Kamu Yang Aku Rindu

Kamu Yang Aku Rindu
Telepon dari Jakarta


__ADS_3

Bubaran sekolah. Aku dan Iqbal duduk di depan pos satpam. Kami berdua hanya diam sambil sesekali melempar senyum satu sama lain. Setelah kejadian tadi. Hubungan kami mulai membaik. Aku dan Iqbal sudah saling memaafkan. Aku sadar, seharusnya aku lebih bersikap dewasa untuk menghadapi suatu masalah. Bukan malah menghindar. Aku juga tak ingin merusak hubungan yang sudah kami jalin dari kecil, hanya karena ini. Dan kalian tahu bagian menariknya. Aku dan Iqbal memutuskan untuk mengulang lagi kisah cinta kami. Maksudku, kami berdua balikan.


Jujur aku senang, aku senang, aku dan Iqbal pacaran lagi. Namun, aku juga sedih, Iqbal sakit. Apalagi ini gara-gara aku. Aku masih menyalahkan diriku atas keadaan Iqbal ini. Tubuhnya Iqbal masih lemas, dia bahkan tidak bisa membawa motornya. Daripada Iqbal kenapa-kenapa, lebih baik aku menghubungi om Hendra, papanya Iqbal buat jemput.


"Maaf ris, aku gak bisa bawa motor." ucapnya.


"Gak pa-pa." ucapku.


"Sini aku bawa tas kamu." ucapku.


"Gak usah ris, berat." ucapnya. Aku tetap mengambil tasnya Iqbal.


"Gak pa-pa, sekali-kali." ucapku. Iqbal senyum. Begitu juga aku.


Tak lama kemudian om Hendra datang dengan mobilnya. Aku dan Iqbal segera masuk kedalam mobil. Di dalam mobil, aku dan Iqbal duduk di tengah. Sementara om Hendra, duduk didepan, nyetir mobil. Aku dan om Hendra ngobrol dan saling melempar candaan. Iqbal hanya diam sambil bersandar. Dia begitu lemas, seperti bukan Iqbal yang kuat yang selalu aku lihat.


"Bal." panggilku. Iqbal menoleh menatapku.


"Iya." ucapnya. Aku senyum.


"Mau berbaring." ucapku sambil menempuk pahaku.


"Boleh?." tanyanya. Aku tersenyum mengangguk. Iqbal pun perlahan berbaring dan pahaku menjadi bantalannya. Aku mengelus lembut rambut Iqbal sambil senyum menatapnya. Begitu juga Iqbal yang terus tersenyum menatapku.


"Enaknya yang di belakang, pacaran terus." ucap om Hendra.


"Ah papa, diam aja, hush!." ucap Iqbal.


"Hahaha."


"Om, kita ke rumah sakit dulu ya." ucapku.


"Ngapain ke rumah sakit." ucapnya.


"Periksa keadaan kamu, biar kamu sehat lagi." ucapku.


"Gak perlu ris, istirahat aja dan makan yang banyak aku sudah sembuh kok." ucap Iqbal.


"Yang dikatakan pacar kamu itu benar bal, kamu harus di periksa, kamu lemes banget, papa khawatir ada penyakit serius." ucap om Hendra.


Iqbal menatapku. Aku pun mengangguk, mengisyaratkan kalau yang dikatakan om Hendra itu benar.


"Ya udah, aku nurut." ucap Iqbal.


"Gitu dong." ucap om Hendra.


***


Sesampainya dirumah sakit. Iqbal langsung di periksa oleh dokter keluarganya. Alhamdulillah, kata dokter. Kondisi Iqbal tidak ada yang serius, dia hanya kecapean saja. Setelah dari rumah sakit. Kami langsung pulang ke rumah. Aku sudah izin sama Ibu kalau aku main ke rumah Iqbal. Untungnya Ibu mengizinkanku.


Dirumah Iqbal, aku menyiapkan makan siang untuk Iqbal di bantu sama tante Dewi, mamanya Iqbal.


"Iqbal pasti seneng banget diurus sama pacarnya lagi." ucap tante Dewi.


"Iya tante, aku juga seneng bisa urus Iqbal." ucapku. Tante Dewi tersenyum.


"Ini, udah siap, bisakan bawanya." ucap tante Dewi.


"Bisa tante." ucapku.


"Pelan-pelan aja bawanya sayang." ucap tante Dewi.


"Iya tante." ucapku.


Aku pun pergi berjalan menuju kamar Iqbal dengan membawa makan. Aku mendorong pelan pintu kamar Iqbal.


"Kok kamu yang bawa, kenapa gak suruh bibi aja." ucap Iqbal yang lagi bersandar di tempat tidur.


"Gak pa-pa, aku yang mau." ucapku sambil berjalan mendekatinya.


Aku meletakkan makanan yang aku bawa tadi di atas nakas. Aku pun duduk ditepi tempat tidur Iqbal.


"Bagaimana." ucapku sambil menyentuh kening Iqbal.


"Ini karena aku kamu jadi sakit." ucapku.


"Kok kamu nyalahin diri kamu terus." ucapnya. Aku hanya diam menatap Iqbal.


"Kemarin, ayah mukul kamu ya." ucapku. Iqbal menjawab dengan tersenyum.


Aku menghela nafas. Aku mengangkat tangan Iqbal. Dengan cepat aku mengarahkannya ke arah wajahku. Namun, satu senti lagi tangannya menyentuh pipiku, Iqbal menahan kuat tangannya.

__ADS_1


"Mau ngapain?." tanyanya bingung.


"Pukul aku bal, biar aku juga ngerasain rasa sakitnya." ucapku sambil memegang tangan Iqbal. Iqbal langsung menarik tangannya.


"Aku gak mau pukul kamu." ucapnya. Aku diam.


"Oh ya, kamu tadi bawa makanan apa." ucap Iqbal sambil mengambil makanan yang aku bawa dari atas nakas.


"Uhm, sup ayam." ucapnya.


"Aku yang buat, tapi dibantuin sama mama kamu." ucapku. Iqbal senyum


"Pasti enak." ucapnya.


"Ayo makan." ucapnya lagi.


"Iya." ucapku. Aku mengambil sepiring nasi yang juga aku bawa tadi.


"Sini aku suapin." ucapku.


"Aak." ucapku sambil menyodorkan sesendok makanan pada Iqbal. Iqbal pun memakannya.


"Kamu juga harus makan." ucapnya. Iqbal mengambil sendok dari tanganku. Dan menyodorkan sesendok makanan padaku.


"Buka mulutnya, aak." ucapnya. Aku pun memakannya.


Setelah makan, dan Iqbal juga sudah minum obat. Kami berdua berbaring di tempat tidur dengan guling sebagai pemisah kami. Iqbal terus menatapku sambil tersenyum.


"Udah, kamu tidur gih, biar cepet sembuh." ucapku.


"Aku pengen tidur sambil peluk kamu, terus aku gigit-gigit kamu." ucapnya.


"Hahaha."


"Nanti ajalah, aku peluk sambil gigit guling aja dulu." ucapnya sambil mengigit gulingnya.


"Ih, jorok." ucapku.


"Hahaha."


Iqbal perlahan mendekatiku. Dia mencium lembut keningku. Lalu, dia kembali di tempatnya.


"Atau mau aku gigit sekarang." ucapnya.


"Jangan." ucapku sambil ketawa.


"Nanti habis, ayah sama ibu gak kebagian deh." ucapku.


"Hahaha."


"Minggu ini, sekolah kita adain acara kemping, kayak tahun kemarin." ucapku.


"Di taman wisata alam itu lagi." ucapnya.


"Iya." ucapku.


"Kamu mau ikut?." tanya Iqbal. Aku mengangguk.


"Tapi, kalo kamu juga ikut, kalo kamu gak ikut, ya aku gak ikut." ucapku.


"Nanti aku ikut, doain aku cepet sembuh." ucap Iqbal.


"Amin." ucapku dengan semangat.


"Hahaha."


"Eh, ini Andi telepon, kayak dia udah didepan, aku pulang dulu ya." ucapku sambil bangun.


"Kamu istirahat, biar cepet sembuh, nanti malem kita teleponan, kayak biasa." ucapku sambil menyelimuti Iqbal.


"Iya." ucapnya sambil senyum. Setelah itu aku berjalan pergi.


"Eh, ada yang lupa." ucapku sambil mendektinya lagi.


"Apa?." ucapnya sambil mencari sesuatu barang miliku yang tertinggal.


"Cup." aku mencium pipinya dengan cepat. Lalu, aku langsung pergi sambil ketawa, karena geli melihat wajah Iqbal yang terkejut saat aku menciumnya. Aku menoleh kebelakang dan melihat Iqbal yang lagi tersenyum geli.


"Dah Iqbal." ucapku sebelum keluar dari kamarnya.


***

__ADS_1


Diperjalanan pulang, aku menceritakan semua pada Andi. Aku juga memberi tahunya kalau aku sudah balikan sama Iqbal. Dia tidak protes dengan hal itu. Aku juga cerita sama Ibu. Ibu juga gak ada masalah. Tapi, aku belum cerita sama Ayah. Menurut aku ayah juga gak ada masalah dengan ini.


Sorenya, saat aku lagi asik ngobrol sama Dea, Anggun, dan Lia. Ponselku tiba-tiba berdering. Itu panggilan dari nomor tidak aku kenal. Aku ragu menjawabnya. Pikirku mungkin ini nomor salah sambung atau orang iseng. Jadi aku gak mau menjawabnya.


"Siapa?." tanya Lia.


"Gak tau." ucapku.


"Jawab aja ris." ucap Dea.


"Aku ke kamar dulu ya." ucapku. Dea, Anggun dan Lia mengangguk.


Saat di kamar aku segera menjawabnya.


"Halo." ucapku.


"Rissa." ucap seorang wanita dari seberang sana.


"Iya, ini siapa?." tanyaku.


"Melyn." ucapnya. Aku kaget. Tapi, aku senang, mendapat telepon dari jakarta. Apalagi itu adalah teman baik aku saat aku disana.


"Melyn, apa kabar?." ucapku dengan penuh semangat.


"Baik ris, kamu?." ucapnya.


"Alhamdulillah, aku baik." ucapku.


"Aku seneng banget kamu telepon." ucapku.


"Iya, tapi susah sekali dapat namor kamu ris." ucapnya.


"Haha, dapat dari siapa nomor aku?." tanyaku.


"Kamu tau Arya kan." ucapnya. Aku diam sambil berpikir. Arya siapa, yang mana. Aku tidak punya teman yang namanya Arya selain teman kursus bahasa Inggris aku itu.


"Arya seno wardana." ucapku, itu nama lengkap Arya.


"Iya, kemarin itu aku kan posting foto kita pas sd dulu, eh dia komen, gak taunya dia kenal sama kamu, terus aku minta aja nomor kamu darinya." ucapnya.


"Arya itu siapa kamu, saudara?." tanyaku.


"Dia teman aku smp, dulu dia tinggal di jakarta, terus pas kelas 3 dia pindah." ucapnya.


"Ternyata dunia ini sempit ya." ucapku sambil ketawa.


"Haha, iya." ucapnya.


"Ris, kamu tau sekolah kita ngadain acara reuni sekalian tahun baruan di puncak." ucapnya.


"Oh ya, kayaknya seru." ucapku.


"Kamu mau ikut gak, banyak yang ikut loh ris, Anis sama dodit juga ikut." ucapnya.


"Kalo Dicky?." tanyaku. Entah kenapa aku bisa menyebut namanya, itu lolos begitu saja dari mulutku.


"Hem, ada bau-bau kerinduan nih." ucapnya. Aku ketawa.


"Aku nanya aja." ucapku.


"Aku gak tau Dicky ikut atau gak, aku juga gak tau dia sekarang dimana, setelah lulus SD kami semua berpisah, kami lost contact dengan Dicky ris, kalo Anis sama Dodit kan masih tinggal di komplek, jadi kami masih sering ketemu." ucapnya. Aku diam.


"Gimana ris, kamu ikut ya, kita bisa ketemu, kumpul lagi, aku kangen sama kamu." ucapnya.


"Aku juga kangen sama kalian, tapi acaranya di jakarta." ucapku.


"Kan acaranya pas liburan tahun baru, kamu pasti gak ada kegiatan selama libur panjang kan, mending ikutan aja." ucapnya.


"Hem, aku tanya ayah sama ibu dulu ya, nanti aku kabarin kamu." ucapku.


"Iya ris." ucapnya.


"Eh, kita udahan dulu ya, aku mau mandi, kita sambung lewat chat aja." ucapnya.


"Ok, dah Melyn." ucapku.


Setelah bicara dengan Melyn, aku hanya duduk diam sambil memikirkan penawaran dari Melyn tadi. Aku tahu, acaranya masih satu bulan lagi. Aku hanya perlu merayu ayah dan ibuku untuk mengizinkan aku ikut acara itu. Tapi, bagaimana dengan Iqbal, aku juga harus beri tahu ke dia juga kan, dia kan pacar aku. Kalau aku pergi ke jakarta. Aku tidak bisa ngerayain tahun baru sama Iqbal.


Bagaimana ini?


--oo--

__ADS_1


__ADS_2