
Sekitar pukul 8 malam. Saat aku sedang asik baca majalah bobo sambil tiduran dikasur. Ibu datang ke kamarku, dia memberi tau, kalau Dicky menelepon. Kata ibu, Dicky ingin bicara denganku. Aku heran, tumben sekali Dicky menelpon. Kenapa? Apa ada yang mau dibicarakannya. Tapi kan bisa besok pagi bicaranya, ini sudah malam.
Dengan perasaan bingung, aku duduk disofa dekat meja telepon dan menjawab telepon yang dari tadi sudah tersambung.
"Hallo." ucapku pelan sambil lihat ke arah ibuku yang lagi duduk di sofa. Ibu tersenyum padaku.
"Rissa." ucapnya.
"Iya."
"Hemm." ucapnya.
"Kenapa ky?." tanyaku.
"Hem, bagaimana luka di kakimu?."
"Udah mendingan, diobati sama ibu."
"Ohh, baguslah."
"Iya."
"Kamu lagi apa?." tanyaku.
"Duduk sambil teleponan sama kamu." ucapnya.
"Hahaha."
"Kamu?."
"Tadinya aku mau tidur, tapi gak jadi."
"Kenapa, karena aku yang telepon."
"Iya."
"Jadi aku ganggu nih."
"Gak kok, aku belum ngantuk."
"Sama."
"Sama kenapa?." tanyaku heran.
"Ya sama-sama belum ngantuk."
"Hahaha."
"Ris, aku minta maaf soal tadi aku berantem sama Dodit." ucapnya.
"Kenapa kamu minta maaf ke aku?."
"Iya, karena aku buat kamu marah."
"Gak kok, gak pa-pa, tapi kamu jangan berantem lagi sama Dodit."
"Ya."
"Jangan dengerin apa yang Dodit bilang."
"Ya Ris."
"Janji ya." ucapku.
"Janji." ucapnya.
"Ya udah Ris, kamu tidur gih, sudah malam."
ucapnya.
__ADS_1
"Kamu juga."
"Kamu besok mau ikut gak, Melyn ngajak main sepeda lagi." ucapnya.
"Iya mau."
"Besok sore aku jemput."
"Iya."
"Dah Rissa kamu tidur ya, mimpi indah." ucapnya.
"Iya, kamu juga." ucapku.
"Assalamualaikum."
"Walaikumsalam."
Setelah itu. Aku duduk sambil meluk boneka yang aku bawa dari kamar. Aku memikirkan saat-saat aku bicara dengan Dicky tadi. Ini pertama kali aku teleponan dengan sesorang apalagi itu adalah Dicky. Aneh memang rasanya. Aku jadi senyum-senyum sendiri dibuatnya. Aku gak tahu aku kenapa. Ada rasa senang didalam diriku. Aku tak henti-hentinya tersenyum bahkan ingin tertawa.
"Sudah apelnya." tanya Ibu.
"Eh ibu, hehe." ucapku malu. Ibu senyum. Dia berdiri dan berjalan mendekatiku.
"Aduh, anak ibu sudah gede ternyata, sudah bisa malem mingguan." ucapnya sambil duduk disebelahku.
"Hahaha, ibu."
"Bicara apa sama Dicky tadi?." tanya Ibu sambil merangkul aku.
"Rahasia." ucapku berbisik.
"Hhmm, sekarang udah main rahasia-rahasian sama ibu, ya."
"Hahaha."
"Ibu, gak malem mingguan, biasanya kita makan diluar."
"Rissa laper bu."
"Rissa mau makan apa?, ibu masakin nasi goreng mau."
"Mau, tapi pakek sosis, sama nugget juga."
"Iya."
"Yang banyak, pakek telur juga."
"Iya sayang, ada lagi."
"Minumannya, Rissa mau jus mangga."
"Kek direstoran aja."
"Hahaha."
"Ayah, mau nasi goreng gak." teriak ibu.
"Iya mau, pedes ya." teriak ayah dari kamar.
"Kok, ibu berasa jadi pelayan restoran."
"Hahaha."
"Ihh ni anak ketawa." ucap ibuku.
"Hahaha."
"Rissa mau bantuin ibu?."
__ADS_1
"Mau."
"Yuk, kita masak." ucap ibu sambil mengulurkan tangannya. Aku menggenggam tangan ibu. Dan kami pergi menuju dapur.
Didapur, aku dan ibu lagi masak. Maksudku yang masak adalah ibuku. Aku cuman bantu sendikit, termasuk saat ibu memotong buah mangga dan aku bantu memakannya, hehe.
"Rissa, kok dimakan." ucap Ibu saat aku memakan buah mangga yang baru ibu potong kecil.
"Hehe, laper." ucapku sambil makan.
"Hemm."
"Ambil gula sayang." ucap ibu.
Aku mengambil gula yang berada disebelahku dan memberikannya pada Ibu.
"Ini bu." ucapku.
"Terima kasih." ucap Ibu.
"Sama-sama." ucapku sambil mengambil buah mangga lagi.
"Rissa." ucap ibuku kesal. Aku hanya tersenyum sambil memakan buah itu.
"Satu lagi ya bu." ucapku. Ibu diam menatapku.
"Hahaha."
Rasanya aku senang sekali malam itu. Entah karena apa, tapi aku sangat bahagia. Mungkin moodku yang lagi bagus. Selesai memasak. Aku, ibu dan ayah makan malam bersama. Dengan lilin diatas meja, tapi gak ada apinya, hanya hiasan. Sebenarnya ingin aku nyalain lilinnya. Tapi, kata ibu bahaya main api. Lagian juga gak mati listrik buat apa. Aku menurut, lebih baik begitu.
"Hem, enaknya." ucap Ayah.
"Iyalah, kan Rissa yang masak." ucapku bohong.
"Masa sih." ucap ibu. Aku senyum.
"Dibantuin sama ibu, sedikit." ucapku sambil tertawa.
"Hem, kalau begitu Rissa dapat hadiah dari ayah." ucap ayah.
"Apa?." tanyaku.
"Buku resep masakan."
"Kok itu."
"Iya, biar Rissa nambah pinter masaknya."
"Hmm ayah, Rissa gak mau." ucapku dengan wajah cemburut.
"Hahaha." ayah dan ibu ketawa.
"Sudah-sudah, habiskan makananmu, setelah itu sikat gigi terus tidur." ucap Ibu padaku.
Habis makan, aku langsung sikat gigi dan pergi tidur. karena aku sudah sangat mengantuk. Selagi mau tidur, tiba-tiba aku memikirkan Dicky. Entah kenapa wajahnya muncul dalam otakku. Memikirkannya saja, membuatku senyum-senyum gak jelas, apalagi dia didepan ku, pasti pipiku memerah seperti tomat.
Rasanya aku belum puas berbicara dengannya. Aku ingin mendengar suaranya sebelum aku tidur. Kalau bisa aku mau telepon dia sekarang juga. Tapi ini sudah malam, Dicky pasti sudah tidur. Aku tidak ingin menganggu tidurnya.
Aku ingat saat Dicky bilang : "Aku suka kamu". Kata itu terus berputar dikepalaku. Dan kata itu berhasil membuatku tersenyum gak jelas lagi. Aku malu pada diriku sendiri. Jantungku berdetak tak karuan. Aku heran dengannya. Dia begitu mudah mengatakan hal itu. Apa dia tidak merasa malu setelah mengatakan itu padaku. Aku tidak merasa takut lagi dengan perasaanku yang sebenarnya.
Sebetulnya dalam diriku ada perasaan lebih untuknya. Aku juga suka dengan dirinya. Dari awal aku berkenalan dengannya di pohon mangga belakang sekolah. Dia sudah menarik perhatiaanku, dia terlihat berbeda dari yang lain. Dan sekarang aku tau kalau dia juga suka aku. Haruskah aku mengatakan itu. Tapi, bagaimana mengatakan itu padanya? Aku malu. Bagaimana responnya? Bagaimana kalau aku katakan itu, dia malah berubah, dia tidak ingin main lagi denganku.
Haruskah aku cerita ke ibu dulu soal ini. Biasanya kan, aku selalu cerita ke ibu dulu untuk minta pendapatnya. Tapi ini soal perasaanku pada Dicky. Kalau aku cerita, nanti ibu malah tertawa dan mengejekku lagi, aku kan jadi malu. Ayah? Aku belum pernah cerita ke ayah sebelumnya. Ibu biasanya yang selalu nyampein ceritaku ke ayah. Kalau aku cerita ke Ibu dan Ayah tau. Nanti aku di marahi olehnya. Mungkin aku juga gak diizinkan lagi main sama Dicky. Bahkan aku tidak diizinkan main sama teman-teman lainnya.
Ah, sudahlah kalau aku pikirkan nanti aku tidak bisa tidur, lebih baik aku tidur saja, ini juga sudah malam.
"Selamat tidur, Dicky, mimpi yang indah ya."
Habis itu, aku memejamkan mataku sambil sambil memeluk boneka teddy bear kesanyanganku.
__ADS_1
--oo--