
Sore itu, di jakarta, pada tanggal 5 Juni 2010, setelah turun hujan, aku berjalan keluar rumahku dan menghampiri bunga mawar merah yang aku tanam bersama ibu dihalaman depan.
"Yah, rose, kamu mandi hujan." ucapku polos sambil mengelus kelopak bunga mawar.
Aku tersenyum sambil mencium harumnya bunga mawar yang aku beri nama rose. Aku suka sekali bunga apalagi bunga mawar berwarna merah meskipun batangnya berduri.
Saat aku melihat-lihat rose. Tanpa sengaja aku melihat seorang anak lelaki tampan berusia 10 tahun sama dengan usiaku saat itu. Dia sedang berdiri sambil tersenyum diteras rumahnya yang berada tepat didepan rumahku. Sepertinya, dia memperhatikanku dari tadi. Aku hanya diam menatapnya heran. Meskipun saat itu sudah hampir satu minggu aku disana. Aku tidak mengenalnya, betul-betul gak tahu, baru kali itu aku melihatnya.
Siapa dia?
"Hai." Sapanya sambil melambaikan tangannya padaku.
Aku diam melihatnya. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, haruskah aku tersenyum dan menyapanya juga. Tapi aku tidak mengenalnya. Dari arah belakang. Kudengar suara Ibu memanggilku.
"Rissa, ayo masuk, mandi, udah sore." teriak ibu dari teras.
"Iya bu." kujawab.
Aku segera berlari masuk kedalam rumah. Aku tidak peduli dengan apa yang di pikirkannya. Aku tau, dia pasti ingin mengajakku berkenalan. Secara dia baru pertama melihatku sama seperti aku yang baru melihatnya. Pasti dia berpikir kalau aku ini sombong. Aku pergi begitu aja tanpa mengatakan apapun.
Sebenarnya ada sedikit rasa penyesalan dalam diriku. Karena tidak ada kesan baik dariku kepadanya. Harusnya aku tadi melambaikan tangan kepadanya, setidaknya aku tersenyum sebelum masuk kedalam. Terus bagaimana ini? Haruskah aku keluar dan menemuinya. Bagus kalau dia masih ada disana, kalau dia sudah masuk ke rumahnya, aku harus panggil siapa? Aku kan kenal sama dia. Didapur, sebelum masuk ke kamar mandi. Aku lihat Ibu sedang menuangkan air panas dicangkir. Dia sedang membuat kopi untuk Ayah yang sebentar lagi akan pulang. Lebih baik aku cerita sama ibu, siapa tau dia tau orang yang tinggal di depan rumah kami.
"Bu." ucapku pada ibu sebelum masuk kamar mandi.
"Iya sayang." jawab ibu.
"Siapa yang tinggal dirumah yang didapan rumah kita?." tanyaku.
"Kata ayah, yang tinggal di rumah depan, namanya pak Rahmad, dia baru pulang liburan bersama keluarganya, kenapa?." tanya ibu sambil menoleh kearahku.
"Aku tadi melihat anak cowok dirumah itu, tapi aku gak tau, itu siapa."
"Mungkin itu anaknya, ibu belum sempat berkunjung kesana dan berkenalan dengan mereka." ucap ibu sambil menaruh secangkir kopi di atas meja makan.
Beberapa saat kemudian terdengar suara bel. Aku tau itu pasti ayah yang baru pulang dari kantor. Aku langsung berlari secepat mungkin sambil berteriak memanggil,
"Ayah."
Aku membukakan pintu dan langsung memeluk ayah yang berdiri didepan pintu sambil tersenyum.
__ADS_1
"Ayah." ucapku dipelukan ayah.
"Anak ayah yang cantik." ucap ayah sambil mengendongku.
"Tapi, belum mandi." ucap ibu. Aku tertawa.
"Uhm, pantes dari tadi bau asem." ucap Ayah menggodaku.
"Ayah." Aku cemburut. Sedangkan ayah dan ibuku tertawa.
"Ayo sana mandi." ucap Ayah.
"Okay." ucapku. Segera aku berlari menuju kamar mandi.
***
Malamnya. Setelah makan malam dengan nasi goreng spesial buatan Ibuku. Aku menyiapkan keperluanku sekolah besok. Mulai dari buku yang mau dipelajari besok, pensil, penghapus, penggaris dan lain-lainnya. Aku masukkan semuanya ke dalam tas pinkku.
Setelah itu, aku menemui ayah di kamar. Ku lihat ayah tengah mengerjakan tugas kantornya sambil bersandar dikepala tempat tidur. Aku berdiri di dekat pintu. Aku ingin masuk. Tapi, sepertinya ayah sibuk. Aku tak ingin menganggunya.
"Rissa, kenapa disana, ayo masuk." ucap ayah sambil fokus menatap layar laptopnya.
Karena ayah menyuruhku masuk. Aku pun masuk dan berdiri disamping ayah.
"Iya nih, ayah lagi urus laporan buat besok, kenapa?."
Aku diam.
"Mau cerita ya." ucap Ayah menatapku. Aku senyum.
"Iya." ucapku.
"Ayo duduk sini." ucap ayah sambil mengangkatku duduk di sebelahnya.
"Kenapa?, coba cerita sama ayah." tanya ayah.
"Tadi sore, Rissa lihat anak cowok di rumah yang di depan kita itu." ucapku
"Terus?." ucap ayah.
__ADS_1
"Dia sapa Rissa, tapi Rissa cuek, boleh gak seperti itu." ucapku.
"Rissa, kalau ada orang yang menyapa Rissa, baik orang tua ataupun teman-teman Rissa, Rissa harus sapa balik, gak boleh kayak gitu, nanti Rissa di bilang sombong, terus gak ada yang mau berteman sama Rissa." ucap ayah. Aku diam menatap ayah dengan raut wajah sedih. Ayahku tersenyum.
"Gak pa-pa sayang, nanti, kalau Rissa ketemu lagi sama anak cowok itu, Rissa harus sapa dia, mungkin dia mau berteman dengan Rissa." ucap ayah. Aku masih seperti tadi.
"Sudah ahh, jangan kayak itu mukanya." ucap ayah sambil memeluk gemasku.
"Sudah negerjain PR?." tanya ayah.
"Sudah." ucapku.
"Bagus, anak pintar." ucap ayah sambil memeluk dan mencium kepalaku.
Dalam pikiranku, aku masih penasaran dengan anak lelaki yang aku lihat sore tadi. Aku penasaran dengan namanya. Aku juga ingin berteman dan bermain dengannya. Benar yang dikatakan ayah, kalau seadainya aku bertemu dengannya lagi. Aku tidak boleh bersikap cuek seperti itu.
Di ruang tamu, aku dan ayah menemani ibu nonton sinetron kesayangannya. Kalo gak salah judulnya kesetiaan cinta. Tentang pelakor-pelakor gitu. Aku tidak begitu mengerti dengan alur cerita itu. Aku cuman nonton-nonton aja, karena tak ada hal yang aku kerjakan. Dan aku rasa sinetron itu sebenarnya tidak cocok untuk seusiaku. Tapi itu sinetron kesukaan ibu, ya, mau gimana lagi. Tvnya cuman ada satu dan ini sudah larut malam gak ada film kartun di jam segitu.
Karena jam tayangnya berada di jam tidurku. Mataku sudah tidak bisa menahannya lagi. Rasanya mata ini berat sekali untuk menatap tv. Ini sudah jamnya aku istirahat, terlebih lagi besok aku sekolah. Tapi aku malas berjalan ke kamar. Aku membaringkan kepalaku di paha ayah. Ayah mengelus lembut kepalaku. Itu membuatku semakin mengantuk.
"Rissa ngantuk?." tanya Ayah. Aku diam sambil sesekali memejamkan mataku.
"Tidurlah nak di kamar, besok mau sekolah." ucap Ayah. Aku menguap.
"Bentar lagi." ucapku.
"Besok mau sekolah nak, ayo ke kamar, tidur." ucap Ibu. Aku tetap diam ditempatku.
"Buku pelajaran sudah disiapi?." tanya ayah.
"Sudah." jawabku pelan.
"Yaudah, sekarang Rissa tidur sana, besok mau sekolah." ucap Ayah.
"Iya." ucapku, beranjak menuju kamarku.
Dikamar. Aku tidur diatas kasurku yang berseprai warna pink. Pink adalah warna kesukaanku, itu sebabnya interior kamar ku semuanya berwarna pink.
Disaat aku terlelap tidur. Terdengar suara pintu terbuka yang membuatku terbangun. Namun aku tetap pada posisiku. Dengan mata setengah terbuka, aku melihat ayah berjalan mendekatiku. Dia duduk di sebelahku. Ayah mengelus lembut kepalaku sambil mengatakan:
__ADS_1
"Anak kesayangan ayah." ucapnya. Perlahan aku tertidur saat ayah memberikan kecupan kasih sayangnya dipipiku.
--oo--