Kamu Yang Aku Rindu

Kamu Yang Aku Rindu
Jangan Salahkan Dia


__ADS_3

Aku terbangun mendengar suara ibu memanggilku lembut. Aku mengerjap-ngerjapkan mata melihat jam dinding. Ternyata jarum menunjukan pukul sembilan pagi.


Setelah kejadian di kolam. Aku langsung ke kamarku. Aku hampir tidak bisa tidur, memikirkan Dicky dan juga Iqbal. Aku bingung dihadapkan dengan perasaan yang tumbuh diantara mereka. Aku tidak bisa memilih, tapi aku juga tidak ingin kehilangan mereka.


"Sayang, kok gak turun sarapan." ucap Ibu sambil duduk di atas kasur. Aku bangun dan duduk menghadap Ibu.


"Kamu sakit sayang, heh." ucap Ibu sambil memeriksa keningku dengan tangannya.


"Gak buk, rissa cuman kecapekan aja, semalam kan rissa bersenang-senang sama temen-temen." ucapku.


"Ya udah, nih, ibu bawa sarapan buat rissa." ucap Ibuku.


Ibu membawakan ku nasi goreng dan segelas air putih. Tak tertinggal tablet vitamin yang harus aku minum setiap pagi.


"Rissa makan ya, ibu mau beres-beres pakaian rissa, kan hari ini kita pulang." ucap Ibuku. Aku hanya mengangguk dan memakan sarapan yang telah dibawakan oleh Ibu tadi.


"Semalam rissa sama teman-teman ngapain aja sih." tanya Ibu sambil mengemasi barang-barang ku.


"Bakar jagung, nyanyi-nyanyi di depan api unggun, foto-foto, terus Iqbal ngajak rissa jalan keluar." ucapku.


"Kemana?." tanya Ibu.


"Gak tau, tapi bu, tempat nya itu bagus banget, bisa liat rumah penduduk dari sana." ucapku.


"Oh ya, romantis dong." ucap Ibu bercanda.


"Hehehe."


"Ibu cuci pakaian dulu, itu udah ibu siapin baju rissa." ucap Ibu. Aku mengangguk tersenyum pada Ibu.


Saat Ibu ingin keluar kamarku, di saat bersamaan Iqbal datang tanpa mengetuk dan membuat Ibu hampir terlonjak kaget karena Iqbal.


"Iqbal." tegas Ibu.


"Eh tante." ucap Iqbal tidak enak.


"Ngapain tante disini." ucap Iqbal.


"Kamu yang ngapain ke kamar anak tante." ucap Ibu. Iqbal hanya menggaruk kepalanya. Aku hanya tersenyum menahan tawa melihat Iqbal seperti itu.


"Kamu bikin kaget aja, ketuk pintu dulu apa." ucap Ibuku.


"Maaf tante, kirain rissa belum bangun." ucap Iqbal.


"Kamu ini ada-ada aja." ucap Ibu. Iqbal hanya tersenyum.


"Tante mau kemana?." ucap Iqbal.


"Oh ya jadi lupa, tante mau cuci baju." ucap ibu.


"Ya udah tante, silahkan tante, nanti kesiangan." ucap Iqbal sambil menjauh dari pintu.


"Kamu ini ya Iqbal." ucap Ibuku kesal.


"Hahaha." aku ketawa.


"Ya udah, kamu jaga rissa, pastiin makanannya habis." ucap Ibu.


"Siap tante." ucap Iqbal sambil memberi hormat.


"Iqbal, Iqbal." ucap Ibu sambil pergi.

__ADS_1


Seperti itulah Iqbal, gokil orangnya menurutku. Ini juga salah satu sikap terbalik dari sikap Dicky, Dicky terkesan serius, ya kan. Kalian pasti menyadarinya.


Iqbal tersenyum ke arahku. Sementara aku tertawa melihat tingkahnya.


"Hahaha."


"Ketawa terus, puas." ucapnya sambil mendekatiku. Iqbal duduk di atas kasur menghadap diriku.


"Ayo habiskan makananmu, jangan ketawa terus." ucapnya.


"Iya iqbal bawel." ucapku.


"Hahaha."


"Semalam kamu kemana, aku nyariin kamu." ucapnya. Seketika aku menghentikan kegiatanku mengunyah makanan.


Bagaimana ini! Alasan apa yang harus aku buat!


"Hem..."


"Ke toilet." ucapku.


"Iya aku tau, tapi aku udah cari kamu di toilet bawah." ucapnya.


"Toilet kamar." ucapku mencari alasan.


"Aku udah juga cari kamu di toilet kamar kamu." ucapnya.


"Hem, bukan toilet kamar ini, di..." ucapku mikir.


"Di kamar ibu, ya, aku kan takut sendirian ke toilet, jadi aku ke kamar ibu." ucapku.


"Aku kan udah tanya, mau ditemani gak, gak usah kata kamu." ucapnya.


"Ya gak pa-apa, aku cuma khawatir, kamu gak ke taman belakang lagi, itu sebabnya aku cariin kamu, takut kamu ada apa-apa." ucapnya. Aku diam.


Aku benar-benar merasa bersalah pada Iqbal. Iqbal selalu memikirkan keadaanku. Tapi, aku malah tidak memikirkannya apalagi perasaannya. Aku sudah egois dan berbohong padanya. Ingin aku mengatakan padanya apa yang terjadi diantara aku dan Dicky, namun aku tidak bisa.


Maaf Iqbal aku selingkuh!


***


Sekitar jam setengah satu siang. Aku turun ke bawah untuk makan siang bersama di taman belakang, tempat kami merayakan tahun baru semalam. Karena masih banyak stok makanan tahun baru semalam yang tersisa. Daripada mubazir, jadi kami membuat acara barbeque kecil-kecillan di taman belakang Villa. Dan hari ini adalah hari terakhir kami di puncak.


Saat aku menuruni tangga, tanpa sengaja aku berpapasan dengan Dicky yang ingin naik ke atas. Aku terdiam menghentikan langkahku. Begitu juga Dicky diam.


Sekilas kenangan di kolam semalam muncul di otak ku. Jantungku mulai berdegup kencang. Aku berusaha mengendalikan diriku untuk bersikap tenang.


Aku melanjutkan langkahku menuruni anak tangga. Ku coba tersenyum pada Dicky, walaupun sudut bibirku terasa kaku dan rasanya wajahku ingin sekali menunduk didepannya. Dicky hanya diam ditempatnya.


Tiba-tiba tangan Dicky memegang tanganku saat aku ingin melewatinya. Aku terkejut. Aku melihat ke arah tanganku. Lalu Dicky melepaskannya.


"Kenapa?." ucapku sambil memastikan tidak ada orang melihat.


"Ris." ucap Dicky. Aku menatap Dicky bingung.


"Iya."


"Kamu dan Iqbal ada masalah." ucap Dicky.


"Masalah?." ucapku bingung.

__ADS_1


"Nggak." ucapku lagi.


"Emangnya kenapa?." tanyaku.


"Gak pa-pa." ucap Dicky sambil tersenyum tipis. Dicky mengelus rambutku, lalu dia naik ke atas.


Sebenarnya apa yang di maksud Dicky. Ada masalah apa aku dengan Iqbal. Aku bingung, aku dan Iqbal baik-baik saja.


Aku memperhatikan Dicky dari belakang dan melihat siku tangannya terluka. Lukanya tidak parah, tapi ada sedikit darah yang mengalir. Dalam hati aku bertanya-tanya dari mana dia mendapat luka itu. Aku ingin bertanya, tapi tidak sempat, karena aku melihat Iqbal datang dari pintu utama.


"Iqbal." panggilku.


Iqbal menghentikan langkahnya saat melihatku. Seperti biasa dia tersenyum.


Sedikit aneh melihat tampilan Iqbal. Maksudku senyumannya. Dia tersenyum padaku, tapi senyuman terasa seperti menahan amarah, tidak seperti senyuman manis Iqbal untukku. Dan Iqbal hanya diam ditempat sambil menyimpan tangannya di belakang tubuhnya.


"Kamu habis dari mana?." tanya ku sambil berjalan mendekatinya.


"Dari luar." ucap Iqbal.


"Kok gak ajak." ucapku. Iqbal diam.


"Ya udah, kamu lapar gak, kita kebelakang yuk, nanti steak nya habis dimakan temen-temen, jadi kita kebagian deh." ucapku. Saat aku memegang tangannya. Iqbal merintih kesakitan.


"Kamu kenapa?." tanyaku cemas. Aku melihat tangan Iqbal yang terluka, seperti habis memukul sesuatu yang keras. Di saat itu, aku juga mengingat luka di siku tangan Dicky. Otakku mulai berpikir bahwa Iqbal dan Dicky habis berantem. Ya, aku tidak tahu pasti. Tapi aku yakin ini ada kaitannya.


"Kamu berantem sama Dicky, ya." tegas ku.


"Kenapa?." tanyaku. Iqbal diam.


"Iqbal, Dicky itu la-."


"DICKY, DICKY, DICKY TERUS YANG KAMU BELAIAN RIS." tegas Iqbal.


"Bukan gitu bal, kamu gak tau dia sa-."


"Aku tau, aku tau kamu sama dia di kolam ngapain semalam." tegas Iqbal.


Ucapan Iqbal sontak membuatku kaget. Mulutku seolah-olah terbukam. Aku tidak tahu harus mengatakan apa padanya.


"PACAR KAMU INI, LIHAT DENGAN JELAS APA YANG KAMU LAKUKAN." tegas Iqbal. Aku terdiam dengan air mata yang tertahan.


"Bagaimana ris, enakan ciuman yang mana, denganku atau dengan dia, hah." ucapnya.


Seketika aku menangis, mendengar ucapan Iqbal itu. Terasa sangat menusuk di jantungku.


"Aku mau tanya sama kamu, pernah gak kamu mikirin aku sekali aja ris." ucapnya.


"Iqbal, maafin aku." ucapku memohon.


"Karena dia, kamu sekarang udah pinter bohongin aku ris." tegas Iqbal.


"Jangan salahkan dia, dia gak salah." ucapku.


"Aku yang salah, seharusnya aku gak kesana." ucapku sambil sesegukan.


"Gak ris, aku yang salah, salah karena aku tau itu terjadi." ucap Iqbal.


Setelah mengatakan itu, Iqbal berlalu meninggalkanku menangis. Aku benar-benar drop setelah kejadian itu.


Perasaan cintaku sekarang tidak ada apa-apanya dengan perasaan bersalahku pada Iqbal yang sungguh besar. Aku jahat. Aku telah membuat orang yang selalu bersama dan menemaniku kecewa.

__ADS_1


Aku harus bagaimana bal! Tolong maafin aku!


--oo--


__ADS_2