ayah. Inilah sisi terbaik ayahku yang selalu membuatku senang. Aku menyalakan audio mobil, biar suasana jadi tambah asik. Aku dan Ayah bersenandung saat mendengar lagu kita selamanya dari bondan prakoso feat fade2.
"Bergegaslah kawan, sambut masa depan, tetap berpegang tangan, saling berpelukan, berikan senyuman, sebuah perpisahan, kenanglah sahabat, kita untuk selamanya."
Aku tersenyum dan tertawa bersama Ayah. Itu caraku dan Ayah memanfaat waktu bersama di tengah kesibukan Ayah. Akhirnya kami pun sampai di sekolah.
"Sudah sampai." ucap Ayah.
Aku mencium tangan Ayah. Dan ayah memelukku dan mencium keningku.
"Nanti ayah jemput ya." ucap Ayah.
"Okay." ucapku sambil menggerakkan tanganku.
"Itu Dicky ya." ucap Ayah saat melihat Dicky baru datang dengan sepeda. Ayah menekan klasonnya untuk menyapa Dicky. Dicky menoleh dan tersenyum. Aku turun dari mobil sambil melihat Dicky berjalan ke arah ku.
"Hai Ris." sapanya.
"Hai." ucapku.
"Om." ucap Dicky sambil sedikit membungkuk.
"Semalam om kerumah jemput Rissa, tapi kamu tidur." ucap Ayah.
"Hehe, maaf om ngantuk." ucap Dicky.
"Hahaha."
"Ya sudah, ayah berangkat kerja dulu ya."
"Iya." ucapku.
"Om titip Rissa ya Dicky, jaga dia."
"Tenang aja om." ucap Dicky.
__ADS_1
"Haha, bagus, baiklah, ayah pergi dulu." ucap Ayah.
"Daah ayah." ucapku.
"Daah." ucap Ayah.
"Ayo masuk." ucap Dicky padaku. aku mengangguk tersenyum.
"Apa kamu tidur nyenyak semalam." tanya Dicky.
"Ya, aku capek banget." ucapku.
"Kita kemaren gak main lari-larian, kenapa kamu kecapekan." ucapnya.
"Setelah dari rumah kamu aku ke pasar malam sama ayah dan ibu." ucapku.
"Kamu tau disana rame banget, banyak sekali wahana permainan, aku beli permen kapas, makan es krim berdua sama ayah." ucapku.
"Wah, kayaknya seru." ucap Dicky.
"Iya, seru banget, coba kamu juga ikut, pasti bakalan jadi lebih seru." ucapku.
.
"Uhm, kalau kamu kesana lagi, aku akan ikut." ucap Dicky. Aku tersenyum.
"Sudah, sana masuk kelas mu, aku akan menemui di kantin, nanti." ucap Dicky saat berada di depan kelas ku.
"Uhm, baiklah." ucapku tersenyum. Aku pun masuk ke kelas dan Dicky juga pergi ke kelasnya.
***
Saat jam istirahat. Aku, Melyn, Anis dan Dodit duduk di pinggir lapangan. Tidak ada kegiatan yang kami lakukan hanya duduk-duduk tidak jelas. Sebenarnya tadinya kami mau jajan dikantin. Karena Dodit bilang, dia mau nonton anak-anak lagi latihan futsal untuk turnamen antar sekolah nanti. Aku tau kalau Dicky adalah pemain penyerang di tim futsal sekolah kami. Aku pikir, aku bisa melihat Dicky main futsal. Aku bahkan membayangkan betapa kerennya Dicky menendang bola, aku juga akan bersorak menyebutkan namanya bila perlu. Tapi, itu tidak terjadi. Tidak ada yang main futsal disana. Kalau aku tau jadi seperti ini, lebih baik aku ke kantin sambil makan somay.
"Membosankan." ucapku pelan.
"Kamu ini gimana dit, gak ada yang main futsal disini." ucap Melyn.
"Ya, kamu bohongin kami, lihat tuh Rissa, padahal dia udah semangat banget tadi mau lihat Dicky main futsal." ucap Anis.
"Hem, kita main jamuran aja yuk." ajak Melyn.
"Jamuran?, apa itu." tanyaku.
"Kamu tidak tau." ucap Melyn.
"Nggak." ucapku.
"Hem, bagaimana ya jelasinya ya." ucap Melyn.
"Permainan jemuran itu ya, misal kita berempat suit, terus aku Anis kalah, dia jadi jamurnya, kita bertiga pegangan tangan mengelilingi Anis sambil nyanyi, terus aku teriak jamur patung, kita semua harus jadi patung, kalau gerak berarti dia kalah, gantiin Anis jadi jamur." jelas Dodit.
"Oh, kayaknya seru." ucapku.
"Ya seru, apalagi ajak anak-anak yang lain." ucap Anis.
"Ya, panggil anak-anak yang lain nis." ucap Melyn.
"Dimas main jamuran yuk." teriak Anis memanggil temannya.
"Ya, baiklah, aku panggil yang lain ya." ucap Dimas.
"Ya, kami tunggu sini." ucap Melyn.
Setelah beberapa saat kemudian. Kami pun sudah siap untuk bermain jamuran. Ada sekitar sepuluh anak yang ikut bermain termasuk aku. empat anak laki-laki dan enam anak perempuan. Biar adil siapa yang jadi jamur. Kami semua suit dan Angga yang jadi jamurnya. Dia teman ke sekelasku. Saat kami ingin mulai tiba-tiba Dicky datang.
"Ikutan boleh." ucapnya.
"Ya boleh, ikut aja." ucap Melyn.
"Ya sudah, kamu jadi jamur nya." ucap Dodit dengan nada bicara kurang mengenakan.
"Gak pa-pa aku aja yang jadi jamur nya." ucap Angga.
"Ya sudah, ayo-ayo nanti bel masuk lagi." ucap Dinda.
__ADS_1
"Ayo." ucap anak-anak lain.
Dicky langsung memegang tanganku. Melyn yang melihat itu langsung bersorak. Begitu juga anak-anak yang lain.
"Cie, cie." sorak anak-anak. Seketika kami berdua melepaskan tangan kami. Aku jadi malu, aku menutup wajahku dengan tanganku. Aku yakin wajahku memerah. Pegangan tangan, suatu hal sederhana yang sering aku dan Dicky lakukan saat bersama. Aku suka saat berpegangan tangan bersama Dicky. Aku merasa tangannya tercipta hanya untuk diriku. Tapi, aku juga tau ada seseorang yang tidak senang dengan hal itu, yaitu Dodit.
***
Setelah jam pelajaran berakhir. Aku duduk di taman belakang sekolah menunggu ayah jemput aku. Aku sendirian disana. Semua teman-temanku sudah pada pulang. Sesekali aku pandangin pohon mangga yang sudah banyak buahnya. Kalau ada Dodit, dia pasti akan memanjat pohon itu. Tak lama kemudian, Dicky datang, dia berjalan menghampiriku. Aku kira Dicky sudah pulang. Karena sebelumnya aku tidak menemukan dirinya di kelasnya.
"Apa yang kamu lakukan disini?." tanya nya sambil berdiri di depan ku.
"Nunggu ayah jemput." ucapku.
"Kamu mau ikut makan bakso sama ayah." ajak ku. Mengingat aku dan ayah berencana akan makan bakso setelah pulang sekolah.
"Aku ada jadwal futsal, bentar lagi turnamen antar sekolah." ucapnya
"Kapan selesainya?." tanyaku
"Uhm, mungkin sampai sore." ucapnya
"Lain kali ya." ucapnya lagi.
"Pilih." ucapku.
"Maksudnya?." tanyanya.
"Pilih aku atau futsal." ucapku
"Haha, apa yang kamu katakan." ucapnya.
"Kok gitu, aku ingin menghabiskan banyak waktu bersamamu." ucapku.
"Aku gak bisa hari ini Ris, maaf." ucapnya. Aku diam sebentar sambil menatapnya.
"Iya udah, gak pa-pa." ucapku.
Entah kenapa aku bisa mengatakan hal itu pada Dicky. Rasanya lucu, mengingat saat itu aku masih berusia 10 tahun. Pantas saja Dicky ketawa saat itu. Tapi, saat itu, aku jadi tau bagaimana rasa gak enaknya di tolak.
"Aku temani kamu sampai ayah kamu datang." ucapnya sambil duduk disebelah ku.
"Bukannya tadi kamu bilang mau futsal." ucapku.
"Belum mulai, masih sepi di lapangan." ucapnya.
"Jangan disini, ayah kamu pasti nyariin kamu, kita ke depan yuk." ucapnya. Aku hanya diam, masih bete karena ajak ku makan bakso dia tolak.
"Ayo." ucapnya sambil memegang tanganku membawaku pergi.
"Mau kemana?." tanyaku.
"Ke depan." ucapnya.
"Tunggu disini aja, kalau kamu nunggu ayah jemput, kalau di taman belakang, ayah kamu gak tau." ucapnya saat sudah berada di pos satpam sekolah. Aku diam.
"Kamu tau, pohon mangga itu, ada penunggunya, nanti kamu digangguinnya bagaimana." ucapnya.
"Kamu bohong, kamu hanya menakuti-nakuti aku aja." ucapku.
"Kenapa wajahnya kayak itu." ucapnya.
"Gak tau." ucapku tanpa menoleh ke arahnya.
"Rissa, aku benar-benar gak bisa hari ini, besok aja ya." ucapnya.
"Aku maunya hari ini." ucapku.
"Ya, hari ini kamu sama ayah dulu, besok sama aku, aku yang traktir." ucapnya. Aku menoleh melihatnya sebentar.
"Aku-" ucapan ku terpotong karena Dicky tiba-tiba mencium pipiku kananku. Aku terdiam berusaha mencerna apa yang terjadi. Aku berulang kali menelan air liurku. Jantungku saja berdetak tak karuan saat dia pegang tanganku apalagi dia menciumku seperti itu, rasanya jantungku ingin lepas.
Apa begini rasanya!
--oo--
__ADS_1