
Keesokan harinya. Aku bersiap-siap pergi sekolah. Tak lupa aku memakai jepit rambut yang diberikan Dicky untukku. Aku sengaja datang ke sekolah lebih awal. Aku ingin bertemu Dicky dan mengucapkan terima kasih padanya. Tapi saat aku ke kelasnya, aku tidak melihatnya. Aku mencarinya kemana-mana, dikantin, dilapangan, dan ditaman belakang sekolah. Aku bahkan bertanya pada teman-temannya, tapi aku masih tidak menemukannya.
Dengan rasa sedih dan kecewa, aku berjalan pelan menuju kelasku. Apa mungkin dia tidak ingin menemuiku lagi gara-gara kejadian kemarin. Aku hanya menghela nafas memikirkan itu. Dijalan menuju kelasku, aku melihat Nabila. Dengan terpaksa aku bertanya padanya.
"Bil, kamu lihat Dicky?."
"Tidak."
"Kalau kamu ketemu Dicky, bilangin ya aku cariin dia."
"Iya."
Aku pun pergi dan masuk kedalam kelas. Dikelas sudah ada Melyn yang sibuk ngerjain PRnya.
"Ris, kamu dari mana, keringatan gitu." ucap Melyn.
"Olahraga." ucapku sambil duduk ditempatku.
"Olahraga?." ucap Melyn heran.
"Ris, liat PR dong, aku lupa ngerjain." ucapnya lagi.
"Hm, lupa-lupa, nih." ucapku memberikan buku PR ku.
"Makasih ya Rissa cantik." ucap Melyn dengan sangat manis. Aku tersenyum sekilas.
"Kamu kenapa bete gitu?." tanya Melyn.
"Aku tadi nyariin dia, tapi dia gak ada." ucapku.
"Siapa?." tanya Melyn. Aku diam dan meletakan kepalaku diatas meja dengan tanganku sebagai bantal.
"Dicky?." ucap Melyn lagi.
"Hmm."
"Mungkin dia dijalan, atau dia gak masuk hari ini." ucap Melyn. Aku hanya diam mendengarkan Melyn.
***
Saat jam istirahat, aku memilih duduk sendiri dikelas. Aku sedang tidak mood untuk pergi ke kantin. Aku meletakan kepalaku diatas meja dengan tanganku sebagai bantal. Seseorang datang sambil memanggilku. Aku mengenal suara itu. Itu suara orang yang aku cari.
"Rissa."
Aku segera bangun dan melihat orang itu. Benar itu adalah Dicky. Dia berdiri dihadapanku.
"Kamu kemana aja, aku nyariin kamu." ucapku kesal. Dia tersenyum.
"Aku bangun kesiangan, aku hampir telat kesekolah." ucapnya. Aku diam menatapnya dengan kesal.
"Kenapa kamu disini, aku nyariin kamu dikantin tadi, kenapa gak kumpul sama yang lain."
"Males."
"Jepit rambut itu cocok sama kamu."
"Makasih jepit rambutnya." ucapku. Dia tersenyum mengangguk.
"Kamu sudah makan?." tanyaku.
"Belum, ayo kita ke kantin." ucapnya.
"Disini aja, aku bawa bekal, ayo duduk disini." ucapku.
"Bawa apa." ucapnya sambil duduk disebelahku.
"Roti isi coklat, kamu mau?." ucapku sambil membuka kotak bekalku. Dia mengangguk dan mengambil roti itu.
"Enak?." tanyaku.
"Enak." jawabnya sambil mengunyah.
Aku tersenyum. Tiba-tiba aku teringat dengan pelajaran matematika yang dibahas dikelasku tadi.
"Oh ya, kamu sudah belum belajar yang ini, aku gak ngerti." ucapku sambil membuka halaman materi itu.
"Oh yang ini, sini ku ajari." ucapnya.
Dicky selain tampan dia juga pintar matematika. Tidak heran anak cewek disekolah ini juga suka padanya dan termasuk aku.
***
Saat pulang sekolah, aku, Melyn, Anis dan Dodit bersiap pulang bersama. Dicky dengan sepedanya datang mendekati kami.
"Ris pulang bareng aku ya." ucap Dicky.
"Hah." ucapku.
"Rumah kamu kan gak searah dengan Rissa." ucap Dodit.
"Ya tau, tapi aku mau antar Rissa pulang." ucap Dicky.
"Ya udahlah, biarin Dicky sama Rissa, ayo kita pulang." ucap Melyn.
"Kami duluan ya." ucap Melyn.
"Iya." ucapku tidak enak.
"Ayo." ucap Melyn tersenyum sambil menarik tangan Anis dan Dodit.
"Ayo, kita pulang?." ucapnya.
__ADS_1
"Dicky, aku mau main kerumahmu." ucapku.
"Tapi, kamu belum izin sama ayah ibu, nanti kamu dicariin." ucapnya.
Aku terdiam, yang dikatakan Dicky benar. Aku belum minta izin sama Ayah dan Ibu. Kemudian aku melihat Dicky mengeluarkan hpnya dari tas dan dia seperti menelpon seseorang.
"Assalamualaikum om, ini Dicky, Dicky mau ajak Rissa main kerumah boleh gak om." ucapnya.
Aku sedikit mendekat pada Dicky. Aku ingin tau ayah bilang apa. Tapi aku tidak bisa mendengarnya. Entah apa yang dikatakan ayah. Dari raut wajah Dicky, aku yakin, aku tidak diizinkan oleh ayah.
"Iya om."
"Iya om."
"Assalamualaikum."
"Bagaimana?." tanyaku setelah Dicky menutup telponnya. Dia diam tidak menjawabku.
"Tidak boleh ya, ya sudah pulang aja." ucapku kecewa.
"Boleh, nanti ayah kamu yang jemput." ucapnya.
"Sungguh." ucapku. Dicky mengangguk.
"Yeaahh." sorak gembiraku.
"Ayo." ucapnya.
Tanpa membuang waktu. Aku segera naik ke sepeda Dicky, seperti biasa aku duduk didepannya. Pertama kali aku duduk didepan aku merasa risih, tidak enak, malu. Tapi sekarang aku merasa nyaman, senang. Kalau bisa aku ingin seperti ini selamanya, asal bersamanya.
"Sebentar lagi kita kelas 6, terus masuk smp, kamu mau masuk ke smp yang mana?." tanyaku.
"Hem, belum tau, emangnya kenapa?." ucapnya.
"Aku ingin masuk ke smp yang ada kamunya, biar kita sama-sama terus." ucapku.
"Hahaha."
"Kok ketawa, kamu gak mau ya." ucapku.
"Mau." ucapnya.
"Terus kenapa ketawa." ucapku sambil bergerak menoleh kebelakang menatapnya.
"Jangan bergerak Ris, nanti kita jatuh, terus aku yang kena marah." ucapnya.
"Jadi kamu takut kena marah."
"Nggak, kalau aku kena marah berarti aku salah."
"Jadi."
"Ya, aku takut kamu luka terus nangis, kan gak ada balon disini."
"Hahaha."
Sekitar 15 menit kami pun sampai dirumah Dicky yang baru. Rumah Dicky sangat bagus dan lebih besar dari rumah Dicky yang sebelumnya.
"Ayo masuk." ucapnya. Aku mengangguk.
"Buu! ada yang kangen nih." teriak Dicky sambil meletakan tasnya di sofa.
"Hahaha."
"Duduk dulu." ucapnya. Aku tersenyum.
"Tunggu ya." ucapnya. Aku mengangguk. Kemudian Dicky pergi.
Diruang tamu, aku duduk sambil celingukan, mengamati isi ruangan. Ada beberapa foto tertata rapi di meja dan di dinding ruang tamu.
Tak lama kemudian, tante Yanti pun datang.
"Rissa." panggil Ibu Dicky sambil berjalan ke ruang tamu.
"Ibu." ucapku sambil berdiri dari tempat duduk.
Dia datang mendekatiku. Aku langsung memeluknya.
"Rissa kangen bu." ucapku dipelukannya.
"Ibu juga kangen sama Rissa." ucap Ibu Dicky melepaskan pelukannya. Kedua tangannya menyentuh pipiku dan mencium pipiku. Aku tersenyum menatap ibu Dicky dengan senang.
"Rissa sudah makan?." tanya Ibu Dicky.
"Belum." ucapku.
"Bentar lagi ayahnya Dicky pulang, kita makan siang bersama." ucap Ibu. Aku mengangguk.
"Tapi, Rissa ganti baju dulu." ucap Ibu Dicky.
"Rissa gak bawa baju salin bu." ucapku.
"Ada, ayo ikut ibu." ucap Ibu Dicky menggandeng tanganku menuju sebuah kamar.
"Ibu cari dulu ya baju buat Rissa." ucap Ibu sambil membuka lemari pakaian mencari sesuatu didalamnya.
"Kalo gak salah ibu simpan baju Tarisa disini." ucap Ibu Dicky.
Tarisa nama kakak perempuan Dicky yang sedang kuliah di bandung.
"Ini dia." ucap Ibu sambil menunjukan dress putih selutut dengan aksen bunga berwarna ungu. Jujur aku sangat suka dress itu. Dressnya bagus.
__ADS_1
"Rissa suka?." tanya Ibu Dicky. Aku mengangguk.
"Sekarang jadi punya Rissa."
"Benarkah bu."
"Iya."
"Terima kasih bu."
"Ibu bantu ganti baju ya."
"Iya."
Setelah menganti pakaian, aku dan Ibunya Dicky pergi ke dapur. Disana sudah ada bik Titin yang sedang memasak sayur lodeh.
"Ehh, ada non Rissa." ucap Bik Titin saat melihatku. Aku tersenyum padanya.
"Dengan siapa non Rissa kesini?." tanya Bik Titin.
"Sama siapa pagi pacarnya lah, Dicky." ledek Ibu Dicky. Bik Titin ketawa.
"Hehehe." ucapku.
Tiba-tiba di luar terdengar suara mobil memasuki halaman.
"Itu pasti ayah sudah pulang." ucap Ibu Dicky.
Kemudian Ibu Dicky pergi untuk menemui ayah Dicky. Dan Aku pun mengikuti Ibu Dicky.
"Bu, makanan sudah siap, ayah lapar banget." ucap Ayah Dicky sambil memberikan tas kerjanya pada Ibu Dicky.
"Sudah siap." ucap Ibu Dicky.
"Eh Rissa." ucap Ayah Dicky terkejut saat melihatku. Aku tersenyum dan mencium tangannya.
"Rissa sama siapa kesini?." tanya Ayah Dicky.
"Sama anakmu." sahut Ibu Dicky.
"Dicky?." ucap Ayah Dicky menatapku.
"Iya, Rissa sama Dicky kesini." ucapku
Ayah Dicky berjongkok sejajar dengan ku. Dia mengelus kepalaku. Kedua tangannya berada dipundakku.
"Udah izin sama ayah ibu Rissa?." tanya Ayah Dicky padaku.
"Sudah." ucapku.
"Tadi mampir ke rumah Rissa dulu." ucap Ayah Dicky.
"Nggak, Dicky bawa handphone ke sekolah tadi, terus dia nelpon ayah." ucapku.
"Dia bawa handphone lagi ke sekolah." ucap Ayah Dicky menatap Ibu Dicky.
Sepertinya Om Rahmad marah. Seharusnya aku gak usah bilang kalau Dicky bawa handphone ke sekolah.
"Udah biarin aja dulu yah, nanti kita bicara sama dia." ucap Ibu Dicky.
"Ayah jangan marahin Dicky." ucapku pelan.
Ayahnya Dicky hanya senyum sambil mengelus rambutku.
"Sudah ayo makan, tadi katanya lapar." ucap Ibu Dicky.
"Rissa lapar?." tanya Ayah Dicky. Aku mengangguk.
"Ayo kita makan." ucapnya.
Aku, Ayah dan Ibu pergi ke tempat dimana makanan sudah disajikan oleh bi Wati di ruang makan. Aku duduk disebelah Ayah, didepan Ibu.
"Dicky, ayo makan sayang." teriak Ibu Dicky sambil duduk.
"Iya." teriaknya dari kamar.
Lalu Dicky datang dan bergabung bersama kami. Dia duduk disebelah Ibu.
"Dicky, ayah mau tanya." ucap Ayah Dicky.
"Tanya apa?." jawab Dicky.
"Kamu bawa handphone lagi ke sekolah?." tanya Ayah. Dicky menatapku sebentar.
"Iya." jawab Dicky.
"Setelah makan, ayah mau bicara sama kamu." ucap Ayah.
"Iya ayah." ucap Dicky.
Aku diam, tidak tau harus apa, selain mengunyah makananku.
Sehabis makan, aku dan Ibunya Dicky duduk di ruang tamu, membuka kardus besar berisi mainan Tarisa saat masih kecil sambil mengobrol hal yang lucu. Walau aku bersama ibunya Dicky, tapi pikiranku terus ke Dicky, yang saat itu sedang di intrograsi oleh Ayah di kamarnya. Entah apa yang mereka bicarakan tapi aku merasa cemas, karena aku Dicky dalam masalah.
Lalu, beberapa menit kemudian, Dicky dan Ayahnya datang bergabung bersama kami. Tapi, Dicky terlihat biasa saja. Sepertinya dia tidak habis dimarahin. Ayah pun begitu, terlihat santai duduk sambil membaca koran pagi tadi.
Aku harap, apa yang ku pikirkan itu benar. Dicky tidak di marahin oleh ayahnya.
Ku pandang dia sambil senyum. Dicky pun membalas senyumanku seperti biasa dia lakukan. Aku menggerakan mulutku berbicara dengannya tanpa mengeluarkan suara: Kamu kena marah, kataku. Dia menggelengkan kepalanya.
Aku lega. Dia tidak di marahin. Dan itu sudah cukup membuat ku senang.
__ADS_1
--oo--