Kamu Yang Aku Rindu

Kamu Yang Aku Rindu
Dia pindah


__ADS_3

Satu bulan berlalu. Hubungan Aku dan Dicky semakin lama semakin dekat. Setiap hari kami selalu bersama. Pergi sekolah bareng dengan sepeda, buat tugas sekolah bareng. Dan malamnya, Dicky meneleponku hanya untuk mengatakan selamat tidur kepadaku. Begitu indah malamku saat bicara bersama Dicky sebelum tidur. Bahkan keluarga kami pun semakin akrab. Tapi itu tidak bertahan lama. Dicky akan pindah rumah.


Jujur, mendengar kabar itu membuatku sangat sedih. Aku tak ingin dia pergi. Aku ingin terus bersamanya. Aku tidak bisa membayangkan jika Dicky benar-benar pergi. Bagaimana dengan hariku nanti tanpanya. Haruskah aku menangis dan bilang pada tante yanti untuk tidak usah pindah. Meskipun dia hanya pindah rumah. Aku masih bisa bertemu dengannya di sekolah. Tapi waktu disekolah sangat singkat. Kelas aku dan Dicky juga berbeda. Waktu jam istirahat pun hanya 15 menit. Aku juga tidak bisa pulang sekolah barsamanya lagi.


***


2 hari sebelum Dicky pindah. Aku dan Dicky sedang duduk di ayunan yang ada di halaman rumahnya. Sedih?, jelas aku sedih. Teman yang sangat aku sayangin akan pindah rumah. Teman yang selalu ada untuku, akan pergi.


"Dicky." ucapku.


"Iya."


"Jangan pergi." ucapku.


"Aku gak pergi, aku masih disini, dikota yang sama, hanya rumahnya gak disini lagi." ucapnya sambil menatapku yang ingin menangis.


"Kan kita masih bisa bertemu disekolah." ucapnya lagi.


"Ya, tapi kan aku gak bisa main lagi sama kamu." ucapku. Dia tersenyum menatapku


"Bisa."


"Caranya."


"Aku akan sering main ke rumahmu."


"Benar ya, janji." ucapku sambil mengacungkan jari kelingkingku.


"Aku janji." ucap Dicky sambil mengaitkan jari kelingkingnya dijari kelingkingku.


"Ke rumah Melyn yuk, mereka pasti udah nunggu kita." ucapnya. Aku cuman mengangguk.


Aku dan Dicky dengan sepeda kami pergi menuju rumah Melyn. Disana sudah ada Anis dan juga Dodit.


Permusuhan yang terjadi antara Dodit dan Dicky akhirnya sedikit membaik. Mereka sudah berbaikan, walau tanpa kehadiran aku saat mereka berbaikan. Aku tau dari Melyn, dia yang memberitahuku bahwa Dodit sudah minta maaf atas sikapnya. Dan Dicky pun sudah memaafkannya. Itu sudah cukup membuatku senang.


Hari itu kami sedang membuat acara kecil-kecilan untuk perpisahan Dicky. Cuman acara makan rujak yang buahnya kami ambil dari taman belakang sekolah.


"Akhirnya kalian datang juga, ini udah siap." ucap Anis.


"Kamu yang nyiapi ini?." tanyaku.


"Gak, nenek ku." jawab Melyn.


"Hahaha."


"Melyn mana bisalah, dia kan cuman bisa makan, apalagi Anis." ucap Dodit.


"Hahaha."


"Nenek ku tadi tanya, buah mangga ini dapet dari mana, ya aku jawab, beli nek patungan." ucap Melyn.


"Padahal kita ambil di taman belakang sekolah." ucap Anis.


"Hahaha."


"Emang gini nih, temen gak ada yang bener." ucap Dodit.


"Hah, kayak dirinya bener aja." ucap Anis.


"Hahaha."


Setelah acara makan rujak selesai. Kami semua bersepeda bersama. Aku sama sekali tidak bersemangat. Aku tidak tau harus senang atau sedih. Tapi aku menikmati setiap moment bersama Dicky sebelum dia benar-benar pindah.


***

__ADS_1


Esok harinya. Di sekolah aku duduk sendiri termenung di kursi taman belakang sekolah. Sekolah sudah mulai sepi, ditinggal oleh siswa yang sudah pulang. Tadinya Melyn mengajak aku pulang bareng, tapi aku menyuruhnya untuk pulang duluan. Aku masih ingin disini sambil menunggu Ayah menjemputku.


Kusandarkan kepalaku dikursi sambil melihat pohon mangga yang menjadi awal aku dan Dicky berkenalan. Aku tersenyum. Tak lama kemudian, terdengar suara orang yang memanggilku. Suara itu tidak asing ditelingaku. Aku menoleh dan benar itu Dicky.


"Kenapa masih disini?." tanyanya.


"Nunggu ayah jemput." jawabku.


"Aku temani ya." ucapnya. Aku mengangguk.


"Ada apa?, kamu terlihat sedih." ucapnya. Aku diam.


"Kamu sakit." ucapnya sambil mengecek suhu keningku.


"Nggak." ucapku.


"Terus kamu kenapa?." tanyanya.


"Cuman capek aja." jawabku.


"Kamu kenapa masih disini, bukannya kamu mau siap-siap pindah rumah." ucapku.


"Aku mau masih disini, menemanimu sampai ayahmu datang." ucapnya tanpa menatapku.


"Nanti kamu ditinggalin, aku gak pa-pa disini." ucapku.


"Gak, aku mau disini." ucapnya.


"Pergi aja sana, biar aku disini, bentar lagi ayah datang." ucapku.


"NGGAK." ucapnya sedikit membentakku. Aku terdiam. Dan perlahan aku mulai menangis menatapnya.


"Rissa." ucapnya sambil mendekat padaku. Aku seketika memeluknya sambil menangis.


"Bisakah kamu tidak usah ikut pergi." ucapku.


"Aku akan sering-sering menemuimu disekolah, aku akan datang pagi-pagi agar bisa melihatmu, saat jam istirahat, aku akan pergi ke kantin dan makan bersamamu, pulang sekolah, aku akan mengantarkanmu pulang." ucapnya. Aku tertawa kecil sambil menangis, memeluknya erat.


"Sudah, jangan nangis lagi, nanti wajahmu jadi jelek, kan sayang kalau kamu jadi jelek." ucapnya mencoba menghiburku sambil menghapus air mataku. Aku pun tertawa dan berhenti menangis.


"Kita nunggu di pos depan aja, disini kita nggak tau ayah kamu udah datang atau belum." ucapnya. Aku tersenyum dan menganggukkan kepala.


Sambil berpegangan tangan, aku dan Dicky berjalan menuju pos sekolah. Saat tiba disana ternyata ayah sudah sampai. Ayah berdiri di samping mobil sambil tersenyum melihatku.


"Ayah." ucapku. Aku lantas berlari ke ayahku dan memeluknya.


"Uh, putri tersayang ayah." ucap Ayah menggendongku sebentar dan kemudian menurunkanku. Aku yakin pinggang ayah terasa sakit saat itu, karena aku semakin tumbuh dan semakin berat untuk digendong.


"Nak, kamu habis nangis ya." ucap Ayah sambil mengelus pipiku. Aku terdiam.


"Ini pasti karena ayah lama jemput, kamu pasti ketakutan nunggu ayah disini, maaf ya sayang." ucap Ayah.


"Nggak Ayah, ada Dicky yang temani aku." ucapku sambil tersenyum.


"Terima kasih ya Dicky, udah temani Rissa." ucap Ayah tersenyum sambil menatap Dicky yang berdiri disebelahku.


"Sama-sama om." ucapnya.


"Ayo kita pulang, Dicky kamu ikut juga ya." ucap Ayah.


"Maaf om, Dicky bawa sepeda." ucapnya.


"Oh ya sudah, kamu hati-hati dijalan ya."


"Iya om."

__ADS_1


"Aku akan tunggu dirumah." ucapku sebelum masuk ke dalam mobil. Dicky tersenyum mengangguk.


"Daah." ucapku.


"Daah." ucapnya. Aku tersenyum dan masuk kedalam mobil.


***


Dirumah, aku membantu ibu membuat kue. Kue itu ingin kami berikan pada Dicky dan keluarga, sebagai bekal mereka dijalan. Walau aku sibuk membantu ibu, tetapi pikiran dan perasaanku masih sama.


Saat ibu meminta tolong padaku untuk mengambilkan nampan kue di sebelahku, aku saja tidak mendengarnya. Aku terkadang melamun dan itu membuat ibuku cemas dengan kesehatanku.


Sorenya, sekitar pukul setengah lima sore. Dicky dan keluarga mampir ke rumah untuk berpamitan kepada kami.


"Udah mau berangkat?." tanya Ayah.


"Iya." jawab Ayah Dicky.


"Ini." ucap Ibu sambil memberikan keranjang berisi kue.


"Apa ini?." tanya Ibu Dicky.


"Bekal dijalan." ucap Ibu sambil tersenyum.


"Aduh, jadi ngerepoti." ucap Ibu Dicky.


"Gak kok jeng." ucap Ibu.


"Kami pamit ya, maaf kalau ada kata-kata yang kurang mengenakan." ucap Ayah Dicky sambil bersalaman dengan Ayahku.


"Iya sama-sama, kami minta maaf juga." ucap Ayah. Sedangkan ibuku dan Ibu Dicky berpelukan. Aku hanya bisa tersenyum memperhatikan mereka.


"Ris." panggil Dicky.


"Ya." jawabku.


"Aku pamit ya, sampai jumpa di sekolah." ucapnya sambil tersenyum.


"Iya." ucapku sambil menahan air mata.


"Jangan nangis." ucapnya berbisik. Aku mengangguk.


"Sering-sering main ke sini ya." ucap Ibu.


"Insya Allah." ucap Ibu Dicky.


"Dicky, ayo." ucap Ibu Dicky.


"Dicky pamit ya, tante om." ucap Dicky sambil mencium tangan ibu dan ayahku.


"Main-main kesini ya, temani Rissa." ucap Ayah.


"Iya om." ucapnya sambil menatapku.


Aku tersenyum dengan air mataku yang segera ingin jatuh. Dicky yang melihatku, menggelengkan kepalanya, memberi kode kepadaku untuk jangan menangis. Sebisa mungkin aku tahan, agar tidak menangis. Tak lupa aku juga mencium tangan Ibu dan Ayahnya Dicky.


"Tante pasti kangen sama Rissa." ucap Ibu Dicky sambil memelukku erat. Aku hanya tersenyum dipelukannya.


"Kami pergi ya." ucap Ayah Dicky.


"Ya, hati-hati dijalan." ucap Ayah.


"Assalamualaikum."


"Walaikumsalam."

__ADS_1


Mengenangnya hari ini, mungkin aku bisa tersenyum bahkan tertawa, tapi itu lah hariku, hari dimana aku merasa sedih.


--oo--


__ADS_2