
Di taman belakang. Ku lihat Melyn, Anis, Dodit, Dea, Kikky, dan Dicky sedang menata dekorasi untuk malam tahun baru. Dea sibuk memasang hiasan lampu di pohon bersama kikky dan Dicky.
"Ayo ris." ajak Andi.
"Iqbal?." ucapku. Andi langsung memegang tanganku dan mengajakku ke arah Dea, Kikky dan Iqbal.
"Jangan cemaskan Iqbal, mungkin dia dikamar." ucap Andi.
Aku bukannya cemas karena aku tidak tahu keberadaannya. Aku cemas, Iqbal cemburu kalau dia tahu aku bersama kalian dan ada Dicky.
"Eh ris, ayo bantu aku pasang ini." ucap Dea padaku. Aku tersenyum dan mengangguk.
Ku lirik sebentar Dicky yang sibuk memasang lampu bersama kikky.
"Ini ris, pasang di pohon itu." ucap Dea sambil memberikan lampu kecil-kecil.
"Aku bantu." ucap Andi padaku. Aku mengangguk. Aku dan Andi memasang tali lampu kecil-kecil itu di pohon besar dekat meja taman.
Di sana ada Anis yang sedang menata peralatan di atas meja. Ada Dodit juga yang membantu Melyn memasang bendera hias di atas pohon.
Praaak!
Anis tidak sengaja menyenggol vas kaca. Spotan Aku dan lain menoleh ke arahnya. Dodit yang melihat itu langsung menghampiri Anis.
"Kamu gak pa-pa." tanya Dodit pada Anis. Anis hanya menggelengkan kepalanya.
"Kamu gak pa-pa kan nis." tanyaku.
"Aku gak pa-pa ris." ucap Anis.
"Hati-hati makanya, sini aku bantu." ucap Dodit pada Anis.
"Lah, Dodit, siapa yang bantu aku, mana manjat-manjat kayak monyet lagi." gerutu Melyn dari atas pohon.
"Hahaha."
"Cari pacar makanya mel, biar ada yang nemenin kamu." ucap Dea.
"Hahaha."
"Hah, nanti lah, sekarang siapa yang mau bantu aku." ucap Melyn.
"Biar ku bantu." ucap Andi sambil menghampiri Melyn.
"Wow, andi strategi yang bagus." ucap Kikky.
"Hahaha."
Yah, aku sendirian memasang tali lampu itu. Aku sedikit kesulitan. Namun, tiba-tiba Dicky datang menawarkan bantuannya kepadaku.
"Butuh bantuan." ucap Dicky.
"Gak pa-pa, aku bisa." ucapku. Dicky tersenyum simpul padaku.
Saat aku sudah hampir selesai. Lilitan kabel lampu itu lepas begitu saja. Aku hanya menghela nafas, merasa semua yang aku lakukan tadi tidak berguna.
"Yah." ucapku.
"Kamu itu harus buat penyangganya dulu." ucap Dicky. Aku diam menatapnya bingung. Dicky mengambil paku dan palu dan kemudian memukulkan paku itu di pohon. Dia membuat penyanggah untuk kabel lampu itu tidak terjatuh lagi.
"Ohh, kayak itu." ucapku. Dicky tersenyum padaku.
"Ayo." ucapnya.
Aku dan Dicky melakukannya bersama. Dia yang membuat penyangganya, aku yang melilitkan kabel lampu itu di pohon. Sesekali aku dan Dicky saling mencuri pandang, walaupun rasa canggung timbul kembali setelah kejadian di meja makan tadi. Rasanya tidak enak kalau seperti ini. Aku tidak bisa bergerak bebas seperti sebelumnya.
"Iqbal mana?." tanya Dicky tiba-tiba. Seditik aku terdiam. Lalu aku menoleh ke arahnya.
"Ada, di kamarnya." ucapku ragu.
"Kenapa?." tanyaku pada Dicky.
"Gak pa-pa, mau ngobrol aja." ucap Dicky.
"Ngobrol?, ngobrol apa?." ucapku.
"Hem, apa ya." ucap Dicky sambil berpikir.
"Mungkin ngobrolin kamu." ucap Dicky. Aku diam menatap Dicky yang lagi sibuk dengan pekerjaannya.
Entah bagaimana aku sekarang harus bersikap pada Dicky dan juga keluarganya. Aku telah mengecewakan mereka semua.
"Iky." panggilku pada Kikky.
"Iya ris, kenapa?." ucap Kikky.
__ADS_1
"Aku mau ke kamar, kayak aku gak sehat." ucapku.
"Kamu sakit, aku temenin ke kamar." ucp Kikky.
"Gak usah, aku bisa kok." ucapku.
"Ya udah, istirahat sana." ucap Kikky. Aku mengangguk dan berjalan pergi melewati Dicky yang diam memperhatikanku.
"Rissa, mau kemana?." tanya Andi. Dia lagi memegangin tangga untuk Melyn turun.
"Ke kamar." ucapku.
"Gak enak badan katanya." teriak Kikky.
"Aku antar ke kamar ya." ucap Andi.
"Gak usah." ucapku sembari pergi.
Ku dengar Andi memanggilku. Namun, aku pura-pura tidak mendengarnya. Aku tetap berjalan masuk ke dalam, walaupun aku mendengar Andi terus-terusan memanggilku.
"Ris." panggil Andi.
"Andi yang benar dong, aku bisa jatuh." teriak Melyn.
Sebenarnya kondisiku baik-baik saja. Itu hanya alasanku saja agar bisa pergi dari sana. Menurutku lebih baik aku menghindar dari Dicky sementara waktu. Walaupun diriku tidak ingin melakukannya.
Di jalan menuju kamarku, aku melihat Iqbal berjalan menuruni anak tangga. Aku tersenyum padanya. Namun, dia mengacuhkan diriku. Dia pergi.
Aku memanggil dirinya. Tapi, Iqbal sama sekali tidak menoleh apalagi menghentikan langkah kakinya. Hah, sepertinya dia tidak ingin bicara padaku. Sedih rasanya diacuhkan oleh orang yang kita sayang.
Aku berpikir, apakah rasa sayang Iqbal untuk diriku sudah hilang. Aku tahu dia pasti kesal dengan kejadian di meja makan tadi. Tapi, haruskah dia mengacuhkan diriku. Apa salahku?.
Aku terus memanggilnya, namun hasilnya nihil, sama saja. Aku berjalan menyusulnya ke arah dapur.
"Iqbal." ucapku.
"Kamu marah." ucapku.
"Aku minta maaf ya." ucapku lagi.
"Maaf." ucapku dengan air mata yang tertahan. Namun, Iqbal tetap tidak memperdulikanku.
Dengan sengaja aku menjatuhkan diriku ke lantai dan berpura-pura pingsan. Entah kenapa aku bisa memikirkan ide dramatis itu. Begitu saja ada di otakku.
Ku dengar Iqbal memanggilku dan mencoba membangunkanku. Tapi, dia tidak tahu aku lagi sedang berakting.
"Rissa."
"Tante tiya, om dimas." teriak Iqbal.
"Ada apa bal." suara Ibuku yang baru datang.
"Rissa." ucap Ibuku cemas.
"Kenapa rissa?" ucap Ibu. Iqbal tidak menjawab.
"Rissa." suara ayah memanggil ku.
"Rissa kenapa?." tanya ayah.
"Gak tau." ucap Ibu cemas.
Aku rasa semua orang datang untuk melihatku. Mungkin Dicky juga ada. Aku juga mendengar suara ibu yanti. Kedengarannya dia juga cemas dengan keadaanku.
"Bawa ke kamar." suara ibu Yanti.
Entah siapa yang menggendongku. Aku rasa itu ayahku. Aku sedikit kecewa karena ayah yang membawaku ke kamar. Padahal aku berharap Iqbal yang mengendongku.
Kenapa bukan Iqbal saja sih yang gendong aku!
***
Di kamar, aku di baringkan di tempat tidur. Ibu mengelus kepala ku lembut sambil mencoba membangunkanku dengan minyak kayu putih. Aku bisa mencium minyak kayu putih yang begitu nyengat di hidungku. Ingin rasanya aku bangun. Tapi, rencana ku bisa kacau.
"Iqbal, rissa kenapa bisa pingsan." tanya ibuku. Iqbal tidak menjawab ibu.
"Bagaimana ini ayah." ucap ibuku pada ayahku.
"Rissa tadi bilang gak enak badan tante." ucap Kikky.
"Kita telepon dokter." ucap Ayah.
Apa! Dokter! Tidak, aku pasti ketahuan bohong. Detak jantung dan nafasku berpacu, aku takut, bagaimana kalau ayah memanggil dokter. Ini kesalahanku, seharusnya aku cari ide lain. Aku lupa kalau ayah dan ibu sangat sayang padaku. Aku sudah membuat mereka cemas.
"Mungkin rissa kecapekkan aja." ucap tante Sari, ibunya Anis.
__ADS_1
"Jalan menuju puncak lagi macet parah, lama kalo kita manggil dokter." ucap om Anjas, ayahnya Melyn.
"Sebaiknya kita keluar aja, biar rissa istirahat." ucap om Rahmad, ayahnya Dicky.
"Ayo anak-anak keluar, rissa gak papa." ucap tante Rina.
"Tante tiya, aku mau nemani rissa." ucap Iqbal.
"Iya sayang, nanti panggil tante kalo ada apa-apa." ucap Ibu.
.
"Iya tante." ucap Iqbal pelan.
Perlahan kamarku menjadi sunyi. Syukurlah ayah tidak jadi menelepon dokter. Aku bisa bernafas sedikit. Namun, seketika aku menjadi cemas, saat Iqbal mengatakan "Aku tau kamu pura-pura."
Aku ketahuan. Aku membuka mata dan melihat wajah Iqbal yang kesal. Iqbal pasti marah padaku. aku duduk diam melihat kearah Iqbal.
"Kenapa kamu pura-pura pingsan hah." ucapnya. Aku diam.
"Kamu tahu rissa, sudah berapa kali kamu pingsan didepanku, wajah kamu pasti pucat, dan lihat wajahmu sekarang, tidak pucat, kamu baik-baik saja." ucap Iqbal. Aku diam.
"Aku tidak percaya kamu sudah bisa berbohong." ucap Iqbal kecewa. Setelah mengatakan itu Iqbal berjalan pergi meninggalkanku.
"Aku lakuin ini karena kamu." ucapku menghentikan langkahnya, dia berbalik melihat ke arahku.
"Aku ingin sama kamu." ucapku dengan air mata tertahan.
"Kenapa kamu acuhkan aku, apa salahku padamu bal." ucapku. Iqbal diam.
"Ya, aku tahu aku salah dengan perasaan ini, perasaan ini tidak berubah untuk Dicky, apa kamu tau, aku sudah merasa tertekan dengan perasaan ini, ditambah sikap kamu seperti itu, apa kamu memikirkan bagaimana jadi aku." ucapku dengan air mataku yang jatuh.
Aku menangis, aku juga menyesal telah berpura-pura pingsan. Dan sekarang Iqbal kecewa padaku. Apa yang harus aku lakukan. Iqbal juga tidak peduli dengan aku yang nangis.
"Pergi bal, aku mau sendiri." ucapku pelan sambil menghapus air mataku dengan tanganku sendiri.
Tak aku sangka, Iqbal tidak pergi dia malah mendekati dan memelukku. Aku senang, aku pun memeluknya erat, erat sekali.
"Maaf." ucapku sambil menangis.
"Aku gak bermaksud bohong sama kamu." ucapku. Iqbal tersenyum dan menghapus air mataku.
"Sudah cukup, jangan nangis." ucap Iqbal. Aku diam.
"Gimana gak nangis, kamu dari tadi cuekin aku." ucapku.
"Maafin aku." ucap Iqbal. Aku diam.
"Kepala kamu pasti pusing kan." ucap Iqbal. Aku mengangguk, karena kepalaku memang pusing dan berat dari tadi. Iqbal sudah tahu kalau aku habis nangis kepalaku tiba-tiba sakit.
"Ya udah, istirahat, nanti sakit beneran pula." ucap Iqbal. Aku tersenyum simpul.
Aku perlahan berbaring di bantu Iqbal. Iqbal duduk di pinggir tempat tidur sebelah kepalaku. Dia mengelus pelan kepalaku.
"Kamu gak marah kan bal." ucapku. Iqbal tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Cuman kesal aja." ucap Iqbal.
"Maaf ya bal." ucapku.
"Iya." ucap Iqbal.
"Ayo tidur." ucap Iqbal.
Aku memiringkan tubuhku membelakangin Iqbal sambil memeluk guling. Ku pejamkan mataku sambil merasakan Iqbal yang masih mengelus kepalaku.
Lama kemudian. Iqbal memanggilku.
"Rissa."
Aku tidak menjawab.
"Kamu udah tidur."
Aku juga tidak menjawab.
Iqbal berhenti mengelus kepalaku. Dan kemudian menyelimutiku. Lalu mengelus kepalaku lagi.
"Maafkan aku ris, aku gak ada niatan mau cuekin kamu, apa lagi marah sama kamu, aku hanya bingung bagaimana harus bersikap, aku takut, kalo aku nyakitin kamu dengan emosiku." ucap Iqbal pelan.
"Aku sayang kamu." ucap Iqbal. Dia mencium pipiku dan kemudian pergi.
Seketika setetes air mataku jatuh setelah mendengarkan itu dari Iqbal. Aku belum tidur, aku masih sadar dengan apa yang Iqbal katakan dan lakukan. Entah aku senang atau sedih. Namun, perasaanku bercampur aduk jadi satu. Aku seharusnya juga mengertikan perasaan Iqbal. Dan tidak memikirkan perasaanku saja.
Maafkan aku bal!
__ADS_1
--oo--