Kamu Yang Aku Rindu

Kamu Yang Aku Rindu
Berantem sama Dodit


__ADS_3

Esok harinya. Aku, Melyn, Anis dan Dodit sedang makan di kantin. Kami berencana akan bersepeda saat pulang sekolah nanti. Aku juga membawa sepedaku sendiri ke sekolah. Jadi aku gak nebeng lagi dengan Melyn kalau aku gak dijemput ayah. Dicky kemudian datang dan bergabung bersama kami. Dia duduk disebelahku.


"Kenapa kamu harus duduk disitu, kan tempat lain banyak." ucap Dodit.


"Kenapa?, Rissa juga gak keberatan, kenapa kamu yang ribut." ucap Dicky.


"Iya Dit, biarin Dicky duduk disitu." ucap Melyn.


Aku memperhatikan Dodit. Terlihat jelas kalau Dodit tidak suka Dicky duduk disebelahku. Kata Anis Dodit suka padaku. Tapi aku gak tau itu benar atau tidak.


"Oh ya Ky, pulang nanti kami mau bersepeda sampe rumah, mau ikut gak?." ucap Melyn.


"Gak usah, nanti kamu dicariin sama ibu kamu." ketus Dodit.


"Bukannya itu kamu ya." jawab Dicky tak mau kalah.


"Naon anu salah ku Dodit ieu, unggal kuring pendak sareng Dicky éta ibarat nyungkeun gelut, (Dodit ini kenapa sih, setiap ketemu Dicky kayak mau ngajak berantem terus)." ucap Melyn dengan bahasa sundanya.


"Tau nih, kalau kalian mau berantem, berantem aja, aku dukung." ucap Anis sambil tertawa.


"Kumaha upami Anis ieu, tibatan dipisahkeun, tong gelut sapertos kitu, ieu sabenerna ngadukung, (bagaimana si Anis ini, bukannya dipisahin, jangan berantem gitu, ini malah ngedukung)." ucap Melyn.


"Ahh, mending aku pergi dari sini." ucap Dodit dan dia pun pergi.


"Dodit kenapa sih?." tanyaku.


"Kuring henteu weruh, éta gélo, (gak tau, sudah gila kali)." ucap Melyn.


"Mel, entong teras-terasan nganggo basa Sundana (jangan ngomong pakai bahasa sunda terus), aku banyak yang gak ngertinya." ucap ku. Sebelumnya Melyn pernah mengajariku bahasa Sunda. Jadi aku tau sedikit.


"Enya kumaha sih, kami sanés urang Sundan, (Iya gimana sih, kami kan bukan orang sunda)." ucap Anis.


"Iya-ya." ucap Melyn.


"Kamu punya masalah sama Dodit?." tanyaku pada Dicky.


"Gak ada." jawabnya.


"Hem, mungkin dia cemburu sama Dicky, aku kan sudah pernah bilang kalo Dodit suka sama kamu Ris." ucap Anis.


Aku diam. Kutoleh sebentar melihat wajah Dicky yang terlihat kesal. Apakah mungkin Dicky juga suka aku. Tapi kalau iya, antara Dodit dan Dicky. Jelas aku belum bisa memutuskan, karena mereka semua adalah temanku.


"Nyaan, Dodit resep Rissa, kamu tau dari mana?." tanya Melyn.


"Dodit sendiri yang cerita." jawab Anis.


"Aku duluan ya." ucap Dicky tiba-tiba. Dia langsung pergi begitu saja. Aku hanya diam melihatnya.


"Dicky kenapa?." tanya Melin


Aku hanya mengangkat bahuku, menandakan kalau aku tidak tau.


"Sudah yuk, ke kelas, bentar lagi masuk." ucapku.


"Ya sudah, ayo."

__ADS_1


***


Pulang sekolah seperti rencana kami tadi aku, Melyn, Anis, Dodit dan juga Dicky pulang bareng dengan bersepeda. Aku sangat menikmatinya, bersepeda bersama teman-temanku. Ini pertama kalinya Aku bersepeda di Jalan Raya. Kalau ayahku tahu, aku pasti dimarahinnya. Saat aku sedang fokus mengendalikan sepedaku.


Dodit dengan sepedanya menyusul ku di depan. Maksudnya sih, dia mau bersebelahan denganku. Tapi, entah sengaja atau tidak sepedanya Dodit menyenggol stang sepeda aku dan aku pun terjatuh. Teman-temanku langsung berhenti dan menghampiriku.


"Rissa."


"Kamu gak pa-pa." tanya Melyn.


"Aww." ucapku melihat lututku yang terluka karena aspal.


"Berdarah." ucap Anis. Aku merintih sakit sambil menahan air mataku yang ingin keluar.


"Ini gara-gara kamu." tegas Dicky kepada Dodit.


"Kenapa lo jadi nyalahin gue, hah." ucap Dodit tidak terima.


"Maaf Ris, aku nggak sengaja." ucap Dodit padaku. Aku diam menahan sakit, perih di lutut ku.


"Ayo Ris, aku antar kamu pulang." ucap Dicky mengulurkan tangannya. Tapi langsung di tepis kasar oleh Dodit.


"Kamu ini kenapa sih, dari tadi didiemin malah ngelunjak." ucap Dicky kesal.


Dodit yang sudah kesetanan, dia langsung menonjok Dicky. Dicky pun membalasnya. Aku, Melyn, dam Anis panik dan berusaha melerai mereka berdua.


"Entong gelut." ucap Melyn sambil menahan tangan Dodit.


"Udah, udah." ucapku sambil menahan lengan Dicky. Dia menoleh kearahku dan melihatku pipiku yang sudah basah karena air mataku. Seketika dia menjadi tenang. Sementara Dodit masih ingin memukul Dicky, namun ditahan oleh Melyn dan Anis.


"Ayo kita pulang." ucap Melyn menarik tangan Dodit.


Akhirnya, Dodit pun pergi bersama Melyn dan Anis.


"Ayo duduk sini." ucapnya sambil membantuku duduk dipinggir trotoar jalan.


"Tunggu bentar." ucapnya. Aku mengangguk.


Dia pun pergi dengan sepedanya gak tau kemana. Selagi menunggu Dicky kembali. Aku mengeluarkan botol air minumku dari dalam tas. Ku siram lututku yang terluka itu. Perih rasanya, sambil menangis aku membersihkan debu yang menempel di lututku dengan tisu. Tak lama kemudian, Dicky kembali dengan membawa hansaplast, air mineral dan dua roti.


"Sini kakimu." ucapnya sambil berjongkok. Dia menempelkan hansaplast yang dibawa tadi ke lututku.


"Ini minum, air minummu pasti habis kan." ucapnya. Aku pun mengambilnya dan meminumnya. Dia kemudian duduk disebelahku.


"Kenapa harus berantem sama Dodit." ucapku.


"Maaf Ris, dia sudah kelewatan." ucapnya.


"Ya, tapi kan."


Aku terdiam mengingat Dodit duluan yang mukul Dicky. Aku menghela nafas sambil memalingkan wajahku. Ya, sudahlah.


"Kamu marah." ucapnya. Aku menggelengkan kepalaku.


"Maaf Ris, aku tidak bisa menahannya, dia sudah buat kamu terluka." ucapnya lagi. Aku cuman diam.

__ADS_1


"Aku suka kamu." ucap Dicky tiba-tiba.


Aku terpaku diam, tidak bisa bergerak. Aku tidak percaya Dicky mengatakan itu padaku. Jantungku berdebar kencang tak karuan, aku yakin pipiku menjadi merah karena malu.


"Kok kamu diam aja." ucapnya. Aku tetap diam sambil menahan diriku.


"Kamu lapar?." ucapnya lagi.


"Nih." ucapnya. Aku menoleh melihat dia menyodorkan satu roti padaku.


"Ayo dimakan, sudah itu kita pulang." ucapnya.


Aku pun mengambil roti itu. Aku memang sedang lapar dari tadi. Seharusnya aku sudah dirumah dan makan siang. Tapi karena kejadian tadi aku terlambat pulang. Dan ibu pasti sedang khawatir padaku.


Setelah itu, Aku dan Dicky segera pulang dengan berjalan kaki sambil mendorong sepeda kami. Disepanjangan Dicky berusah menghiburku, tapi aku hanya diam.


***


Sesampainya dirumah. Kulihat ibu yang sedang duduk di kursi teras. Dia sepertinya sedang menungguku. Aku dan Dicky memarkirkan sepeda kami.


"Rissa, kamu kemana aja, ibu khawatir." ucap Ibu berdiri dan berjalan menghapiriku. Aku diam.


"Kaki kamu kenapa?." tanya Ibu cemas dan berjongkok melihat lututku. Aku lantas memeluk ibu dan menangis.


"Kenapa Dicky?." tanya Ibu.


"Jatuh dari sepada tante." ucap Dicky.


"Kenapa bisa jatuh, sini, duduk disini, ibu ambilkan obat dulu." ucap Ibu mendudukkan ku di kursi teras. Dicky diam berdiri memperhatikanku.


"Ibu sudah bilang, jangan main sepeda di jalan raya." ucap Ibu sambil mengobati lututku.


"Kalau ayah kamu tau, dia pasti marah." ucap Ibu. Aku hanya bisa menangis tersedu-sedu mendengar omelan ibu.


"Maaf bu." ucapku pelan.


"Sudah, jangan main lagi, istirahat." ucap Ibu.


"Jangan kasih tau ayah." ucapku terbata-bata. Ibu diam menatapku.


"Iya, sudah jangan nangis terus, nanti kamu sakit." ucap Ibu sambil menghapus air mataku.


"Ayo makan, terus tidur siang." ucap Ibu. Aku mengangguk.


"Dicky, makan siang sama kami, ya." ucap Ibu.


"Makasih tante, tapi Dicky harus pulang." ucapnya.


"Oh ya sudah, maksih ya sudah antar Rissa pulang." ucap Ibu.


"Iya tante, Dicky pulang dulu." ucap Dicky.


"Iya." ucap Ibu. Dicky mencium tangan ibuku.


"Assalamualaikum." ucap Dicky.

__ADS_1


"Walaikumsalam."


--oo--


__ADS_2